sastra berpolitik adalah pilihan. ada gerakan sastra kaum muda yg berpihak pada
kaum tertindas, jadi gak usah heran kalau politik-sastra jadi perdebatan dalam
masyarakat indonesia yg nyatanya memang punya perbedaan klas
(ekonomi-budaya-politik).
jika kesadaran klas bisa dipuisikan, maka si pembacalah yg akan menilai isi
dari perjuangan dalam puisi2 anti penindasan.
tetap smangat!
salam, heri latief
amsterdam
saiful bakri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
From: saiful bakri <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 20 Feb 2008 10:50:07 +0000 (GMT)
Subject: [puitika] Saut Situmorang Goes to Mojokerto
UNDANGAN
Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto , mengundang semua rekan-rekan
untuk menghadiri acara peluncuran & diskusi buku
Otobiografi, karya Saut Situmorang, pada:
Hari : Kamis, 21 Februari 2008
Pukul : 19.00 wib - selesai
Tempat : Sekretariat Dewan Kesenian Kota Mojokerto
Jl. Gajah Mada 149 Komplek GOR Seni Majapahit
Kota Mojokerto Jawa Timur
Pembicara : Saut Situmorang dengan makalah Tradisi dan Bakat Individu.
Acara ini terselenggara atas kerjasama:
Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto, Forum Pinilih Solo, Penerbit SIC
Yogyakarta, Padepokan Bumi Pakarti Aji dan banyumili-Jaringan Informasi dan
Kajian Budaya Mojokerto.
Kontak person:
-081 80 330 06 1978 Saiful Bakri, Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto
Tradisi dan Bakat Individu
oleh Saut Situmorang
Seorang komentator sastra dari Jakarta, Nirwan Dewanto, pernah membuat
pernyataan asersif bahwa novelis Ayu Utami tidak terlahir dari sejarah sastra
Indonesia. Latar-belakang pembuatan klaim ini, mudah kita duga, adalah reaksi
luar biasa yang timbul dalam sastra Indonesia setelah publikasi novel pertama
Ayu, Saman, dari kalangan kritikus sastra di Indonesia, yang dalam komentar
mereka rata-rata memakai istilah-istilah superlatif seperti dahsyat,
kata-kata...bercahaya seperti kristal, tak ada novel yang sekaya novel
ini, superb, splendid, dan susah ditandingi penulis-penulis muda sekarang,
dalam mempromosikan apa yang mereka anggap sebagai pencapaian artistik Saman,
seperti yang dicantumkan pada blurb di sampul belakang novel tersebut.
Klaim-klaim asersif semacam ini memang cukup sering kita temui dalam sastra
Indonesia kontemporer karena apa yang dianggap sebagai kritik sastra itu
rata-rata cuma sekedar esei-lepas-semi-resensi di koran-koran belaka.
Kritik jurnalistik semacam ini bisa begitu mendominasi, bahkan sampai saat
ini, karena posisi koran memang sudah menggantikan posisi majalah atau jurnal
sastra sebagai media penulisan studi sastra yang kritis. Ruang kolom koran yang
terbatas telah membebaskan seorang kritikus sastra untuk tidak harus
bertanggungjawab membuktikan/mengelaborasi isi pernyataannya semendetil kalau
dia menulis di sebuah majalah atau jurnal sastra.
Untuk menanggapi klaim Nirwan Dewanto di atas maka isu yang ingin saya
persoalkan dalam esei ini adalah: Mungkinkah seorang sastrawan tidak terlahir
dari sejarah sastra nasionalnya sendiri sementara dia memakai bahasa
nasionalnya sebagai media ekspresi sastranya? Bisakah seorang sastrawan
memasabodohkan sejarah sastra nasionalnya sendiri? Kalau benar Ayu Utami
terlahir bukan dari sejarah sastra Indonesia, lantas dari mana dia berasal? Dan
kenapa dia (masih menganggap perlu) menulis dalam bahasa Indonesia yang
merupakan bahasa ekspresi dari sastra Indonesia itu, bukan dalam bahasa Inggris
misalnya?
Dalam sejarah sastra Indonesia rasanya tidak berlebihan kalau saya mengklaim
Chairil Anwar adalah bapak puisi modern dalam bahasa Indonesia. Reputasi
Chairil ini didapatnya bukan semata-mata karena apa yang dilakukan oleh sang
paus sastra Indonesia HB Jassin terhadapnya, seperti yang umum diyakini di
kalangan sastrawan Indonesia, tapi karena besarnya pengaruh Chairil atas para
penyair yang menjadi penyair setelah dia. Dengan memakai konsep pengaruh
intertekstual kritikus Dekonstruksionis Amerika Harold Bloom maka bisa dilihat
betapa the anxiety of influence yang ditimbulkan puisi Chairil atas para
penyair sesudahnya yang mencapai klimaks resistensi tekstual pada apa yang
disebut sebagai puisi-mantra Sutardji Calzoum Bachri itu memiliki arti yang
jauh lebih signifikan, menurut saya, ketimbang pernyataan-pernyataan mitologis
Jassin, dalam membentuk reputasi Chairil sebagai pencipta puisi modern
Indonesia.
Sudah berabad-abad para kritikus dan sejarawan sastra di Barat membahas apa
yang disebut sebagai pengaruh seorang sastrawan atau tradisi sastra atas
sastrawan sesudahnya, yang dianggap mengadopsi, dan pada saat yang sama
merubah, aspek-aspek dari tema, bentuk, atau gaya dari penulis sebelumnya.
Kecemasan (atas) pengaruh atau the anxiety of influence merupakan sebuah
istilah yang dipakai Harold Bloom untuk teori yang diciptakannya yang merevisi
secara radikal teori lama di atas yang menganggap pengaruh hanya terjadi
sebagai sebuah peminjaman langsung, atau asimilasi, dari material dan
unsur-unsur penting sastrawan sebelumnya. Bagi Bloom, dalam penciptaan sebuah
puisi, pengaruh tak mungkin dielakkan, tapi pengaruh tersebut menimbulkan dalam
diri penyairnya sebuah kecemasan yang memaksanya untuk membuat distorsi drastis
atas karya pendahulunya itu. Seorang penyair tergerak untuk menulis puisi
setelah imajinasinya terpesona oleh puisi pendahulunya. Tapi reaksinya
atas pendahulunya itu ambivalen, mirip dengan hubungan Oedipal antara anak
laki-laki dengan bapaknya dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud: bukan hanya
rasa pesona yang timbul tapi juga (karena seorang penyair yang kuat memiliki
keinginan besar untuk bebas dan orisinal) rasa benci, cemburu, dan takut atas
penguasaan ruang imajinatifnya oleh pendahulunya tersebut. Karena itulah dia
membaca puisi pendahulunya secara bela diri sehingga mendistorsinya sampai
tak dikenalinya lagi. Meskipun demikian tetap saja puisi-induk (parent-poem)
yang sudah terdistorsi itu terkandung dalam puisi yang kemudian dituliskannya
itu. Apa yang paling mungkin dicapai oleh seorang penyair terbaik sekalipun
adalah menulis puisi yang begitu kuat sehingga menimbulkan efek ilusi
prioritas, yaitu sebuah ilusi ganda bahwa puisinya sudah mendahului puisi
pendahulunya itu dalam waktu, dan sudah melampauinya dalam kebesarannya.
Menurut Bloom lagi, konsep kecemasan pengaruh ini tidak hanya
terjadi pada sastrawan saja tapi juga pada para pembaca sastra. Dalam konteks
inilah, meminjam istilah Sapardi Djoko Damono waktu memuji Saman Ayu Utami,
sepanjang pengetahuan saya belum ada pengarang lain di Indonesia, baik sebelum
maupun sesudah Chairil, yang memiliki efek-sejarah (kreatif maupun biografis),
atau kecemasan pengaruh, atas sesama pengarang seperti yang disebabkan oleh
Chairil.
Berdasarkan alasan historis-tekstual tentang Chairil sebagai pencipta puisi
modern Indonesia, paling tidak bagi para penyair sesudahnya, seperti yang saya
tuliskan di atas, lantas apakah kita bisa mengklaim bahwa Chairil tidak
terlahir dari sejarah sastra berbahasa Indonesia? Sudah banyak tulisan yang
membuktikan, dan susah untuk dibantah, betapa kuatnya pengaruh puisi Barat pada
puisi Chairil, yang diterimanya lewat pendidikan dan terutama bacaannya. Juga
terjemahan yang dilakukannya atas karya sastra Barat baik puisi, cerpen,
maupun surat pribadi, dan dari berbagai latar-bahasa misalnya, merupakan
salah satu bukti akrabnya dia dengan dunia sastra tersebut. Keakrabannya yang
intens dengan sastra Barat ini malah sampai membuat dia pernah dianggap sebagai
plagiator satu-dua puisi penyair Barat, atau puisinya dianggap bukan ditulis
untuk pembaca Indonesia karena idiom-idiomnya yang kebarat-baratan seperti yang
pernah dinyatakan Subagio Sastrowardoyo. Terlepas dari
tuduhan-tuduhan yang saya pikir lebih bersifat cemburu-antar-sesama-seniman
ketimbang studi komparatif sastra itu, intensitas pergaulan Chairil dengan
dunia sastra Barat tersebut apakah lantas membuat dia (pernah) diklaim sebagai
terlahir bukan dari sastra Indonesia yang cuma beberapa tahun saja usianya
waktu dia hidup sebagai binatang jalang itu? Sepanjang pengetahuan saya belum
ada yang pernah mengklaim Chairil Anwar tidak terlahir dari sastra Indonesia
seperti Nirwan Dewanto mengklaim Ayu Utami, bahkan tidak oleh Subagio
Sastrowardoyo sekalipun.
Bagaimanapun intensnya pengaruh puisi Barat pada puisi Chairil, kita tetap
tidak bisa menutup mata pada kemungkinan bahwa Chairil pun tidak akan terlepas
dari persoalan kecemasan pengaruh dari penyair Indonesia sebelum dia, atau
dari puitika tradisional dalam khazanah sastra lokal yang ada. Adanya relasi
intertekstual antara puisi Chairil dan puisi Amir Hamzah, misalnya, pernah
dibuktikan dengan sangat baik oleh peneliti sastra Indonesia Sylvia Tiwon dalam
eseinya yang berjudul Ordinary Songs: Chairil Anwar and Traditional Poetics
di majalah Indonesia Circle, No 58, June 92, terbitan School of Oriental and
African Studies, London, Inggris. Dengan membaca Chairil dalam konteks puitika
tradisional Pujangga Baru yang direpresentasikan oleh Amir Hamzah, Tiwon
berhasil menunjukkan betapa besar hutang Chairil pada Amir Hamzah dalam
beberapa sajaknya yang terkenal, seperti Jangan Kita di Sini Berhenti,
Sia-sia, Sajak Putih, dan terutama pada Sorga dan Di
Mesjid. Bukti-bukti pergumulan Chairil dengan puitika tradisional dari
khazanah sastra lokal yang begitu banyak terdapat pada puisinya yang dianggap
kebarat-baratan itu (pengucapan Pantun pada puisinya, misalnya), seperti yang
ditunjukkan Sylvia Tiwon tersebut, tidak bisa disepelekan begitu saja, demi
sebuah resepsi yang lebih kritis atas puisinya, ketimbang sekedar daur-ulang
mitos binatang jalangnya yang masih terus dilakukan para kritikus sastra di
Indonesia sampai sekarang. Dan juga untuk menghindari euforia pembuatan
klaim-klaim bombastis yang tak sanggup dibuktikan seperti pada kasus Ayu Utami
di atas, yang pada dasarnya hanya bertujuan untuk membuat mitologi-mitologi
dalam sastra Indonesia, dan yang pada akhirnya cuma menghambat kemajuan
pemikiran kritis dalam sastra kontemporer kita.
Penyair Inggris asal Amerika TS Eliot pernah menyatakan dalam sebuah eseinya
yang terkenal tentang pentingnya bagi seorang pengarang untuk menyadari
posisinya dalam sejarah sastranya, Tradition and Individual Talent (1919),
bahwa Tak ada penyair, tak ada seniman dalam bidang apapun, yang memiliki
maknanya sendiri. Penting tidaknya dia, apresiasi atasnya, dilihat berdasarkan
relasinya dengan para penyair dan seniman yang sudah mati. Kita tidak bisa
menilainya hanya berdasarkan dirinya sendiri; kita mesti menempatkannya, untuk
kontras dan perbandingan, di antara yang sudah mati. Ini adalah prinsip kritik
estetik, tidak sekedar kritik historis. Karena, disukainya atau tidak, seorang
penyair/seniman itu akan dinilai berdasarkan ukuran-ukuran standar dari masa
yang sudah lewat, bukan yang akan datang. Dan penyair yang menyadari ini akan
sadar pula betapa besar kesukaran dan tanggung-jawab sejarah yang dipikulnya
sebagai sastrawan sastra nasionalnya. Ini menunjukkan juga
bahwa sejarah sastra, atau tradisi, itu adalah sebuah organisme hidup,
dinamis, dan berkembang.
Konsep Eliot ini sangat mirip dengan konsep intertekstualitas dalam teori
pascastrukturalis Prancis. Intertekstualitas adalah konsep yang diperkenalkan
oleh pemikir Feminis Prancis Julia Kristeva berdasarkan konsep-konsep
teoritikus Marxis Rusia Mikhail Bakhtin tentang beragamnya suara sebuah teks:
polifoni, dialogisme, dan heteroglosia. Menurut Kristeva, intertekstualitas
adalah pluralitas teks yang tak tereduksi di dalam dan di balik setiap teks, di
mana fokus pembicaraan tidak lagi pada subjek (pengarang) tapi pada
produktivitas tekstual. Bersama rekan-rekannya penulis dan kritikus di majalah
sastra Tel Quel di akhir 1960an dan awal 1970an, Kristeva gencar melakukan
kritik atas konsep subjek pembuat (the founding subject) yaitu konsep humanis
tentang pengarang sebagai sumber-asli-dan-asal dari makna-tetap dan
makna-fetish dalam sebuah teks. Bagi Kristeva, setiap teks dari awalnya sudah
berada di bawah jurisdiksi wacana-wacana lainnya yang memaksakan sebuah
universe of discourse atasnya. Dan ketimbang memusatkan perhatian pada
struktur teks, kita mestinya mengkaji strukturasinya, yaitu bagaimana proses
struktur menjadi ada, dengan antara lain menempatkan teks di dalam totalitas
teks-teks sebelumnya sebagai sebuah tranformasi. Menurut Kristeva, ada dua
aksis teks, yaitu aksis horisontal yang menghubungkan pengarang dan pembaca
teks, dan aksis vertikal yang menghubungkan teks dengan teks(-teks) lainnya.
Yang menyatukan kedua aksis ini adalah kode, alat interpretasi
(interpretative devices) konvensional, sebuah framework yang memungkinkan tanda
untuk memiliki makna, yang sama-sama dimiliki oleh kedua aksis tersebut. Sebuah
teks dan sebuah pembacaan selalu tergantung pada kode-kode yang ada.
Setiap teks adalah sebuah penulisan kembali atas teks-teks lainnya. Tak ada
teks yang tidak memiliki interteksnya. Sebuah teks tak dapat berfungsi dalam
kesendiriannya, terkucil dari teks-teks lainnya. Semua teks hidup dalam
komunitas teks yang luas, dalam apa yang disebut sebagai sistem interteks.
Semua teks hidup dalam sistem intertekstual antara teks dengan teks, bahkan
antara genre dengan genre maupun antara media dengan media. Relasi
intertekstual antar-teks akan menghasilkan hibriditas teks, teks-indo, teks
blasteran, campuran antara teks-teks. Subjektivitas masing-masing teks
di-destabilisasi, sentralitas kepengarangan masing-masing teks diambrukkan,
dan kemurnian diskursif keduanya dinodai. Intertekstualitas adalah
pengulangan (repetisi), bukan representasi. Dan dalam peristiwa repetisi
intertekstual ini, orisinalitas masing-masing teks hilang. Kaligrafi dan
puisi-konkret, misalnya, adalah dua contoh puisi-rupa yang tercipta lewat
peristiwa
intertekstual antara sastra dan seni rupa.
Untuk mendapatkan ekstasi tekstual, atau tekstasi, dari sebuah teks
intertekstual, seorang pembaca diharapkan memiliki pengetahuan sejarah teks dan
glossari kode teks yang juga bersifat intertekstual. Karena kesatuan (unity)
sebuah teks tidak terletak pada asalnya (pengarangnya, misalnya) tapi pada
tujuannya, yaitu Sang Pembaca, dan seorang pembaca merupakan ruang di mana
semua kutipan dituliskan, seperti yang diyakini Roland Barthes dalam eseinya
yang terkenal The Death of the Author (1968), maka kesadaran seorang pembaca
akan konteks di mana teks direproduksi, dialusi, diparodi, dan sebagainya,
merupakan kerangka utama dalam menginterpretasi teks. Karena, mengikuti apa
yang dikatakan pemikir Marxis Amerika Fredric Jameson, teks hadir di depan kita
sebagai yang-selalu-sudah-dibaca dan kita memahaminya melalui lapisan-lapisan
interpretasi (yang pernah dilakukan atasnya) sebelumnya, atau, kalau teksnya
benar-benar baru, melalui lapisan-lapisan kebiasaan pembacaan dan
kategori-kategori yang dikembangkan dalam tradisi interpretasi yang kita
warisi. Sama seperti tanda (sign) yang hanya bisa berfungsi memberikan makna
(generating meanings) karena hubungannya dengan tanda-tanda lainnya dalam
sebuah teks, maka relasi intertekstual antar-teks inilah yang memberikan
konteks bagi proses pemaknaan dari peristiwa pembacaan atau pengalaman atas
teks. Termasuk juga penciptaan teks-teks lainnya. Konteks mempengaruhi respons
terhadap teks.
Penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah esei pendek berjudul
Sajak-sajak Cerah yang mengantar beberapa sajak yang dipilihnya untuk
suplemen Bentara, Kompas 5 Mei 2000, menyatakan, . . . di tahun 1990-an para
penyair kembali menulis puisi dengan memperhatikan kata dan tidak melulu
menekankan kehadiran kebebasan imaji sebagai yang utama. Kata-kata diupayakan
menciptakan keutuhan sajak. Dan sajak menjadi transparan.
Transparansi sajak yang menjadi ciri-utama dari apa yang Sutardji namakan
sebagai sajak terang para penyair 1990an terjadi karena para penyair ini
mulai jenuh dengan apa yang dilakukan para penyair sebelumnya: para penyair di
tahun 1970an terlalu sibuk dengan estetika pembebasan kata dari beban makna
leksikal-gramatikal, sementara penyair periode 1980an terobsesi untuk
membebaskan imaji visual pada sajak sebagai estetika puisi mereka. Walaupun
mesti dibuktikan lagi kebenaran pendapatnya ini atas mayoritas puisi, tidak
hanya berdasarkan puisi satu-dua penyair belaka, yang ditulis pada kedua
periode yang disebutkannya itu, demi konteks tema esei ini secara umum saya
bisa setuju dengan apa yang diungkapkan Sutardji di atas, tapi saya perlu
menambahkan bahwa apa yang menjadi ciri-khas penyair 1970an (musikalitas puisi)
dan penyair 1980an (visualitas imaji) tidak ditinggalkan pada sajak terang
para penyair 1990an. Sebaliknya, kedua unsur puitis utama dari puisi itu
digabungkan dalam bingkai kesederhanaan bahasa sehari-hari untuk, meminjam
kata-kata Sutardji kembali, mengungkapkan realitas yang dialami penyair. Dalam
kata lain, penyair 1990an tidak lagi berusaha untuk menjadi pemusik atau
pelukis waktu menulis puisi, tapi hanya untuk menjadi penyair. Memilih
kesederhanaan bahasa sehari-hari, kesederhanaan bahasa leksikal-gramatikal
sehari-hari yang lugas tidak rumit, dengan tidak mengorbankan musikalitas dan
visualitas bahasa, untuk mengungkapkan realitas puitis, adalah ciri berpuisi
para penyair yang mulai dikenal luas di dunia puisi kontemporer Indonesia pada
periode 1990an.
Sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah politik. Para
penyair 1990an tidak lagi tabu atau malu-malu untuk mempuisikan politik,
mempolitikkan puisi, malah justru pada periode inilah puisi politik mencapai
puncak ekspresi artistiknya yang melampaui apa yang sebelumnya dikenal sebagai
sajak-protes dan pamflet-penyair seperti pada puisi Wiji Thukul. Pada puisi
politik penyair seperti Wiji Thukul kita melihat betapa kemiskinan tidak lagi
diromantiskan sebagai semacam hidup alternatif dari materialisme kota atau
diabstrakkan menjadi sekedar teori pembangunan yang tidak membumi tapi
merupakan pengalaman hidup sehari-hari yang harus dihidupi sang penyairnya
sendiri. Subjektivitas pengalaman adalah realisme baru dalam puisi politik
penyair 1990an.
Inilah cara para penyair 1990an menjadi bagian dari tradisi/sejarah sastra
Indonesia, inilah relasi intertekstual puisi 1990an dengan puisi-puisi
sebelumnya.
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]