Tazkiyatun Nafs
18/1/2008 | 08 Muharram 1429 H | Hits: 855
Ulis Tofa, Lc -->
Jangan Bersedih!
Oleh: Ulis Tofa, Lc
---------------------------------
dakwatuna.com - Ketika suasana dunia dengan beragam problematikanya terasa
menyempitkan dada orang beriman, ketika itu hendaknya ia meyakinkan dirinya
bahwa ia sedang menuju Allah swt dengan tulus ikhlas. Yakinlah ketika itu
suasana akan berubah menjadi gembira, tenang dan percaya akan adanya
pertolongan Allah swt. Inilah sunnatullah yang tidak akan pernah berubah dan
tidak akan pernah tergantikan.
Ikhlaskan Hidupmu
Kita sudah sangat berpengalaman bahwa faktor pertolongan dan kemenangan itu
datang dari dalam diri orang beriman, ketika ia merasa benar-benar ikhlas,
ketika itu Allah swt akan campur tangan dengan menurunkan pertolongan,
memberikan keberkahan dan kemenangan.
Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad:7)
Sungguh, pertolongan hanya datang dari Allah swt, karena itu hendaknya
maiyatullah atau merasa bersama Allah swt selalu bersemayam dalam hati, jiwa
dan lisan bahkan dalam setiap perbuatan.
Kisah Nabiyullah Musa as membuktikan itu. Ketika ia dengan pengikutnya
dikejar-kejar Firaun dan bala tentaranya. Pengikutnya bergumam seakan putus
asa:Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah
pengikut-pengikut Musa: Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul
(Asy-Syuara:61)
Nabi Musa dengan sepenuh keyakinan menjawab, Sekali-kali tidak akan
tersusul, Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk
kepadaku (Asy-Syuara:62)
Sikap maiyyatullah, merasa ditolong Allah, tenang dan yakin akan campur tangan
Allah swt berbuah kemenangan dan kegembiraan.
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka
terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.
(Asy-Syuara:63)
Tak terbayang dalam benak Nabi Musa ketika itu, apa bentuk pertolongan Allah
swt. Bahkan kita tidak bisa menebak bentuk pertolongan Allah swt itu, selain
adanya informasi dari Al Quran, bahwa dengan izin Allah swt laut terbelah yang
dengannya Musa selamat, subhanallah.
Pertolongan ini jualah yang Allah swt turunkan pada Nabi Muhammad saw.
Sejarah hijrah dari Makkah ke Madinah telah menjadi buktinya. Allah swt
berfirman: Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah
telah menolongnya. (At-Taubah:40)
Nabi Muhammad saw ketika itu terusir dari kampung halamannya, semua ia
tinggalkan tanpa terkecuali, ia keluar hanya karena Allah dan untuk Allah swt.
(yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari
Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam
gua. (At-Taubah:40)
Ia keluar sepenuh cinta, ikhlas, dan tsiqah atau yakin dengan Penciptnya. Itu
terlihat dari perkataan beliau kepada sahabatnya Abu Bakar yang menemaninya,
Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita. (At-Taubah:40)
Jargon Hijrah
Subhanallah, di tengah himpitan hidup, kejaran musuh, intaian pedang lawan,
Rasulullah saw tetap tenang, ikhlas dan yakin akan pertolongan Allah swt.
Apa yang terjadi setelahnya? Tak terduga, Allah swt menyelamatkan keduanya
hanya dengan seekor laba-laba yang sangat lemah dan seekor burung yang bertelur
di sangkarnya di mulut gua. Allahu Akbar walillahil hamd.
Inilah syiar atau jargon Rasulullah saw di awal hijrahnya: Jangan bersedih,
Allah bersama kita.
Siapa pun yang merasa bersama Allah swt dengan sebenar-benar keyakinan, ia
tidak akan sedih. Untuk apa ia bersedih? Untuk kehidupan, yang Allah swt
pengaturnya? Untuk dakwah, yang Allah swt sendiri pemilik dan penolongnya? atau
ia bersedih karena dirinya sendiri ? Atau terhadap pengikut-pengikut setan yang
Allah swt pasti menghinakannya dan mengadzabnya di dunia dan di akhirat
Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.
Katakan kepada setiap mukmin: Angkat muka Anda, yakinlah di jalan Anda,
jalan kebenaran, karena Allah bersama Anda. Bisikkan kepada setiap muslim:
Buka lebar-lebar telinga Anda, Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah
beserta Anda.
Inilah jargon setiap mukmin yang menapaki jalan menuju Allah swt., apapun
tantangan yang menghadang, jangan bersedih! Apapun kendala merintang.
Berlalulah dan jangan gubris. Sabarlah terhadap apa yang menimpamu, karena
tujuan masih jauh, yaitu surga penuh kenikmatan menanti.
Dengarlah ayat-ayat Allah swt. Sesungguhnya Allah telah me mbeli dari
orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu
telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.
dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar. (At-Taubah:111)
Kriteria Pemenang
Agar kita senantiasa memiliki perilaku ikhlas dan keyakinan akan datangnya
pertolongan Allah swt, hendaknya kita memiliki kreteria sebagaimana yang Allah
swt firmankan:
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji,
yang melawat, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat maruf dan mencegah
berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah
orang-orang mukmin itu. (At-Taubah:112)
Pertama, Attaibun: senantiasa memperbaharui taubat, karena setiap bani Adam
pasti salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah orang yang segera
beristighfar dan bertaubat.
Kedua, Alabidun: senantiasa mengabdi kepada Allah swt. Duhai, sejauh mana
kita mengabdikan diri kepada-Nya Hanya di saat gembira saja, di kala sedih,
atau di setiap situasi dan kondisi
Ketiga, Alhamidun: kondisikan hati untuk senantiasa senang ketika Allah swt
memanggil dan menyeru dengan perintah dan larangan. Segeralah menuju Allah swt
dengan bersyukur dan suka cita.
Keempat, Assaihun: hendaknya senantiasa siap siaga untuk berjihad menegakkan
keadilan, menyemai kebahagiaan dan menebar rasa aman di tengah-tengan
masyarakat. Tak lupa berjihad mengendalikan hawa nafsu dengan melaksanakan
shaum.
Kelima, Arrakiun Assajidun: Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang
senantiasa ruku dan sujud secara berjamaah. Ya Allah, jangan halangi kami
untuk itu karena sakit atau malas.
Keenam, Al Aamiruna bil maruf wannahuna anil munkar: menegakkan yang baik
dan melarang yang buruk. Duhai indahnya kedua hal ini bisa dilaksanakan dengan
seimbang.
Ketujuh, Alhafidhuna lihududillah: menjaga dan menerapkan hukum-hukum Allah
swt, karena tiada satu pun hukum dan perintah Allah swt yang tidak layak
diterapkan dan dijalankan dan karena itu membawa manfaat dan jauh dari madharat.
Ketika ketujuh hal di atas dijalankan dengan baik, maka layaklah kita
mendapatkan kabar gembira dari Allah swt wabasy syiril mukminin.
Sungguh, ketika rasa takut lenyap dari hati, tatkala rasa sedih menghilang
dari jiwa, ketika itu kita merasakan maiyyatullah atau bersama Allah swt dan
karenanya kita akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari-Nya.
Inilah hijrah yang sebenarnya, hijrah yang mengantarkan kita kepada
percepatan pertolongan Allah swt.
Marhaban, ayolah kita semua, siapapun kita tanpa terkecuali bertaubat,
diiringi dengan keseriusan pengabdian kepada Allah swt, yang akan mengikis noda
kelam dalam hati secara berangsur. Bangun lisan dengan memperbanyak memuji dan
bersyukur. Bantu anggota badan untuk menapaki dakwah ilallah dan perjuangan
menegakkan syariat-Nya.
Hendaknya kita menjadi Quran yang berjalan di muka bumi. Ketika itu, kita
akan mendengar lirih suara batu dan pohon memanggil: Wahai Muslim, wahai
Abdullah, di belakangku ada musuh Allah, perangilah! sebagaimana yang
dijanjikan Rasulullah saw. Dan pertolongan Allah itu dekat. Kemenangan itu di
depan mata. Allahu alam.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]