Maaf kalau fwd-annya sangat panjang.. :-)
Kadang sampai mikir, ini orang bahasannya koq bisa detil begini ya?
Apa inisialnya ada kaitannya dengan AD-nya TNI ya? :-)
Hehehe.. no offense yo bos..

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From: anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/1/22
Subject: Re: Menyoal Kasus Soeharto -Jangan Tuduh Jaman Sukarno
Keblinger.....

Jaman Sukarno, Jaman Suharto

Oleh Anton

Minggu-minggu ini kita menyaksikan sebuah drama kesehatan seseorang
yang kemudian dieksploitir menjadi adegan kemanusiaan dimana
eksploitasinya secara tidak sengaja ingin menguburkan sebuah
komitmen hukum yang disepakati oleh rakyat melalui mekanisme
permusyaratan di Parlemen dan kesepakatan itu tertuang jelas dalam
TAP MPR No.XI/1998. Sebuah komitmen yang serius dari negara sebagai
penyelenggara pemerintahan dimana dengan rakyat melakukan kontrak
politiknya lalu dengan drama kesehatan yang cengeng itu (Cengeng!
Karena kejahatan kemanusiaan Suharto puluhan juta kali lebih keji
dari yang kita lihat di TV tentang Suharto) dan diperantarai oleh
media yang notabene dibawah kendali kepemilikan kroni Suharto, kita
rakyat sekali lagi dieksploitir rasa kasihannya lalu digiring
mengarah pada sebuah pengkhianatan keadilan, entah apa namanya
Deponering atau pemutihan.

Lalu dengan naifnya lagi opini digiring dengan melihat era Sukarno
sebagai hal yang lebih buruk dimana era Sukarno menjadi gambaran
buram tentang sejarah Indonesia. Dimana sebuah era dilabur sehitam-
hitamnya menjadi gambaran buruk dan dengan hadirnya Orde Baru dengan
Junta Militernya seakan-akan Indonesia diselamatkan dari nafas
komunisme, diselamatkan dari kehancuran ekonomi dan diselamatkan
dari keadaan negara gagal (Failure State). Padahal fakta membuktikan
bahwa Orde Baru berdiri melalui proses kejahatan terhadap
kemanusiaan, lalu menjual negara dan dengan basis ideologi-nya yang
picik membangun masyarakat dungu dengan mengembalikan jam sejarah
sebagai masyarakat kolonialisme yang diperkuli oleh para elite Orde
Baru. Yah diatas puing-puing keruntuhan Sukarno, Orde Baru membangun
masyarakatnya dengan basis tatanan masyarakat kolonial dalam sebuah
definisi yang lebih keji.

Mari kita bertamasya sejarah apa yang sesungguhnya terjadi pada Era
Sukarno (1960-1965) khususnya pada masa pasca pembubaran PSI dan
Masjumi yang dianggap sempurnanya politik Demokrasi Terpimpin dan
apa yang terjadi pada era Suharto (1966-1998).

Demokrasi Terpimpin (1960-1965)

Lahirnya demokrasi terpimpin tak pelak dituding sebagai awal masa
diktatornya kekuasaan Sukarno (harus diperhatikan masa demokrasi
terpimpin bukanlah masa kediktatoran Sukarno tapi sebuah masa krisis
revolusi yang memerlukan kepemimpinan yang kuat). Menurut pendapat
saya masa demokrasi terpimpin adalah bertemunya kelanjutan logis
dari ketidakpuasan Angkatan Darat tahun 1952, membludaknya massa
akar rumput kekuatan kiri di bawah jaringan PKI dimana ini mendorong
kesadaran atas pilihan ideologi sosialis bagi bangsa Indonesia,
todongan negara maju terhadap kekayaan bangsa Indonesia dan
kesadaran Sukarno bahwa masa depan dunia masih dalam cengkeraman
kolonialisme yang melalui kompleksitasnya menciptakan Neo
Imperialisme dan Kolonialisme dimana dua kutub kekuatan Soviet dan
Amerika sama-sama memberlakukan sistem politik Nekolim ini. Faktor-
faktor inilah yang kemudian menciptakan sebuah gerakan politik
konsolidasi dibawah figur Sukarno dengan panji Nasakomnya dimana
semua elemen-elemen pada waktu itu memang sedang bertarung di arus
bawah politik, sementara di arus atas semua kekuatan terpusat pada
Sukarno.

Dari tiga kepentingan ini mari coba kita anatomi satu persatu :

Setelah kemenangan Angkatan Darat jalur Nasution-Simatupang dalam
konflik internal Angkatan Bersenjata dimana sempat melibatkan
kekuatan politik lokal garis kiri-radikal pada tahun 1947 (usaha Kup
Jenderal Mayor Sudharsono terhadap Sjahrir), 1948 (peristiwa Madiun)
dan 1949 (Terbunuhnya Tan Malaka oleh Pasukan Jenderal Sungkono
sekaligus membulatkan dukungan terhadap KMB) menjadikan kekuatan
Angkatan Darat sepenuhnya dibawah kendali Nasution-Simatupang yang
moderat.

Kemenangan Nasution membuat Angkatan Darat merasa memiliki saham
politik terbesar atas kemenangan daulat Indonesia yang secara bulat
diakui dunia internasional pada Desember 1949. Namun setelah
dibubarkannya RIS dan kembali dalam bentuk NKRI, Angkatan Darat
tersingkirkan dari kancah politik sehari-hari. Kekuatan politik
berada di tangan partai-partai politik terutama Masjumi, Partai
Sosialis Indonesia dan Partai Nasional Indonesia. Beberapa kekuatan
politik ada yang sengaja menarik Nasution cs ke dalam dunia politik
sipil untuk menambah mesiu melawan lawan-lawan politiknya, di garis
inilah kemudian Nasution bertanggung jawab menggiring militer untuk
melibatkan dirinya ke dalam daulat politik sipil dan menjadi benih
awal masuknya kekuatan militer sebagai bagian variabel politik sipil
yang seharusnya diharamkan dalam negara modern menurut ukuran-ukuran
barat.

Peristiwa Oktober 1952 sendiri memang merupakan gerakan Nasution
yang gagal namun gerakan ini merupakan pintu pembuka untuk lebih
berkuasanya para perwira tinggi Angkatan Darat dalam sektor-sektor
sipil terutama di bidang ekonomi dan politik. Hal ini sesungguhnya
sudah tidak disukai oleh kalangan PSI yang terkenal anti fasis dan
militerisme namun PNI banyak mengambil manfaat dari masuknya militer
ke sektor sipil dimana kekuatan militer kerap menjadi kekuatan yang
saling bersinergi dengan kelompok nasionalis-birokrat dari sinilah
kemudian tercipta papan atas politik Indonesia dari struktur priyayi-
militer dimana struktur ini menjadi elite yang secara riil berkuasa
di Indonesia.

Tumbuhnya papan atas elite pemerintahan yang didukung militer
berbarengan dengan tumbuhnya kekuatan massif rakyat kecil yang
didorong oleh para pemimpin komunis yang masih muda-muda dan lolos
dari peristiwa Madiun 1948. Kemampuan para pemimpin Komunis muda di
bawah empat serangkai : DN Aidit, Njoto, MH Lukman dan Sudisman
membuat gemas beberapa elite pemimpin partai politik dan kekuatan
militer yang takut akan bangkitnya komunis karena mereka sendiri
pernah membantai kekuatan komunis dalam peristiwa 1948. Bangkitnya
kaum komunis ini bukannya tidak diantisipasi oleh kekuatan kanan,
Razia Agustus 1951 menunjukkan bahwa kekuatan kanan menolak akan
bangkitnya komunis (Razia Agustus ini menangkap orang secara
serampangan jadi asal dicurigai kiri harus ditangkap). Namun razia
agustus 1951 lebih cenderung pada memenuhi keinginan Amerika Serikat
yang saat itu sedang dibayang-bayangi ketakutan imajiner senator
Joseph MacCarthy. Lewat proyek MSA-nya beberapa orang pemimpin teras
partai politik terlibat dan kemudian MSA proyek dibongkar oleh
kelompok Masyumi sendiri dibawah pimpinan Natsir dimana tujuannya
adalah menyingkirkan pemimpin Masyumi yang berkuasa di pemerintahan
Soekiman Wirjosandjojo. Terhentinya razia agustus yang lebih dikenal
sebagai razia Soekiman membuat PKI bisa leluasa terus bergerak dan
akhirnya DN Aidit memboyong papan nama ukiran Jepara dari Kampung
Kranggan, Yogyakarta ke Jakarta untuk dipampang di Markas Besar PKI
sekaligus menasbihkan PKI sebagai kekuatan politik legal.

PKI yang berhasil menyelenggarakan kongresnya dan menyingkirkan
kekuatan Tan Ling Djie, jago tua PKI yang tidak menghendaki PKI
bergerak secara legal sebelum memiliki kekuatan jelas. Tersingkirnya
Tan Ling Djie ini sekaligus menandai era pertentangan PKI dengan
Sukarno. Di jaman revolusi 1945-1949 para pemimpin PKI menganggap
remeh kekuatan Bung Karno dan menjuluki Bung Karno adalah tipe
pemimpin Nasionalis Borjuis yang juga kerap dianggap tidak mengerti
jalannya revolusi kiri. Pandangan itu masih lekat pada para pemimpin
tua yang telah bergerak melawan Belanda sejak tahun 1920-an. Namun
pemimpin-pemimpin baru PKI adalah anak-anak muda yang lahir di tahun
1920-an. Semua pemimpin PKI muda mengawali perjuangannya dalam
pergerakan anti politik Jepang. Mereka dekat sekali dengan Bung
Karno dan Bung Hatta. Bahkan DN Aidit adalah anak didik kesayangan
Hatta karena pintarnya dan MH Lukman diberikan nama oleh Bapaknya
dengan nama awal Mohammad Hatta. Njoto adalah orang yang mengerti
benar jalan pikiran Sukarno sehingga kerap menuliskan pidato untuk
Bung Karno untuk dibacakan pada upacara 17 Agustus. Sudisman lebih
merupakan seorang Sukarnois ketimbang Marxist hal ini bisa dibaca
dari pledoinya menjelang kematiannya di tahun 1968 yang membuat
heboh para intelektual Indonesia.

Sukarno sedari awal sudah memahami dua kekuatan yang tumbuh akibat
revolusi kemerdekaan Indonesia. Kekuatan elite yang banyak digawangi
secara intelektual oleh PSI, Birokrasi oleh PNI serta perusahaan-
perusahaan negara yang banyak diisi oleh perwira militer Angkatan
Darat. Serta kekuatan bawah yang dipimpin oleh PKI dan sesungguhnya
kekuatan bawah ini adalah massa pendukung setia Sukarno yang masih
melihat negara daulat Indonesia belum tercapai sepenuhnya. Sukarno
harus bisa mengendalikan ini semua agar Indonesia jangan terpecah
seperti India Pakistan, Korea atau Vietnam. Sukarno paham bahwa
persatuan Indonesia adalah syarat mutlak sementara di timur
Indonesia kekuatan Belanda masih bercokol di Irian Barat.

Banyak para intelektual Komunis terutama dari garis anti Stalinis
menuding bahwa DN Aidit terlalu mempermainkan nama komunis dalam
pergolakan politik di Indonesia. Menurut mereka PKI dibawah pimpinan
DN Aidit hanyalah pendukung Sukarno. Dan bila Sukarno mati maka PKI-
pun akan mati. Hal ini kelak memang terbukti pada saat Suharto
melakukan tawar menawar politik dimana Suharto menggunakan media
massa sebagai pembangkit opini dan menggerakkan secara psikologis
histeria massa lalu membantai 500 ribu sampai 3 juta nyawa dimana
pembantaian itu dipelintir sebagai bagian dari kekejaman PKI.
Suharto menaruh pembunuhan PKI sebagai daya tawar terhadap Sukarno,
jelas ini merupakan Skak Mat terhadap Sukarno, karena Sukarno tahu
bahwa kekuatan riilnya justru ada di PKI. Bung Karno sendiri tidak
mempercayai lagi PNI yang sudah redup seiring dengan pemborjuisan
para pemimpinnya sejak kepemimpinan Hardi di tahun 1950-an.

Independensi Indonesia

Dari seluruh kerja politik Sukarno di tahun 1960-1965 adalah sebuah
usaha sungguh-sungguh untuk melepaskan ketergantungan Indonesia pada
negara maju dan pembersihan unsur-unsur kolonialisme yang masih
tersisa. Untuk itulah kerja politik Bung Karno ini disebut
sebagai `Revolusi' dan merupakan kelanjutan revolusi kemerdekaan
1945-1949. Orang yang tidak memahami maksud Sukarno dan gagal
melihat visi Sukarno tentunya menggambarkan revolusi Sukarno sebagai
halusinasi. Dan teori halusinasi Sukarno inilah yang kemudian
dilihat sebagai gambaran kegagalan Bung Karno dalam mengelola negara
karena menuduh Sukarno abai terhadap persoalan-persoalan ekonomi.
Padahal apa yang dilakukan Bung Karno tidak sekedar mengelola negara
tapi membawa negara pada kemakmuran dan syarat penting kemakmuran
bagi Bung Karno adalah jelas : Independensi total Indonesia terhadap
asing. Dengan kata lain independensi itu membuka ruang Kepemilikan
Kapital yang sah atas nama Bangsa Indonesia.

Tatanan dunia pasca kekalahan Jerman di Eropa dan Jepang di Asia
sudah berubah total. Amerika Serikat dan Inggris sadar bahwa bentuk-
bentuk kolonialisme dan Imperialisme yang selama ini dipratekkan
sejak abad 16 sudah harus ditinggalkan. Mereka sadar bahwa
penguasaan ruang penaklukan dengan memasukkan unsur-unsur
administrasi dalam pemerintahan negara jajahan sudah tidak efektif
lagi karena bangkitnya nasionalisme di kalangan negara-negara
jajahan. Karena sejak terjadinya revolusi industri dan membludaknya
barang-barang produksi maka yang dibutuhkan bukan hanya hasil mentah
dari negara jajahan tapi juga adalah pasaran terhadap pembelian
barang-barang produksi itu. Dan pembeli itu adalah rakyat yang
sangat besar jumlahnya di negara-negara bekas jajahan. Dengan
menguasai ruang pemerintahan jajahan secara langsung efektifitas
imperialisme tidak lagi efektif karena diperlukan biaya-biaya
jajahan dan biaya sosial yang cenderung tinggi. Maka untuk
melanjutkan kelangsungan ekonomi negara-negara maju, pemerintahan
negara jajahan bisa saja diberikan kepada pemerintahan pribumi
asalkan kepentingan ekonomi mereka secara esensial tidak terganggu.
Dan untuk tidak terganggu kepentingannya maka negara maju harus
menciptakan :

1. Ketergantungan negara-negara baru eks jajahan terhadap
ekonomi negara maju
2. Mengendalikan pemerintahan negara eks jajahan dimana
pemimpin pribumi mereka menjadi boneka asing yang bisa dikendalikan
sepenuhnya oleh negara maju.
3. Memberikan ruang kenyamanan yang besar pada tingkat elite
juga lapisan menengah dimana mereka adalah pengendali kekuasaan
negara. Akses modal, pendidikan, gaya hidup lintas negara, pikiran
terbuka, tingkat penghasilan yang memadai jauh diatas mayoritas
rakyat, dan sebagai agen-agen pembentuk susunan masyarakat yang
tergantung pada asing. Di pundak merekalah negara-negara eks jajahan
dikendalikan agar tercipta hubungan yang saling memanfaatkan antara
kelas elite dengan negara maju.
4. Nilai tambah paling besar dari sebuah rangkaian proses
produksi diberikan pada negara maju kemudian setelahnya diberikan
pada lapisan elite negara eks jajahan. Jadi disini berkembang bukan
hubungan G to G (Government to Government) tapi Government to Elite.
Kesejahteraan rakyat kecil tidak lagi menjadi objek paling penting.
5. Mendorong agar kaum elite negara berkembang terbiasa dengan
sikap korupsi, kolusi dan nepotisme karena perilaku inilah yang
dijadikan benteng paling kuat menghadapi gelombang dinamika kelas
dan sosial di kalangan masyarakat negara eks jajahan. Kaum elite
dengan senjata KKN menjadikan mereka sebagai tuan-tuan baru dari
sistem neo feodalisme dimana ketergantungan kaum bawah terhadap
kelas diatasnya sangat tinggi sehingga kaum bawah sulit bersatu
untuk mengadakan gerakan-gerakan rakyat.

Sukarno yang sudah terlatih dalam memahami gelombang sejarah
tentunya sudah menebak ke arah mana dunia bergerak. Hal ini bisa
kita lihat kemampuan Sukarno dalam melakukan taktik-taktik
politiknya yang cenderung memanfaatkan kekuatan lawan untuk
kepentingan politiknya tanpa harus mengeluarkan tenaga atau
bertarung frontal. Melihat realitas dunia yang sudah berubah serta
perkembangan politik Indonesia yang nyaris mengalami perpecahan maka
jalan satu-satunya adalah menyatukan kekuatan politik inti dan
membubarkan kekuatan-kekuatan politik yang cenderung menjadi mesin
perpecahan persatuan Indonesia.

Tahun 1960 muncullah gagasan yang dianggap aneh oleh barat (dunia
kapitalis) dalam tatanan politik Indonesia yang kerap disebut
sebagai sebuah gaya sinkretisme Indonesia, NASAKOM. Nasionalisme
(dalam hal ini Sukarnois), Agama (mewakili kekuatan NU dan
Muhammadiyah serta beberapa organisasi keagamaan non Islam) dan
Komunis (dalam hal ini lebih pada PKI). Nasakom adalah bahasa
Sukarno untuk menyebut persatuan. Sedari muda Sukarno sudah sadar
bahwa tiga aliran besar ini yang menjadi inti dari dinamika
pergerakan politik Indonesia. Bila dulu Belanda berhasil
mengamputasi Komunis maka pada era kemerdekaan Indonesia, Komunis
harus dimasukkan kembali ke dalam struktur kekuatan politik
Indonesia agar jangan terjadi gelombang perpecahan baru. Dan bersama-
sama menghadapi kekuatan Neo Kolonialisme yang sudah terang-terangan
berdiri di Malaysia dan Singapura. Melalui persatuan politik Nasakom-
lah Indonesia mampu mewujudkan cita-cita besar Indonesia yang
independen sebagai jalan untuk menuju kemakmuran sesungguhnya.

Jadi Nasakom bukanlah sebuah proyek Megalomania Sukarno yang kerap
banyak dituduhkan oleh barat. Nasakom adalah syarat persatuan dan
kesatuan. Tanpa itu kita kalah terhadap hegemoni negara-negara maju.
Kita harus bersatu, karena dengan persatuan sebagai syarat mutlak
alat perjuangan kita bisa mengalahkan majikan kapitalis yang setelah
sekian ratus tahun merongrong bumi Indonesia.

Banyak orang menuduh Sukarno nggak ngerti pembangunan ekonomi.
Padahal jarang orang yang ingat Sukarno telah menyusun Dekon, sebuah
konsep terukur pembangunan fisik Indonesia pada tahun 1963. Walaupun
dalam pelaksanaannya sering disabot dan dimanfaatkan oleh kelompok
militer namun program itu berjalan dengan baik sampai pada kudeta
Suharto tahun 1965-1967.

Hanya satu kesalahan besar Sukarno dimata barat yang kemudian banyak
melahirkan tulisan-tulisan ilmiah barat termasuk berita-berita dari
majalah TIME bahwa Sukarno membawa kebangkrutan bagi bangsa
Indonesia. Dan tulisan itu sedikit banyak memberikan gambaran yang
keblinger terhadap Sukarno. Kesalahan Sukarno di mata mereka
adalah : Beliau tidak mau menjual Indonesia ke tangan Kapitalis.
Sesungguhnya mudah bagi Sukarno bila ingin menjadikan Indonesia
sebagai negara industri yang maju, karena kepemimpinannya sudah
kuat. Tapi Sukarno mempunyai wawasan jangka panjang. Jangan sampai
negeri ini jatuh ke tangan kaum kapitalis lewat utang atau
ketergantungan ekonomi. Kemajuan harus diperoleh dengan sikap
Berdikari. Inilah yang kemudian menjadi pangkal awal dari tuduhan
Sukarno adalah anti barat dan anti modernisasi. Padahal apa yang
dimaui Sukarno adalah sikap independen bangsa Indonesia agar
kekayaan bangsa ini tidak dijual ke tangan kapitalis.

Jagoan yang dielus-elus barat dan secara serampangan disebut sebagai
pemimpin yang memodernisasi Indonesia adalah Suharto. Suharto
dianggap `sukses' membangun perekonomian Indonesia. Jakarta menjadi
kota metropolitan dunia dan seluruh sarana infrastruktur dibangun
dengan tekun. Namun apa yang dimaui barat adalah agar Indonesia mau
berhutang dengan mereka dan menjadikan Indonesia memiliki
ketergantungan ekonomi yang tinggi terhadap negara maju agar negara
maju bisa mendikte Indonesia dan menguras kekayaan alam Indonesia
dengan harga murah. Suharto melakukan pembangunannya dengan dimulai
membunuhi jutaan nyawa, membentuk rezim teror dan membangun susunan
masyarakat yang konsumtif, tidak produktif, serta lembek. Dan
hasilnya kita bisa lihat. Suharto turun dengan meninggalkan utang
sebesar 140 milyar dollar AS. Ini artinya seluruh rakyat Indonesia
termasuk bayi-bayi yang baru lahir harus membayar sekitar 3.500
dollar AS untuk utang-utang yang dipergunakan memperkaya keluarga
Cendana dan kroni-kroninya.

Melihat kenyataan yang dialami Indonesia saat ini, maka kita harus
ingat ucapan paling terkenal oleh Bung Karno : GO TO HELL WITH YOUR
AID!!!! Bagi kapitalis barat ucapan ini adalah sebuah benteng besar
yang menghalangi Indonesia pada konsepsi negara modern. Namun
Sukarno tahu bahwa iming-iming modernisasi dipastikan menyertai
utang yang ujung-ujungnya adalah ketergantungan bangsa ini kepada
negara maju dan ini sama saja mengantarkan Indonesia ke dalam bentuk
jajahan baru. Sukarno jelas tidak mau menjual bangsa ini. Dan bisa
kita saksikan sekarang dampak globalisasi dan kapitalisme di negara
dunia ketiga dimana mereka terus menerus dihisap dan dipermainkan
kekuatan negara maju. Jadi pernyataan Sukarno dalam pidatonya bukan
pernyataan bermakna politik tapi lebih jauh lagi yaitu : Pernyataan
Kebudayaan!....Sukarno ingin membentuk budaya bangsa yang berdikari,
karena dengan berdikarinya sebuah bangsa maka kemakmuran tidak akan
sukar diraih. Tapi sayangnya cap ini itu terhadap Sukarno yang
dimotori negara-negara barat kemudian malah mengaburkan apa
keinginan Sukarno untuk bangsa Indonesia. Yaitu menciptakan susunan
masyarakat yang merdeka sebenar-benarnya....

Satu lagi ketidadilan dalam menuduh Sukarno tentang Demokrasi
Terpimpinnya. Ingat masa Demokrasi Terpimpin hanya berlangsung lima
tahun, ini artinya Sukarno tidak punya cukup waktu membuktikan
eksperimen besarnya. Tapi Suharto diberi kesempatan selama 32 tahun
bahkan boleh dibilang Orde Reformasi ini adalah kelanjutan dari Orde
Suharto, jadi ada waktu 42 tahun untuk membuktikan eksperimen
Suharto terhadap bangsa ini gagal total. Membawa bangkrutnya negara
RI yang direbut dengan keberanian pada tahun 1945-1949.

Pergolakan politik Asia Tenggara

Pergolakan politik Asia Tenggara pasca 1945 tak terlepas dari
pengaruh dua wilayah yaitu : Indonesia dan Vietnam. Dua negara ini
mengalami sejarah yang hampir serupa yaitu merebut kembali hak
berkuasa rakyat pribumi terhadap penjajahan asing. Hanya bedanya di
Indonesia pengendali revolusi lebih plural sementara di Vietnam
pemegang rol revolusi adalah kekuatan homogen yaitu orang-orang
komunis yang soliditasnya sangat tinggi ini terbukti mereka berhasil
mengusir Perancis dan Amerika Serikat. Di Indonesia hanya berhasil -
mengusir Belanda tapi gagal mengusir kekuatan Amerika Serikat-Jepang-
Inggris dimana tiga kekuatan ini kemudian menjadi penting setelah
berdirinya pemerintahan Junta Militer Orde Baru.

Pergolakan politik di Asia Tenggara menjadi sangat kritis ketika
Amerika Serikat secara sepihak mendukung perpecahan Vietnam dengan
mendukung pemerintahan Saigon di Vietnam Selatan setelah sebelumnya
mengalami kegagalan total dalam usahanya mendirikan negara boneka
PRRI di Sumatera.

Setelah kegagalan PRRI maka Amerika Serikat memutuskan menggunakan
cara lain dalam berhadapan dengan Indonesia. Kekuatan bersenjata
terfokus di Vietnam Selatan karena bagaimanapun pemerintahan Komunis
sudah berdiri di Hanoi sementara Jakarta masih dinilai berwarna
merah jambu karena ada faktor Nasution yang sangat anti PKI.
Keengganan Amerika Serikat untuk masuk ke dalam peperangan melawan
Sukarno juga merupakan keputusan strategis karena Sukarno dinilai
masih sangat kuat wibawanya di mata bangsa Indonesia, melawan
Sukarno berarti melawan bangsa Indonesia dan ini bisa meruntuhkan
nama Amerika Serikat sebagai negeri yang menjaga imej sebagai negeri
kebebasan menjadi negeri tukang jajah. Untuk menghadapi keras
kepalanya Sukarno akhirnya diputuskan dengan mengadakan operasi
intelijen secara terus menerus. Dan melakukan penyusupan yang
intensif ke tubuh Angkatan Darat. AD dinilai AS masih bisa
dikendalikan karena kekuatan Sukarno tidak begitu mengakar kuat
disana.

Sukarno yang sudah mendeklarasikan politik Nasakom serta dibayangi
keberhasilannya mengadakan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di
Bandung melangkah lebih jauh lagi. Yaitu memberi penyadaran terus
menerus akan bahaya imperialisme jenis baru. Sayangnya penyadaran
Sukarno justru diserang oleh sekelompok intelektual yang tidak
begitu mengerti jalannya gelombang sejarah masa depan. Intelektual
jenis ini berhaluan moderat, cinta kebebasan bersuara, pro demokrasi
gaya barat dan realistis. Kelompok ini banyak berdiam di PSI, partai
sosialis kanan yang dibubarkan Sukarno tahun 1960. Kelak eks anggota
PSI banyak berperan dalam proses penjungkalan Sukarno namun segera
juga berseberangan dengan Orde Baru pada era tahun 1970-an.

Seperti hal-nya seorang Nabi yang selalu gagal memberikan pencerahan
pada bangsanya sendiri, begitulah nasib Sukarno. Sebagai pemimpin ia
memang berhasil memerdekakan bangsa Indonesia, memimpin Indonesia
melewati masa-masa sulit saat perang Kemerdekaan 1945-1949, berhasil
membawa Indonesia mendapatkan posisi terhormat di dunia
Internasional dalam peranannya untuk mengkampanyekan kemerdekaan
negara-negara yang masih terjajah dan membangun rasa kebanggaan
bangsa Indonesia. Namun gagal dalam memberikan pencerahan terhadap
antisipasi bangsa penguasaan kembali bangsa asing lewat Imperialisme
gaya baru yang menurut bahasa Jenderal Yani disebut sebagai
Nekolim : Neo Kolonialisme Imperialisme.

Sukarno sendiri dihadapkan pada belum siapnya bangsa Indonesia dalam
melakukan konsolidasi kekuatan ekonomi. Itu memang kelambanan
Sukarno. Lambatnya Indonesia memasuki era industri adalah karena
antisipasi Sukarno untuk tidak menjebak Indonesia ke dalam permainan
bangsa asing. Satu hal yang jarang diperhatikan oleh pengamat
sejarah Indonesia tentang masa Sukarno adalah kehati-hatian Sukarno
dalam melakukan kontrak-kontrak investasi dengan bangsa asing.
Sukarno sangat keras kepala bila dihadapkan pada posisi Indonesia
yang merugikan. Ini terlihat pada proses-proses kontrak investasi di
pertambangan dan perkebunan peninggalan Belanda. Perlu diperhatikan
juga gerakan Sukarno dalam menentang hegemoni asing yang masih
tersisa dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda
adalah sebuah keuntungan yang besar bagi perwira Angkatan Darat yang
banyak masuk ke dalam sektor ekonomi setelah perginya para investor
asing. Kelak di kemudian hari perwira-perwira bisnis inilah yang
banyak berperanan di masa Suharto.

Sukarno menginginkan bahwa semua pengerjaan industri dan ekonomi
Indonesia sepenuhnya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Namun
sebelumnya Indonesia harus aman dulu dari gangguan Nekolim. Jelas
bahwa proyek Nekolim berdiri di depan mata bangsa Indonesia seperti
berdirinya Federasi Negara Malaysia disertai dengan berdirinya
Singapura sebagai negara sendiri yang menurut Sukarno adalah
pangkalan dari Nekolim untuk mengepung Indonesia. Memang waktu itu
banyak kaum intelektual yang mentertawakan Sukarno dengan gagasan
yang dianggap halusinasi. Sukarno sendiri secara sadar untuk
menanggulangi bahaya Nekolim maka Indonesia harus mempunyai kekuatan
internal yang kemudian ditemukan pada jargon Sukarno, Trisakti :

1. Berdikari dalam ekonomi
2. Berdikari dalam politik
3. Berkepribadian Indonesia

Coba anda perhatikan sekarang apa yang diramalkan Sukarno tentang
bahaya Nekolim. Singapura telah menjadi kekuatan keuangan terbesar
di Asia Tenggara. Bahkan dalam prosesnya Singapura telah membeli
sumber-sumber ekonomi bangsa Indonesia dengan cara yang legal
seperti Indosat dan banyak perusahaan keuangan di Indonesia. Hampir
seluruh proses investasi modal melalui Singapura baik itu hot money
ataupun Foreign Direct Investments. Dana milik pengusaha Indonesia
keluar masuk lewat Singapura baik itu dana legal maupun dana
illegal, bahkan sampai sekarang Singapura menolak melakukan
ratifikasi perjanjian ekstradisi untuk para maling dari Indonesia.
Sementara Malaysia sendiri menjadi proyek kapitalisme yang sampai
sejauh ini paling berhasil di Asia Tenggara. Namun perlu
diperhatikan apa yang dilakukan Malaysia adalah mengambili kekayaan
bangsa Indonesia yang sangat besar, bukan itu saja pembangunan
infrastruktur Malaysia tergantung sekali dengan tenaga Indonesia
yang diperkuli oleh mereka. Indonesia sendiri kelak di akhir era
Suharto menjadi negara paling gagal menerapkan kapitalisme modern.
Terbukti modernisasi yang dibawa Suharto tidak membawa kesejahteraan
bagi bagian besar bangsa Indonesia dan Indonesia menjadi `bangsa
yang sakit' di Asia Tenggara. Ini adalah tragedi Indonesia yang
tadinya merupakan bangsa terbesar, dihormati dan sumber inspirasi
bukan saja bagi bangsa-bangsa Asia Tenggara tapi juga bangsa lain di
dunia kini menjadi bangsa yang separuh gagal. Masih beruntung
gagasan Nasionalisme Sukarno masih teramat kuat di Indonesia bila
tidak kita akan menyaksikan perpecahan di Indonesia pasca lengsernya
Suharto. Mengapa bisa begitu?

Kapitalisme Yang Mengabaikan Hak Milik Bangsa

Dari semua kerja politik Sukarno dimasa Nasakom yang paling penting
adalah sebuah gagasan inti namun jarang diperhatikan orang yaitu :
Berdaulat penuh terhadap kekayaan bangsa Indonesia. Indonesia
merdeka adalah Indonesia yang memiliki daulat ekonomi dimana
kepentingan rakyatnya menjadi sasaran utama perhatian. Namun untuk
menuju ke arah kedaulatan ekonomi Sukarno harus memberantas dulu
penyakit-penyakit feodalisme dan kolonialisme yang rupanya banyak
bersarang di kalangan elite politik dan militer. Secara sadar
Sukarno menggunakan PKI untuk bertarung dengan mesin elite ini
sekaligus menjaga keseimbangan agar pertarungan itu tidak melibatkan
pihak asing.

Memang terkadang perlawanan PKI terhadap kelompok elite ini
dirasakan terlalu keras. Namun PKI sama sekali tidak pernah
melakukan perlawanan dengan melewati batas kekuasaan Sukarno. Hanya
sekali saja PKI mengumbar orasi politiknya yang melewati batas
Sukarno yaitu saat kampanye pembubaran HMI dimana di depan Sukarno,
DN Aidit menyebut bahwa pejabat tinggi menghinakan kaum wanita,
berfoya-foya tapi tidak memperhatikan rakyat disamping menyuruh
pemuda PKI memakai sarung saja kalau tidak bisa membubarkan HMI.

Perekonomian di masa Sukarno memang cenderung tidak mendapatkan
perhatian. Hatta sendiri kerap menyatakan kepada kawan-kawan
dekatnya bahwa Indonesia akan segera runtuh bila Sukarno tidak
memperbaiki kondisi perekonomian dengan segera. Namun bertahun-tahun
Hatta mengucapkan itu, toch Indonesia dimasa Sukarno tetap kuat
bahkan mampu menyelenggarakan dua kali proyek perang besar yaitu
dengan Belanda pada masa perebutan Irian Barat dan proyek perang di
perbatasan Malaysia dengan Inggris sebagai lawan utama. Namun
ternyata Sukarno akhirnya dikalahkan oleh sebuah peristiwa aneh yang
digerakkan oleh Letkol Untung, komandan pasukan pengawal pribadi
Sukarno, Tjakrabirawa dimana enam Jenderal terbunuh pada peristiwa
itu. Sukarno tidak runtuh oleh kegagalan ekonomi tapi dibunuh karier
politiknya oleh konspirasi paling misterius abad 20. Gerakan 30
September 1965.

Selama dua tahun lebih sejak peristiwa Gerakan Tiga Puluh September
kekuasaan Sukarno dipreteli pelan-pelan. PKI jelas sudah habis
bahkan satu hari setelah terjadinya gerakan Untung. Dan dua bulan
setelah gerakan Untung para anggota PKI nyaris habis dibunuhi oleh
massa yang marah karena membaca opini media massa yang digerakkan
oleh Angkatan Darat pro Suharto dimana dalam berita-berita itu
Suharto menyebarkan berita bohong tentang kekejaman gerakan Untung
dan dikatakan ditunggangi oleh PKI. Sukarno tidak mau membubarkan
PKI dan mahasiswa-mahasiswa yang dipersiapkan oleh militer bergerak
menantang kekuasaan Sukarno. Di tangan para intelektual muda yang
terpengaruh paham kebebasan barat keangkeran Sukarno dibongkar habis-
habisan bahkan sampai tahun 1970-an nama Sukarno terus dihina
sebagai bagian hitam sejarah Indonesia, terutama sekali jurnalis
Mochtar Lubis sampai pada peristiwa Malari 1974 selalu memburuk-
burukkan Sukarno.

Hilang Sukarno datanglah Suharto. Munculnya Suharto sebagai kekuatan
tandingan Sukarno sama sekali diluar prediksi ahli politik manapun.
Bahkan CIA menggembar-gemborkan bahwa mereka sama sekali tidak
mengerti siapa Suharto. Namun hal ini patut diragukan karena
bagaimanapun Suharto sejak awal tahun 1960-an dekat dengan Jenderal
Suwarto yang kerap dituding sebagai otak intelektual pembaratan di
Indonesia yang anti terhadap Sukarno. Suwarto oleh banyak kalangan
Sejarawan disebut-sebut sebagai otak dari berdirinya Orde Baru
dimana militer ambil peranan.

Pada awalnya gerakan kudeta Suharto yang diselubungi surat Sukarno
yang dipelintir dan penuh aroma konspirasi `Supersemar' didukung
oleh kelompok modernis Indonesia yang banyak bercokol di kalangan
PSI dan secara lokasi berpusat di Bandung. Gagasan Orde Baru adalah
gagasan modernisasi Indonesia. Suharto pada awalnya masih meraba-
raba dukungan yang akan diperolehnya. Ini merupakan karakter
politiknya. Ia menyimpan dulu anak buahnya yang asli di dalam kotak
dan menggunakan kekuatan radikal anti Sukarno yang militan –kelak
pendukung Suharto yang militan ini berakhir menyedihkan seperti HR
Dharsono yang dipenjara pada tahun 1980-an - . Mereka ini adalah
orang-orang PSI, para mahasiswa yang terpengaruh ideologi
modernisasi barat/Amerika dan perwira tinggi Siliwangi, sebuah
kekuatan militer di Jawa yang tidak terpengaruh oleh emosi
Sukarnois. Ketiga kekuatan ini dimainkan Suharto dan dijadikan
lansekap politik Orde Baru untuk berhadapan langsung dengan kekuatan
Sukarno. Untuk berhadapan dengan Sukarno, Harto tidak menggunakan
kekuatan militernya karena ia yakin bahwa Brawijaya dan Diponegoro
masih berada di belakang Bung Karno. Namun Bung Karno juga sudah
terkena Skak Mat karena sikapnya yang tidak jelas terhadap G 30 S
pada awal mulanya walaupun kelak Bung Karno mengeluarkan kesimpulan
dalam pidato pertanggung jawaban Nawaksara yang sampai saat ini
adalah paling lengkap dari teori-teori konspirasi G 30 S. Namun
Suharto dengan kelihaiannya sudah menguasai media massa, histeria
massa sudah digiring sementara kaum intelektual yang berorientasi
barat-liberal dan sosialis kanan sepenuhnya berada di belakang
Suharto karena berharap Indonesia akan di modernisir setelah
kejatuhan Sukarno.

Kaum Modernis Yang Tidak Sabaran

Sepanjang sejarahnya Sukarno selalu ditentang tiga unsur kekuatan :
Islam dari jalur modern (baik pendukung Pan Islamisme ataupun Negara
Islam), Sosialisme Kanan yang pro barat, dan Komunisme (Komunis-
Nasionalis,Trotskys dan Komintern). Dari ketiga unsur inilah
Sosialis Kanan yang paling militan menentang Sukarno. Kekuatan Islam
walaupun menentang Sukarno namun bagian besar dari mereka mendukung.
Bagaimanapun Sukarno adalah anak didik Tjokroaminoto `Raja Jawa
tanpa mahkota' dari Sarekat Islam, pernah menjadi guru Muhammadiyah
di Bengkulu dan menjadi pendukung Muhammadiyah yang utama serta
tidak boleh lupa Sukarno adalah anak Jawa Timur basis dari pendukung
NU. Otomatis kekuatan penentang Sukarno dari kalangan Islam biasanya
tidak berbasis kebudayaan Jawa, terpengaruh konsepsi negara Islam
dan Pan Islamisme atau menjadi kekuatan Islam tarekat yang memiliki
pengaruh mistis dan kuat seperti kelompok DI/TII. Boleh dikatakan
untuk kalangan Islam Sukarno masih menguasai 80% dukungan. Faktor
PKI-lah yang menjauhkan Bung Karno dari kalangan Islam. Namun
sepanjang sejarah kepemimpinan Islam di Indonesia, Bung Karno tetap
merupakan pemimpin yang paling menonjol dan dijagokan umat Islam
Indonesia. Sementara untuk Komunisme, Sukarno ditentang karena
masalah yunioritas dia dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Bagaimanapun ketokohan Sukarno datang belakangan sebelum gerakan
Komunis yang berani melawan koloni Belanda di Jawa dan Sumatera.
Nama Sukarno muncul justru setelah kegagalan pemberontakan Komunis
1926/1927 dimana akibatnya pembuangan besar-besaran ke Digoel.
Sukarno mengisi kekosongan kekuatan PKI dan membangun jalur politik
garis tengah dengan jualan utamanya yaitu : Nasionalisme. Sukarno
memang agak diremehkan oleh jago-jago tua komunis tapi anehnya para
jago tua itu selalu menggunakan nama Sukarno untuk meraih tujuan-
tujuan politiknya. Puncaknya adalah ketika Wikana yang memang
seorang kader muda Komunis mendesak Sukarno dan Hatta memerdekakan
Indonesia ini tidak lepas dari desakan jago-jago tua komunis untuk
mendesak Wikana agar Sukarno diusulkan menjadi pemimpin. Begitu juga
ketika Tan Malaka kembali lagi ke kancah politik Indonesia. Tan
Malaka pada awalnya langsung ingin menggoyang kedudukan Bung Karno
dengan menggunakan Sjahrir namun Sjahrir menolak karena ia tahu yang
dipilih rakyat adalah Bung Karno bukan siapa-siapa. Setelah
hancurnya Muso, yang juga mentor Sukarno di era ngekost di rumah Pak
Tjokro dan terbunuhnya Tan Malaka. Kekuatan kiri garis keras
sepenuhnya dibelakang Bung Karno seperti yang dikatakan di muka
tulisan ini bahwa DN Aidit cs adalah pengekor Sukarno sejak jaman
Jepang. Begitu juga dengan anak didik Tan Malaka yang langsung
berada dibawah Sukarno seperti Chaerul Saleh dan Adam Malik. Jadi
secara mutlak golongan garis keras Kiri yang tidak terpengaruh
ajaran Sosialis Kanan alias Sosialis moderat bernadi Owenisme
sepenuhnya berada dibelakang Bung Karno.

Satu golongan yang tidak mau dekat dengan kelompok Bung Karno dan
memiliki jaringan pengaruh paling kuat bahkan sampai detik ini
(tahun 2008) memiliki pengaruh besar atas gagasan modernisasi
Indonesia dan berperanan dalam penjungkalan Sukarno serta memberikan
api perlawanan terhadap Suharto sejak peristiwa Malari 1974 sampai
pada gerakan Reformasi 1998 adalah Lingkaran Sjahririan yang biasa
disebut orang-orang PSI dengan haluan ideologi Sosialis Kanan.
Walaupun saya tidak akan menyebut hanya kelompok PSI saja yang
militan terhadap kerja politik anti Sukarno tidak diragukan namun
yang paling menonjol dalam proses penjungkalan sampai pemberian
label buruk terhadap Bung Karno sampai pada peristiwa Malari 1974
adalah orang-orang PSI. Perlu diketahui setelah peristiwa Malari
1974 banyak dari golongan PSI dan juga orang-orang intelektual non
partisan yang dulunya anti Sukarno menjadi sadar bahwa apa yang
dilakukan Sukarno dalam menghadapi kekuatan asing ada maknanya. Baru
setelah mereka melihat penyelundupan-penyelundupan yang dilakukan
kroni Suharto, korupsi besar-besaran seperti kasus Pertamina dan
Coopa juga penempatan pejabat korup yang tidak populer di kalangan
masyarakat membuat kesadaran baru bahwa rezim Orde Baru merupakan
rezim sinting. Namun pada saat itu Orde Baru tetaplah menjadi
lambang dari modernisme yang pro barat. Ada kemungkinan bila Suharto
jatuh maka yang berkuasa adalah kelompok yang dekat dengan komunis
atau juga ketakutan akan berdirinya negara Islam. Jadi faktor
Suharto juga merupakan fait accompli yang bisa disebut
kuldesak/jalan buntu bagi kekuatan modernis Indonesia. Perlu diingat
pada tahun 1970-an kekuatan Uni Soviet masih sangat raksasa
sementara di Iran pada tahun 1979 terjadi Revolusi Islam Khomeini
yang menjungkalkan pemerintahan Syah Reza Pahlevi yang pro Amerika
Serikat. Disinilah kemudian kaum modernis tidak berani melakukan
terobosan politik karena Suharto adalah satu-satunya alternatif agar
Indonesia tidak jatuh ke tangan Komunis atau juga tidak menjadi
negara Islam. Namun akhirnya terobosan itu menemukan efektivitasnya
dengan menekankan kekuatan nasionalis yang membangkitkan aroma
Sukarno, Dititik inilah kelak pada tahun 1970-an kekuatan Modernis
Sjahririan dan Visi Sukarnoisme mendapatkan masa-masa bulan madunya
setelah selama satu dekade penuh menghujat Sukarno. Kelompok Sjahrir
ini terlepas dari anggapan sebagian orang mengatakan bahwa Sjahrir
adalah sebuah `history of bubble' gelembung sejarah. Namun diakui
atau tidak diakui 70% jalannya sejarah Indonesia tergantung pada
otak kelompok Sjahrir ini. Jadi bagi saya sendiri memulai merenungi
jalannya Orde Baru haruslah lebih dulu membedah bagaimana kelompok
Sjahrir bekerja dan apa maunya lalu kita korelasikan dengan Orde
Baru-nya Suharto. Deviasi antara pemikiran Sjahririan dengan Orde
Baru Suharto inilah yang merupakan penyimpangan dari maksud Orde
Baru. Karena bagi saya Orde Baru adalah proyek modernisme PSI yang
kemudian diselingkuhi oleh gagasan Nasionalisme Tangsi Suhartorian
dan membawa Indonesia ke dalam lembah kebangkrutan. Dan harus diakui
digiringnya konsepsi Nasionalisme Sukarno yang berdikari ke arah
penyatuan Indonesia dalam kebudayaan barat merupakan antaran dari
kalangan modernisme yang tidak sabaran.

Gagasan Indonesia Modern Dari Perspektif Intelektual Orde Baru

Banyak orang mengatakan bila menganatomi Orde Baru bacalah pikiran-
pikiran Ali Moertopo namun saya katakan adalah kurang tepat membaca
pemikiran Ali Moertopo. Justru bagi saya pemikiran Ali Moertopo baik
yang tertuang dalam buku Akselerasi Pembangunan 25 tahun ataupun
tindakan politiknya adalah sebuah langkah awal pengkhianatan dari
modernisasi Orde Baru yang dicita-citakan kelompok modernis. Itulah
makanya puncak dari perceraian Suharto dengan gagasan modernisasi
Indonesia adalah pada peristiwa Malari 1974.

Hanya dua orang yang menurut saya paling tepat dalam mengarahkan
cita-cita modernisme pasca Sukarno yang sempat disematkan pada
pundak Orde Baru mereka berdua adalah : Soedjatmoko dan Soemitro
Djojohadikoesoemo. Di alam pemikiran Soedjatmoko (Koko) faktor
pembangunan manusia menjadi pilihan utama. Dimensi manusia yang
terbebaskan dan merupakan tujuan utama dari pembangunan sendiri
merupakan pengejawantahan Marxisme dari jalur pelan. Koko tidak
mengenalkan konsep revolusi yang mendahului sejarah seperti halnya
konsepsi Leninis atau Maois tapi mengenalkan pada proses alami
perkembangan kebudayaan manusia yang menghargai kemanusiaan dan
tidak mencekal kemanusiaan ke dalam lembah penindasan. Watak utama
pemikiran Koko adalah Sosialisme. Sementara Soemitro Djojohadikusomo
(Cum) memiliki arti penting membentuk lingkaran yang kemudian sangat
berpengaruh terhadap initial capital Orde Baru dibawah Suharto.
Lingkaran itu sudah dipersiapkan Cum sejak tahun 1950-an dan menjadi
sebuah arus besar ekonomi politik paling berpengaruh sampai detik
ini bagi mentalitas pemikiran akademik ekonomi di Indonesia. Ekonomi
Amerika. Sayangnya Koko gagal total dalam mengkampanyekan dimensi
kemanusiaan dalam pembangunan dimana sesungguhnya Koko sudah tepat
dalam membidik faktor manusia sebagai hal yang paling utama dalam
kerangka pembebasan kemanusiaan dengan menggunakan kebudayaan modern
barat yang liberal. Sementara Cum hanya berhasil dalam membentuk
pengaruh wacana akademis karena akhirnya pekerjaan-pekerjaan ekonomi
dengan basis maling menjadi pilihan Suharto untuk melanjutkan
kekuasaannya. Disinilah yang akan menjadi pusat perhatian kita.
Bagaimana Suharto menghancurkan gerak sejarah Sukarno yang bertujuan
merebut secara mutlak sumber-sumber kekayaan ekonomi Indonesia
sehingga tidak menjadi permainan asing, kemudian dengan menggunakan
tangan kaum modernis Suharto membohongi bangsa Indonesia lewat
program-program ekonomi modern yang kemudian mengamputasi kaum
modernis dan membangun jaringan kekuasaan yang jahat dengan landasan
sistem mafioso Italia. Dimana hasilnya sudah kita lihat dalam
sejarah : Penghinaan kemanusiaan, Pembantaian manusia Indonesia
berskala raksasa (kekejaman Suharto dalam membunuhi orang pada
peristiwa 1965-1966 hanya bisa ditandingi oleh kekejaman pasukan SS
Hitler dalam membunuhi orang Yahudi), membangun sistem nasionalisme
palsu yang digunakan untuk kepentingan kekayaan segelintir elite dan
yang paling fatal adalah menyusun masyarakat dengan berbasis korupsi
dimana hasilnya bisa kita lihat adalah kehancuran dimana-mana.
Selain ketokohan Soedjatmoko dan Soemitro Djojohadikoesoemo ada nama
lain yang tak kalah hebatnya, seorang `Harvard Man' berhaluan
sosialis, Sarbini Soemawinata. Namun pikiran-pikiran Sarbini tidak
begitu mengena dalam kultur Suhartorian, Akademik maupun wacana
intelektualis kecuali memang ada pengaruhnya bagi gerakan mahasiswa
tapi itu tidak seluas pikiran Koko dan Cum. Pengaruh Sarbini mungkin
yang paling tinggi adalah pada awal berdirinya Orde Baru dimana
modernisasi yang digadang-gadang kelompok PSI juga menyertakan
wacana Sosialisme dititik inilah Sarbini memiliki arti pentingnya.

Suharto Dan Penipuan Terhadap Orde Baru

Sesungguhnya adalah salah bila mengatakan Suharto adalah tokoh yang
paling berjasa terhadap Orde Baru. Justru yang paling tepat bagi
saya adalah Suharto pengkhianat Orde Baru. Suharto bukan saja telah
mengkhianati revolusi Sukarno (maka ia sering dijuluki celeng
kontrarevolusioner dan ini adalah tafsiran saya dalam lukisan Djoko
Pekik), Suharto juga berkhianat terhadap tujuan-tujuan modernisme
Orde Baru dan yang paling parah dari semuanya Suharto sudah membawa
jauh sekali Indonesia menyimpang dari arah tujuan Indonesia merdeka.
Di tangan Suharto Indonesia saat ini sedang mengalami kebingungan
terbesar, ke arah mana harus bergerak.

Suharto adalah penipu terbesar sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Pertama-tama ia menggunakan surat perintah pengamanan a-politis yang
dipelintir menjadi kekuatan politik sebagai modal melawan Sukarno,
kemudian menggunakan histeria massa untuk membubarkan PKI dimana
alasan pembubaran itu sebelumnya didahului dengan membunuhi jutaan
nyawa orang. Sungai-sungai banjir darah dan jutaan orang kehilangan
nyawa, ratusan ribu dipenjara lalu belakangan ia menciptakan Gulag
di Pulau Buru. Setelah melumpuhkan Sukarno, Suharto menggunakan
kelompok modernis untuk bekerja mempercantik tindakan politik Orde
Baru lalu kemudian menipu mereka dengan memasukkan unsur-unsur
kekuasaan dalam tindakan memperkaya diri dan kroninya untuk
mempermulus jalannya kekuasaan. Modal pertama yang dilakukan untuk
melakukan itu adalah hasil boom minyak setelah Suharto tidak
melakukan tindakan solider terhadap negara-negara Arab dalam krisis
Palestina tahun 1973 yang menghasilkan forum OPEC. Setelah menipu
kelompok modernis dan membungkam mereka di tahun 1974, Suharto
mengkhianati mahasiswa yang dulu mendukungnya dan menjadi barometer
kebebasan intelektual dengan menyuruh Menteri Pendidikan mengumumkan
NKK/BKK, lalu pada tahun 1980-an Suharto menggenjot utang, melakukan
reformasi Perbankan yang menghasilkan penyerapan dana masyarakat
besar-besaran dan menjadi sumber utang terbesar Indonesia dimana
pada akhirnya kita menyaksikan Bank-Bank yang didirikan di Indonesia
dalam jumlah massif menjadi sarang-sarang penggelapan uang negara
dan masyarakat yang pada tahun 1998 sesudahnya utang itu harus
dibayar oleh rakyat. Suharto juga membangun Pasar Modal Indonesia
namun masyarakat yang diciptakan Suharto rupanya juga membawa Pasar
Modal Indonesia ke dalam kondisi nyaris bangkrut serta kerap menjadi
sarana pencucian seperti misalnya dana-dana gelap reboisasi yang
sering diputar di Pasar Modal Indonesia. Dari semua kegiatan
bejatnya Suharto memberikan seluruh akses modal kepada kroni-
kroninya yang bertujuan sebagai benteng kekuasaan Suharto. Serta
dengan lucunya Harto memberikan modal kepada anak-anaknya untuk
menjadi konglomerat dengan dana pinjaman yang tidak menyertakan
faktor resiko. Apa yang dilakukan Harto ini kemudian menjadi sebuah
gejala besar dalam pengerukan dana masyarakat dan negara dimana
Manajemen Resiko tidak pernah menjadi titik perhatian, banyak
kemudian anak-anak pejabat dari kelas menteri sampai lurah
menggunakan sistem fasilitas model Suharto ini pada anak-anaknya.
Jadi di bawah Suharto Indonesia bukan dibawa ke dalam negara modern
tetapi sebagai negara primitif berlandaskan sistem maling. Jelas ini
bukan sebuah negara modern, tapi negara kanibal yang primitif.
Merupakan kesalahan fatal bila Suharto diunduh namanya menjadi Bapak
Modernisasi Indonesia.

Suharto, Suhartorian dan Kapitalisme Semu

Pada awal-awal setelah peristiwa Gerakan Untung. Suharto jelas telah
melakukan tindakan subversif pada Bung Karno. Bahkan tindakannya itu
bisa disamakan dengan tindakan Letkol Untung yang tidak mencantumkan
nama Bung Karno dalam susunan Dewan Revolusi (Susunan ini biarpun
ngawur tapi juga memiliki makna serius terhadap kekuasaan Sukarno).
Pada siang harinya Suharto menahan Umar dan Pranoto untuk bertemu
dengan Bung Karno yang alasannya "Angkatan Darat tidak mau
kehilangan Jenderalnya lagi" Namun dengan cepat Suharto mengangkat
dirinya sendiri sebagai Menpangad tanpa sepengetahuan dan ijin
Sukarno sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Dari sini
saja Suharto bisa terkena tuduhan serius yaitu : membangkang
terhadap kekuasaan yang sah. Tapi Suharto tahu segalanya, ia punya
kartu truf yaitu hilangnya kelompok Yani yang diculik pasukan
Untung. Ada missing link yang paling membingungkan ahli sejarawan
tentang teori konspirasi 1965. Yaitu : Dimana Suharto pada malam 30
September 1965 setelah pertemuannya dengan Kolonel Latief, Wakil
Komandan Gerakan Untung. Seperti yang telah diketahui oleh umum
lewat pledoi Latief yang dirilis pada tahun 1978. Ternyata Suharto
dilapori oleh Latief bahwa pasukan Untung akan menangkapi para
Jenderal dan menurut pengakuan Latief, Suharto hanya mengangguk.
Dianggap sudah mengerti Latief pamit pulang dan meneruskan
pekerjaannya dalam pasukan Untung. Tapi hal itu dibantah oleh
Suharto, katanya Latief mencari-cari Suharto di Rumah Sakit Gatot
Soebroto untuk dibunuh. Pengakuan ini ada dua versi. Versi dari
majalah Der Spiegel dan Versi dari Otobiografi Suharto G. Dwipayana.

Sebelum jam enam pagi ada orang yang menyaksikan Suharto yaitu :
Mashuri yang kelak menjadi Menteri Penerangan di Jaman Orde Baru.
Mashuri menyaksikan sebelum jam 6 pagi Suharto sudah mengenakan
pakaian tempur. Ini menunjukkan bahwa Suharto kemungkinan sudah tahu
akan adanya gerakan. Dan orang yang mengetahui adanya gerakan ini
diluar sistem gerakan Untung adalah : Suharto. Ia sendiri dengan
menggunakan kendaraan dinasnya peegi ke Markas Kostrad dan tidak
dikawal. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan banyak pasukan
dari luar daerah (Diponegoro) berkeliaran di sekitar Monas dan
Istana Negara.

Puncak dari kehebatan Suharto dalam menguasai informasi Gerakan
Untung adalah ketika ia mengucapkan kepada anak buahnya setelah
hampir seluruh markas Kostrad sudah mendapat info bahwa Yani cs
diculik adalah ucapan : "Itu Gerakan Untung, dan Untung sudah lama
menjadi binaan PKI". Ucapan inilah yang kemudian menjadi dasar
paling kuat bukan saja menghantam gerakan Untung, menjungkalkan
Sukarno dari kekuasaannya bahkan lebih jauh lagi menciptakan rezim
teror selama 32 tahun.

Saya tidak akan berbelit-belit menceritakan sejarah G 30 S yang
muncul banyak kontroversi. Tapi menceritakan tentang awal mula
Suharto dengan ucapannya : PKI berada dibalik Gerakan Untung. Ucapan
inilah yang kemudian menjadi sebuah landasan filosofis paling
penting dari semua struktur kekuasaan Suharto. Tidak mungkin
menjelaskan kekuasaan Suharto tanpa melibatkan alasan utama
berdirinya rezim teror ini tanpa menyertakan PKI sebagai alat paling
penting dalam menciptakan rezim teror. Seperti yang telah tercatat
dalam sejarah bahwa ketika Suharto sudah semakin mendekat dengan
Sukarno dalam pertarungan politiknya. Suharto menggunakan kekuatan
media massa untuk menciptakan histeria massa dimana kemudian teror
paling kelam dalam sejarah Indonesia terjadi. Uniknya peran media
massa ini kemudian sangat penting juga dalam menciptakan pemulihan
nama baik Suharto di tahun 2008 saat ia sudah sakit-sakitan.

Melalui alat tawar PKI yang anehnya Sukarno juga terjebak dalam
tawaran itu dan bukannya menangkap Jenderal Suharto. Suharto
bergerak lebih agresif lagi. Ia langsung mengisi stafnya dengan
orang-orang Diponegoro yang pro dengan Suharto sejak tahun 1950-an.
Perlu diingat Jenderal Yani sendiri agak kurang disukai oleh
Diponegoro karena sikapnya yang sudah ke Jakarta-Jakartaan.

(Ada sambungannya, udah siang saya mau kerja dulu ya....)

ANTON

View My Blog :
http://anton-djakarta.blogspot.com

--- In x, "si_andi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ini kejadian tahun 1963 di negeri Anda yang gemah ripah loh jinawi
> itu, Pak.
>
> Tapi Anda pasti tidak percaya. Itu kan cuma propagandaaaaa....
>
> ....Headlong military mobilization of Indonesia's slim resources has
> thrown the economy into chaos. The country's hard currency and gold
> reserves, estimated at $300 million, are exhausted. The black-market
> rate for U.S. dollars has climbed 100% in eight months. The price
> for once-plentiful rice has trebled in three months. In wide areas,
> famine is raging, and troop rations have been slashed to rush food
> to the people. Thousands of people were suffering from malnutrition,
> and near Djakarta 70 were reported dead of starvation....
>
> Andi
>
>
> --- In x, tjuk kasturi sukiadi <kasturi_sukiadi@> wrote:
> >
> > Ha, ha ..ha, betapa naif dan cetheknya pengetahuan manusia
> Indonesia yang mengikuti logika itu.
> > Saya amengalami benar Zaman Inflasi yang di dengung-dengungkan
> sebagai "bagian utama legitimasi ORBA" untuk menjatuhka Bung Karno.
> Inflasi 600 %. Kami masih makan nasi dengan lauk utama tahu tempe
> alias "HUPE". Impor bahan makan "sangat negligible". Terms of
> Trade petani sangat tinggi. Kalau anda harus in de kost di Surabaya
> di daerah Darmo cukup "membayar Rp 1.500,- plus 15 kg beras.
> Kehidupan para keluarga petani jauh lebih baik dari para pegawai
> negeri. Kami yang anak "priyayi/pegawai negeri" kalau berlibur
> seringkali menginap dirumah kawan-kawan di desa yang putra carik,
> jogoboyo, kamituwo atau lurah (kades). Disana kami bisa makan beras
> baru , disembelihkan ayam dan sangat nyaman sekali. Jauh lebih baik
> dari konsumsi di rumah kami (yang tinggal di kota) setiap hari.
Uang
> kuliah hampir2 gratis .Taripnya tidak berubah sejak tahun 1950-an
> yakni Rp 240,- . Pada tahun 1965 uang 240 rp hanya dapat 2 gelas
> sirup. Mahasiswa setiap bulan mendapat Jatah beras 25kg/orang.
> > Yang 10 kg dijual dan sisanya untuk bayar kos. Untuk kesehatan
> kebetulan UNAIR punya Fakultas Kedokteran maka semua mahasiswa
> punya kartu kesehatan dengan dokter yang telah ditunjuk dan tidak
> perlu bayar alias gratis.Akibat Bung Karno menjalankan kebijakan "
> GO to Hell With Your Aids" , ya tentu saja konsekuensinya "DI-
> EMBARGO" habis-habisan oleh Amerika Serikat dan Sekutu-sekutunya
> berikut anthek-antheknya. Bisa anda bayangkan supply barang-barang
> ex impor dari negeri-negeri itu paraktis terhenti demikian pula
> ekspor jiuga dihambat. Itulah Gus, Neng yang membuat inflasi jadi
> 600%. Tapi ingat Angkatan Perang kita terkuat di Asia , kita punya
> RI Irian, AURI dilengkapi dengan pesawat MIG 21 yang ketika itu RRT
> saja belum dikasih oleh Uni Sovyet ( karena hubungan yang memburuk
> antara Nikita Kruschuv dan Mao Tse Tung). PSSI ( Sutjipto dkk)
> sempat meraih Juara Asia. Atletik kita hanya kalah dibandingkan
> dengan RRT. Kita memang hampir semuanya menderita (melarat erkonomi)
> > tetapi sebagai bangsa Indonesia kita punya kebanggaan yang
> selangit dan disegani di dunia internasional! Kalau mau bicara
> tingkat inflasi coba baca Inflasi di negeri-negeri Amerika latin
> pada Dasawarsa 1980 - 1990 an. Sebut saja , Brazilia, Argentina,
> Chili dll, tanpa harus mengatakan :" Go to Hell With Your Aids!"
> dan dengan tetap bermesra-mesra dengan Paman Sam , en toch inflasi
> ekonomi mereka mencapai lebih dari 1000 % dan bahkan ada yang sampai
> 4000 % setahun. Mengingat dan merenungkan semua ini semakin membuat
> aku bangga kepada Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Belum lagi di
> bidang pertanian ,untuk menambah supply makanan muncullah petani-
> petani desa dengan temuan mereka " Kaspe Mukibat", " Ikan
> Mujair", " Jagung Perta" dsb. Nah bandingkan sekarang dengan hampir
> sejuta wanita muda yang jadi TKI , pengangguran di Indonesia yang
> semakin meledak, orang yang hidup di bawah garis kemiskinan lebih
> dari 100 juta. Kesenjangan ekononomi dan kesenjangan sosial yang
> semakin
> > menganga. Dan dalam sejarah kita mengalami prahara "krisis
> kedelai" karena sejak lebih duapuluh tahun yl kedelai utk tempe dan
> tahu sebagian besar harus diimpor. Untuk yang belum lupa ( sayang
> sudah tidak bisa tanya kepada Pak Harto) kita perlu tahu bagaimana
> nasib proyek raksasa yang dicanangkan sekitar lima belas tahun yang
> lalu :" LADANG GAMBUT SEJUTA HEKTAR DI KALIMANTAN". Tidak tahu
> berapa triliun uang yag sudah masuk kedalam proyek raksasa itu.
> Bagaimana hasilnya. NOL BESAR! Kalau saja Mega Proyek itu berhasil
> bisa anda bayangkan berapa banyak beras atau mungkin kedelai
> dan "stapple crops" lain yang dapat dihasilkannya. Kalau tiap hektar
> setahun panen pad 2 kali dan menghasilkan padi setara beras 5
> ton/tahun. Mustinya kita akan punya tambahan supply beras dalam
> negeri 5 juta ton beras setiap tahunnya. Ambooi hebat nian! Berapa
> banyak devisa yang dapat dihemat dan berapa banyak orang orang muda
> dapat pekerjaan layak di sektor pertanian.Tetapi semua itu ternyata
> > hanyalah harapan hampa. Pertanggung jawaban resmi atas Mega
> Proyek itupun sampai sekarang belum pernah kita dengar. Betapa
> kekuasaan Suharto yang begitu panjang yang diwarnai dengan
> kekenthalan "Asal Bapak Senangisme" telah mengakibatakan begitu
> banyak salah urus dan kegagalan yang berpuncak kepada "Krisis
> Moneter-> Krisis Ekonomi" yang membuat bangsa Indonesia harus
> membayar mahal. Anak cucu kita harus meanggung utang yang baru akan
> lunas dalam waktu 50 tahun. Itupun dengan catatan manakala tidak
> menambah dengan utang baru. Salakm perjuangan Tjuk Kasturi Sukiadi


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke