Posted by:      "Rusdi Mathari"      
      [EMAIL PROTECTED]      
               
        
          rusdi_man 
        
          
    
      Mon Feb 11, 2008 9:11 am        (PST)    

    
            Senin (11 Februari 2008) harian Kompas dikabarkan mengganti secara

mendadak jajaran puncak redaksinya. Pemimpin Redaksi Kompas yang

sebelumnya dijabat oleh Suryopratomo diganti oleh Bambang Sukartiono,

wartawan senior Kompas. Kabarnya Bambang sudah lama dipromosikan untuk

menjadi Pemimpin Redaksi Kompas ketika Bambang Harimurti menjabat

Pemimpin Redaksi Tempo tapi tak jadi. Loh apa hubungannya?



Oleh Rusdi Mathari

SEBUAH pesan pendek dari seorang sekretaris redaksi media di Jakarta

masuk ke ponsel saya menjelang magrib, Senin (8 Februari 2008). Isinya

menyebutkan bahwa Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo yang akrab

dipanggil Tomi diganti oleh Bambang SK. Saya tak terkejut karena

sekitar dua jam sebelumnya kabar pergantian petinggi koran Kompas itu

sudah saya dengar dari seorang wartawan Tempo. Lebih dari itu

pergantian pimpinan sebuah lembaga termasuk Kompas adalah sesuatu yang

biasa.



Saya mulai menjadi "terusik" dengan pergantian bos Kompas itu ketika

seorang wartawan senior yang bertemu saya di sebuah kantor di Menteng,

Jakarta Pusat, bercerita bahwa pergantian itu dilakukan mendadak.

Penyebabnya adalah akumulasi persoalan di Kompas semasa dipimpin oleh

Tomi; Mulai dari soal PHK terhadap Bambang Wisudo, tulisan obituari

Soeharto di Kompas yang ditulis oleh Jacob Oetama hingga isu Tomi yang

"dekat" dengan Sukanto Tanoto, bos Raja Garuda Mas. Saya tak tahu soal

yang dua terakhir kecuali soal pemecatan Bambang Wisudo, karena

setelah di-PHK, saya bertemu berapa kali dengannya di kantor AJI

Jakarta di Pancoran, Jakarta.



Wisudo adalah wartawan Kompas yang diberhentikan pada 9 Desember 2006

karena dianggap menimbulkan keresahan karyawan dengan memutarbalikkan

fakta (lihat "Perjuangkan Hak, Karyawan Kompas Akhirnya Dipecat,"

detikcom, 8 Desember 2006). Namun oleh Wisudo pemecatan itu dinilai

berhubungan dengan aktivitasnya di Perkumpulan Karyawan Kompas atau PKK.



Ketika pengurus PKK dan jajaran pemimpin Kompas bertemu, Wisudo yang

menjabat Sekretaris PKK antara lain mempertanyakan soal 20 persen

saham karyawan seperti yang tercantum dalam UU Pers yang belum

direvisi. Dikabarkan, perundingan itu tak membuahkan kesepakatan

selain hanya soal pembagian 20 persen dividen yang dikantongi oleh

Kompas. Aktivitas itulah yang lantas membuat gerah pimpinan Kompas.

Wisudo lalu diberikan surat tugas penempatan sebagai wartawan di Ambon

tapi ditolak oleh yang bersangkutan dan akhirnya berbuah pemecatan

(lihat "Wartawan Kompas Ditahan Satpam," detikcom, 8 Desember 2006).



Tomi sebagai Pemimpin Redaksi Kompas disebut-sebut adalah orang yang

paling bertanggung jawab atas pemecatan tersebut. Namun kepada

detikcom, Tomi mengatakan bahwa pemecatan atas Wisudo adalah hubungan

kekaryawanan biasa yang terkait dengan indisipliner. Pemecatan atas

Wisudo lalu menjadi ramai di kalangan wartawan, karena Wisudo memang

tidak menerima pemecatan itu dan karena itu dia berusaha mendapatkan

hak-haknya kembali sebagai karyawan dan wartawan Kompas. Didukung AJI

dan beberapa organisasi guru, Wisudo beberapa kali melakukan aksi

unjuk rasa antara lain di rumah Jacoeb Otama, bos besar Kelompok

Kompas Gramedia. Terakhir Wisudo meluncurkan video perjuangannya dan

disebarkan melalui situs Youtube.



Dari beberapa informasi, Jacoeb Otama konon bersedia berdamai dengan

Wisudo tapi sebaliknya dengan Tomi dan beberapa wartawan Kompas yang

lain yang katanya lebih memilih keluar dari Kompas daripada harus

berdamai dengan Wisudo. Kasus Wisudo saat ini masih terus berlanjut di

pengadilan perburuhan. Benarkah hanya soal kasus PHK Wisudo, Tomi

akhirnya diganti? Nanti dulu.



Wartawan senior itu lalu menunjukkan SMS di ponselnya, isinya: Raja

Garuda Mas. Foto Tomi dan Sukanto Tanoto. Saya tanya, "Apa ini?" "Ini

jawaban dari pertanyaan saya mengapa Tomi diganti?" kata dia. Saya

mencoba mengerti dan mencari hubungan antara foto Tomi dengan Sukanto

Tanoto jika itu memang benar ada dengan pemberhentiannya sebagai

Pemimpin Redaksi Kompas tapi tak menemukan jawabannya. Ketika

menelusuri di google, saya juga tak menemukan jawaban soal foto

ataupun artikel tentang Tomi dan Sukanto Tanoto itu.



Satu hal yang menarik dari pergantian itu adalah sosok Bambang SK,

pengganti Tomi. Dia adalah wartawan senior Kompas yang pernah

membidangi desk ekonomi, dipindahtugaskan ke TV7 (sekarang bernama

Trans7), dan terakhir menjabat sebagai Direktur PSDM Kompas. Bambang

pula yang mengonsep SK PHK terhadap Wisudo pada 9 Desember 2006.



"Bambang ini sebenarnya sudah dipromosikan menjadi Pemred Kompas sejak

lama ketika Bambang Harimurti menjabat Pemimpin Redaksi Tempo tapi tak

jadi," kata seorang wartawan yang lain. Ketika saya tanya kenapa, dia

menjawab, "Sesama Bambang dilarang mendahului," kata dia.



Sebagai koran terbesar dan berpengaruh di Indonesia, apa yang terjadi

di Kompas pada Senin (11 Februari 2008) memang terlalu menarik untuk

dilewatkan dan diketahui oleh para pembacanya. Dan andai benar telah

terjadi pergantian pimpinan itu, Kompas sepatutnya bisa menjelaskan

kepada khalayak pembacanya bahwa pergantian itu sebenarnya sebagai

sesuatu yang biasa saja dan lazim terjadi di sebuah perusahaan dan

bukan sesuatu yang luar biasa apaladi sekadar karena sesama "pemimpin

redaksi" dilarang mendahului.



*Artikel lain bisa dibaca di http://www.rusdimat hari.wordpress. com

 










      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke