AS di Mata Santri: Masihkan Amerika Superpower?

Oleh: Rizqon Khamami
Penulis adalah peserta program International Visitor Leadership USA-
2008 utusan Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang, Kraksaan, 
Probolinggo, Jawa Timur.



Amerika Serikat (AS) meredup. Begitulah kira-kira gambaran AS 
sewindu di bawah pemerintahan George W. Bush. Posisi tawar AS 
semakin menipis. Kenapa? Karena energi AS habis untuk menyelesaikan 
sisa-sisa perang di Afghanistan dan Iraq.

Sejak 2001, Washington menginvasi dua negara, dan di samping itu 
mengirim personel militernya ke penjuru dunia dari Somalia hingga 
Filipina: memerangi militansi Islam. Departement of Homeland 
Security, yang baru kemarin dibentuk, memiliki anggaran sekitar $40 
milyar. Dan dana yang dikeluarkan untuk dua perang di atas tidak 
kurang dari $187 milyar, sebuah jumlah fantastis kombinasi anggaran 
militer 4 negara sekaligus: cina, Rusia, India dan Inggris.

Beberapa dekade lalu, hegemoni global Amerika menjadi topic hangat. 
Sejarah mencatat: Amerika unggul. Namun kemenangan akibat runtuhnya 
Uni Sovyet itu membuat AS arogan, mau menang sendiri dan paranoid. 
Apalagi sejak serangan 11 September. Menjelang invasi Iraq, hubungan 
dengan beberapa negara menegang (contoh kasus: Perancis sebelum 
Sarkozy). Akibatnya, di mata publik dunia AS kurang disegani, bahkan 
cenderung marah, terutama publik Muslim.

Sejak beberapa tahun lalu, untuk pertama kali, ASEAN tidak 
melibatkan AS dalam sidang puncaknya. Malahan, meminta Cina dan 
India –dua negara yang melejit dalam bidang ekonomi disertai 
pengaruh mereka di dunia-- menjadi peserta. Untuk pertama kalinya, 
pada tahun 2001, Perdana Menteri Cina Zhu Rongji menawarkan Pakta 
Perdagangan Bebas (FTA) kepada negara-negara Asia Tenggara. Jika ini 
berlaku, 1,7 milyar orang akan menjadi konsumen, dengan kombinasi 
produk domestic kasar $1,5 hingga $2 triliun, tulis Kishore 
Mahbubani. Jumlah yang fantastis. Investasi Cina menyebar besar-
besaran di tiap negara ASEAN, tidak terkecuali Indonesia.

Kishore Mahbubani, pakar politik internasional dari Singapura, 
mengamati bahwa pengaruh AS di Asia Tenggara semakin memudar, 
terganti oleh Cina. Masyarakat Filipina menuntut penutupan pangkalan 
militer AS di negaranya. Begitu juga di Jepang. Pada saat yang sama, 
Rusia di bawah Putin –Rusia kaya mendadak berkat harga minyak yang 
melonjak-- ikut bermain di Asia Tenggara. Beruang Kutub itu kini 
menjadi negara adidaya kembali dan sejak setahun ini mendadak sudah 
bertengger di Bumi Pertiwi. Posisi AS semakin terpinggir.

Bahkan beberapa negara yang secara tradisional punya hubungan erat 
dengan AS, survey memperlihatkan posisi AS menurun tajam. Menurut 
Pew poll, sikap positif warga Inggris terhadap AS menurun dari 83 
persen pada tahun 2000 menjadi 56 persen pada tahun lalu. Di Jerman, 
angka menyusut dari 78 menjadi 37. Menurut sebuah survey lain di 
Jerman, Marshal Fund, hanya 36 persen menganggap kepemimpinan AS 
sebagai hal positif. Pada tahun 2002, angka itu mencapai 64 persen. 
Ditanya alasan apa yang mendasari penurunan itu: 34 persen menjawab 
karena Presiden Bush, dan 38 karena perang Iraq. Hal yang sama juga 
berlalu di Cina, sebanyak 57 persen menganggap AS sebagai negara 
yang kurang baik. Alasannya: arrogan, perang iraq dan unilateralisme.

Dalam perebutan sumber minyak dunia, di beberapa tempat AS kalah 
langkah oleh Cina. Konsesi minyak Sudan dikuasi Cina. Saat ini saja 
sedang dibangun pipa minyak langsung ke Cina dari negara-negara di 
Asia Tengah. Sedang hampir separuh minyak daerah ini di bawah 
konsesi Rusia. Iran menjual ke India. Venezuela kepada Cina dan 
kepada negara-negara tetangga Latin lainnya. AS gigit jari.

Cina mengungguli tidak saja dalam konsesi minyak, tapi juga dalam 
proyek-proyek pembangunan dan perdagangan di Afrika, dengan nilai 
perdagangan tahun lalu sebesar $50 milyar. Diproyeksikan pada tahun 
2010 nilai itu akan mencapai $100 milyar. Bahkan Cina memberi 
pinjaman sebesar $11 milyar untuk Anggola –jumlah yang lebih banyak 
dibanding pinjaman Bank Dunia. Kuku naga Cina kini sedang 
menancapkan pengaruhnya di benua hitam pekat ini. Fareed Zakaria, 
pakar politik internasional asal Amerika, bahkan menyebut bahwa abad 
ini adalah abad Cina.

Keunggulan Cina atas AS ini diikuti juga oleh beberapa negara 
lainnya. Penguatan ini ditandai dengan menguatkan ekonomi negara-
negara tersebut, tentu saja beserta pengaruh atas negara-negara di 
sekitarnya. Yang paling menonjol adalah India, Rusia dan Eropa. 
Setelah beberapa tahun ekonomi Eropa terpuruk, kini sedang bangkit 
dengan motor penggerak Jerman.

Eropa sendiri membentuk Uni Eropa yang meliputi tidak kurang dari 
500 juta penduduk, dan mempunyai produk domestik kotor setara dengan 
AS. Bagi masyarakat Eropa, identitas tunggal mereka adalah menjadi 
orang Eropa. Bagi mereka, berarti: tidak bergaya Amerika dan 
membuang semua yang berkaitan dengan Amerika. Sikap mengental ini 
diakibatkan, salah satunya, cara pandang pemerintah AS terhadap 
Eropa menjelang penyerangan ke Iraq. Simpati masyarakat Eropa 
terhadap AS perlahan mulai menipis.

Ekonomi AS tidak bergerak, saat ini bahkan berkecenderungan resesi. 
Pengangguran meningkat dari 4,7 persen menjadi 5 persen. Di 
Hollywood sendiri 10.500 pekerja film diberhentikan.

Daya beli masyarakat AS yang selama ini terbesar di dunia menjadi 
susut. Jaringan retailer Macy sebanyak 850 toko dilaporkan mengalami 
penurunan 7,9 persen dalam bulan Desember saja –Macy selama ini 
dianggap mewakili kemampuan beli kelas menengah. Tiffany, yang 
berhasil meraup laba besar selama 2007 pada saat banyak retailer 
terpuruk, melaporkan bahwa penjualan selama Christmas tahun ini 
turun 2 persen. Kemampuan beli orang AS menurun.

Jika ekonomi betul-betul berada di ambang resesi tahun ini, hal itu 
dikarenakan kesulitan ekonomi orang-orang Amerika –yang menempati 70 
persen aktivitas ekonomi. Jika daya beli berhenti, banyak perusahaan 
akan merugi dan mengakibatkan pemutusan kontrak kerja , dan akhirnya 
makin mengurangi daya beli orang-orang AS yang sudah melemah. Dan 
begitu seterusnya. Semua itu pada awalnya dipicu oleh macetnya sub-
prime mortgage dalam bisnis perumahan.

Mata uang dollar melemah terhadap nilai mata uang asing. Tahun 2002 
satu euro berharga 86 sen dollar AS, saat ini dihargai $1,46. Dengan 
menguatnya euro, ada kecenderungan transaksi internasional mulai 
melirik mata uang Eropa ini. OPEC sedang mempelajari kemungkinan 
penggunaan euro dalam penjualan minyak. Akibatnya, harga minyak 
menjadi tambah mahal bagi AS, membuat ekonominya memburuk, lalu 
dollar makin melemah. Memakai istilah Hasan Turabi, pemikir Muslim 
dari Sudan, dollar bukan lagi sebagai `umlah muqoddasah', mata uang 
suci yang didewa-dewakan.

Pertanyaan muncul: Apakah ini pertanda Amerika kehilangan 
superpowernya? Iya, jika AS terus menerus disibukkan oleh carut-
marut kegagalan "demokratisasi Arab"-nya Bush. Dan sebaliknya, saya 
melihat, Amerika akan bisa bangkit lagi. Kenapa bisa begitu? Karena, 
meminjam istilah Chu Shulong --peneliti di the Brookings 
Institution, Washington-- kemunduran AS hanya pada tataran soft-
power. Artinya: meredupnya AS masih hanya seputar reputasi, 
superioritas moral, kepercayaan bangsa lain, pengaruh, dan prestige.

Sedangkan untuk hard-power, AS masih merajai dunia. Tengok saja 
militer AS, masih terkuat. Kepemilikan hulu ledak nuklir masih 
terbesar kedua setelah Rusia: 5.045 buah. Anggaran militernya $528,7 
milyar –terbesar di dunia-- sedang negara-negara lain: Inggris 
$59.2, Perancis $53,1 milyar, Cina $49,5, Jepang $43,7, Jerman 
$37,0, dan Rusia $34,7 milyar.

Di sisi lain, Amerika juga masih menjadi negara terkaya di dunia. 
Lalu disusul Jepang, Jerman, lalu Cina dan India.

Karena itu, pemilihan presiden AS kali ini menjadi titik penentu, 
apakah nasib AS akan mengikuti nasib kerajaan Inggris pada akhir 
abad 19, berhenti menjadi penguasa tunggal dunia digeser oleh Cina? 
Mari kita pantau. Dan, alhamdulillah, saya berkesempatan melihat 
semua pergolakan itu dari sarangnya langsung dalam program 
International Visitor Leadership USA-2008.
Wallahu a'lam bisshowab 


(Washington DC, 11 Februari 2008)

http://rizqonkham.blogspot.com/2008/02/as-di-mata-santri-masihkan-
amerika.html





Kirim email ke