pak tri bicara atas nama pengalaman pribadi, bahwa tv indonesia adalah "cuci 
otak" yg paling murah biayanya. sudah dibuktikan kemunafikan yg dipamerkan 
rejim orba jilid 2 (prosesi kematian suharta).

salam, heri latief

Trikoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: "Trikoyo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "BISAI" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "IBRAHIM BRAMIJN" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "heri latief" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: 022008 - BROLLORDUL   -  NGOBROL NGALOR NGIDUL.
Date: Wed, 20 Feb 2008 22:02:01 +0700

        
Brollordul  200208                    Print   Clean   Clean                     
           MicrosoftInternetExplorer4     st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) 
}         /* Style Definitions */   table.MsoNormalTable  
{mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  
mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  
mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  
font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";}           Brollordul  200208
M E N J E N G K E L K A N
  Oleh : Tri Ramidjo
   
  Menjengkelkan. Bosan aku. Dari tadi itu-itu melulu. Mau jadi apa sih negeri 
ini. Dari subuh sampai subuh berikutnya begitu-begitu terus, Kayak gituo kok 
namanyanya TPI – Televisi Pendidikan Indonesia. Mendidik apa? Menjerumuskan 
iya, bukan mendidik.
   
  Begutulah aku menggumam dan isteriku yang  mendengarkan nyeletuk. “Mbok udah 
lah pak, gak usah gerundel terus. Memang isi acara semua stasiun TV begitu dari 
subuh sampai subuh lagi. Berita cuma sesekali. Nyanyi, dangdut, goyang pinggul, 
muda-mudi bermesraan dan tengah malam acara hangat muda-mudi hampir tanpa 
busana. Itu mode pak, mode masa kini. Lihat saja itu pangrok (tampang jorok), 
ponakan kita sendiri rambutnya awut-awutan, itu mengikuti mode pangrok  atau 
tampang jorok.”
   
  “Pantes, kusuruh gunting rambut dan sudah kuberi duit pun gak mau gunting. 
Jadi itu toh yang namanya pangrok. Aku baru tahu. Dasar kakek apek bau tanah, 
gak ngerti kemajuan zaman”.
   
   “Pak, masak gak tahu sih, ini kan zaman edan. Di zaman edan atau gila itu 
yang disebut edan ya kita-kita ini yang menganggap dirinya waras. Ngaca dong 
pak, ngaca. Rambut semua sudah putih, pundak sengkleh sebelah, jalan 
miring-miring seperti kepiting kepanasan di pantai. Mau apa lagi sih pak, zaman 
sudah berubah. Sekarang bukan zaman Bung Karno lagi yang bisa bicara lantang 
‘go to hell with your aid’. Hutang luar negeri sudah gak ketulungan sampai anak 
cucu. Boro-boro berani bilang ‘go to hell with your aid’.  Kan lebih enak 
bilang  ‘silakan datang dan tanam modal, aku butuh pinjaman. Budget tahun ini 
kurang’  apa  bahasa Inggrisnya ya, aku gak tahu.” Kata isteriku. 
   
  “Ya, tapi untung juga, kita tidak hidup di zaman orba Suharto lagi, walau pun 
kini kita berada di era orba jilid II. Tapi kita bisa bebas ngompol sampai 
semua basah dan akhirnya  masuk angin. Hehehehe.


  Ya, bisanya  cuma ngompol – ngomong-ngomong politik.”
   
  “Emangnya kenapa kalau ngompol. Apa ada yang terpisah dari politik. Harga 
beras, daging, telur, sayuran, listrik, air dan segalanya naik. Semua itu 
berhubungan dengan Negara, kan ? Dan bukankah semua yang berhubungan dengan 
Negara disebut politik? Aku memang gak sekolah tinggi, aku Cuma tamatan SMP 
Pangudi Luhur sekolah Katolik itu. Tapi aku juga ngerti sedikit-sedikit arti 
politik. Bukan kayak anak sekarang. Sudah mahasiswa ditanya,  di uang 20 ribuan 
ada potret siapa, lihat uangnya dulu dan baru jawab ‘I Gusti Ngurah Rai’ dan 
ditanya siapa I Gusti Ngurah Rai itu, gak tahu. Sadar kan sekarang, lebih dari 
32 tahun dibodohi dan dibikin bodoh oleh orba Suharto. Wong sudah terang kayak 
gitu kok mau diusulkan diberi gelar jadi pahlawan nasional. Pahlawan ‘kentut’ 
iya memang.”
   
  “Ssstt, gak boleh bicara jorok gitu. Ndak boleh bawa-bawa kentut segala. Itu 
melanggar kode etik jurnalistik. Ngomong yang sopan dan baik.”
   
  “Iya, suruh pakai istilah seperti orba. Ditangkap diganti diciduk, dipukuli 
diganti dipermak, ada lagi kata santiaji, pelacur disebut tuna-susila dan entah 
kata apa lagi. Jadi apa salahnya kalau gelar pahlawan untuk si dia itu ganti 
saja dengan ‘pembunuh’ sebab kenyataannya memang pembunuh bukan?”
   
  “Iya ya, aku jadi ingat majalah TEMPO No. 32/XXXVI/1-7 Oktober 2007 lima 
bulan yang lalu. Di halaman 85 ada tikel yang berjudul “Dan Soeharto 
punTersenyum” yang singkatnya berisi : ketika Kolonel Yasir Hadibroto yang 
mengexekusi DN Adit melapor kepada Presiden Soeharto di Gedung Agung Yogyakarta 
: Apakah yang bapak maksudkan dengan bereskan itu seperti sekarang ini pak?” 
Soeharto tersenyum.  



  Pembunuhan Aidit itu terjadi  kapan ya 22  November 1965? Entahlah. Tapi 
dalam artikel itu jelas siapa pelaku pembunuhnya yaitu Kolonel Yasir Hadibroto. 
 Mengapa samapi hari ini belum ada  aparat Negara yang bertindak mengusut 
perkara pembunuhan itu? Alat negaranya banci namanya bukan?  Bayi dibuang saja 
polisi sibuk mengusut siapa yang buang, sebab nyawa manusia memang sangat 
berharga. Dan itu yang namanya HAM.  Dan ini yang dibunuh Aidit, Ketua CCPKI 
dan juga menteri dan Wakil Ketua MPRS lembaga tertinggi Negara, kok gak diusut 
sampai sekarang ya.”
   
  “Tapi beberapa hari lalu ada udara segar dari priangan Jawa Barat.  Ini juga 
kubaca dari computer usang ini, bahwa Kapolda Jabar  Susno Duadji, memukul 
genderang perang  untuk memberantas korupsi.  Apakah sudah benar-benar cukup 
mempunyai keberanian, ya? Kita doakan saja semoga sukses dan berhasil Sebab 
kalau hal ini benar dimulai dan terjadi, kejahatan di negeri ini ada harapan 
untuk ditumpas.”
   
  “Omong-omong aku tadi mulai bicara dari mana.  Jengkel karena lihat TV ‘kan? 
Kok ngelantur sampai ke mana-mana. Kalau jalan terus ngalur ngidul dan kejeblos 
atau terlempar ke jurang bagaimana. Tidak ah, aku kan tidak berjalan ke arah 
Giri Bangun Metese, Solo, Karang Anyar terus Metese Giri Bangun itu lho. Di 
situ memang ada jurang-jurang curam tapi pemandangannya indah dan udaranya 
segar. Tapi entah sekarang, apa tidak bau busuk mayat.  Mayatnya sih tidak 
berbau lagi sebab sudah dikubur dalam-dalam  tapi perbuatan dan kekejman 
busuknya tetap berbau “BUSUK”. *******
   
  Rabu Pon, 20 Februari 2008.- jam 21.30 WIB.
  ----------------------------------------------------------
   
   
   
        
  
  


      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke