Jurnal Sairara:
   
   
   
  MENUJU SARAWAK [9]
   
   
   
  Sesudah hampir separo hari berada di museum ini, aku melanjutkan kunjungan ke 
tempat lain: ke Tugu Pahlawan, dengan pertanyaan apa-siapa yang dipandang 
sebagai pahlawan oleh Sarawak.
   
   
  Di Kuching, tak ada yang memburu-buruku. Aku tidak terikat oleh acara yang 
dibuat oleh orang lain seperti sering kualami saban  melakukan lawatan-lawatan 
sebelumnya. Acara kubuat sendiri sesuai maksud menuju Sarawak. Waktu sepenuhnya 
milikku. Aku menjadi tuan  atas diri sendiri dan waktu. Walau pun aku selalu 
mencoba memberi makna pada saban detik yang lewat bebas leluasa tanpa 
menggubris apa-siapa pun sebebas angin, seleluasa ombak laut bermain di 
pasir-pasir kencana. Dengan keleluasan ini, aku merasa seakan  kembali  berada 
di masa kanakku di Katingan sebagai anak alam yang leluasa menerjuni gelombang 
sungai, bermain di dahan-dahan hutan, berlari di tengah padang ilalang bagai 
rusa liar, dengan kegirangan merenangi danau-danau, meluncur menarung arus 
mengukur ketangguhan.  Dengan kebebasan ini aku merasa hakekat anak alam 
sebagai lambang dari kemerdekaan yang menolak pembudakan dan pengendalian. 
Kemerdekaan yang sering terancam oleh kehidupan yang garang. Kemerdekaan
 yang sering seperti pelampung lepas dari genggaman tangan di saat kapal karam. 
Hidup yang garang sering kurasakan membuat kita jadi budak di bawah aneka rupa 
label. Celakanya pembudakan ini sering juga tidak disadari. Mengira diri sudah 
menjadi subyek, padahal nyatanya berada dalam status obyek. Malah sebagai obyek 
penderita penyandang  kata sifat yang tidak bercahaya. Kehidupan tidak 
sertamerta dan tidak seramah dugaan untuk memberikan kita kemerdekaan. Bahkan, 
jika tidak awas dan lengah menggunakan nalar, atau oleh nalar yang sudah 
menumpul,  kita sering digiring halus dan kasar ke rupa-rupa penjara yang ia 
ciptakan seperti dogma, ketakutan, narsisme, dan lain-lain... 
   
   
  Lelah menyusur jalan-jalan Kuching yang hitam aspal dan licin memantulkan 
terik matahari katulistiwa, mengucurkan keringat disedot oleh kaos blongku. 
Dibasahi keringat begini, aku hanya tertawa berkata pada diri: Ah, 
khatulistiwaku yang manis dan mataharinya kurindu di negeri-negeri salju. 
Kalimantan justru terletak di garis equator. Hanya saja sebelum hutannya 
digunduli dan menjadi padang pasir , matahari yang menyeru-nyeruku pulang dari 
kembara dipaksakan oleh kesalahpahaman sejarah,  tak kuasa menembus lebatnya 
dedaunan hutan tropis. Penggundulan hutan tropis di Kalimantan hanya 
memperlihatkan kekuasaan "uang sang raja" dan kerakusan Orba yang berpandangan 
sejauh ujung jari serta penyalahgunaan kekuasaan dan penyimpangan dari peran 
negara. Perusakan alam Kalimantan adalah luka dalam pada tubuh republik dan 
Indonesia, masakre terhadap harapan dan mimpi mereka yang menggadaikan nyawa 
untuk menegakkan Republik dan Indonesia. Yang lebih ironi, para pembangun RI 
ini dibunuh
 berkali-kali oleh penyelenggara negara.  Campur baurnya orang yang dikuburkan 
di Kalibata Jakarta memperlihatkan kerancuan negeri kita akan nilai 
kepahlawanan. Kerancuan nilai adalah salah satu ciri negeri dan bangsa kita 
hari ini.
   
   
  Sebelum ke Tugu Pahlawan, aku memasuki sebuah kedai makanan dan minuman yang 
agak ramai dikunjungi pelanggan.  Di sini aku mengambil meja yang terletak di 
pojokan hingga bisa mengamati ruang semaksimal mungkin. Tapi juga bisa 
memandang keadaan jalan yang merentang di depan kedai. 
   
   
  Aku sering mendapatkan bahwa kedai dan jalan merupakan sebuah panggung di 
mana orang-orang bertingkah polos seadanya. Kedai dan jalan, sering kudapatkan 
sebagai kaca kecil kehidupan suatu masyarakat.Kehidupan dalam segala seginya. 
Kedai dan jalan, sering kulihat sebagai sebuah reportase tanpa disunting dan 
diselia. Seperti sebuah jurnal yang mengisahkan keadaan seadanya. Di kedai dan 
jalan, di antara asap rokok, aroma teh dan kopi serta makanan, di antara canda, 
gelak-bahak, kulihat dan kudengar suara kesepian, kesendirian, kesedihan, 
kegembiraan tapi juga harapan yang tersisa. Kedai dan jalan, sering kulihat 
sebagai sahabat curhat yang pandai dan sabar mendengar siapa saja. Pada kedai 
dan jalan, aku melihat sebagian wajah kota dan penduduknya. Kedai dan jalan, 
kalau demikian, agaknya merupakan usaha manusia mempertahankan diri sebagai 
anak manusia, keinginan untuk tetap berkomunitas -- hal yang kian diatomasikan 
oleh globalisasi kapitalisme. Atomisasi atau pengepingan
 kecil-kecil komunitas dan kemanusian, boleh jadi,  merupakan taktik 
globalisasi kapitalis guna berdominasi dan berhegemoni, mulai dari segi nilai.  
Atomisasi atau pengepingan komunitas, akan membuat keperluan akan kebersamaan 
atau komunitas jadi tak berarti serta kian melemah, tak berdaya di hadapan 
dominasi dan hegemoni. Penghancuran alam tanpa sepakat penduduk , kukira 
sejajar dengan tujuan dominasi, hegemoni, serta pelemahan dan bahkan 
penghancuran komunitas. Adakah diri kita yang bermartabat manusiawi jika 
kebersamaan dan komunitas dihancurkan? Sejarah Dayak Kalimantan Tengah bisa 
diangkat sebagai salah satu bukti dan contoh dengan penghancuran betang [long 
house] dan pengembangan rumah individual oleh kolonial Belanda sebagai 
pentrapan politik budaya:"ragi usang". Penghancuran yang entah sadar atau 
tidak, berlangsung baru-baru ini Ketika Kalimantan berada di bawah kelola 
Gubernur Agustin Teras Narang dan wakilnya yang orang Jawa [ujud dari suatu 
aliansi politik dengan
 nilai keliru yang tidak republiken dan berkindonesiaan]. 
   
   
  Rara, wahai, Rara. Jika apa yang kulihat ini benar,  maka agaknya , kedai 
atau warung, tradisi  dan nilai warung di tanahair kita, berarti usaha penduduk 
mempertahankan  nilai kebersamaan dan   komunitas.   Warung merupakan benteng 
nilai sehingga bukan kebetulan jika jumpa warung kopi dilecehkan sebagai 
"percakapan warung kopi" [paralel dengan hinaan terhadap orang desa dan massa 
rakyat dengan ucapan "ndesip", "ndeso"], padahal kukira berbeda dengan gunjing  
Walau pun gunjing pun sebenarnya punya makna tersendiri lagi jika kita sepakat 
"tak ada asap tak ada api". Bahasa, rumor, gunjing, hinaan, dalam sejarah 
negeri kita,agaknya sejak lama digunakan sebagai alat penindasan dan bahkan 
penghancuran budaya serta politik. Tapi, o, mengapa aku jadi  meluaskan dan 
memperlebar masalah lebih jauh  ke  berbagai jurusan, tak obah seperti  orang 
emosional hilang kendali diri!?
   
   
  Baik, baik, aku kembali ke soal sentral, Rara. Ciri-ciri kedai, yang di sini 
disebut café dan jalan-jalan demikianlah yang kudapatkan di Paris. Paling tidak 
di kampung berkemahku atau tempat sejenak karavanku berhenti  selama 
bertahun-tahun sebelum melanjutkan perjalanan penjuru angin. Kampung yang 
terletak  di bukit kecil  bernama Montmartre dijaga oleh lembah Sungai Seine 
yang mengalir membelah Paris.
   
   
  Memasuki kedai-kedai di Kuching, Sarawak, aku kembali menemukan ciri kedai 
dan jalan yang kusimak di Paris. Apakah ini yang disebut universalitas nilai 
hakiki? Jika demikian, apakah universalitas nilai menegasi keunikan, kedirian, 
ciri lokal seperti yang dilakukan oleh pikiran tunggal [la pensée unique] dan  
penyeragaman yang  antara lain ditabur oleh toserba atau super- market, paralel 
dengan militerisme dan otoritarianisme,   yang seperti buaya atau harimau lapar 
membinasakan yang lemah dan yang kecil, atas nama modernitas dan pembangunan 
model"trickle down effect"Rostow? 
   
   
   Dalam universalitas dan susupan pengaruh-mepengaruhi tingkat global  ini, di 
kedai dan jalan-jalan Kuching, aku masih melihat adanya keunikan dan nilai 
lokalitas.  Sehingga Kuching tetap Kuching. Lokalitas tidak berarti 
bertentangan dengan universalitas bahkan mungkin bisa disebut pengejawantahan 
universalitas secara nyata. Dan kalau dibalik, universalitas lahir dari 
keragaman lokalitas. Prof .Dr. Sayogio dari IPB Bandung menyebut ciri lokal 
pemberdayaan masyarakat untuk Kalimantan sebagai "Jalan Kalimantan" 
[Lihat:Wawancara tertulis Prof. Dr. Prof. Dr.Sayogio dengan Buletin LSM Dayak 
Panarung, "Sahewan Tajahan", Palangka Raya, 200.Bandingkan juga dengan pendapat 
Paul Ricoeur: "kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal", atau pandangan 
para ekonomis pembangunan, misalnya Ignacy Sachs, atau Prof. Dr. Ngo Manh-lan 
tentang  pengembangan tekhnologi aplikatif yang tanggap,  tentang teori "kotak 
hitam --black box-- dan rakyat sebagai poros]. 
   
   
  Dari kedai-kedai  Kuching yang kumasuki, dan dari  jalan-jalan kota yang 
kutelusuri jalan kaki,  aku melihat, entah sadar atau tidak,  adanya keunikan 
yang dikembangkan oleh Sarawak. ***
   
   
  Paris,  Akhir Musim Dingin 2008.
    ---------------------------------------------
  JJ. Kusni,  pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.


       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke