http://www.antara.co.id/arc/2008/2/4/karet-indonesia-tembus-harga-2-66-dolar-as/
Karet Indonesia Tembus Harga 2,66 Dolar AS
Medan (ANTARA News) - Harga ekspor karet terus naik hingga mencapai 2,66 dolar
AS per kg akibat banyaknya permintaan di pasar internasional dan bertahan
mahalnya harga minyak mentah.
Harga itu langsung mempengaruhi harga bahan olah karet (bokar) di Sumut yang
mulai naik Senin ini Rp200 per kg atau menjadi Rp21.600 per kg dari sebelumnya
Rp21.400 per kg, kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia
(Gapkindo) Sumut, Eddy Irwansyah, di Medan, Senin.
Harga eskpor diduga terus menguat karena pasokan dari negara produsen,
khususnya dari Indonesia, diprediksi semakin ketat menyusul musim trek.
Di Sumut yang menjadi salah satu sentra karet terbesar di Indonesia, kata dia,
musim trek atau gugur daun berlangsung mulai Februari hingga Juni 2008 .
Harga karet itu terus bergerak naik sejak akhir tahun lalu. Dari pertengahan
Desember 2007 yang sebesar 2,47 dolar AS per kg, terus naik menjadi 2, 59 dolar
As pada akhir Januari 2008 dan naik lagi menjadi 2,62 dolar AS per kg pada
akhir pekan lalu dan untuk kemudian melonjak lagi menjadi 2,66 dolar AS pada
awal pekan ini.
Harga Bokar yang mencapai Rp21.600 per kg itu juga merupakan harga tertinggi
dibandingkan harga tahun lalu yang rata-rata masih Rp18 ribuan per kg, kata
Eddy yang juga dosen di salah satu universitas swasta di Medan itu.
Dia mengakui, kenaikan harga Bokar maupun harga karet ekspor itu tidak
dinikmati sepenuhnya oleh petani dan eksportir karena keterbatasan bahan baku.
Dia menyebutkan, dari kapasitas pabrik crumb rubber di Sumut per tahunnya yang
mencapai 765.432 ton dengan kebutuhan Bokar yang seharusnya sebanyal 127.572
ton per bulan, nyatanya produksi Bokar di Sumut hanya 29.715 ton sehingga ada
kekurangan pasokan setiap tahun sekitar 76,7 persen atau 97.857 ton.
Kekurangan Bokar itu, membuat pengusaha pabrikan tergantung dengan pasokan dari
Riau, Bengkulu dan Jambi .
Akibat ketergantungan dengan pasokan Bokar dari daerah lain, volume ekspor dari
Sumut tidak tetap.
Tahun lalu, volume ekspor karet Sumut mengalamai penurunan hingga 1,23 persen
akibat pasokan yang berkurang dari daerah pemasok Riau, Jambi dan Bengkulu.
Tahun 2007, ekspor karet Sumut tinggal 506.036, 05 ton dari realisasi 2006 yang
mencapai 512.267, 63 ton.
Pedagang karet di Medan, M.Harahap, mengakui sulitnya mendapatkan Bokar.
Kesulitan pasokan paling terasa ketika musim trek, atau menjelang Hari Raya
Idul Fitri dimana karet petani sudah habis diborong pedagang besar dengan cara
memberi uang panjar pembelian ketika petani membutuhkan uang pada Bulan
Ramadhan, kata Harahap.(*)
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
[Non-text portions of this message have been removed]