http://www.antara.co.id/arc/2008/2/16/hasyim-muzadi-terkesan-pembangunan-di-sudan/

Hasyim Muzadi Terkesan Pembangunan di Sudan

Khartoum (ANTARA News) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH 
A. Hasyim Muzadi, menyatakan terkesan dengan pembangunan di Sudan dalam 
beberapa tahun terakhir ini, khususnya diawali dengan pengelolaan hasil 
eksplorasi minyaknya.

"Saya yakin dalam waktu kurang dari sepuluh tahun ke depan Sudan akan menjadi 
negara yang makmur," katanya dalam pertemuan dengan masyarakat Indonesia di 
Wisma Duta Besar RI di Khartoum, ibukota Sudan, Jumat.

Dalam acara tersebut, Hasyim Muzadi didampingi Duta Besar RI untuk Sudan dan 
Eritrea, Tajuddien Noor Bolimalakalu, demikian laporan dari Bambang Purwanto, 
Sekretaris III Pelaksana Penerangan, Sosial dan Kebudayaan (Pensosbud) KBRI 
Khartoum.

Di hadapan sekira 150 Warga Negara Indonesia (WNI) --termasuk keluarga 
diplomat, mahasiswa-mahasiswi, pekerja profesional sektor perminyakan dan badan 
internasional dari Indonesia, juga personel TNI yang bergabung dalam pasukan 
perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Sudan (UNMIS)-- Hasyim Muzadi 
membandingkan kondisi Sudan pada 2002 dengan saat ini.

Ia menilai, saat mengunjungi Sudan pada 2002 kondisinya belum seperti saat ini, 
di mana jalan-jalan dan bangunan masih sangat sederhana dan penuh debu. Namun, 
saat ini Sudan sudah memiliki banyak gedung megah, hotel bintang lima, jalan 
raya yang mulus beraspal, serta jalan tol 1.000 kilometer yang menghubungkan 
antara Khartoum – Port Sudan.

Sudan, menurut dia, mengalami perubahan total dalam waktu enam tahun, setelah 
bangsa tersebut mulai mengeksplorasi minyak. Selain itu, terjadi pula perubahan 
dalam gaya hidup masyarakatnya (change of civilization).

Hasyim Muzadi mengemukakan, Sudan adalah negara yang memiliki banyak kesamaan 
dengan Indonesia, yaitu penduduknya mayoritas beragama Islam dan berkebudayaan 
ramah tamah dan saling menghormati.
Oleh karena itu, ia menilai, apabila terjadi konflik antar-umat beragama di 
Sudan, seperti yang pernah dialami di Sudan Selatan, maka hal itu lebih 
disebabkan ada pihak yang memanas-manasi.

Hal itu, menurut dia, sama halnya dengan yang pernah dialami di Maluku, di mana 
umat Islam dan Kristen yang berabad-abad hidup rukun sekaligus damai, tetapi 
tiba-tiba muncul konflik akibat provokasi.
Selain itu, ia mengemukakan, Sudan juga tumbuh berkembang demokrasi di tengah 
kebijakan negara menganut Syariat Islam, yang justru tidak ditemukan di 
negara-negara Islam lainnya, seperti di Pakistan, Arab Saudi, dan Kuwait.

Ia mengemukakan, Sudan mungkin hampir mirip dengan Mesir, namun Mesir tidak 
secara formal menganut Syariat Islam.

"Sudan berhasil menerapkan Piagam Madinah dalam konsep modern, di mana secara 
formal negaranya menganut Syariat Islam, namun juga melindungi hak-hak 
non-muslim," katanya.

Menyinggung konflik yang terjadi di sejumlah wilayah di Sudan, seperti wilayah 
Darfur atau Sudan Selatan, Hasyim Muzadi mengatakan, sebaiknya penyelesaian 
konflik tersebut diselesaikan secara internal oleh orang Sudan, tanpa ada 
intervensi dari pihak asing.

Oleh karena, ia berpendapat, intervensi dari pihak asing hanya akan memperkeruh 
suasana. Berdasarkan pengalamannya sebagai Ketua Umum PBNU maupun Presiden 
"World Conference of Religion for Peace" (WCRP), semua konflik yang 
kelihatannya konflik agama berbagai belahan dunia, seperti Indonesia, Thailand, 
Filipina, dan Kosovo, sebenarnya adalah konflik non-agama.

"Konflik-konflik tersebut adalah konflik politik atau ekonomi yang menggunakan 
simbol-simbol agama dan mempertentangkan umat beragama," ujarnya.

Hasyim mencontohkan, di Sudan Selatan yang berabad-abad umat Kristen dan Islam 
hidup secara damai, tetapi setelah ditemukannya sumber minyak memunculkan 
konflik. Begitu pula halnya yang terjadi di Irak.
Dalam kaitan semacam itu, Hasyim pun meminta, agar umat beragama jangan salah 
paham dan mudah dikelabui.

Menurut Hasyim Muzadi, perkembangan Islam di dunia baru bisa kuat apabila 
umatnya memiliki pemahaman agama yang bagus, memiliki demokratisasi, politik 
yang mapan dan ekonomi yang sehat.
Jika tidak, ia menyatakan, maka umat Islam akan dengan gampang dipermainkan.

Oleh karena itu pula, Hasyim mengemukakan, kepada para mahasiswa Indonesia yang 
saat ini sedang menuntut ilmu agama Islam di Sudan, agar sungguh-sungguh dalam 
menuntut ilmu, karena Indonesia sangat membutuhkan ulama yang signifikan.

"Sebab, di Indonesia itu banyak kiai, tapi kurang ulama. 'Wong' kiai itu cuma 
panggilan dan banyak yang bisa jadi kiai. Contohnya, ada orang yang terpilih 
jadi pengurus NU itu langsung dipanggil kiai," ujarnya.
Tapi, ia mengatakan, ulama adalah istilah agama, dan bukan istilah budaya, 
karena hanya yang "khasyatullah" (merasa takut hanya kepada Allah) yang berhak 
disebut ulama.

Hasyim pun berharap, agar mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Sudan dapat 
menjadi "khasyatullah", sehingga dapat menjadi tuntunan dan suri tauladan. 
"Tanpa 'khasyatullah', cukup disebut cendekiawan saja," ujarnya menambahkan. (*)


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke