fyi.

------------------------------------------------------------

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/03/06/0161.html

 From: [EMAIL PROTECTED]
 Date: Fri Mar 06 1998 - 14:58:00 EST  

---------------------------------
 
 Forwarded message: 
 From [EMAIL PROTECTED]  Fri Mar  6 18:57:57 1998 
 Date: Fri, 6 Mar 1998 16:57:11 -0700 (MST) 
 Message-Id: <[EMAIL PROTECTED]> 
 To: [EMAIL PROTECTED] 
 From: [EMAIL PROTECTED] 
 Subject: [INDONESIA-L] MEDIA DAKWAH - Aditjondro tt CSIS, Beek, Moertopo & 
Moerdani 
 Sender: [EMAIL PROTECTED] 
 
X-URL: http://www.kisdi.com/mdakwah/Edisi02/Lipsus/laput4.htm 
 
   CSIS, Pater Beek SJ, 
     
    Ali Moertopo dan L.B. Moerdani 
     
     Dr. George J. Aditjondro 
     
    Tulisan ini pernah disiarkan oleh Aditjondro melalui jaringan 
    internet. Karena isinya aktual berkenaan dengan krisis moneter, 
    walaupun tidak semua isinya disetujui redaksi, tetapi ada perlunya 
    masyarakat mengetahui yang ditulis Aditjondro ini. 
     
     
    Pada salah satu seminar membicarakan pemilu di kantor CSIS di Tanah 
    Abang, Jakarta, tanggal 3 September 1996, Panda Nababan, seorang 
    wartawan senior Jakarta, tiba-tiba angkat bicara. Dengan tenang Panda 
    Nababan menuduh CSIS sebagai pusat tempat dirumuskannya banyak 
    keputusan Politik Indonesia masa lalu yang merepotkan kita 
     
    semua sekarang ini. Dr. Sudjati Djiwandono,  seorang pembicara dalam 
    acara itu juga sulit menyembunyikan amarahnya kepada Panda Nababan. 
     
    Tapi Harry Chan Silalahi yang menjadi moderator pada saat itu, meski 
    bisa menahan diri untuk menangkis tuduhan Panda Nababan, tapi ia tetap 
    tenang, dan seperti biasanya penuh senyum, meski kabarnya terlihat 
    gugup. Beberapa hari kemudian, dengan bantuan harian Kompas (tgl. 7 
    September 1996), Harry Chan Silalahi memberikan wawancara khusus yang 
    membantah semua tuduhan Panda Nababan. Disana dengan gaya orang rendah 
    hati Harry Chan membeberkan betapa salahnya orang yang menganggap CSIS 
    itu memainkan peranan penting pada belasan tahun pertama Orde Baru. 
    Yang ada sebenarnya hanya kedekatan antar individu, bukan CSIS dengan 
     pemerintah, kata Harry Chan. 
     
    Para pendiri CSIS itu dekat dengan pemerintah, katanya. Ia menyebutkan 
    dirinya sebagai tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Liem Bian Kie 
    (Yusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar, demikian juga dengan Sudjati 
    Djiwandono. Dan tentu saja Sudjonosemua sekarang ini. Dr. Sudjati 
    Djiwandono, seorang pembicara dalam acara itu juga sulit 
    menyembunyikan amarahnya kepada Panda Nababan. 
     
    Tapi Harry Chan Silalahi yang menjadi moderator pada saat itu, meski 
    bisa menahan diri untuk menangkis tuduhan Panda Nababan, tapi ia tetap 
    tenang, dan seperti biasanya penuh senyum, meski kabarnya terlihat 
    gugup. Beberapa hari kemudian, dengan bantuan harian Kompas (tgl. 7 
     September 1996), Harry Chan Silalahi memberikan wawancara khusus yang 
    membantah semua tuduhan Panda Nababan. Disana dengan gaya orang rendah 
    hati Harry Chan membeberkan betapa salahnya orang yang menganggap CSIS 
    itu memainkan peranan penting pada belasan tahun pertama Orde Baru. 
    Yang ada sebenarnya hanya kedekatan antar individu, bukan CSIS dengan 
    pemerintah, kata Harry Chan. 
     
    Para pendiri CSIS itu dekat dengan pemerintah, katanya. Ia menyebutkan 
    dirinya sebagai tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Liem Bian Kie 
    (Yusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar, demikian juga dengan Sudjati 
    Djiwandono. Dan tentu saja SudjonoHumardani dan Ali Murtopo yang 
    memang Aspri Suharto. 
     
     Kepada harian Kompas, Harry Chan menjelaskan: "Pada prinsipnya CSIS 
    membatasi diri untuk tidak terlibat dalam soal taktis politik. 
    Meskipun demikian CSIS kerapkali diisukan telah melakukan hal itu. 
    Padahal pembahasan masalah dalam negeri yang dilakukan CSIS bersifat 
    strategis konsepsional". 
     
    CSIS terbentuk, menurut Harry, pada tahun 1971 ketika Hadi Susastro 
    dan beberapa kawan-kawannya pulang belajar dari Eropa. Merekalah yang 
    mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga think tank. Tidak dijelaskan 
    oleh Harry bahwa sebelumnya bergiat dalam CSIS, para kader Beek itu 
    sudah berkiprah dalam operasi khusus (Opsus) pimpinan Ali Murtopo. 
     
    Masih belum yakin dengan bantahannya lewat harian Kompas,  sebulan 
    kemudian, lewat harian Nusa Tenggara (terbit di Denpasar) edisi 13 
    Oktoer 1996, Harry Chan muncul lagi dalam sebuah wawancara yang 
    menggunakan hampir satu halaman surat kabar. Di sini sekali lagi Harry 
    Chan melakukan cuci tangan terhadap semua tingkah laku politik CSIS di 
    masa jaya Ali Murtopo hingga masa akhir berkuasanya L.B. Murdani. 
    Penjelasan panjang lebar Harry Chan dalam koran terbitan pulau Bali 
    itu sepintas lalu sangat persuasiv serta menyakinkan, terutama bagi 
    generasi muda yang tidak mengalami pergolakan politik awal Orde Baru. 
    Tapi bagi orang seperti saya, semua cerita Harry Chan itu sebenarnya 
    adalah isapan jempol belaka. 
     
    Perhatikan bahwa dalam semua penjelasan Harry Chan sama  sekali tidak 
    pernah menyebut Opsus dan keterlibatan kaum katolik ekstrem kanan di 
    sana. Mereka yang tergolong generasi 66 di Jakarta masih ingat kantor 
    mereka (Opsus) di Jalan Raden Saleh Jakarta Pusat. Juga penjelasan 
    Harry Chan sama sekali tidak terdengar nama Pater Beek SJ, pastor 
    kelahiran Belanda yang memainkan peranan besar di balik lahirnya CSIS 
    tersebut. 
     
    Beek adalah pastor ordo Jesuit yang sudah aktiv lama di Indonesia 
    melakukan kaderisasi para pemuda dan mahasiswakatolik. Ia melakukan 
    kegiatan kaderisasinya di asrama Realino Yogyakarta, di samping 
    melakukan kaderisasi di Klender, Jakarta. Di Klender kegiatan itu 
    disebut Kasebul (Kaderisasi sebulan). Dalam kegiatan Kasebul itu bukan 
     cuma indoktrisasi yang dilakukan, bahkan latihan pisik yang mendekati 
    latihan militer juga diberikan. Di sana para kader dilatih menghadapi 
    situasi jika diinterograsi oleh lawan. Bagaimana meloloskan diri dari 
    tahanan, bagaimana survive dan sebagainya. 
     
    Latihan seperti ini ditujukan untuk mempersiapkan showdown dengan 
    komunis waktu itu. Kegiatan ini kemudian diketahui oleh Subandrio yang 
    memimpin BPI (Badan Pusat Intelejen). Akibat kejaran BPI Pater Beek 
    terpaksa melarikan diri ke luar negeri dekat sebelum Gestapu 1965. 
    Beek kembali ke Indonesia setelah Subandrio ditangkap dan BPI 
    dibubarkan. 
     
    Sebagian dari lulusan terbaik Kasebul ini dikirim untuk latihan lebih 
     jauh lagi di luar negeri. Salah seorang yang berhasil dikirim keluar 
    negeri sebelum Gestapu adalah yang kemudian menjadi wakil komandan 
    Laskar Ampera, Louis Wangge almarhum. Wangge dikirim oleh Beek ke 
    Universitas Santo Thomas, Filipina. Begitu yang diketahui orang. Tapi 
    kemudian Wangge sendiri mengaku bahwa sebenarnya ia dikirim ke sebuah 
    pusat latihan intelejen di sebuah pangkalan Amerika di Filipina. 
     
    Cerita tentang ini semua dikisahkan Wangge setelah ia dikucilkan oleh 
    CSIS karena sikap Wangge yang menolak kebijakan SCIS yang anti Islam. 
    Dalam keadaan tegang antara Wangge dan CSIS di pertengahan tahun tujuh 
    puluhan, misalnya, Wangge pernah menyundut rokok menyala ke baju yang 
    melekat di tubuh Sofyan  Wanandi dikamar kecil bioskop Menteng (bioskop 
    itu sudah digusur sekarang). 
     
    Saya sendiri juga pernah menjadi kader Pater Beek dan dilatih melawan 
    komunis. Tapi seperti juga Wangge, ketika CSIS sudah menjadikan Islam 
    sasarannya, dan karena CSIS menjadi tanki pemikir Rezim Suharto, juga 
    karena ikut berdarahnya tangan CSIS di TimorTimur, saya tidak bisa 
    lagi tetap berada dalam jajaran pengikut Pater Beek. Terutama setelah 
    demi ambisi kekuasaan dan kontrol orang-orang CSIS (Liem Bian Kie dan 
    Sudradjat Djiwandono) Partai Katolik pun mereka gilas. Begitu yakinnya 
    mereka akan pentingnya mengontrol Indonesia lewat Golkar, mereka tega 
    menindas Uskup Atambua (mempertahankan Partai Katolik), orang yang 
     sebenarnya berjasa dalam proses integrasi Timor-Timur. 
     
    Sebagai wartawan Tempo yang sudah mengunjungi Timor Timur sebelum 
    invasi operasi intel pimpinan Murdani, dan mengikuti perkembangan 
    wilayah itu hingga kini, saya tahu bagaimana permainan Murdani bersama 
    orang-orang CSIS dalam mengeruk uang dari Timor-Timur, setelah 
    sebelumnya membantai secara kejam banyak penduduk bekas jajahan 
    Portugis tersebut. Dengan uangyang terus mengalir (monopoli kopi yang 
    dikelola oleh Robby Ketek dari Solo) itulah mereka, antara lain, bisa 
    membiayai operasi-operasi politik Murdani bersama CSIS. 
     
    Tapi siapa sebenarnya Beek? Menurut cerita dari sejumlah pastor yang 
    mengenalnya lebih lama, Beek adalah  pastor radikal anti komunis yang 
    bekerja sama dengan seorang pastor dan pengamat Cina bernama pater 
    Ladania di Hongkong (sudah meninggal beberapa tahun silam di 
    Hongkong). Pos china watcher (pengamat Cina) pada umumnya dibiayai 
    CIA. Maka tidak sulit untuk dimengerti jika Beek mempunyai kontak yang 
    amat bagus dengan CIA. Sebagian pastor mencurigai Beek sebagai agen 
    Black Pope di Indonesia. Black Pope adalah seorang kardinal yang 
    mengepalai operasi politik katolik di seluruh dunia. 
     
     
    Tentang Black Pope ini tidak banyak diketahui orang, juga pastor 
    katolik yang tidak tahu mengenai kedudukan, peran, dan operasi Black 
    Pope yang sangat penuh rahasia itu. Tapi ketika almarhum Dr. 
     Sudjatmoko menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, ia pernah 
    berkunjung ke Tahta suci di Vatikan. Selain berjumpa Paus, Sudjatmoko 
    juga jumpa seorang Kardinal yang mengajaknya berbicara banyak mengenai 
    keadaan di Indonesia. Sudjatmoko merasa surprise bahwa Kardinal itu 
    tahu banyak tentang politik di Indonesia. Tidak lama setelah pulang ke 
    Indonesia sebagai pensiunan rektor Universitas PBB, pimpinan harian 
    Kompas mengirimkan orang kepada Sudjatmoko untuk meyakinkannya agar 
    tidak usah cemas masalah finansial. Kalalu ada apa-apa Kompas bersedia 
    membantu. Dari tawaran simpatik Kompas itulah Sudjatmoko yakin adanya 
    kontrol Black Pope terhadap kegiatan katolik di Indonesia. 
     
    Kembali kepada Beek, yang makin  memperkukuh posisi kader Beek di mata 
    tentara adalah sikap mereka yang didasarkan oleh kebijakan yang 
    digariskan oleh Beek. 
     
    Kebijakan itu dikenal sebagai Lesser evil theory (teori setan kecil). 
     
    Setelah komunis dihancurkan olehtentara, Beek melihat ada dua ancaman 
    (setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman 
    sama-sama berwarna hijau. Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara 
    adalah ancaman yang lebih kecil (Lesser evil) dibanding Islam yang 
    dilihatnya sebagai setan besar. Berdasarkan pikiran itulah maka 
    perintah Beek kepada kader-kadernya adalah rangkul tentara dan gunakan 
    mereka untuk menindas Islam. 
     
    Kebetulan sekali setelah Gestapu,  pihak Islam (terutama mantan 
    Masyumi) dianggap meminta terlalu banyak imbalan jasa dari 
    partisipasinya dalam penumpasan Gestapu. Padahal Suharto dan pimpinan 
    ABRI lainnya sudah berkeputusan untuk mengelola sendiri negara dan 
    tidak akan berbagi kekuasaan dengan siapa pun, apalagi dengan kekuatan 
    Islam. Ketegangan Islam lawan tentara inilah yang melicinkan 
    dipraktekkannya doktrin Lesser evil Pater Beek tersebut. 
     
    Kebetulan lain adalah adanya Ali Murtopo dan Sudjono Humardani. Kedua 
    orang ini mempunyai sejumlah persamaan meski ada perbedaan 
    mendasarnya. Sudjono dan Ali sama-sama ingin mengabdi kepada Suharto. 
    Tapi Ali Murtopo punya rencana jangka panjang untuk berkuasa (I will 
    be the next president, kata  Murtopo kepada wartawan Tempo, Tuty 
    Kakiailatu, pada masa kampanye Pemilu 1971) sedang Humardani adalah 
    orang Solo yang sudah bahagia jika bisa menjadi abdi dalam yang baik. 
    Ambisi Ali Murtopo inilah yang dimanfaatkan oleh kader-kader Pater 
    Beek tersebut. 
     
    Banyak orang yang tidak percaya kalau Ali Murtopo (keluarga santri 
    dari pesisir Jawa dan bekas hisbullah di jaman revolusi) bisa menjadi 
    orang yang sangat anti Islam dan berjasa besar dalam menindas orang 
    Islam di awal Orde Baru. Yang orang cenderung lupa adalah bahwa Ali 
    Murtopo punya rencana berkuasa, oleh karena itu semua yang 
    merintanginya untuk mencpai tujuannya haruslah ditebas habis. Musuhnya 
    bukan cuma Islam, tapi juga Perwira-perwira ABRI  yang dianggapnya 
    sebagai perintang, seperti H.R. Dharsono, Kemal Idris, Sarwo 
    EdhiWibowo dan Soemitro (Pangkopkamtib). Almarhum Dharsono (Pak Ton) 
    difitnahnya berkonspirasi dengan orang-orang PSI untuk menciptakan 
    sistem politik baru untuk menyingkirkan Suharto. Kemal Idris 
    dituduhnya berambisi jadi Presiden. Sedang Sarwo Edhy difitnahnya 
    merencanakan usaha menajibkan (menendang ke atas) Suharto. 
     
    Kader-kader Beek yang kemudian mendirikan CSIS dan waktu itu masih 
    berkumpul dalam Opsus tahu betul mengenai ini, dan mereka ikut 
    membantu Ali Murtopo mencapai ambisi berkuasanya. 
     
    Pada tahun 1974 terjadi Malari di Jakarta. Orang-orang Opsus yang 
    berada dibalik kerusuhan dan  pembakaran-pembakaran merasa dengan itu 
    bisa menghabisi lawan mereka yang dipimpin Soemitro. Kemudian terbukti 
    memang Soemitro yang kurang canggih berpolitik itu berakhir karir 
    militernya dengan cara yang sangat mengenaskan. Namun yang menang juga 
    bukan Ali Murtopo. Suharto ternyata jauh lebih pintar dari Ali dan 
    Soemitro. Kedua Jenderal yang berambisiitu dalam waktu singkat habis 
    peranan politiknya. 
     
    Selama Ali masih menjadi orang penting di sekitar Suharto, salah 
    seorang kadernya disimpannya di Korea Selatan sebagai Konjen. Itulah 
    LB. Murdani. Sudah sejak di Kostrad pada jaman konfrontasi dengan 
    Malaysia, para senior di Kostrad kabarnya sudah melihat tanda-tanda 
    adanya rivalitas diam-diam antara Ali  dan Murdani. Banyak yang menduga 
    perbedaan mereka pada gaya. Ali suka pamer kekuasaan, sedang Murdani 
    penuh kerahasiaan dan misteri. Persamaan mereka adalah semua haus 
    kekuasaan. Tapi dalam ingin berkuasa ini juga ada perbedaan. Ali ingin 
    menjadi orang yang berkuasa, sementara Murdani hanya ingin menjadi 
    orang yang mengendalikan orang yang berkuasa. 
     
    Tapi setelah terjadi Malari. Ali Murtopo tidak bisa lagi menghalangi 
    Murdani untuk tampil ke depan. Sejak itulah bintang Murdani mulai 
    menanjak. Murdani boleh berbeda style dengan Ali, tapi karena 
    sama-sama ingin berkuasa, keduanya perlu tanki pemikir. Maka CSIS yang 
    mulai cemas karena merosotnya posisi dan peran Ali Murtopo pada masa 
    paska Malari, berjaya  lagi oleh naiknya Murdani. 
     
    Berlainan dengan Ali Murtopo yang ditakutkan bisa merupakan ancaman 
    bagi CSIS kelak ketika berkuasa (ingat Suharto yang kini berbalik 
    kepada Islam setelah menindasnya dahulu?) Murdani adalah orang katolik 
    yang kebetulan secara pribadi sangat benci kepada Islam. Karena itu 
    lancar saja kerjasama Murdani dengan CSIS. Sebagai orang katolik 
    ekstrem kanan Murdani di CSIS merasa di rumah sendiri. Itulah sebabnya 
    mengapa Moerdani sekarang dengan tenang bisa berkantor di CSIS 
    (menggunakan bekas kantor Ali Murtopo). 
     
    Dipanggil pulang dan diberi bintang dan kuasa oleh Suharto setelah 
    hampir terlupakan di Korea Selatan dan (sebelumnya) Kuala Lumpur, 
    Murdani sangat  berterima kasih kepada Suharto. Merasa telah mengutangi 
    budi kepada Murdani, Suharto merasa dengan aman bisa menyuruh Murdani 
    berbuat apa saja tanpa harus takut dikhianati. MemangMurdani menjadi 
    "herder" Suharto yang menggigit siapa saja yang dianggap Murdani 
    membahayakan Suharto. Maka Suharto makin percayalah kepada Murdani. 
     
    Kepercayaan yang besar itulah kemudian yang menjadi modal bagi ambisi 
    lama Murdani untuk menjadi King Maker. Kepada seorang perwira Kopassus 
    di akhir tahun 1980-an Murdani katanya pernah berseloroh: "Buat apa 
    jadi orang berkuasa jika bisa dengan tanpa resiko kita mengontrol 
    orang yang berkuasa". Memang itulah yang digeluti Murdani di belakang 
    Suharto. Keberhasilan Murdani dan Sudomo membesar-besarkan  bahaya 
    Petisi 50 (AH. Nasution hampir ditangkapMurdani, tapi dicegah oleh TB. 
    Simatupang) berhasil mengecoh Suharto untuk mengeluarkan sebuah surat 
    pamungkas yang memberi kuasa lebih besar lagi kepada Murdani. Dengan 
    kekuasaan amat besar dari Suharto itulah ia dengan gampang dan cepat 
    bisa membangun kerajaan dan operasi intelnya (BAIS). 
     
    Menurut Wismoyo Arismunandar (mantan Kasad), orang yang mula-mula dan 
    dari awal punya firasat buruk terhadap Murdani adalah Ibu Tien 
    Suharto. Tapi karena Suharto sangat koppeg dan merasa paling tahu 
    sendiri, baru pada tahun 1988 Murdani berhasil disingkirkan. Tapi 
    sebelum meninggalkantahta kekuasaannya, Murdani sudah berhasil 
    menciptakan beberapa calon raja yang  menurut rencana akan dikontrolnya 
    kelak. Salah seorang di antaranya adalah Try Sutrisno. Begitu patuh 
    Try Sutrisno kepada Murdani sehingga sebagai kepala BAIS, Try Sutrisno 
    di Mabes ABRI adalah staf yang dulu diangkat, dipercaya, dan pernah 
    dipakai oleh Murdani sebagai Pangab. 
     
    Dalam soal memilih kader, Ali Murtopo dan Murdani sama. Keduanya amat 
    berbeda dengan Pater Beek. Beek memilih pemuda dan mahasiswa Katolik 
    terbaik. Tujuannya adalah agar kader-kader tersebut dengan kecerdasan 
    dan kelihaiannya sanggup mengendalikan orang lain untuk mencapai 
    tujuan yang diamanatkan Beek. Pater Beek SJ tahu betul bahwa Indonesia 
    ini penduduknya adalah mayoritas Islam, oleh karena itu orang Katolik 
    jangan bermimpi  untuk tampil berkuasa. (Murdani sadar akan hal ini, 
    karena itu ia hanya ingin jadi King Maker). Tapi mereka harus 
    mengusahakan agar yang berkuasa adalah orang Islam yang mereka bisa 
    atur. Inilah penjelasan mengapa Try Sutrisno dijagokan oleh Murdani 
    dan untuk itu dipakai orang Islam lain yang bisa diaturnya, yaitu 
    Harsudiono Hartas. 
     
    Ali Murtopo dan Murdani memilih bukan orang terbagus yang ada untuk 
    jadi kader, tapi orang-orang yang punya cacat atau kekurangan, (orang 
    yang ketahuan korup, punya skandal, bekas pemberontak, mereka yang 
    ingin kuasa, ingin jabatan, ingin kaya cepat, dan sebagainya). 
    Orang-orang demikian mudah diatur. Perbedaan inilah justru yang 
    menyebabkan Ali Murtopo dan Murdani mudah  bekerjasama dengan 
    kader-kader Pater Beek SJ. Lewat tangan Ali Murtopo dan Murdani 
    cita-cita dan rencana Beek SJ pernah berhasil dijalankan dengan 
    saksama. Meski tragis, tapi inilah yang penjelasannya mengapa yang 
    melaksanakan kebijakan anti Islam (lewat tangan Ali Murtopo dan 
    Murdani) kebanyakan adalah orang-orang Islam yang tidak sadar 
    diperalat oleh Ali Murtopo dan Murdani untuk ambisi mereka 
    masing-masing. 

***

      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke