http://www.antara.co.id/arc/2008/2/11/permintaan-karet-indonesia-terus-meningkat/

Permintaan Karet Indonesia Terus Meningkat

Medan (ANTARA News) - Permintaan karet Indonesia SIR 20 di pasar internasional 
terus meningkat di tengah terjadinya pasokan yang ketat menyusul masuknya musim 
gugur daun (trek) mulai Februari yang diperkirakan berlangsung hingga Juni.

"Harga karet dipastikan akan bertahan menguat. Kalaupun ada koreksi pasti 
sangat tipis dengan faktor yang tidak fundamental," kata Ketua Gabungan 
Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Fauzi Hasballah, di Medan, Senin.

Dia memberi contoh, awal pekan ini harga ekspor SIR 20 terkoreksi tipis dari 
awal pekan lalu atau menjadi 2,64 dolar AS/kg dari sebelumnya 2,66 dolar AS. 
"Tapi harga itu diperkirakan naik lagi," katanya. 

Harga karet terus bergerak naik sejak akhir tahun lalu. Dari pertengahan 
Desember 2007 yang sebesar 2,47 dolar AS/kg, terus naik menjadi 2,59 dolar AS 
pada akhir Januari 2008 dan sempat menembus 2,66 dolar AS awal pekan lalu.

Permintaan yang tetap tinggi menyebabkan harga bahan olah karet (bokar) di 
dalam negeri terus bertahan menguat sekitar Rp21.600 hingga Rp21.900/kg.

Bertahan menguatnya harga ekspor itu, kata Fauzi, karena selain di Indonesia, 
musim trek juga dialami negara produsen lainnya yakni Thailand dan Malaysia, 
sehingga pasokan yang ketat terjadi secara menyeluruh.

Dia mengakui kenaikan harga bokar maupun harga karet ekspor tidak dinikmati 
sepenuhnya oleh petani dan eksportir karena keterbatasan bahan baku.

Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Eddy Irwansyah menyebutkan, dari kapasitas 
pabrik crumb rubber di Sumut pertahunnya yang mencapai 765.432 ton dengan 
kebutuhan bokar yang seharusnya sebanyak 127.572 ton perbulan dengan asumsi 
karet kadar kering 50 persen, nyatanya produksi bokar Sumut hanya 29.715 ton 
sehingga ada kekurangan pasokan setiap tahun sekitar 76,7 persen atau 97.857 
ton. 
Kekurangan bokar itu membuat pengusaha pabrikan tergantung terhadap pasokan 
dari Riau, Bengkulu dan Jambi. 

Akibat ketergantungan dengan pasokan bokar dari daerah lain, volume ekspor 
Sumut setiap tahunnya berlangsung tidak tetap.

Tahun lalu volume ekspor karet Sumut mengalami penurunan hingga 1,23 persen 
akibat pasokan yang berkurang dari daerah pemasok Riau, Jambi dan Bengkulu. 

Tahun 2007 ekspor karet Sumut tinggal 506.036,05 ton dari realisasi 2006 yang 
mencapai 512.267,63 ton. 

Pedagang karet di Sumut, M. Harahap, mengatakan, khusus sejak Februari 2008 
pedagang semakin berebut untuk mendatangkan getah karet dari petani.

"Selain karena musim trek, pedagang mengkhawatirkan stok yang menipis setelah 
tahun lalu benar-benar terjadi pasokan yang ketat menyusul terjadinya dua kali 
musim trek," katanya.(*)


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke