Membongkar Supersemar di Gramedia Jogja Baru saja saya pulang dari toko buku Gramedia Jogja, ada bedah buku dari penerbit Galang Press, "Membongkar Supersemar" ditulis oleh Dr. Baskara T Wardaya, dosen sebuah universitas swasta di Jogja.
Awalnya saya tidak sengaja, tiba-tiba kepingin mampir Gramedia. Dari speaker saya tahu bahwa di lantai 4 ada bedah buku tersebut. Sebelum saya naik, saya bertemu Roy Suryo (pakar IT) di lantai tiga di depan anjungan (katalog komputer). Roy terkesan sibuk mencari buku. Karena komputer anjungan sedang saya pakai, maka dia bertanya pada seorang staf dan diantarlah Roy menuju buku yang dia inginkan. Karena buku yang saya cari "Kelirumologi" karya Jaya Suprana tidak ada, maka saya langsung naik ke lantai 4 untuk join dengan acara bedah buku yang baru beberapa menit dimulai. Tidak lama, Roy Suryo masuk ke ruangan diskusi dan duduk tepat di sebelah kiri saya memegang sebuah buku. Moderator diskusi dan dua orang panelis langsung menyambut kedatangan Roy. "Wah.. Ini dia yang kita tunggu-tunggu, pakar telematika kita. Mas Roy kita tunggu keterangannya lho mas, kata Kunto Pimred Galangpress sebagai moderator." Roy hanya tertawa, "Oke, tapi saya ta duduk di sini saja.." Roy memang memilih duduk diantara audience, tidak duduk diantara panelis karena Roy memang tidak datang dan diundang sebagai panelis. Entah sebagai apa? Dia tetap memilih duduk di samping saya, sambil men-check HP-nya dan sesekali mengangguk mendengar penjelasan dan keterangan dari para panelis. Sempat saya melirik buku yang dipegang Roy, ternyata buku itu adalah buku yang memang sedang dijadikan diskusi itu. Kira-kira diskusi berjalan setengah jam dengan penjelasan dari penulis buku Dr. Baskara TW dan Jeremias Lemek seorang advokat, Roy kemudian memperdengarkan kepada kami rekaman pidato Soekarno. Pidato itu yang jika valid kebenarannya kemungkinan dikatakan&direkam antara rentang waktu setelah 11 Maret 1966 sampai sebelum pidato terakhir Soekarno yang dikenal sebagai Nawaksara 10 Januari 1967. Dari suara yang keluar dari Blackberry Roy -dibantu mic wireless- kami mendengar pidato Soekarno yang intinya beliau menyangkal bahwa isi Supersemar telah disalahgunakan oleh pihak pihak yang diberi wewenang -Soeharto dkk- dalam mengambil tindakan pada saat itu. Artinya, isi Supersemar sesungguhnya adalah surat tugas harian, bukan surat tugas pengambilan tindakan istimewa seperti kita tahu selama ini. Diantara waktu para panelis menjawab pertanyaan-pertanyaan audience, saya bertanya secara langsung dari mas Roy, "Jadi kenapa baru sekarang mas bilang kalau ada bukti pidato Soekarno tentang penyangkalan beliau mengenai isi Supersemar yang disalahgunakan oleh Soeharto itu mas?" "Saya sudah share data itu sejak lama mas Ifan, ada juga rekaman video-nya, tapi media-media tidak berani menayangkan. Baru akhir-akhir ini aja mereka berani setelah Soeharto meninggal. Yang berani itu cuma beberapa mas. Global, TVRI, SCTV, RRI, Trans 7, dan Trans TV. Metro saja tidak." jawabnya dengan jelas. Ketika ada pertanyaan dari audience yang mengarah pada rekaman pidato dari HP Roy tadi, kembali Roy diberi kesempatan oleh moderator untuk menjelaskan. Roy lalu menjelaskan setelah menerima mic dari staf Gramedia. Ia berbicara dengan posisi berdiri memegang mic di sebelah kiri saya. Tapi menurut seorang teman yang cukup expert di bidang IT, Roy Suryo is a selebrity.. not a real hacker! Menurut teman saya itu, orang IT itu adalah orang-orang belakang monitor, mereka paling tidak suka dengan publisitas. Teman saya lalu bercerita bahwa dia pernah diundang secara khusus ke sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Depkominfo untuk kemudian diajak bergabung dalam ID-SIRTI (Indonesian Security of Internet Infrastructure). Orang-orang yang diundang adalah orang-orang pilihan yang bisa mendukung Depkominfo dalam mengatasi cyber crime di Indonesia. Sekarang teman saya sudah bergabung, "As long as I have time.. And you know what, Roy Suryo tidak dilibatkan disana!!" itu kalimat dia yang cukup mengagetkan saya. Jadi soal pernyataan Roy Suryo dan rekaman suara Soekarno tadi? Saya orang awam di bidang IT. Jadi saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Tapi secara emosional, hubungan saya lebih dekat dengan teman saya tadi daripada ke mas Roy. Mohon maaf.. Menjelang akhir acara bedah buku tersebut, akhirnya saya diberi kesempatan bertanya. "Atas kalimat Romo Baskara tadi mengenai rekonstruksi sejarah yaitu usaha dalam membenarkan sejarah yang keliru, bagaimana dengan literatur di sekolah utamanya SD-SMA? Karena selama ini yang mereka terima sebagai pelajaran sejarah adalah sebuah kekeliruan. Saya sendiri dulu ketika masih di bangku sekolah bahkan sampai sekarang adalah bagian dari siswa-siswa yang memahami sejarah yang keliru itu. Apa upaya konkret dari pembenaran atas sejarah yang kelitu itu? Menurut saya seharusnya kurikulum atau struktur pendidikan sejarah kita dibenarkan. Tapi mengapa terkesan lamban sekali sesuatu yang berhubungan dengan pembenaran sejarah itu? Sesudah ditemukan bukti yang benar, belum tentu buku yang sudah dikoreksi itu bisa segera terbit. Saya khawatir nanti seperti apa yang terjadi pada generasi selanjutnya. Misal saja ketika tayangan pemakaman Soeharto lalu, ada anak SD ditanya oleh wartawan mengenai pendapatnya tentang Soeharto, dia menjawab, `Ya pokoknya Soeharto itu orangnya baik. Beliau kan bapak pembangunan.' Bahkan seorang ibu paruh baya juga menyatakan hal yang nyaris sama persis. Bagaimana menurut Romo?" Romo Baskara menjawab bahwa memang seharusnya kurikulum diperbaharui, demi rekonstruksi sejarah, pembenaran atas sesuatu yang keliru. Ia juga menyampaikan bahwa menjadi tugas kita semua untuk menyampaikan kebenaran sejarah kepada bangsa ini, melalui media apapun yang bisa kita gunakan. Benar memang kata Romo Baskara, tapi sebaiknya bukti dari kesalahan sejarah itu benar-benar disahkan lebih dulu sebagai bukti yang valid. Artinya jika Roy Suryo mengatakan bahwa telah ditemukan bukti-bukti yang mendukung termasukvideo dan pidato, tentu hal itu harus dinyatakan valid oleh pihak yang berkompeten. Sebaiknya ada pakar lain dari bidang yang sama yang menyatakan demikian, tidak hanya Roy seorang. Lebih baik lagi jika saksi-saksi yang masih hidup seperti salah seorang istri dari tiga Jenderal yang membawa naskah Supersemar itu juga diwawancarai. Jadi pembenaran sejarah itu valid, artinya tidak menjadi kesalahan yang semakin panjang. Itulah sedikit cerita dari saya sabtu sore 9 Februari ini. Karena sudah mengajukan pertanyaan, akhirnya saya mendapat hadiah buku dari Galang Press, tapi sayang bukan buku "Membongkar Supersemar" yang sedang didiskusikan. Yah, tak apalah. "Masih mending dikasih!", kata teman saya yang mendengar cerita ini. salam, refanidea diambil dari blog kami: http://refanidea.wordpress.com/2nd-opinion/membongkar-supersemar-di-gramedia-jog\ \ ja/

