http://www.antara.co.id/arc/2008/2/16/masjid-harus-jadi-pusat-persemaian-peradaban-islam/

Masjid Harus Jadi Pusat Persemaian Peradaban Islam

Jember (ANTARA News) - Keberadaan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam 
hendaknya menjadi pusat dari persemaian perdaban Islam yang sangat ideal karena 
menyangkut berbagai persoalan bisa dibicarakan di dalam masjid.

"Kalau saya katakan masjid sebagai persemaian peradaban Islam, itu memang super 
ideal, tapi seperti itulah yang seharusnya terjadi," kata aktivis Forum 
Komunikasi Masjid Peduli Umat (FKMPU) Jakarta, Ustadz Muhammad Tamam dalam 
seminar di Jember, Jatim, Sabtu.

Seminar bertema, "Peran Kantor Berita dalam Membangun Peradaban Islam" yang 
diselenggarakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mahasiswa Universitas Jember (Unej) 
itu juga menghadirkan pembicara, Direktur Pemberitaan LKBN ANTARA, Drs M Saiful 
Hadi Cholid.

Menurut Tamam, di zaman Rasulullah, masjid memiliki peran sebagai majelis 
peradilan ketika seseorang melakukan perbuatan yang melanggar hukum agama, 
sebagai tempat pendidikan Islam sebagaimana sahabat yang banyak menyerap ilmu 
dari Nabi Muhammad saat di masjid.

"Fungsi lainnya adalah, masjid sebagai tempat berakhlaq mulia dan berorientasi 
menyelesaikan masalah. Contohnya ketika ada orang Badui buang air kecil di 
masjid, Rasulullah melarang sahabat menghakimi orang itu karena orang Badui itu 
memang tidak tahu etika di masjid," katanya.

Pada saat itulah nabi tampil sebagai penyelesai masalah dengan mengambil air 
untuk membersihkan lantai masjid yang terkena najis karena kotoran orang Badui 
tersebut.

"Tapi realitas saat ini belum menunjukkan fungsi masjid yang ideal sebagaimana 
di zaman Rasulullah itu. Padahal kalau diikuti, fungsi masjid di zaman Rasul 
itu sederhana tapi menunjukkan suatu peradaban yang tinggi," katanya.

Mengenai nilai-nilai dalam Islam, Tamam mengemukakan bahwa Islam memiliki 
sedikitnya dua peradaban agung yang di keyakinan lain mungkin tidak ditemui, 
yakni konsep "rahmatan lil `aalamiin" (memberi rahmat bagi seluruh alam) dan 
"ukhuwah Islamiah" (persaudaraan sesama Islam).

"Saya kira konsep "rahmatan lil `aalamiin" itu adalah tade mark Islam. Itu 
adalah peradaban tinggi karena Islam melindungi seluruh isi alam ini," kata 
lelaki kelahiran Yogyakarta itu. 

Ia mengemukakan bahwa untuk "ukhuwah Islamiah" juga sebagai peradaban karena 
menunjukkan adanya ikatan dasar sesama muslim dalam ketundukan kepada Allah. 
Selain itu "ukhuwah Islamiah" juga menghilangkan permusuhan yang tidak perlu.

"Memang ada permusuhan yang perlu, yakni terhadap syetan. Kalau sesama muslim 
nabi mencontohkan bagaimana beliau menyatukan orang-orang Ansor (penduduk 
Madinah) dengan kaum Muhajirin (orang-orang pendatang)," katanya.

Sementara Saiful Hadi mengemukakan bahwa peran masjid dalam upaya membangun 
peradaban Islam bisa dilihat dari konsep "rahmatan lil `aalamiin". Menurut dia, 
seharusnya konsep tersebut dibangun dan dimulai dari masjid.

"Menurut saya masjid bukan hanya untuk tempat salat, tapi juga untuk berdiskusi 
atau bahkan tempat umat Islam. Di sinilah peran masjid harus diperluas 
sebagaimana yang seharusnya menjadi peran masjid itu sendiri," ujarnya.

Dikatakannya, tidak seharusnya masjid itu dikunci sehingga umat leluasa keluar 
masuk ke pusat peradaban tersebut. Kalau kemudian muncul kenyataan, ada 
pencurian di masjid, maka hal itu menjadi tugas semua elemen masyarakat untuk 
menyadarkan umat.(*)


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke