Rasulullah SAW dan Nabi Palsu
Oleh : Ahmad Rofiqi
(Mahasiswa Pasca-Sarjana Program Pendidikan dan
Pemikiran Islam, Universitas Ibn Khaldun, Bogor)
Dominasi peradaban Barat telah menyebabkan banyak
cendekiawan berusaha mengubah ajaran-ajaran Islam agar
sesuai dengan konsep HAM sekuler Barat. Salah satu
konsep Islam yang mendapat serangan adalah konsep
tentang murtad (orang yang keluar dari agama Islam).
Sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,
manusia dijamin haknya untuk memeluk agama apa saja,
termasuk keluar masuk suatu agama. Bagi mereka, agama
dianggap seperti baju. Kapan saja boleh ditukar-tukar.
Salah satu cara yang dilakukan para cendekiawan adalah
berusaha âmengubah sejarah dengan menulis bahwa
seolah-olah Nabi Muhammad SAW berdiam diri terhadap
tindakan kemurtadan. Bahkan, perang melawan kaum
murtad yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra
dikatakan sebagai perang melawan pemberontak yang
semata-mata bermotif politik, bukan perang atas dasar
agama.
Sebuah buku sejarah Nabi Muhammad SAW yang ditulis
oleh Dr Muhammad Husein Haekal, misalnya, juga menulis
nabi palsu yang muncul pada masa Rasulullah SAW
tidaklah terlalu memengaruhi beliau untuk melakukan
tindakan militer. ''Itulah sebabnya tatkala ada tiga
orang yang mendakwakan diri sebagai nabi, oleh
Muhammad tidak banyak dihiraukan. (Haekal, Sejarah
Hidup Muhammad (terjemahan), 1990:559).
Di Indonesia, disertasi, tesis, skripsi, dan buku-buku
yang mendukung 'hak murtad' sangat banyak. Salah satu
trik mereka mengungkap sejarah dengan keliru.
Kisah dua utusan
Dalam kitabnya Al Sunan (Kitab Al Jihad, Bab Ar Rusul
hadits no, 2.380) Abu Daud meriwayatkan sebuah hadits
dari Abdullah bin Mas'ud. Ketika menerima dua utusan
nabi palsu, Musailamah al-Kazzab, Rasulullah SAW
bertanya kepada mereka: ''Apa yang kalian katakan
(tentang Musailamah)? Mereka menjawab, ''Kami menerima
pengakuannya (sebagai nabi)''. Rasulullah SAW berkata:
''Kalau bukan karena utusan tidak boleh dibunuh,
sungguh aku akan memenggal leher kalian berdua''.
Lafadz ini diceritakan juga oleh Ahmad (hadits no
15.420), Al Hakim (2: 155 no 2.632). Ahmad (hadits no
15.420) melaporkan melalui Abdullah bin Mas'ud dengan
lafadz la-qataltu-kumaa, (aku pasti membunuh kalian
berdua). Versi hadits ini diceritakan kembali oleh
kitab-kitab sejarah, seperti Al Thabari (Tarikh Al
Thabari, Juz 3 Bab Masir Khalid bin Walid) dan Ibnu
Katsir (Al Bidayah wa Al Nihayah, Dar Ihya' Al Turats
Al Arabi, tt, Juz 6, hal: 5).
Riwayat ini menampilkan ketegasan Rasulullah terhadap
orang yang mengakui kenabian Musailamah. Tetapi,
karena Rasulullah SAW memegang etika diplomatik yang
tinggi, beliau membiarkan begitu saja kedua utusan
nabi palsu itu.
Abu Daud (hadits no 2.381), Al Nasa'i (Al Sunan Al
Kubra, 2: 205) dan Al Darimi (Kitab Al Siyar, hadits
no 2.391) menceritakan kesaksian Haritsah bin Al
Mudharib dan Ibn Mu'ayyiz yang mendapati sekelompok
orang dipimpin Ibn Nuwahah di sebuah masjid
perkampungan Bani Hanifah, ternyata masih beriman pada
Musailamah. Setelah kejadian ini dilaporkan pada Ibn
Mas'ud, beliau berkata pada Ibn Nuwahah (tokoh
kelompok tersebut), ''Aku mendengar Rasulullah SAW
dulu bersabda: ''Kalau engkau bukan utusan, pasti aku
akan penggal kamu. Nah, sekarang ini engkau bukanlah
seorang utusan.''
Maka Ibn Mas'ud menyuruh Quradhah bin Kaab untuk
memenggal leher Ibn Nuwahah. Ibn Mas'ud berkata,
''Siapa yang ingin melihat Ibn Nuwahah mati, maka
lihatlah ia di pasar.'' Masjid mereka pun akhirnya
turut dirobohkan.
Mengapa Rasulullah SAW tidak memerangi Musailamah? Ibn
Khaldun menjelaskan masalah ini bahwa ''Sepulangnya
Nabi SAW dari Haji Wada', beliau kemudian jatuh sakit.
Tersebarlah berita sakit tersebut sehingga muncullah
Al Aswad Al Anasi di Yaman, Musailamah di Yamamah dan
Thulaihah bin Khuwailid dari Bani Asad, mereka semua
mengaku nabi.
Rasulullah SAW segera memerintahkan untuk memerangi
mereka melalui edaran surat dan utusan-utusan kepada
para gubernurnya di daerah-daerah dengan bantuan
orang-orang yang masih setia dalam keislamannya.
Rasulullah SAW menyuruh mereka semua
bersungguh-sungguh dalam jihad memerangi para nabi
palsu itu sehingga Al Aswad dapat ditangkap sebelum
beliau wafat.
Rasulullah menyerukan orang-orang Islam di penjuru
Arab yang dekat dengan wilayah para pendusta itu,
menyuruh mereka jihad (melawan kelompok murtad).''
(Abdurrahman Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Dar Al
Kutub Al Ilmiyah: Beirut, Lebanon, cetakan 1, tahun
1992, hal 474-475).
Tindakan Abu Bakar
Pada masa Abu Bakar kekisruhan negara sumbernya ada
dua. Yang pertama orang yang menolak membayar zakat.
Kedua adalah para nabi palsu.
Dalam Al Bidayah wa Al Nihayah Imam Ibn Katsir menulis
judul Fasal Peperangan Abu Bakar Melawan Orang-orang
Murtad dan Penolak Zakat (cetakan 1 terbitan Dar Al
Kutub Al Ilmiyah, Beirut, Lebanon: 2001, jilid 6 hal
307). Abu Bakar sampai membentuk sebelas ekspedisi
militer untuk menumpas gerakan tersebut (Al Daulah Al
Umawiyah, Muhammad Al Khudhari, Mansyurat Kulliyah
Dakwah Islamiyah, Tripoli, Libya: tt. hal 177-178)
Semula Umar bin Khatab ra mencoba membujuk Abu Bakar
agar tidak memerangi penolak zakat. Kata Abu Bakar,
''Demi Allah, jika mereka berani menolak menyerahkan
seutas tali yang dulunya mereka berikan pada
Rasulullah SAW, aku pasti akan memerangi mereka karena
penolakan ini.'' (Dikeluarkan oleh Ahmad 1: 11, 19,
35, 2: 35, 4: 8, Al Bukhari hadits no 1.561, Muslim
Kitab Al Iman hadits no 82, 83 Juz 1 hal 52.)
Pada riwayat lain disebutkan bahwa Abu Bakar
ash-Shiddiq yang dikenal sangat lembut perangainya
menyatakan: ''Rasulullah SAW telah wafat dan wahyu
sudah tidak turun lagi! Demi Allah aku akan memerangi
mereka selama masih memegang pedang di tanganku meski
mereka tidak mau menyerahkan seutas tali!'' (Tarikh Al
Khulafa', Al Suyuthi, Fasal fii maa Waqa'a fii
Khilafati Abi Bakar Al Shiddiq ra).
Ungkapan Abu Bakar 'dan wahyu sudah tidak turun lagi'
menunjukkan ketegasannya terhadap persoalan nabi
palsu. Dari Handzalah bin Ali Al Laitsi ia berkata,
''Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Al Walid
memerangi orang-orang dengan sebab lima rukun Islam.
Siapa saja yang menolak salah satunya hendaknya ia
diperangi.'' (Adz Dzahabi, Tarikh Al Islam, Kitab
Sanah Ihda 'Asyr Bab Khabar Al Riddah).
Terkait dengan perang melawan kelompok murtad itu,
Ibnu Mas'ud berkata, ''Setelah Rasulullah SAW wafat,
kami hampir saja binasa kalau saja Allah tidak
menganugerahi kami kepemimpinan Abu Bakar.'' (Tarikh
Al Dzahabi, Juz 2, Kitab Sanah Ihda 'Asyr, bab Akhbar
al Riddah). Juga dikatakan: ''Demi Allah, aku melihat
Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk melakukan
perang dan baru aku tahu, inilah keputusan yang
benar.'' (Al Bukhari hadits no 1.561).
Islam memandang masalah agama (ad-Dinul Islam) sebagai
hal yang prinsip karena menyangkut urusan dunia dan
akhirat. Agama tak hanya laksana baju, boleh dipakai
dan ditanggalkan kapan saja.
Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersikap tegas terhadap
setiap penyelewengan agama. Jadi, sangat tidak benar
umat Islam, apalagi para ulamanya, hanya berdiam diri
terhadap segala bentuk kesesatan dan kemurtadan. Oleh
sebab itu, sesuai dengan fungsinya, tindakan MUI yang
menetapkan ajaran sejumlah nabi palsu sebagai ajaran
sesat adalah tindakan yang sangat tepat. Tentu saja
tindakan berikutnya adalah menjadi tanggung jawab
penguasa (umara).
Ikhtisar:
- Disertasi, tesis, skripsi, dan buku-buku yang
mendukung hak murtad sangat banyak.
- Nabi mencontohkan memerangi musuh Allah dengan cara
yang halus, tetapi tegas.
(dikutip dr Multiply)
Satrio Arismunandar
Producer "SISI LAIN" (tayang Senin-Jumat, pukul 13.30-14.00 WIB) -
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023, Fax: 79184558, 79184627
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com
"Ungkapkanlah kebenaran itu, meskipun pahit" (Hadist Nabi)
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping