Senin, 2008 Januari 28 Tanggung Jawab KPRM-PRD kepada Rakyat dan Gerakan
Demokratik<http://kprm-prd.blogspot.com/2008/01/tanggung-jawab-kprm-prd-kepada-rakyat.html>

**<http://bp2.blogger.com/_SO670mTuyJI/R57ZrSfdA2I/AAAAAAAAABo/ZuZ8Z7V9jlE/s1600-h/logo-baru-prd.thumbnail.jpg>KOMITE
POLITIK RAKYAT MISKIN – PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK
(KPRM – PRD)
[EMAIL PROTECTED]; www.kprm-prd.blogspot.com


Kebangkitan demokratik kini adalah suatu kenyataan yang tak terbantahkan.
Ia sedang maju dengan kesulitan yang lebih besar, dengan langkah yang lebih
lambat
dan mele­wati jalur yang lebih ruwet ketimbang yang kita bayang­kan,
akan tetapi, walaupun demikian, ia sedang maju.


Tanggung Jawab KPRM-PRD kepada Rakyat dan Gerakan Demokratik Menolak Politik
Kooptasi/Kooperasi dengan Sisa-sisa Lama, Tentara dan Reformis Gadungan;
Bersatu, Tegakkan Politik (Alternatif) Rakyat Miskin!

Pasca penjatuhan Soeharto di tahun 1998, PRD telah menyadari bahwa tuntasnya
reformasi, hanya bisa dilakukan jika sisa-sisa kekuatan lama (yakni Golkar
dan Tentara) berhasil dikalahkan oleh kekuatan rakyat namun, sayangnya,
bukan saja kekuatan lama tersebut tidak berhasil dihancurkan, kekuataan
reformis pun, yang termanifestasikan dalam partai-partai politik baru,
semakin menunjukan watak aslinya, yang tidak berbeda dengan kekuatan lama
dalam kepentingan mengabdi pada modal barat yang sedang menjajah rakyat
Indonesia. Dengan demikian, saat ini, bukan saja sisa-sisa lama yang menjadi
musuh rakyat, melainkan juga kekuatan reformis gadungan.

Terhadap situasi ekonomi-politik sekarang, kaum gerakan dituntut untuk
sanggup me­neliti, menyimpulkan dan mengambil tanggung jawab. Rakyat semakin
hari bertambah gamblang mengerti atas bertumpuknya persoalan yang nyata
mereka hadapi. Semakin terbuka pula bagi kaum gerakan untuk menjelaskan
kaitan persoalan sehari-hari rakyat dengan jaring penindasan imperialisme,
bahkan bisa melampui atau menembus beribu ilusi yang terus dipertebal demi
menutupi ketertundukan penguasa terhadap kepentingan imperialisme. Sekaligus
terdapat harapan perubahan sejati bagi rakyat, bila kekua­tan rakyat sendiri
(dengan kaum gerakan di dalamnya) sanggup mencipta jaring perlawa­nan
rakyat, yang luas dan semakin menyatu.

Politik rakyat miskin dalam wujud nyatanya adalah perluasan dan penyatuan
perlawanan rakyat, penyatuan mobilisasi-mobilisasi rakyat dengan mengusung
tuntutan dan jalan keluar persoalan ekonomi-politik rakyat. Mobilisasi ini
harus terus meluas dan mengisi setiap ajang politik rakyat, dan pemilu hanya
lah salah satunya. Namun apapun ekspresi politik rakyat miskin, hal utama
yang tidak boleh dikompromikan ada­lah posisi untuk TIDAK dicampuri, TIDAK
disubordinasi atau lepas dari pengaruh, dan (apalagi) TIDAK boleh
dileburkan, dengan kekuatan pemerintah agen imperialis, tentara, sisa ORBA
dan reformis gadungan. Ya, politik rakyat miskin adalah politik altenatif
(tandingan terhadap politik pro penjajah) yang berbasiskan pada kekuatan
perlawanan rakyat sendiri, dengan prinsip non-kooperasi dan non-kooptasi
dalam berhadapan dengan musuh-musuh rakyat (Imperialisme dan agen-agennya)
Sesulit apapun, pembangun kekuatan perlawanan rakyat harus tetap dikerjakan,
harus diatasi dan tidak boleh dihindari. Karena itu semua unsur kekuatan
gerakan sebaiknya menyumbangkan strategi-taktik dan metode (yang terus bisa
dikembangkan) untuk memperluas kekuatan perlawanan rakyat, membangun
kesadaran politik, sekaligus mewujudkannya dalam metode perjuangan rakyat:
menuntut dengan mobilisasi massa. (Dan kami, dengan rendah hati berusaha
menyumbangkan metode pengorganisasian gerakan tiga bulanan yang, tentu saja
harus disempurnakan kembali oleh sumbangan berbagai unsur gerakan. Lihat
PEMBEBASAN, No.1, Tahun 1, Januari, 2008.) Dan, atas nama
kemudahan-kemudahan untuk berkuasa (dengan alasan bisa melakuakan revolusi
dari atas), termasuk menjadi parle­mentaris-oportunis, sejatinya sudah
menanggalkan arah sejati perjuangan rakyat, sudah melepaskan diri dari
politik kerakyatan.

Politik (alternatif) Rakyat Miskin adalah posisi politik Partai Rakyat
Demokratik (PRD) sejak awal berdirinya. Politik yang meletakkan perubahan
dan kemenangan rakyat dilandaskan pada kekuatan sendiri, berdasar kekuatan
gerakan. Posisi politik tersebut juga lah yang ditanggalkan oleh sebagian
Pimpinan PRD [1] saat ini—yang menyebut diri sebagai kaum mayoritas dalam
PRD—seiring dengan kepentingan mereka untuk meleburkan PAPERNAS [2] (secara
ideologi, politik, organisasi) ke dalam persatuan pemilu bersama partai kaum
reformis gadungan dan sekutu pemerintahan agen imperialis, demi mendapatkan
kesem­patan masuk parlemen. Karenanya, kami, yang menamakan diri Komite
Politik Rakyat Miskin (KPRM)–PRD, adalah sebagian PRD yang menolak
menanggalkan politik rakyat miskin, menolak politik parlementaris semata,
yang meninggalkan gerakan ekstra parlemen—apalagi politik
parlementaris-oportunis.

Politik parlementer, yang kami pahami, adalah politik yang memanfaatkan
parlemen untuk memperbesar kekuatan ekstraparlemen, karena sejatinya
parlemen sekarang memiliki keterbatasan-keterbatasan untuk memperjuangkan
rakyat miskin Indonesia, dan keterbatasan itu hanya bisa didobrak dengan
kekuatan ekstraperlemen. Oleh karena itu kami MENOLAK politik parlementer
(atas nama JALAN BARU – GERAKAN BANTING SETIR; MERUBAH DARI DALAM) yang
mengkanalisasi potensi perjuangan rakyat hanya pada kotak-kotak suara;
menumpulkan daya juang rakyat dengan ilusi 'perubahan dari atas' –
'perubahan dari parlemen'; menghancurkan alat politik (alternatif) rakyat
dengan mensubordinasikannya pada partai-partai reformis gadungan; menghina
martabat rakyat dengan mendudukkannya semeja dengan kekuatan Sisa-sisa Lama,
Tentara, dan Reformis Gadungan. Inilah yang kami sebut sebagai politik
parlementer oportunis.

KPRM–PRD berdiri memang dimulai dari paksaan (yang, dengan kekuatan
otoritas-mayoritas Pimpinan PRD, ke­mudian menjadi keputusan resmi internal
PRD) mendesakan terjadinya perpecahan/pembelahan dalam partai atas posisi
politik mendukung politik parlementaris-opurtunis atau sebaliknya‒mendukung
politik pembangunan gerakan rakyat. Sekarang, posisi tidak demokratik atas
pembelahan oleh pimpinan (mayoritas) PRD tersebut sudah kami mengerti
sebagai kelaziman yang harus mereka lakukan (sebagai konskwensi posisi
politik oprtunisnya); selanjutnya, yang lebih penting bagi KPRM-PRD, adalah
berposisi nyata dalam pembangunan politik (alternatif) rakyat miskin bersama
kekuatan gerakan rakyat lainnya: PERSATUAN.

Namun demikian, bukan berarti KPRM-PRD berlepas tangan terhadap kehancuran
politik kerakyatan PRD, karena seiring dengan dinamika pembangunan gerakan
rakyat, sekaligus kami akan lanjutkan dan kuatkan perjuangan internal untuk
mengembalikan PRD (dan PAPERNAS) sebagai alat perjuangan politik rakyat
miskin. [3] Karena, lewat berbagai cara yang tidak demokratik (sepihak),
massa pendukung PRD dan Papernas dibuat tidak (lagi) sepenuhnya mengerti
dengan baik--atau tidak bisa menerima berbagai informasi dari berbagai
pihak--akan kemana nasib mereka dipertaruhkan demi menjadi peserta pemilu
2009. Mereka tak (lagi) ditanya pendapatnya; dipersempit ruang
perdebatannya, untuk turut menentukan arah politiknya di tahun 2009. Massa
(bawah) tak diberikan pertanggungjawaban mengapa peluang 'koalisi', yang
sebelumnya dikabarkan (seolah-olah) begitu besar dan nyata, ternyata gagal
di tengah jalan (sebagaimana telah kami peringatkan sebelumnya); dan, bahkan
kini bergerak pada 'peluang koalisi' lainnya tanpa ada kepentingan untuk
mengkonsultasikan pada massa pendukungnya (melanggar janjinya sendiri: bahwa
bila peluang koalisi yang pertama gagal maka akan diselenggerakan pertemuan
Presidium Nasional kembali). Tentu, kami tidak boleh lepas tangan dari
situasi ini.


KOMITE POLITIK RAKYAT MISKIN – PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK
(KPRM – PRD)

Jakarta, 31 januari 2008

ZELY ARIANE

Juru Bicara

Catatan Kaki:
[1] Termasuk semua Ketua Umum PRD yang sudah dikooptasi oleh elit-elit,
kelompok-kelompok, partai-partai kaum reformis gadungan.
[2] Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) yang didirikan oleh PRD
bersama beberapa organisasi massa.
[3] Saat ini, politik (alternatif) rakyat miskin PRD-PAPERNAS sudah
terkonsolidasi di Sumatra Utara, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat,
Jogjakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Barat,
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Kalimantan Timur, dan Papua.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke