http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/imlek_nasionalisasi08020\ 7
Nasionalisasi Imlek dan Gong Xi Fa Cay 2008 Aboeprijadi Santoso 07-02-2008 [imlek3,280.jpg] Tahun Baru Cina 2008, Sin Chia, atau Imlek 2259, yaitu awal Shio tikus 7 Februari kali ini ditandai semarak suasana yang lebih plural, dan lebih ramai mengejar hoki alias rezeki, seperti layaknya tikus yang cerdas mencari jalan agar lebih sejahtera dan lebih aman. Di Singkawang, kota bermayoritas Tionghoa ada pesta besar menyambut Tahun Tikus. Di Sala, Imlek tahun ini berbareng dengan peresmian pertama kali nama tokoh gerakan kemerdekaan Indonesia asal Tionghoa menjadi nama jalan. Di Glodok, Jakarta, masyarakat Tionghoa meramaikan tahun baru dengan petasan, kembang api dan acara kumpul-keluarga. Hoki besar Ibu Tan Ming Lat di kawasan Petak Sembilan, Glodok, merayakan ulangtahun ibundanya yang ke 95 lengkap dengan 12 putra-putri, 60an cucu serta belasan cicitnya. Sang ibunda yang asli Betawi itu menikah dengan pria asal Cung-kuok yaitu Tiongkok yang datang ke Indonesia 100 tahun lalu. Radio Nederland Wereldomroep diundang menghadiri pesta besar pada malam menjelang Imlek itu. Tan Ming Lat: "Anak-anak semua pake baju merah-merah. Biar senang, biar hoki besar. (Merah hoki besar?) Merah hoki besar. Kalau kita orang Tionghoa bilang, baju merah hoki besar, duitnya juga dapet banyak. Iya, hokinya gede dong" Keluarga Besar Tan bukan kasus tersendiri. Banyak anggota masyarakat peranakan Tionghoa di Indonesia datang sekitar seabad lalu, kemudian berbaur. Sebagian terbesar giat di bidang usaha, namun nasib sebagian mereka mengikuti alur zaman dan cuaca politik. Di zaman Belanda mereka menikmati privilese ketimbang sebagian besar penduduk dan di zaman merdeka terombang-ambing zaman. Gejolak rasialisme tak pernah absen, namun tragedi terbesar terjadi sejak Kodam Siliwangi pada tahun 1964 memprakarsai istilah "Cina" sebagai pengganti "Tiongkok" dan "Tionghoa", disusul naiknya Orde Baru yang menyudutkan mereka dengan menuding sang negeri asal, RRT Republik Rakyat Tiongkok, sebagai biang G30S. [imlek2.220.jpg] Negasi Orde Baru Orde Baru mencoba menegasikan keberadaan ketionghoaan. Mereka membuang semua yang bernuansa Cina dalam sejarah Indonesia, kata sejarawan Asvi Warman Adam. Tetapi ketika bintang Soeharto jatuh tahun 1998, lagi-lagi kelompok etnik Tionghoa ini menjadi bola permainan elit politik. Dan, di mata awam, mereka disimbolkan oleh Bob Hasan yang menjadi sobat setia sang diktatur. Sekarang, sejak kematian Soeharto, politik seputar "cukong Cina" masih ada tapi tak sepanas dulu lagi. Mingguan TEMPO, dalam edisi khusus "Sesudah Dia Pergi", misalnya, hanya meluangkan satu halaman untuk cerita percukongan dan perkawanan Soeharto dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan. Jadi, momentum kematian Soeharto pun tidak mencuatkan isu cukong Cina lagi. Sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, kelompok etnis ini lambat laun menjadi bagian normal dalam masyarakat Indonesia. Dulu maju kena, mundur pun kena. Sekarang, dunia elit, dunia politik, dunia aktivis, dunia cendekia tidaklah normal atau lengkap apabila tak ada keturunan Tionghoanya. [imlek1.220.jpg] Nasionalisasi Imlek Sebagai elit bisnis dan kelas menengah, mereka dimanjakan negara, termanja di Asia Tenggara, sama halnya dengan rekan rekan mereka yang asal Melayu atau disebut pribumi itu. Bahkan orang terkaya di Indonesia sekarang bukan tiga nama lagi, melainkan Aburizal Bakrie yang asal Sumatra. Seorang wartawan Tionghoa menyebut ini sebagai gejala "nasionalisasi Imlek". Imlek memang harus menjadi uji spiritualitas dalam menghadapi dinamika zaman. Pada tingkat akar rumput, perubahan berangsur ini pun terasa. Di gang-gang di Glodok, di kawasan Toko Tiga, kawasan Petak Sembilan, masyarakat lokal menganggap semua itu wajar dan normal saja, bahwa agama mereka hidup dan mereka hidup berbaur pula. [Windows Media Audio] <http://cgi.omroep.nl/cgi-bin/streams?/rnw/smac/cms/nasionalisasi_imlek_\ 20080207.wma> [MP3 Audio] <http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/nasionalisasi_imlek_20080207_44_\ 1kHz.mp3> Simak lengkapTidak ada problem Begitu juga Ibu Tan Ming Lat. Kita hidup bersama, katanya [Non-text portions of this message have been removed]

