http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.27.19352991&channel=1&mn=53&idx=71
Teknologi Radar Terrasarx Tembus Awan
JAKARTA, RABU - TerraSarX memperkenalkan teknologi terbaru untuk pemetaan
dengan radar asal Jerman, yang dinyatakan mampu mengatasi awan. Teknologi ini
ditawarkan untuk diujicobakan di atas udara Indonesia.
"Sebagai imbalan, mereka menawarkan penyediaan data spasial yang dibutuhkan
berbagai lembaga di Indonesia dengan sistem itu," kata Peneliti Geomatika Badan
Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Dr Ade Komara Mulyana di sela Seminar
Teknologi Radar Antariksa di Jakarta, Rabu (27/2).
Misalnya, permintaan data spasial semburan lumpur Sidoarjo, data spasial
kondisi terbaru Merapi, hingga data spasial banjir Jakarta awal Februari lalu,
atau permintaan data spasial dari IPB dan institusi penelitian lain akan
diberikan secara gratis. Indonesia sudah lama menjadi tempat uji terlengkap
berbagai sistem pemetaan radar yang pernah dikembangkan di dunia karena
lokasinya di khatulistiwa serta ketertutupan awannya yang tinggi sehingga
sesuai untuk uji radar yang ditargetkan dapat mengatasi awan.
Karena itu sudah saatnya pelaku pemetaan di Indonesia tak sekedar menjadi
objek, tetapi juga sebagai subjek pemetaan dengan radar dan menyambut ujicoba
yang ada sebagai peluang untuk membantu Indonesia dalam menyediakan data
spasial. Sebelumnya pernah dicoba sistem satelit Radarsat, ERS, JERS, Envisat,
SRTM maupun sistem Airborne-Ifsar.
Sementara itu, Chief Operating Infoterra Nikolaus Faller mengatakan, sistem
terbaru pemetaan bumi dengan radar dari TerraSarX bisa menjadi pilihan dalam
pemetaan geospasial pada masa datang. Selain mampu mengatasi masalah
ketertutupan awan, juga berbiaya rendah.
"TerraSarX mampu melakukan pemetaan bumi tanpa terganggu awan dengan biaya
hanya 5 dolar per kilometer persegi," katanya. Diakui Ade, biaya pemotretan
udara dengan airborne, teknologi pemetaan yang mampu mengatasi awan, mencapai
40-50 dolar per kilometer persegi, sedangkan teknologi satelit Ikonos yang
masih bermasalah dengan awan berbiaya 37 dolar AS per kilometer persegi.
Ade mengatakan, Indonesia lebih memilih bekerjasama atau menyewa radar,
ketimbang memilikinya untuk pemetaan. Sebabm biaya investasi dalam teknologi
radar pemetaan serta biaya operasional radar sangat besar dan tidak seimbang
dengan hasil yang didapat.
"Tubsat (satelit mikro milik LAPAN yang baru diluncurkan setahun lalu - red)
sebenarnya sudah menghasilkan foto video 'live' wilayah nusantara, namun belum
diterjemahkan menjadi hasil pemetaan," katanya. (ANT/WAH)
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs
[Non-text portions of this message have been removed]