Surat Dari Montmartre:
KEMATIAN SOEHARTO DI PERS PERANCIS
Sejak Soeharto naik panggung kekuasaan dan mengendalikan jalannya Republik
Indonesia, sekali pun Perancis tergabung dalam IGGI dan kemudian CGI, boleh
dikatakan hubungan antara kedua negara tidak hangat. Lebih-lebih ketika Mei
1981, Perancis berada di bawah kekuasaan Partai Sosialis dan partai-partai
kiri. Ketika partai-partai kanan , RPR dan UDF, sekutu RPR, berkuasa
menggantikan Partai Sosialis dan partai-partai kiri [kiri majemuk, la gauche
plurielle], sikap Perancis pada Orde Baru Soeharto pun tidak mengalami
perobahan mendasar. Sikap tidak hangat pemerintah Perancis ini, barangkali bisa
diusut dari sejarah negeri ini, yang melalui beberapa kali revolusi, sampai
memenggal kepala raja di depan publik, akhirnya sampai pada nilai "liberté,
egalité et fraternité [kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan]. Nilai-nilai
ini sampai sekarang dijadikan motto Republik Perancis, dicantumkan di semua
surat-surat dan dokumen segala keputusan resmi. Rangkaian nilai yang
menjadi isi konsep republik, dituangkan ke dalam undang-undang dan
peraturan-peraturan. Ia ditanamkan sejak anak-anak masuk sekolah.
Memang nampak juga satu paradoks ketika Perancis ikut dalam IGGI , organisasi
internasional terdiri dari berbagai negara besar yang kuat ekonominya, dan
sejak awal berdirinya Orde Baru boleh dikatakan penyangga utama ekonomi dan
politik Orde Baru. Tapi ikutnya Perancis di dalam IGGI, barangkali bisa
dipahami dari posisi Perancis sebagai negara kapitalis, yang tidak ingin
membiarkan Indonesia, sebuah pasar besar dan sumber bahan mentah berlimpah,
hanya dikuasai oleh negeri-negeri anggota IGGI -- kemudian berobah menjadi CGI.
IGGI merupakan sebuah forum internasional untuk membagi-bagi "kueh" Indonesia.
Oleh latar belakang demikian, maka sering nampak politik pemerintah dan sikap
rakyat Perancis, termasuk yang muncul di media massa, sering berbeda. Seakan di
sini kita saksikan adanya dua Perancis: Perancis resmi dan Perancis rakyat.
Hal ini pun kembali tercermin dalam menghadapi kematian Soeharto. Sejauh ini,
aku belum juga membaca dan mendapatkan ucapan belasungkawa resmi dari
pemerintah Sarkozy dan Fillon. Bahkan Harian Le Figaro, koran yang dekat
dengan kekuasaan sekarang, sejauh ini masih tidak sebaris pun memberitakan
tentang kematian Soeharto. Apakah ketiadaan baris kalimat pemberitaan begini
merupakan suatu sikap politik dari sebuah koran nasional penting berpengaruh
dan dekat dengan penyelenggara negara di negeri ini? Memberitakan atau tidak,
kukira adalah suatu sikap. Sikap politik.
Sementara koran-koran, radio dan tivi yang memberitakannya, satu dalam
penilaian terhadap Soeharto. Semuanya menggunakan istilah "diktatur", "pembunuh
rakyat Indonesia" [l'Humanité] , "kriminal", "pelanggar HAM", "melakukan
génocide" [la Croix, 28 Januari 2008] dan "koruptor terbesar dalam zaman kita
[Direct Soir, 28 Januari 2008]. Bahkan Harian Libération menggunakan istilah
"kekuasaan yang setara dengan monarkhi" yang "membangun monarkhinya dengan
tanpa ampun menghancurkan lawan-lawan potensialnya atau dengan membeli mereka"
[28 Januari 2007].
Hampir semua media massa , baik radio, tivi, dan media cetak, tidak ada yang
menggunakan istilah wafat , tapi "mati". Bahkan harian gratis "Direct Matin"
yang diterbitkan oleh harian terkemuka Paris, Le Monde dengan sinis mengatakan
ketika para peserta Pertemuan Anti Korupsi PBB yang berlangsung di Bali
sekarang, berdiri sejenak memberi penghormatan kepada Soeharto sebagai "adegan
surealis" [29 Januari 2008]."
Harian Le Monde, Paris, satu-satunya harian yang menerbitkan sehalaman penuh
tulisan mantan koresponden Asia Tenggaranya, Jean-Claude Pomonti, malah
mensejajarkan kekuasaan Soeharto sebagai kekuasaan"kerajaan Jawa". Dan ujar
Pomonti yang lama berdiam di Bangkok: "Yang pasti "kerajaan Jawa" begini tak
akan pernah berhasil". [29 Januari 2008].
Pomonti juga melihat bahwa kemelut yang dihadapi Indonesia sekarang tidak
lain dari peninggalan Soeharto selama tiga dasawarsa lebih. Masalah-masalah ini
tadinya seperti bara dalam sekam dan sekarang muncul ke permukaan. Mantan
koresponden Le Monde untuk Asia Tenggara ini juga menyebut rezim Soeharto
merupakan "salah satu pemerintahan yang paling berdarah dan paling korup pada
paro kedua abad ke-XX" [l'un des gouvernants les plus sanguinaires et les plus
corrompus de la deuxième moitié du XX siècle]. Rezim diktatur Soeharto jugalah,
ujar Pomonti, yang menenggelamkan Indonesia ke genangan hutang.
Soeharto juga dihubungkan benar oleh media massa Perancis dengan penindasan
dan pembunuhan di Timor Timur sambil mengingatkan tuntutan José Ramos Horta,
sekarang presiden Timor Leste, agar diktatur Soeharto "diadili atas genosid"
yang ia lakukan selama berkuasa.[La Croix, 28 Januari 2008].
Membaca pers Perancis dan mendengar siaran radio serta tivi negeri ini, tak
ada sepatah kata sifat baik apa pun yang diucapkan tentang Soeharto bahkan kata
wafat [décédé] pun tidak digunakan. Yang digunakan adalah kata "mati" [mort].
Tentu saja berita kematian Soeharto diketahui masyarakat melalui media massa.
Dalam konteks ini aku teringat cerita Judith yang menerima sms dari saudaranya
di Indonesia: "Soeharto mati, tante meninggal". Sms yang melukiskan secara
spontan perasaan dan pikiran masyarakat bawahan pada Soeharto. Pengirim sms
sadar benar nuansa kata "mati" dan "meninggal" atau wafat, berpulang.
Ketika aku servis malam di Koperasi Restoran Indonesia, tidak sedikit
pelanggan yang bertanya: "Mantan presiden kalian baru meninggal iya?".
Tanpa mengulas pertanyaan ini, karena sedang sibuk, aku hanya menjawab
singkat: "Iya".
"Mudahan kediktaturan tidak terulang lagi di negeri Anda".
"Iya, itu pun harapan rakyat negeriku, hanya barangkali jalannya masih tidak
mulus sebagaimana halnya dengan jalan harapan ".
"Demikianlah hidup. C'est la vie, anak muda. Apalagi di dunia politik", ujar
pelanggan tuaku, tanpa rambut dan mengenakan jas warna oranye. "Yang penting
adalah bagaimana bisa belajar dari masa silam untuk kepentingan hari ini dan
esok", tambahnya.
Aku mengucapkan terimakasih atas perhatian, harapan dan kata-kata baiknya.
Oleh perhatian, harapan dan kata-kata baik dari seorang asing ini kepadaku yang
terpental dari negeri kelahiran, membuatku merasa bahwa jarak Paris-Jakarta,
antara Rue de Vaugirard dan jalan Tawes, tak terlalu jauh-jauh juga, dan
betapa dunia makin menjadi sebuah "desa kecil", di mana peduduknya saling
bersentuhan bagai tetangga. Kepentingan mereka pun tak terkurung pada batas
geografis satu dua negara, tapi saling taut-menaut seperti yang sering
dikatakan di sini "Agir ici et là" [Bertindak di sini sama dengan bertindak
untuk di sana]. Mereka ada di satu "desa kecil dunia" bernama " kemanusiaan
yang tunggal", jika menggunakan ungkapan Paul Ricoeur.
Ah, sungguh, aku mau jadi manusia yang manusiawi walau pun sebagai pekerja
kasar biasa pada sebuah koperasi restoran.***
Paris, Musim Dingin 2008.
-----------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes?
Yahoo! Movies is all you need
[Non-text portions of this message have been removed]