Penembak Ramos Horta lulusan IPDN
Tanggal : 12 Feb 2008
Sumber : Harian Terbit

JAKARTA - Kudeta gagal Alfredo Reinado terhadap Presiden Timor Leste Jose
Ramos Horta diharapkan tidak membuat Indonesia dituduh berada di balik
peristiwa berdarah ini. Sebab, Alfredo Reinado memiliki kedekatan dengan
mantan petinggi meliter di negeri ini dan merupakan alumnus IPDN yang
'terkenal' itu.

"Saya berharap jangan sampai ada tuduhan-tuduhan Indonesia di balik
peristiwa itu. Karena Alfredo bekas siswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri
(IPDN) dan pernah dekat dengan salah seorang petinggi militer kita.
Indonesia sudah kenyang dan capek ngurusi Timor Leste (dulu Timor Timur)
saat menjadi bagian Indonesia," ujar Anggota Komisi I dari Fraksi PBB,
Yusron Ihza Mahendra, Selasa (12/2).

Menjawab Harian Terbit, Yusron mengaku, status Alfredo yang pernah menyenyam
pendidikan di IPDN didapatnya dari seorang sumber yang bisa dipercaya.
"Setelah saya melakukan cek sendiri, ternyata memang benar Alfredo pernah
menjadi mahasiswa IPDN. Hanya saja saya lupa angkatan berapa dia," jelas
Yusron.

Yusron berpendapat, pemerintah Indonesia harus waspada agar tidak dipakai
Timor Leste sebagai alat diplomasi mereka. Apa lagi, Indonesia sekarang ini
sama sekali tidak berminat terhadap wilayah Timor Leste yang cenderung
membawa mudarat ketimbang manfaat sebagaimana terlihat pada saat Timor Leste
menjadi bagian wilayah Indonesia di masa lalu.

"Sejauh informasi yang saya dapatkan, persoalan Timor Leste memang tidak
sederhana. Adanya kelompok yang merasa disingkirkan (Loro Manu) yang umumnya
masyarakat yang tinggal di kota seperti halnya Alfredo oleh kelompok yang
dulunya tinggal di gunung (Loro Sae), ini merupakan persoalanyang besar.
Pemerintah Indonesia tentu tidak perlu melibatkan diri dalam masalah
internal negeri itu," jelas Yusron.

Ia mengibaratkan kebakaran di halaman belakang atau samping rumah negara RI,
tentu harus berjaga-jaga agar api tersebut tidak merembet ke wilayah RI.

Menurutnya, adanya tuduhan-tudahan kurang beralasan oleh dunia Internasional
terhadap Indonesia dalam kaitan Timor Leste di masa lalu, dan juga adanya
dukungan dunia internasional untuk memerdekakan Timor Timur, tampaknya kini
menjadi batu ujian tentang mana yang benar dan mana yang salah.

"Sewaktu saya bertemu PM John Howard sekitar dua tahun yang lalu, PM Howard
mengaku sakit kepala terhadap ketidakstabilan politik di negara sekitar
Australia, termasuk Timor Leste. Sesuai ungkapan siapa berbuat, maka dia
yang harus bertanggung jawab, kini tampaknya merupakan saatnya bagi
negara-negara atau dunia internasional untuk bertanggung jawab terhadap
situasi di Timor Leste," papar Yusron.

Lebih lanjut Yusron mengatakan, Senin (11/2) malam sekitar pukul 23.00 WIB,
dirinya mendapat kabar dari kantor Kedubes RI di Timor Leste tentang
pengungsi WNI. "Jumlahnya belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas,
kantor Kedubes RI di sana sudah banyak WNI yang mengungsi karena khawatir
menjadi sasaran," tambah Yusron lagi.

Berdasarkan pantauan Yusron, hingga kini pemerintah RI belum melakukan
evakuasi terhadap WNI yang mengungsi di kantor Kedubes RI tersebut. Karena
itu, Yusron meminta kepada pemerintah agar melakukan penjagaan ketat,
terutama terhadap para WNI di Timor Leste.

Situasi perbatasan Indonesia dengan Timor Leste yang selama ini ramai
dilalui warga kedua negara, sejak Senin [11/2] mulai lengang menyusul
pemberlakuan keadaan darurat dan jam malam di negara tetangga tersebut.

Kabid Humas Polda NTT, Kompol Marthin Raja dihubungi Selasa [12/2] pagi
mengatakan dua pintu masuk utama di perbatasan di Moto Ain dan Meta Mauk
tetap dibuka seperti biasa, tapi situasinya masih lengang.

Selain dua pintu masuk utama yang dijadikan Pos terpadu, di perbatasan juga
dilengkapi enam pos keamanan yang dijaga polisi dan brimob untuk mengamankan
perbatasan.

Sebelumnya, Presiden SBY memerintahkan Panglima TNI untuk menjaga keamanan
perbatasan Indonesia- Timor Leste agar kejadian di Timor Leste tidak
berdampak kepada Indonesia.

Marthin Raja mengatakan keamanan perbatasan terus dipantau. Bahkan Wakapolda
Kombes Muharso sejak kemarin berada di Polres Belu untuk memantau
perbatasan.

Sementara itu, jurubicara Deplu Kristiarto Suryo Legowo mengatakan KBRI di
Timor Leste menilai situasi di Dili hingga kini masih aman sehingga sekitar
3000 WNI di sana belum perlu di-evakuasi.

Sementara itu, sebuah sumber lain mengatakan, informasi bahwa Alfredo pernah
menjadi supir Theo Syafei saat Indonesia masih berkuasa di Timor Timu, itu
mungkin saja. Sebab, waktu itu Alfredo masih sebagai warga negara dan sangat
dekat dengan orang Indonesia, yang kemudian bersama keluarganya pindah ke
Australia.

Alfredo adalah sosok yang idealis, dengan satu keinginan melihat Timor Timur
menjadi negara yang benar-benar merdeka, dari segala campur tangan asing.
Dalam hal ini, ia ingin Timor Timur di pimpin oleh orang Timor Timur untuk
segala aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, budaya dan militer. Namun
keinginannya itu tidak kesampaian, dan ditengah kegalauannya Alfredo
membangkang.

Ia lari kehutan bersama 50 orang tentara Timor Timur, dari 600 orang yang
dipecat Presiden Ramos Horta. Dalam pemberontakannya, Alfredo tertangkap,
dan dipenjara. Beberapa waktu di penjara, Alfredo melarikan diri, dan selama
dalam pengejaran Alfredo sering bertemu dengan Presiden Ramos Horta. Dalam
setiap pertemuan empat mata itu, pembicaraan keduanya tidak diekspos. Tapi
dari informasi, Alfredo menuntut agar Partai Fretelin dibubarkan, karena
baginya Partai Fretelin yang berkuasa masih Komunis. []


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke