http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.27.20472534&channel=1&mn=53&idx=54

Mata Spitzer Tangkap Permata di Ruang Angkasa

NASA/JPL-Caltech
Konsep artistik menunjukkan bagaimana permata tersebar di ruang 
antarbintang.Rabu, 27 Februari 2008 | 20:47 WIB
JAKARTA, RABU - Siapa menyangka jika nun jauh di ruang angkasa mungkin 
tersimpan tambang permata yang sangat banyak. Teleskop ruang angkasa Spitzer 
milik badan antriksa AS, NASA, cocok untuk menangkap jejak batu mulia tersebut 
di sekitar bintang yang sangat panas.

Namun, jangan berikir batu permata yang ada di ruang angkasa berupa bongkahan 
batu yang dapat dibentuk. Para astronom tidak berburu harta karun, namun 
mencari jejak kehidupan dengan mencari permata meski hanya seukuran beberapa 
nanometer (sepermiliar meter) sekalipun.

Dengan mempelajari partikel-partikel permata, mereka berharap dapat mepelajari 
lebih dalam bagaimana pembentukan molekul-molekul karbon yang kompleks sebagai 
pembentuk kehidupan di Bumi mulai berkembang di ruang angkasa.

Perburuan permata di ruang angkasa telah dilakukan sejak tahun 1980-an saat 
para astronom menemukan partikel-partike permata dari meteorit yang jatuh ke 
Bumi. Diyakini, 3 persen kandungan permata dalam meteorit tersebut berasal dari 
butir-butir permata di ruang angkasa. Jika meteorit merupakan gambaran debu di 
ruang angkasa, hasil perhitungan menunjukkan bahwa dalam setiap gram debu dan 
gas di ruang angkasa mungkin mengandung 10.000 triliun partikel permata 
berukuran nanometer. 

"Permata ruang angkasa terbentuk pada kondisi yang sangat berbeda dengan 
permata yang terbentuk di Bumi," ujar Louis Allamandola, peneliti lain dari 
Ames. Jika permata di Bumi terbentuk karena tekanan dan panas tinggi, permata 
di luar angkasa terbentuk pada lingkungan dengan suhu maupun tekanan rendah.

Charles Bauschlicher dan timnya dari Ames Research Center, milik NASA, telah 
melakukan simulasi komputer untuk memperkirakan komposisi ruang antarbintang 
jika mengandung partikel-partikel permata. Hasilnya, arae tersebut akan menyala 
jika terkena pnacaran sinat inframerah pada panjang gelombang antara 3,4-3,5 
mikron dan 6-10 mikron. 

Spitzer cocok dipakai untuk mencari permata karena sensitif pada kedua panjang 
gelombang. Selama ini, permata tak ditemukan di ruang angkasa karena para 
astronom belum menggunakan alat maupun lokasi pencarian yang tepat.

"Sekarang kami tahu ke mana harus mencari untuk melihat permata-permata kecil 
menyala, teleskop inframerah Spitzer dapat membantu kami mempelajari lebih 
banyak menganai keberadaannya di ruang angkasa," ujar Allamandola. Usulan 
Bauschlicher, Allamandola, dan tim peneliti lainnya dipublikasikan dalam 
Astrophysical Journal edisi terbaru.(PHYSORG/WAH)


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke