http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pks_menanti_krisis080229
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pks_menanti_krisis08022\
9>

PKS, Partai Buka-Tutup, Menanti Krisis



Laporan Aboeprijadi Santoso

29-02-2008



Pendiri Partai Keadilan Sejahtera PKS, Mashadi, cemas, PKS tak akan
mampu mencapai perolehan suara sebanyak 20 persen dalam pemilihan umum
2009. Dengan demikian PKS akan kesulitan untuk mencapai target yang
pernah diputuskan yaitu ikut mengendalikan Negara pada tahun 2012.
Sejumlah survey belakangan ini memang menunjuk pada keunggulan
popularitas partai-partai sekuler, atau yang tidak berbasis agama.
Kemerosotan inilah yang menimbulkan kontroversi gagasan PKS tetap
sebagai partai dakwah alias partai tertutup, ataukah menjadi partai
terbuka. Banyak petinggi PKS di DPR tergoda politik uang, demikian ujar
Mashadi kepada Radio Nederland Wereldomroep.





Mashadi : "Kami belum bisa mengklaim bahwa ada sebuah sukses yang kami
capai karena kami baru memulai dan kemampuan kami juga masih sangat
terbatas di dalam keterlibatan kami terutama menyangkut masalah
pengelolaan negara."



Berpendidikan Tinggi
Partai Keadilan Sejahtera, PKS, yang dulu bernama, Partai Keadilan, PK,
partai Islam yang bermisi dakwah ini dikenal berdisiplin, dan menekankan
etika dan moral Islami ini, naik daun sejak didirikan tahu 1998.
Citranya sebagai partai yang peduli dan bersih, pernah membuatnya
melesat pada pemilu 2004.

Militansinya mirip sumber inspirasinya yaitu Ikhwanul Muslimin yang
awalnya merupakan gerakan radikal di Mesir. Dan citra partai bersih yang
melayani kebutuhan masyarakat mengingatkan orang pada Hamas yang
mengalahkan PLO dengan telak di Palestina.



Namun, PKS bukan kumpulan ulama jebolan madrasah seperti Ikhwanul
Muslimin, melainkan lahir dari kalangan muslim berpendidikan tinggi. PKS
juga tidak dibesarkan dalam konteks konflik internasional seperti Hamas,
melainkan dibesarkan di perkotaan sejak tahun 1990an, yaitu sejak partai
ini digagas pada tahun 1996 saat pemerintahan Soeharto mulai kehilangan
legitimasinya.



Merosot
Sekarang, citra bersih dan tangguhnya PKS itu merosot. Menurut Mashadi,
dari faksi PKS fardiyah (pengajian) yang bertentangan dengan faksi PKS
pragmatis yaitu politisi PKS di lembaga-lembaga negara, kemerosotan itu
terjadi karena kader-kader partainya masih sangat kurang. Jumlah kader
PKS baru 200an ribu, hanya satu persen dari penduduk Indonesia. Sejumlah
petinggi PKS di DPR mengejar kuantitas, dan seperti wakil-wakil rakyat
terhormat dari partai-partai yang lain, fraksi PKS juga tergiur oleh
milyaran rupiah yang mengalir setiap kali dewan menggolkan rancangan
undang-undang.



Maka, atas desakan PKS daerah, dalam Munas PKS di Bali awal bulan ini
muncul gagasan menjadikan PKS partai terbuka. Partai terbuka berarti
terbuka bagi semua kelompok dan dapat berkoalisi dengan siapa saja. Tapi
bagaimana mungkin sebutlah seorang Hindu-Bali atau Kristen Minahasa
dapat menjadi caleg mewakili partai dakwah Islam ini? Maka akhirnya
Majelis Syuro PKS selaku dewan paling berwenang di Partai, memutuskan
tetap menyatakan PKS sebagai partai dakwah. Pernyataan majelis itu
mengimbau "supaya tidak lagi mewacanakan isu "partai terbuka" untuk
menghindari mudharat yang lebih besar".



Namun ketua majelis tersebut, Ustadz Hilmi maupun Presiden PKS Tifatul
menyatakan PKS tetap terbuka bagi kelompok non-Muslim.



Buka-Tutup
Maka tak heran, Munarman, mantan Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia, YLBHI, yang mengaku bukan anggota PKS melainkan "pengamat
dari dalam", menyebut sikap Majelis Syuro PKS itu gamang. "PKS sedang
mengalami krisis ideologis, dia tidak tegas menganulir keputusan Munas
Bali, tapi mengambil jalan tengah". Jalan tengah melalui label
keprofesionalan dalam moto baru itu, dalam istilah Munarman, menjebak
PKS menjadi "partai buka-tutup".

Munarman, sejalan dengan Mashadi, berpendapat krisis itu dapat membuat
partai mudah bergoyang karena tidak menegaskan Islam sebagai "perilaku
yang memandu kepartaian". Sedangkan Mashadi menganggap dalam sejarah
Indonesia sampai sekarang sebenarnya tak ada "partai Islam" kecuali
Masyumi, yang ada sekarang hanya partai partai "berlabel Islam".



Tetap Berambisi
Namun Mashadi, pendiri PKS yang berada di luar struktur partai ini,
mengaku tidak pesimis, dan tetap yakin akan jati diri dan strategi
partainya.



Mashadi: "Kami ingin bagaimana terlibat di dalam dua sektor tadi yang
saya katakan yaitu sektor pendidikan dan sektor pertanian. Karena ini
menjadi kunci apa yang sekarang persoalan-persoalan bangsa. Kami tidak
langsung pada keinginan untuk mendirikan negara Islam, tapi kami ingin
lebih bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan yang sekarang menjadi
persoalan pokok bangsa Indonesia ini."



Dengan kata lain, PKS tetap berambisi menguasai negara dengan mengisi
birokrasi pemerintahan, lembaga-lembaga publik dan ormas-ormas, dengan
kader kadernya, dengan berpanut pada Syariah Islam.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke