Ada yang membenci saya ikut bersuara di mailist ini dan membajak mail saya 
untuk mengutuk Yap Hong Gie dengan menggunakan nama pribadi saya. Ini sudah 
tidak sehat betul maillist [EMAIL PROTECTED] !!!

Sekaligus saya mengundurkan diri dari maillist [email protected] 
!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Wassalam,
A.M



  ----- Original Message ----- 
  From: A. Marconi 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, January 31, 2008 12:07 PM
  Subject: [ppiindia] [mediacare] Jakob Oetama: Warisan Soeharto


  SELAIN ITU KOMPAS ADALAH KEPANJANGAN DARI :

  "KELOMPOK PASTOR"

  [1]Go to fullsize image

  PERGI LUH CINA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  --- In [email protected], "Yap Hong Gie" <[EMAIL PROTECTED]>
  wrote:
  >
  > Dr (HC) Jakob Oetama, lahir di Magelang, 27 September 1931,
  adalah wartawan
  > dan salah satu pendiri Surat Kabar Kompas. Saat ini ia
  merupakan Presiden
  > Direktur Kelompok Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat
  Persatuan Wartawan
  > Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.
  >
  > Jakob adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman,
  Yogyakarta. Setelah
  > lulus SMA (Seminari) di Yogyakarta, ia mengajar di SMP
  Mardiyuwana (Cipanas,
  > Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta. Tahun 1955, ia menjadi
  redaktur
  > mingguan Penabur di Jakarta. Jakob kemudian melanjutkan
  studinya di
  > Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial
  Politik UGM
  > Yogyakarta.
  > Bersama P.K. Ojong, ia mengelola majalah Intisari pada tahun
  1963, Tahun
  > 1965, bersama Ojong, Jacob mendirikan harian Kompas, dan
  dikelolanya hingga
  > kini.
  >
  >
  >
  >
  [2]www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.
  01.28.02044658&;channel=2&mn=2&idx=2
  >
  > /Home/Berita Utama
  > Warisan Soeharto
  > Senin, 28 januari 2008 | 02:04 WIB
  > Jakob Oetama
  >
  >
  > Haji Muhammad Soeharto, presiden kedua RI, menghadap Sang
  Khalik.
  > Persiapannya cukup panjang disertai dengan terganggunya
  kesehatan dan
  > tinggal menyendiri. Itu memberi kesan sengaja mengasingkan diri
  dari
  > masyarakat ramai. Ia berhenti dari kursi kekuasaan setelah
  mengemban tugas
  > kepresidenan selama 31 tahun disertai pergolakan politik.
  >
  > Serupa seperti yang dialami Presiden Soekarno yang adalah sang
  proklamator
  > kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Soekarno juga telah
  cukup lama
  > memimpin pemerintahan dari tahun 1945 sampai tahun 1965
  meskipun dalam
  > periode sistem pemerintahan yang berbeda.
  >
  > Presiden pertama wafat setelah menderita sakit dan diisolasi
  dari bakat
  > serta kebetahan kepribadiannya, yakni berada di tengah rakyat
  banyak. Ada
  > persamaan jalan hidup antara presiden pertama dan presiden
  kedua. Keduanya
  > memerintah dalam waktu lama dan sama-sama jatuh dari
  kekuasaannya. Sama-sama
  > pula disertai pergerakan dalam kericuhan proses suksesi mereka.
  Suatu
  > koinsidensi yang masuk akal jika menimbulkan pertanyaan dan
  pelajaran
  > sejarah yang bermanfaat bagi perikehidupan kita selanjutnya
  sebagai bangsa
  > dan negara.
  >
  > Dalam 20 tahun periode pemerintahan Soekarno berlaku beragam
  sistem sosial
  > politik. Ada periode kebersamaan dan kedaruratan selama dua
  dasawarsa itu.
  > Berlaku beragam sistem pemerintahan, sebut saja demokrasi
  liberal dan
  > demokrasi terpimpin. Agenda sentral kehidupan kenegaraan dan
  kemasyarakatan
  > disertai pancaroba pencarian, pergumulan, dan pemantapan
  pembangunan negara
  > dan pembangunan bangsa.
  >
  > Terjadi dikotomi antara faham politik dan kebangsaan yang
  mengacu kepada UUD
  > 1945 dan berbagai ideologi partisan yang, misalnya, melahirkan
  gerakan Darul
  > Islam (DI) dan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang
  memuncak pada
  > gerakan 30 September 1965. Terjadi proses pemantapan negara
  kesatuan berikut
  > keutuhan teritorialnya. Kerangka internasional yang dipelopori
  dan
  > dibangkitkan Bung Karno adalah antikolonialisme dan
  neokolonialisme serta
  > kebangkitan Asia-Afrika. Indonesia pelopor dari New Emerging
  Forces.
  > Perikehidupan sosial-ekonomi terabaikan dan hal itu kemudian
  merupakan
  > kekuatan kontraproduktif dan kejatuhan presiden pertama ketika
  > berkoinsidensi atau berinteraksi dengan G30S.
  >
  > Jenderal Soeharto ditempatkan oleh perubahan drastis dan
  disertai kekerasan
  > pada posisi kepemimpinan. Berlatar belakang militer, memegang
  komando tetapi
  > sekaligus juga cerdas dan tegas. Estafet kepemimpinan nasional
  jatuh
  > kepadanya. Represi Bung Karno terutama karena dibuat ganas,
  keras, dan kejam
  > oleh PKI membuahkan kekuatan dan gerakan kontraproduktif yang
  sekaligus
  > menjatuhkan kedudukannya. Masuk akal alias logis jika perubahan
  besar
  > terjadi. Beruntunglah TNI berideologi negara Pancasila,
  bersendikan UUD
  > 1945, membela negara kesatuan dan berakar sejarah laskar
  rakyat. Itu latar
  > belakang doktrin dwifungsi dan didirikannya organisasi politik
  baru yang
  > berupa kekaryaan.
  >
  > Dengan pemahaman yang diasumsikan bahwa masalah ideologi telah
  selesai dan
  > solid disertai pula pandangan dan sikap pragmatis terjadilah
  perubahan
  > orientasi dan prioritas agenda dan program nasional. Sebutlah
  dari politik
  > dan berpolitikan ke kerja nyata untuk memperbaiki perikehidupan
  sosial
  > ekonomi rakyat, kerangka dan arah sosial ekonomi negara dan
  masyarakat dan
  > mengambil sikap terbuka sehingga bisa memanfaatkan sumber
  hubungan, bantuan,
  > dan kerja sama internasional. Adalah kecerdasaan Presiden
  Soeharto dan
  > keterbukaannya yang tahu diri sehingga dapat direkrut para
  pembantu pada
  > tingkat menteri yang dalam bidang ekuin dan bidang lain
  memberikan kualitas
  > kompetensi profesional dan teknokratis. Perbaikan dalam
  perikehidupan sosial
  > ekonomi rakyat dan negara berubah pesat secara positif. Jika
  pemerintah dan
  > pemerintahan waktu itu adalah otokratis, otokrasi itu sekaligus
  teknokratis
  > dan kompeten.
  >
  > Sayang pola, semangat, dan praksis otokrasi yang
  > "tercerahkan"-enlightened-itu
  > tidak bertahan. Kekuasaan tumbuh dan berkembang dalam suasana
  berlakunya
  > kembali budaya feodalisme, terutama feodalisme kekuasaan.
  Pemerintah mulanya
  > diusung oleh idealisme kekayaan bagi kemakmuran orang banyak
  dan untuk
  > melayani orang banyak, tersendat dan akhirnya terjatuh pada
  budaya feodal
  > kekuasaan yang minta dilayani. Karena kekuatan yang mengontrol
  lemah dan
  > semakin melemah, muncullah fenomena yang mewabah sebagai
  korupsi, kolusi,
  > dan nepotisme (KKN). Wibawa dan efektivitas kekuasaan
  tergerogoti dan lemah.
  > Tidak ada lagi tempat untuk kekuatan kontrol yang efektif.
  Pemerintah ikut
  > melemah dan ketika badai krisis ekonomi menjalar juga ke
  Indonesia,
  > muncullah casus belli-dadakan-untuk jatuhnya presiden kedua dan
  rezimnya.
  >
  > Masuklah Indonesia ke babak baru, periode Reformasi. Dilakukan
  pembaruan
  > terhadap tafsir UUD 1945. Bukan otokrasi, tetapi demokrasi.
  Kekuasaan dari
  > rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat melalui pemimpin
  pemerintahan yang
  > dipilih dalam pemilu serta DPR yang juga hasil pemilihan umum.
  >
  > Sejarah berulang, terutama yang menyangkut posisi dan nasib
  Presiden
  > Soeharto. Meskipun berbeda, ia menjalani nasib serupa dengan
  presiden
  > pertama. Diberhentikan dari jabatan presiden, diisolasi dan
  menjalani proses
  > panjang menyangkut penilaian publik terhadap kinerja dan
  praksis kekuasaan
  > selama menjabat.
  >
  > Masuk akal dan logis jika hukuman dijatuhkan, politik pasti,
  perdata dan
  > pidana tergantung. Namun, terutama terhadap presiden kedua
  bukan saja
  > disentuh, tetapi menempati agenda sentral. Beruntunglah dalam
  periode
  > Reformasi berlaku asas praduga tak bersalah, berlaku asas dan
  proses hukum.
  > Meskipun terjemahannya dalam politik sama, yakni diturunkan dan
  diisolasi,
  > perlakuan terhadap presiden kedua lebih manusiawi daripada
  presiden pertama.
  >
  > Presiden pertama jatuh. Nasib serupa menimpa presiden kedua.
  Masuk akal jika
  > kedua kasus historis itu kita ambil pengalaman dan
  pelajarannya. Kekuasaan
  > yang melampaui batas kewajaran-dua periode saja. Budaya
  kekuasaan feodal
  > yang melekat kuat dan menaklukkan kekuasaan demokrasi.
  >
  > Ketika pengalaman itu mulai menjadi sejarah, bahkan sejarah
  yang berulang,
  > masuk akal jika kita dalami dan selami pelajarannya yang
  diberikan oleh
  > jatuhnya presiden pertama dan kedua. Kita mengambil pelajaran
  dari kelebihan
  > dan keberhasilannya dan kita hargai. Kita mengambil pelajaran
  dari
  > kegagalan, kealpaan, dan kesalahannya. Dalam konteks itu, patut
  kiranya juga
  > dalam sikap kritis, kita berpegang pada kebajikan mikul dhuwur,
  mendhem
  > jero, tetap menghormati secara sepantasnya dan tetap menghargai
  kebaikan dan
  > keberhasilannya. Cukuplah presiden pertama dan presiden kedua
  yang mengalami
  > akhir yang tragis.
  >
  > Dengan kata lain, Reformasi yang juga menimba dari periode
  presiden pertama
  > dan presiden kedua itu kita usahakan seoptimal mungkin
  keberhasilannya.
  >

  References

  1. 
http://images.search.yahoo.com/search/images/view?back=http%3A%2F%2Fimages.search.yahoo.com%2Fsearch%2Fimages%3Fp%3DSATAN%26toggle%3D1%26cop%3Dmss%26ei%3DUTF-8%26fp_ip%3DID%26fr%3Dyfp-t-203%26b%3D21%26ni%3D20&w=450&h=338&imgurl=media-cyber.law.harvard.edu%2Fblogs%2Fstatic%2Fgaetano%2Fsatan.jpg&rurl=http%3A%2F%2Fwww.consolewars.de%2Fmessageboard%2Fviewtopic.php%3Fp%3D791507&size=18.4kB&name=satan.jpg&p=SATAN&type=jpeg&no=24&tt=354,943&oid=5936614ba27a3708&ei=UTF-8
  2. 
file://localhost/tmp/linkstmp/www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.28.02044658&

  -- 
  http://www.fastmail.fm - And now for something completely different.

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke