Foto dan gambar ada di:
http://infoindonesia.wordpress.com
Banjir yang melanda Jakarta
umumnya disebabkan oleh banjir kiriman dari Bogor atau hujan lokal yang sangat
deras dengan waktu lama antara 1-3 hari. Ada pun banjir karena pasang laut 
bolehdikata agak jarang dan hanya melanda kawasan tertentu di pesisir (Jakarta 
Utaraseperti Rawa Buaya) jika ada tanggul yang jebol. Boleh di kata kawasan 
banjirCawang, Kampung Melayu, bahkan jalan tol Cengkareng terlepas dari banjir 
pasanglaut karena posisinya yang lebih tinggi dari permukaan laut.
 
Banjir karena pasang laut hanya bisadihindari dengan pengadaan tanggul yang 
kuat dan menyeluruh tanpa celah sedikitpun bagi air laut masuk ke darat. 
Meliputi pesisir pantai dan juga pinggiransungai yang posisinya masih di bawah 
permukaan laut.
 
Ada pun banjir karena hujan, jikaaliran sungai mengalir lancar dan drainase 
(kanal buatan) mengalir dengan baikhingga ke laut bisa dicegah. Tapi ini 
artinya air tawar yang berharga sia-siaterbuang ke laut. Akan lebih baik lagi 
pemerintah memperdalam sungai, membuatbendungan atau mengambil alih situ/danau 
yang ada untuk menampung kelebihan airhujan tersebut.
 
Banjir pada tanggal 1 Februari 2008yang menggenangi jalan Jenderal Thamrin 
hingga 1 meter sebenarnya menunjukkanadanya perbaikan kelancaran aliran air 
dibanding banjir pada bulan Februari2007 yang menenggelamkan daerah Cawang dan 
Kampung Melayu antara 3-4 meter.Kenapa? Karena Cawang dan Kampung Melayu 
posisinya berada di hulu atau lebihtinggi ketimbang jalan Thamrin. 
 
Pada Februari 2007, wilayah hulu initenggelam sementara jalan Thamrin kering 
karena pintu air Manggarai baik yangmenuju Banjir Kanal Barat mau pun ke masjid 
Istiqlal ditutup. Baru setelahSutiyoso dan Jubir Presiden ribut masalah 
pembukaan pintu Air Manggarai danpintunya dibuka, maka banjir di Cawang dan 
Kampung Melayu surut, sementaraMonas dan Istana Negara tenggelam hingga 1 
meter. Dua foto yang saya muat dimana Kali Ciliwung di Jatinegara yang 
merupakan hulu airnya begitu dalamsementara Kali Ciliwung di Matraman yang 
merupakan hilir justru lebih dangkal hinggadasarnya kelihatan menunjukkan tidak 
lancarnya pengaturan air di Pintu AirManggarai.
 
Pada banjir 2008 ini pintu AirManggarai yang menuju Banjir Kanal Barat yang 
melintasi Jalan Sudirman dibuka,sehingga Jalan Thamrin dan Sudirman tergenang 
air hingga 1 meter. Sebaliknya,wilayah Cawang dan Kampung Melayu sama sekali 
tidak banjir (kecuali KampungPulo yang posisinya sangat rendah). Meski pintu 
Air Manggarai yang menjurus kekali Ciliwung (ke Matraman, Istiqlal, dan 
seterusnya) tidak dibuka, namun inimenunjukkan sedikit perbaikan pada 
pengaturan pintu air. Padahal kalau dibuka,meski banjir meluas, namun tingginya 
tentu akan jauh berkurang karena lebihmerata.
 
Penyebab banjir di Cengkareng,terutama pada kilometer 24 dan 25 disebabkan 
karena aliran air banjir tertahandi tanggul Perumahan Pantai Indah Kapuk. 
Sementara waduk yang ada tidak cukupluas dan tertutup sehingga tidak mampu 
menampung air banjir. Padahal jika bisadisalurkan ke drainase Cengkareng, air 
banjir bisa dialirkan ke laut.
 
Jika kita amati topografi Jakarta yang secarasederhana digambarkan di sini, 
umumnya banjir terjadi karena adanyatanggul/bendungan yang menahan aliran air 
sehingga tidak mengalir ke laut danmenggenang jadi banjir. Di antaranya Pintu 
Air Manggarai yang menahan air KaliCiliwung sehingga air menggenangi wilayah 
Kalibata, Cawang, dan Kampung Melayu.Di utara ada Tanggul Pantai Indah Kapuk 
yang menahan air banjir dari jalan TolCengkareng di kilometer 24 dan 25.
 
Menggusur perumahan Pantai IndahKapuk tentu sangat sulit. Namun pemerintah bisa 
memperbaiki sistem drainasedengan memperdalam waduk yang ada dan mengalirkannya 
ke kanal yang ada disekitarnya.
 
Saat ini pemerintah memperdalamsungai yang ada hanya menggunakan kendaraan 
darat Excavator. Padahal kendaraanini selain tidak praktis karena tidak semua 
pinggiran sungai dapat dilalui jugadaya angkutnya kecil.
 
Sudah saatnya pemerintah membelikapal keruk ringan untuk memperdalam 
sungai-sungai yang ada di Jakarta dengankedalaman minimal 7 meter. Jika sungai 
cukup dalam dan lebar, maka volumesungai akan berlipat hingga 3 kali lipat 
sehingga luas/tinggi genang banjirbisa dikurangi.
 
Foto yang diambil di Matramandisamping Radio SBY menunjukkan Kali Ciliwung yang 
begitu dangkal airnyasehingga dasar sungai terlihat hingga separuhnya. 
Pemerintah harus mengerukdasar kali Ciliwung dari muara hingga ke hulu secara 
bertahap dengan memakaikapal keruk.
 
Jika satu Kapal Keruk harganyasekitar Rp 5 milyar dan untuk mengeruk 
sungai-sungai di Jakarta butuh 5 kapalkeruk, maka hanya dibutuhkan biaya 
sekitar Rp 25 milyar untuk pengadaan KapalKeruk dan total Rp 50-100 milyar 
untuk seluruh biaya operasionalnya. 
 
Lebih baik menormalisasi sungai-sungaidan kanal yang ada dengan memelihara agar 
lebar dan kedalamannya tetap terjagaketimbang menghamburkan trilyunan rupiah 
untuk pembangunan Banjir Kanal Timuryang tidak diikuti dengan pemeliharaan 
sehingga akhirnya menjadi dangkal dantidak berguna.
 
Ini jauh lebih murah ketimbangmembuat Banjir Kanal Timur yang selain biayanya 
trilyunan rupiah juga mubazirjika pengaturan pintu airnya seperti sekarang atau 
kanalnya dangkal lagi jikatidak pernah dikeruk.
 
Tulisan lain tentang banjir adadi: http://infoindonesia.wordpress.com
 
 
===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252


Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id





      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke