‘Penderitaan’ naik busway…

Seminggu yang lalu (sejak email ini dimuat) saya naik
busway. Waktu itu saya dalam perjalanan pulang kantor
dari daerah Blok M  menuju Mampang, Jakarta Selatan.
Kalau dihitung naik busway dari kantor saya menuju
rumah, saya naik sebanyak dua kali. Yang pertama naik
busway Koridor I (Blok M – Kota) kemudian turun di
Shelter Dukuh Atas untuk menyambung busway Koridor 6
(Ragunan – Latuharhari – Dukuh Atas).

Perjalanan dari Blok M – Dukuh Atas berjalan nyaman.
Bus busway dingin ber-AC. Apalagi waktu itu musim
hujan. Sesampainya di Dukuh Atas, saya kaget! Antrian
penumpang di Dukuh Atas mengular panjang. Mulai dari
dalam Shelter Dukuh Atas memanjang sampai skywalker.
Gila! Pikir saya. 

Sampai Dukuh Atas waktu itu jam 18.00. Saya mengantri
panjang dan super crowded. Saya merasa waktu itu tak
masalah, karena saya kira antrian akan cepat
berkurang. Padahal terakhir kali saya naik busway,
kondisinya tak seperti ini (sekitar 3 or 4 bulan lalu,
soalnya saya lebih sering naik motor dan sesekali bawa
mobil. TAPI MAAF SAYA TAK PERNAH MENYEROBOT JALUR
BUSWAY).

Akhirnya saya baru naik busway Koridor 6 jam 18.48!
(alias harus menunggu lebih dari 40 menit!). Keringat
sudah banjir di badan saya; ditambah ngantuk. Pokoknya
nih badan cape abis! Kata seorang penjaga di shelter
Dukuh Atas bus datang terlambat! Saya jadi ingat ini
karena ulah-ulah kendaraan pribadi dan sepeda motor
yang masuk jalur busway di sepanjang jalan mulai Jl.
Taman Margasatwa, Pasar Minggu, Jaksel sampai lampu
merah Mampang (di depan Hero Mampang).

Saya jadi heran kok para pengemudi kendaraan pribadi
masih tega-teganya sih masuk jalur busway? Mereka
tidak menyadari kerugian yang ditimbulkan oleh
tindakan mereka? Kita memang menyadari bahwa
pembangunan busway menyebabkan jalur menyempit dan
pembangunan busway tidak disertai pelebaran jalan.
Pemerintah harus diakui salah! Tapi kalau sudah
darurat begini kita jangan saling menyalahkan. Justru
kita harus mencari solusi; di antaranya memberikan
empati kepada pengguna busway.

Harusnya pemilik mobil pribadi bersyukur diberi rezeki
yang berlebih. Naik mobil nyaman, berkursi empuk,
ditemani sound system mahal, ada TV, DVD, VCD, CD
changer, dingin BerAC, tidak perlu kepanasan,
berkeringat sebesar jagung atau kehujanan dan kaki
pegal mengantri. Dan banyak mobil pribadi yang masuk
jalur Busway itu mobil-mobil bermerek (BMW. Mercedes
Benz dan mobil mewah lainnya). Yang gila lagi, banyak
juga ditemukan mobil aparat TNI dan Polisi yang
melenggang kangkung di jalur Busway Koridor 6. 

Begitu juga dengan pengendara motor. Meski kepanasan
dan kehujanan, mereka kan punya daya tempuh yang lebih
cepat daripada mobil pribadi atau pun bus dan masih
bisa mencari jalur alternatif. Harusnya pemilik mobil
pribadi dan motor menghindari jalur Busway. Mari kita
bersama-sama berempati – jangan masuk jalur busway
kecuali BUSWAY! 


Eka Zulkarnain



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke