SIARAN PERS: KELUARGA WIJI THUKUL MENOLAK PENGIBARAN BENDERA SETENGA 
SIARAN PERS

KELUARGA WIJI THUKUL 

MENOLAK PENGIBARAN BENDERA SETENGAH TIANG 

DAN TETAP MENUNTUT PERTANGGUNGJAWABAN KEJAHATAN SOEHARTO DALAM KASUS 
PENGHILANGAN PAKSA AKTIVIS ANTI ORDE BARU

Hari ini, Soeharto telah dikuburkan di liang lahat, namun itu bukan berarti 
menguburkan 
kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang menjadi tanggungjawabnya selama Soeharto 
memerintah negeri ini selama 32 tahun. Opini yang berlebihan dan mobilisasi 
puja-puji 
terhadap Soeharto tidak membuat kami, keluarga Wiji Thukul (korban penghilangan 
paksa 
1997-1998), berubah sikap. Tindakan Pemerintahan SBY-JK yang memerintahkan 
pengibaran bendera Merah Putih setengah tiang adalah kebijakan yang berlebihan 
dan 
menyakiti hati jutaan rakyat Indonesia yang menjadi korban pelanggaran hak-hak 
sipil 
politik dan hak-hak ekonomi sosial budaya semasa Soeharto berkuasa. Hingga saat 
ini, 
kami, selaku adik kandung, istri, dan anak-anak Wiji Thukul, tidak pernah 
melupakan 
kebengisan kekuasaan Soeharto melalui aparat militer yang mengobrak-abrik rumah 
kami, mencuri buku-buku dan koleksi kaset kami dan membuat orang yang kami 
cintai, 
Wiji Thukul, hilang tak tentu rimbanya.

Untuk itu, sebagai bagian dari korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh 
Soeharto, kami, keluarga Wiji Thukul, menolak mengibarkan bendera Merah Putih 
setengah tiang dan akan terus berjuang bersama seluruh korban menuntut 
pertanggungjawaban kejahatan kemanusiaan Soeharto, terutama untuk kasus 
penghilangan paksa aktivis anti Orde Baru.

Solo � Jakarta, 28 Januari 2008

Dyah Sujirah/Sipon (istri Wiji Thukul) 

0817250854

Wahyu Susilo (adik kandung Wiji Thukul)

08129307964

Fitri Nganthi Wani (anak Wiji Thukul)

Fajar Merah (anak Wiji Thukul)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke