Rabu, 20 Februari 2008
Lumpur Lapindo
Hampir Saja, Lumpur Lapindo Jadi Lusi (Lagi)



(berpolitik.com): Tak perlu tercengang. Dari namanya saja sudah ketahuan 
arahnya. Tim bentukan DPR terkait kasus Lumpur panas Lapindo diberi nama Tim 
Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (TP2LS). Penggunaan istilah "Lumpur 
Sidoarjo" mengingatkan pada akronim "Lusi" (alias Lumpur Sidoarjo) yang pernah 
coba dipopulerkan orang-orang Lapindo berbulan silam. 

Dengan istilah ini, ada dua tujuan yang hendak dikejar. Pertama, penggunaan 
nama Lusi niscaya mengasosiasikan kita pada nama-nama badai. Yang namanya 
badai, pasti fenomena alam. Jadi, istilah Lusi pasti sengaja dipakai agar 
persepsi publik tergiring pada bingkai "lumpur lapindo adalah bencana alam". 
Kedua, dengan istilah Lusi maka yang jadi sumber masalah adalah Sidoarjo dan 
bukan Lapindo.Ini membuat akuntabilitas bakal kian kusut. Jadi, jika tim ini 
dinamakan begitu, sudah menjadi jelas maunya seperti apa. 

Karena itu, tak mengherankan jika kemudian tim yang diketuai politisi PDIP 
Tjahjo Kumolo ini hanya mengutip pakar-pakar geologi yang menyatakan luapan 
lumpur panas itu sebagai fenomena alam, dan karenanya hanyalah bencana alam. 
Tak mengejutkan juga, jika nama-nama pakar itu pula yang selalu ditampilkan 
dalam advetorial Lapindo di berbagai media massa. Dan, tak pula mengherankan 
jika argumentasi yang dipakai tim sebangun dengan materi yang termuat dalam 
iklannya Lapindo Brantas: Lapindo adalah bencana alam dan bukan bencana 
korporasi (penjelasan Lapindo adalah bencana korporasi, baca: di sini). Tak 
salah jika kemudian mencuat dugaan tim telah "digarap" oleh Lapindo, perusahaan 
yang dimiliki Keluarga Bakrie.

Yang cukup mengejutkan, laporan tim ini ditanda tangani hampir semua fraksi di 
DPR, kecuali PKB. Itu artinya fraksi PDIP juga ikutan tanda tangan. Padahal, 
sebelumnya, guliran interpelasi Lapindo justru digagas
Jacobus Mayong Padang dan sejumlah rekan-rekannya seperti Emir Moeis ketika 
menerima kedatangan sejumlah aktivis dan perwakilan korban lumpur di ruang 
fraksi PDIP berbulan silam. Fraksi PKS yang sebelumnya juga bersuara keras, 
juga sama saja. 

Kejutan
Sampai menjelang sidang dimulai, pihak Lapindo boleh senang bukan kepalang. Ini 
adalah kemenangan mereka yang lain. Sebagaimana diketahui, Lapindo sudah 
berhasil "menekuk" pemerintah, mengandaskan gugatan di pengadilan dan juga 
membuat warga korban Lumpur Lapindo saling bertikai. Opini publik pun kian 
terbelah dengan terus mengkampanyekan yang penting adalah "ganti rugi" dan 
bukan siapa yang salah. Jika rumusan tim pengawas ini diketuk, lengkaplah sudah 
kemenangan itu. 

Tapi, yang tak mereka duga, sejumlah anggota DPR-RI ternyata masih punya cukup 
nyali melawan pendapat fraksinya sendiri. Interupsi pun bergulir dan hasilnya 
interpelasi soal lumpur Lapindo dilanjutkan. 

Dari PDIP antara lain ada Permadi, Jacobus dan juga Mbah Tardjo yang memimpin 
sidang secara cerdik mengarahkan keputusan untuk melanjutkan pengajuan 
interpelasi. Dari PKS juga keluar pernyataan keras. Almuzammil Yusuf dari F-PKS 
secara tegas menyatakan fraksinya menolak laporan TP2LS karena tidak ada temuan 
baru yang secara konkret membantu menyelesaikan maslah lumpur Sidoarjo. Dari 
PAN juga ada Drajad Wibowo yang bersikap keras terhadap rekomendasi tim.

Serunya, Tjahjo juga mulai berkelit."Perlu saya luruskan bahwa DPR tidak 
memiliki kewenangan untuk menyatakan apakah masalah lumpur Sidoarjo itu gejala 
alam atau bukan," jelas Tjahjo. Pernyataan ini sungguh berbeda dengan 
keterangan tim beberapa hari sebelumnya. Anggota TP2LS DPR Nizar Dahlan, 
misalnya, menyatakan tim telah sepakat dengan keterangan para ahli geologi yang 
menyebut semburan lumpur di Sidoarjo sebagai fenomena alam. "Kami (TP2LS) 
memang telah sepakat, bencana itu murni karena alam," ujar Nizar kepada 
wartawan. 

Omongan Nizar ini, langsung diamini Ketua Fraksi PPP Lukman Hakim Saefuddin. 
Menurut dia, pernyataan Nizar tersebut sangat bisa dimengerti. "Wajar tim 
memiliki kesimpulan tersebut. Kami (PPP, Red) juga cenderung ke arah sana," 
tegasnya. Senada dengan itu, adalah Partai Demokrat. Partainya SBY ini menilai 
keputusan TP2LS yang akan menyebut masalah lumpur Sidoarjo murni bencana alam 
sudah tepat. "Untuk mencantumkan di situ (rekomendasi, Red), pasti ada 
alasannya. Para ahli yang independen, khususnya pakar geologi, memang nggak ada 
satu pun yang menganggap itu kesalahan Lapindo," ujar Ketua FPD Syarief Hasan. 
Selain kedua partai ini, Golkar juga menyokong Lapindo. Dengarlah komentar 
ketua fraksinya, Priyo Budi Santoso.Dia menyatakan interpelasi untuk kasus 
semburan lumpur Lapindo tidak akan digunakan. Pembentukan tim pengawas, 
katanya, bertujuan agar penanganan dampak semburan lumpur berjalan lancar. 
¿Interpelasi sudah tidak relevan,¿ katanya ketika
 dihubungi Tempo

Sikap tiga partai ini perlu digarisbawahi oleh para korban lumpur panas 
Lapindo. Jikalau kecewa, ada cara yang paling enak menghukum mereka. Jangan 
pilih kandidat bupati dan atau gubernur yang mereka sokong, sebab pasti 
kandidat itu jika menang akan makin melindungi kepentingan Lapindo. Jangan 
pilih partai-partai itu pada pemilu 2009 nanti karena pastinya mereka akan 
kembali mengupayakan penyeleasaian politik yang memenangkan Lapindo. Lapindo 
boleh saja punya amunisi untuk membungkam politisi, tapi selaku korban, Anda 
punya hak suara untuk mengubur politisi dan partai yang tak berpihak pada Anda. 
Nah!


Selengkapnya baca di 
http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=10532&c_id=3&param=Czy88Cie64UDL63fkaD8


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke