Jurnal Sairara:
   
   
  DANDAU RI, RI HASIAN 
   
   
   
  Faubourg  Saint-Honoré yang terdapat di Paris VIII, merupakan salah satu 
daerah paling elit di samping Champs l'Elysées, di Paris. Secara geografis 
keduanya memang tidak berjauhan. Di daerah ini terdapat Kedubes Amerika dan 
Inggris, dan juga hotel di mana Bung Karno pernah menginap ketika mengadakan 
kunjungan kenegaraan ke Perancis. Di daerah ini pula upacar negara 
dilangsungkan. 
   
   
  Oleh sifat elitnya maka toko-toko apa saja yang terdapat di daerah ini 
tingkat harga untuk barang yang sama , seperti coca cola,  secangkir kopi 
ekpreso , roti, dan lain-lain.. menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan 
daerah-daerah lain seperti Paris 18  yang  kartir populer misalnya. Berbedanya 
tingkat harga untuk suatu barang serupa, disebabkan oleh perbedaan tingkat 
pajak yang ditagih negara untuk kartir-kartir berbeda.  Tagihan pajak oleh 
negara ini kemudian diperhitungkan oleh pengusaha dengan tingkat harga 
barang-barang yang dijual dengan prinsip umum 1/3:1/3:1/3. Prinsip yang 
melatari penjualan "sale" atau "solde" jika menggunakan istilah orang Perancis.
   
   
  Tapi justru di daerah paling elit di Paris inilah, pada 1 Maret 2008 yang 
akan datang,  para penari Indonesia yang bermukim di Paris akan menggelarkan 
acara "Bali Années 20", berupa balet dan orkes gamelan dari Desa Sebatu dengan 
sponsor dari Kementerian Kebudayaan Perancis, Bank Société Générale, Cité de 
léa Musique, dan Walikota Paris.  Sponsor ini didapatkan tentu saja melalui 
lobbie-lobbie intensif seperti yang dilakukan oleh Lembaga Persahabatan 
Perancis-Indonesia "Pasar Malam" dalam kegiatan-kegiatan kebudayaannya, 
terutama sastra Indonesia. Oleh lobbie-lobbie "Pasar Malam" dalam mempromosi 
sastra Indonesia, maka para penerbit Perancis mulai melirik karya-karya sastra 
Indonesia dengan perhatian sedikit meningkat dibandingkan dari masa-masa 
sebelumnya. Hanya saja,  dalam hal ini masih sangat jauh ketinggalan 
dibandingkan dengan perhatian terhadap sastra Tiongkok, Jepang, Viêt Nam dan 
Korea 
   
   
  [Apakah sastrawan-seniman kita angkatan sekarang masih berbangga diri dengan 
ketinggalan begini?  Masih sibuk dengan keasyikan pada diri sendiri?! Sibuk 
dengan saling sanjung, sementara dunia lebih luas mengajukan tuntutan besar? 
Suatu pertanyaan salah barangkali. Aku hanya melihat bahwa sikap begini sebagai 
suatu kekonyolan "bangsa koeli", "bangsa tempé",  dalam bentuk baru di zaman 
ini. Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa panarung, 
seperti yang diperlihatkan oleh Kraeng Galesong, Trunajaya, Samber Nyawa , 
Sisingamangaraja, aktor-aktor Perang Kasitu di Kalteng-Kalsel yang berlangsug 
sampai seratus tahun,   dan lain-lain , bahkan oleh Cak Durasim yang membayar 
kata dengan nyawanya . Generasi jenis apakah sekarang ini? Apakah jenis 
generasi oranghutan kehilangan hutan seperti yang kusaksikan sendiri di 
Kasongan ibukota kabupaten Katingan, Kalteng? Ooo, barangkali pertanyaanku 
salah. Sangat salah, tapi jika dihitung-hitung, aku pun tidak juga terlalu
 asing dari keadaan kampung halaman sekali pun dipaksa jadi pengembara busur 
bumi, tapi bersamaan dengan itu aku juga melihat adanya  tidak sedikit orang 
yang berada di Indonesia tapi asing dari Indonesia. Orang Dayak bahkan tidak 
tahu tentang Dayak dan malah secara ironis bertanya kepada pengembara yang 
diasingkan negerinya seperti diriku ini. Padahal siapakah penanggungjawab esok 
negeri ini selanjutnya jika bukan angkatan sekarang, angkatan orang hutan 
kehilangan hutan? Sairara, hasian, keadaan ini  sangat melukai diriku. 
Indonesia bukan hanya membuang diriku, tapi juga telah melukaiku sangat dalam. 
Aku saja yang menolak mati karena luka tikaman sesama anak bangsa sendiri, yang 
 justru merangsang semangat hidupku dan menertawakan ajal, mengacungkan kepalan 
pada tindasan tirani. Bayangkan saja untuk menjadi Indonesia saja harus 
diperjuangkan dan dibatasi oleh syarat ini dan itu. Baca saja UU 
Kewarganegaraan produk pemerintahan sekarang.  Bahkan warganegara RI
 dibeda-bedakanb dengan pribumin,asli dan "keturunan". Republik dan Indonesia 
agaknya masih jauh dari pemahaman].
   
   
  Aku kira, usaha lobbie dan promosi ini akan lebih terbantu jika para 
sastrawan-seniman kita memperhatikan taraf bersastra mereka. Lobbie adalah 
sejenis bentuk diplomasi politik. Diplomasi politik akan berdampak kuat jika 
didukung oleh kegiatan di lapangan . Waktu Le  Duc Tho dan  Henry Kissinger 
[dua-duanya pemegang Nobel Perdamaian], berunding di Paris, di medan perang, 
walau pun syarat-syarat melakukan ofensif  secara obyektif  tidak memadai ,  
tapi Tentara PembebasanViêt Nam Selatan, memaksa diri untuk melancarkan Ofensif 
MusimSemi Mei 1968 demi menyokong Le Duc Thp dalam Perundingan Paris  alias 
lobbie internasional di Paris. Ofensif Musim Semi 1968 di lapangan memberi daya 
pada kata-kata dalam Perundingan Paris untuk memecahkan masalah Perang Viêt 
Nam.  
   
   
  Demikian juga dalam bidang sastra Indonesia. Betapa pun gencarnya lobbie dan 
promosi, akan membuat  lobbie dan promosi akan lumpuh jika tidak disokong oleh 
kadar di lapangan sastra. Apa yang bisa dipromosikan jika lapangan tidak 
mendukung? Pertanyaan ini aku gelarkan di hadapan semua yang merasa diri 
sastrawan berkaliber. Apakah mereka layak mewakili Indonesia dan benarkah yang 
meraka wakili adalah Indonesia dalam artian hakiki?
   
   
  Pergelaran balet dan orkes Gamelan "Bali Années 20", selain memperlihatkan 
kekuatan makna lobbie, juga bisa dikatakan sebagai promosi  Indonesia dan 
sastra-seninya. Termasuk pariwisata. Hanya saja berita Harian Bali Pos [14 
Februari 2008] tentang kian merebaknya kriminilitas di Pulau Dewata itu, tentu 
saja bukanlah keadaan yang membantu promosi pariwisata di mancanegara. Padahal 
pariwisata merupakan sumber kehidupan penting bagi penduduk Bali. Hal begini 
sebenarnya bukan asing pula di pusat-pusat pariwisata dunia. Di Paris saja, 
misalnya, masalah jambret dan lain-lain seperti yang diberitakan oleh Harian 
Bali Pos hari ini, juga terjadi.  Dengan mata kepala sendiri, pada suatu musim 
panas, saat Paris dibanjiri oleh jutaan wisatawan asing, aku menyaksikan 
seorang turis lelaki setengah baya, dalam metro [kereta-api bawah tanah] 
dikelilingi empat anak muda. Tiba-tiba turis lelaki itu dengan sukarela 
menyerahkan dompetnya kepada salah seorang dari empat anak muda yang rapat
 mengelilinginya. Kemudian aku baru tahu, hal tersebut dilakukannya menjawab 
todongan dua belati di kedua sisi pinggangnya. 
   
   
  Dengan kata-kata ini tentu bukan maksudku mengatakan bahwa aku membenarkan 
maraknya kriminalitas di Bali sebagai daerah pariwisata. Yang ingin kukatkan 
bahwa gejala maraknya kriminalitas merupakan suatu gejala sosial yang 
penyebabnya bisa diusut dari berbagai segi:politik, ekonomi, sosial dan 
perkembangan demografis, misalnya. 
   
   
  Apakah ini "karma" seperti yang dikatakan oleh seorang komentator di sebuah 
milis Indonesia? Boleh jadi  tidak terlalu salah , jika karma dipandang sebagai 
bertautan dengan hukum sebab-akibat, dan saling hubungan berbagai unsur dalam 
kehidupan bermasyarakat. Maraknya kriminalitas, hanyalah gejala yang laiknya 
meniscayakan penyelenggara negara memahami sebab-musababnya dan dari pemahaman 
ini mencari jalan penanggulangan yang nalar dan adil berangkat dari posisi 
bahwa "rakyat adalah poros". Jika "poros" ini diabaikan dan atau diganti dengan 
"diri sendiri" sebagai poros, maka agaknya mustahil maraknya kriminalitas bakan 
tertangani. Artinya penanganan masalah kriminalitas selain secara praktis dan 
administratif , barangkali memerlukan pendekatan konsepsional sekaligus. Konsep 
yang dipungut sebagai sari kenyataan bukan dipetik dari menara gading atau 
dunia antah-berantah yang asing dari kehidupan. Pendekatan yang dituangkan 
dalam kebijakan praktis dan administratif. Pendekatan
 "kekerasan" gampang-gampangan, mengesankan kembalinya "pendekatan keamanan dan 
stabilitas nasional" serta "pembasmian gali" zaman Jendral Benny Moerdani yang 
telah memakan korban besar diberlakukan. Pendekatan yang tidak menghargai nyawa 
manusia. Hakekat penghapusan hukuman mati, kukira terletak pada menghargai 
manusia dan jiwa manusia serta tidak menutup peluang orang berobah , apalagi 
jika kita menyepakati hukum gerak sebagai yang universal sehingga mungkin 
terjadi "wolak-waliké zaman", ujar orang Jawa.  Kurang padannya tema ini diolah 
dalam sastra-seni, kukira, kembali memperlihatkan betapa banyak hutang 
sastrawan-seniman pada sejarah yang selalu mengejar menagih bayaran piutang. 
   
   
  Iya,  kukira,  piutang  sejarah pada semua anak negeri dan bangsa ini, adalah 
hutang semua anak negeri dan bangsa ini, tanpa kecuali, pada sejarah, jika kita 
bukan seorang Malinkundang. Dalam konteks inilah aku melihat penyelenggaraan  
"Bali Années  20" yang akan berlangsung pada 1 Maret 2008 di tempat yang paling 
prestisius di Paris. "Bali Années" , pergelaran Anggun yang di sini dikenal 
sebagai penyanyi Indonesia yang cantik, seperti juga yang dilakukan oleh Jil 
Adilimas di bidang perfileman, Sutapa di bidang teater bersama James Brook, 
Salim di bidang seni lukis, dan seniman-seniman Indonesia di sini, merupakan 
salah satu ujud cinta dan perujudan cinta mereka kepada tanahair sebagai bagian 
dari wilayah geografis kemanusiaan.  Mereka melakukannya tanpa ketentuan dan 
istruksi administratif  kecuali berpangkal dari dermaga kesadaran sebagai 
putera-puteri negeri dan bangsa yang selalu menyeru-nyeru  -- salah satu hasil 
dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang tak
 bisa tidak dihitung oleh siapa saja , terutama oleh para politisi. Apa pun dan 
betapa pun kekurangan kita dan berlika-likunya jalan mengejawawantahkan 
rangkaian nilai republik dan berkeindonesiaan. Indonesia adalah "hasian" 
bersama. Fajar yang "sairara" [selalu merah]  di hati kita betapa pun kadang 
berwarna buram diburami oleh awan-awan kemelut yang tebal bergumpal-gumpal. Aku 
hanya menyesalkan dengan kesadaran bahwa mencintai memang kesadaran bertaruhkan 
kepala. Sebab kadang dominasi dan hegemoni nilai yang non republiken dan 
berkindonesiaan menguji kesungguhan cinta kita sebagai anak negeri dan anak 
bangsa: Apakah 'Matahari  Madrid tergantikan", jika menggunakan  istilah kaum 
republiken Spanyol yang dikalahkan oleh fasis Jendral Franco  di tahun 1936.  
   
   
  Dari segi diplomasi, kukira apa yang dilakukan oleh para seniman Indonesia di 
luar negeri, merupakan bagian dari diplomasi republiken dan berkeindonesiaan di 
luar jalur resmi dan di luar kegiatan Kementerian Luar Negeri. Terkadang 
orang-orang ini jauh lebih kreatif dan intensif melakukan diplomasi untuk 
Republik Indonesia [RI]. Pada suatu periode, terutama semasa Orba memang ada 
semacam diplomasi Indonesia di luar negeri. Barangkali di sinilah bisa dicatat 
jasa Gus Dur ketika menjadi Presiden RI, mencoba menyatukan diplomasi paralel 
ini sehingga melahirkan juklak nomor pertama untuk para diplomat RI yang 
berintikan agar melaksanakan "diplomasi kerakyatan".  
   
   
  Mengapa sih,  dan apa dasarnya Republik dan Indonesia memusuhi 
putera-puterinya sendiri. Seperti ujar penyair kuno Tiongkok: penguasa silih 
berganti, rakyat tetap di tempatnya?! Hai, kau lihat Sairara, betapa! 
Bagaimana!  Bisakah seorang penyair sampai pada kesimpulan begini jika ia sibuk 
dengan diri sendiri, bertengger di menara terpencil nun jauh di sana. Dari 
ungkapan penyair Tiongkok kuno ini, kita bisa melihat siapakah pahlawan 
sesungguhnya sehingga bisa terjadi keadaan bahwa penyelenggara negara 
menjatuhkan Republik dan Indonesia, dengan jatuh bangun membelanya. "RI yang 
Hasian!",  "Dandau RI", ujar orang Dayak Katingan.  Dengan perbandingan penyair 
Tiongkok ini, aku menanyai semua yang menyebut dan merasa diri sastrawan 
Indonesia. Tak berkekelebihan bukan pertanyaanku jika sastrawan-seniman memang 
sungguh adalah suatu kualitas manusia dan warganegara?
   
   
  Sering aku bertanya pada diri ,benarkah sastrawan-seniman itu tidak lain dari 
seorang penggiat sadar yang total dalam arti sesungguhnya dan seluasnya karena 
cakupan kerjanya adalah seluruh kehidupan . Yang sibuk dengan diri sendiri dan 
sibuk mencari perhatian, sebenarnya tidak lain seorang puber yang tak enggan 
menyebut diri sastrawan-seniman. ***
   
   
   
  Paris, Musim Dingin 2008.
  ------------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris. 

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke