Memang kita harus mendukung pemerintah. Jika tidak,
akan terjadi kekacauan. Minimal hingga Pemilu 2009.

Di sisi lain pemerintah memang harus belajar mendengar
penderitaan rakyatnya. Jangan ada lagi rakyat yang
mati kelaparan. Minimal pemerintah harus bisa mencegah
berbagai kenaikan harga/laju inflasi.

Dari sekitar Rp 800 trilyun APBN, anggaran untuk
kemiskinan hanya Rp 54 trilyun. Itu pun menurut Imam
Sugema yang sampai ke fakir miskin paling hanya Rp 5
trilyun. Kurang dari 1%.

Garis kemiskinan yang dibuat pemerintah pun sangat
rendah, yaitu sekitar Rp 160.000 per bulan. Artinya
kalau kurang dari Rp 5.400/hari baru dianggap miskin.
Kalau Rp 6.000/hari dianggap kaya dan tidak pantas
mendapat bantuan.

Padahal di AS garis kemiskinan untuk keluarga dengan 4
anak sekitar USD 20.444 per tahun atau Rp 4 juta per
bulan per orang. Harga barang di Indonesia saat ini
meroket naik sehingga sudah hampir sama dengan harga
barang di AS (paling cuma selisih 30%). Contohnya BBM
di Indonesia sudah sekitar Rp 5.400/liter sementara di
AS sekitar Rp 8000/liter.

Jadi banyak orang yang sebetulnya miskin dan ikut
berebut dana BLT/beras gakin ditolak pemerintah karena
tidak masuk kriteria miskin versi pemerintah.

Untuk makan saja menurut saya sekali makan paling
murah Rp 3.000. Jadi kalau 3x makan, berarti Rp 9.000.
Ditambah minum paling tidak Rp 10.000. Ini pun masih
kemiskinan versi (maaf) binatang karena belum
memasukkan biaya rumah, pakaian, dan pendidikan.

Menurut PBB, garis kemiskinan adalah USD 2 per hari.
Atau Rp 18.000 per hari. Jika ini diterapkan, maka
jika jumlah orang miskin versi pemerintah (penghasilan
rp 5.400/hari) ada 37 juta, menurut versi PBB jumlah
membengkak jadi 130 juta lebih.

Seharusnya dari Rp 800 trilyun dana APBN, minimal
separuhnya digunakan untuk membantu fakir miskin baik
sebagai jaringan pengaman dari kelaparan, mau pun
bantuan modal dan manajemen untuk usaha. 

--- Hary Rachman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Tulisan yang saya kira cukup bagus, tapi sayangnya
> di akhir paragraph, kok malah menganjurkan mendukung
> pemerintah?
> Apanya lagi yang mau didukung Pak?
> 
> mestinya, kalau pun mau, mesti ada political will
> untuk mengganti sistem ini menjadi sistem syariah
> secara total, cukuplah sudah kita ditipu dengan
> janji2 surga oleh aktor2 politik melalui parpol2
> baik itu sekuler ataupun parpol Islam, 
> lihat saja, kasus BLBI yang berlumuran dosa, bahkan
> dari para petinggi pengadilan yang paling
> agung...tidakkah itu cukup membuat kita mau kembali
> ke jalan Allah dengan menegakkan syariahnya secara
> Total?
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Sri Haryono <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, March 3, 2008 11:11:21 AM
> Subject: {ekonomi-syariah} POLITIK KEMISKINAN
> 
> POLITIK KEMISKINAN 
> By : REFRINAL
>  
> Dalam dua pekan terakhir ini seorang teman saya
> sangat sibuk mengikuti rapat-rapat dengan BPH Migas
> untuk membicarakan berbagai kajian dan persiapan
> untuk pemberlakukan pembatasan penggunaan BBM yang
> menurut rencana akan efektif diterapkan pada bulan
> Juni tahun ini.  Kebijakan baru pemerintah berupa
> pembatasan penggunaan BBM untuk kendaraan sebesar 10
> liter per mobil per hari dan  setiap kelebihan
> penggunaan akan dikenakan tarif tanpa subsidi dengan
> harga Rp 7.500,-/liter.  Menurut pemerintah
> kebijakan ini diambil sebagai tindakan
> subtitusi/pengaliha n subsidi BBM sebesar Rp 10
> Triliun untuk mengendalikan harga pangan yang
> cenderung terus melambung.  
> Jika ditilik lebih dalam dengan mencermati perilaku
> pemerintah dibawah komando Susilo Bambang Yudhoyono
> dan Yusuf Kalla dalam membangun perekonomian bangsa
> ini, hampir terlihat kinerja yang sama sekali tidak
> populer, gemar menaikkan harga dan berorientasi
> jangka pendek. Dan inline dengan hal itu, dalam
> berbagai catatan saya berani menduga bahwa
> pemerintah yang berkuasa saat ini merupakan
> pemerintah yang paling tidak populer dibandingkan
> presiden-presiden terdahulu, Soekarno, Soeharto,
> Habibie, Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarno
> Putri. Bahkan jika dibandingkan dengan pemerintahan
> orde baru sekalipun, maka sangat bisa dikatakan
> tidak terbandingkan! .  Dimasa Soeharto berkuasa,
> terlepas dari apapun yang beliau lakukan, hampir
> semua orang terutama rakyat yang pernah merasakan
> hidup dibawah pemerintahan beliau selama 32 tahun
> sepakat, bahwa dimasa itu kemakmuran dari berbagai
> sisi sangat terasa, harga-harga sangat terkendali,
> keamanan begitu terjaga,
>  bahkan negri kita pernah dinyakan sebagai salah
> satu negeri paling aman di dunia, disamping
> memperoleh penghargaan dari FAO sebagai negara yang
> mampu menghidupi dan mencukupi kebutuhan pangannya
> sendiri. Luar biasa bukan? Dimasa ini, dimasa
> pemerintahan yang dipilih melalui pemilu yang paling
> demokratis sepanjang sejarah bangsa negeri ini, kita
> bertubi tubi didera kenaikan berbagai macam harga,
> terutama pangan dan bahan bakar.  Kebijakkan
> pemerintah yang membuat rakyat untuk menggunakan
> elpiji juga bagaikan perngkap yang semakin
> memiskinkan, walau tidak sepenuhnya dapat dikatakan
> gagal.  Apalagi seiring dengan munculnya rencana
> untuk menaikkan harga elpiji oleh pertamina dan
> listrik oleh PLN.  Maka mungkin bisa diterima bahwa
> jumlah orang miskin di negeri kita akan semakin
> banyak dan meningkat. Apakah ini adalah harga yang
> harus dibayar untuk sebuah demokrasi? Atau apakah
> ini adalah bagian dari konsekuensi yang harus kita
> tanggung karena memilih secara
>  demokratis? Kalau memang benar, maka harga yang
> harus kita bayar sungguh mahal! Bahkan terlalu
> mahal!
> Berdasarkan laporan yang snagat dapat dipercaya,
> yang kemudian banyak dirilis oleh berbagai sumber
> baik media cetak maupun elektronik menyatakan bahwa
> hingga tahun 2008 hutang perkapita penduduk
> Indonesia sebesar IDR 5.000.000,-/ orang.  Jika
> penduduk Indonesia hingga tahun 2008 sebesar 220
> Juta, maka besar hutang bangsa ini kepada bangsa
> lain sebesar IDR 1.100 Triliun! namun jika dikaji
> lebih jauh lebih jauh dengan memasukkan komponen
> hutang masyarakat kepada berbagai perusahaan asing
> sebagai akibat dari fenomena kredit kendaraan
> bermotor, kredit rumah, akumulasi penggunaan kartu
> kredit, kredit tanpa agunan dll sebagai variable
> dari hutang, maka nilainya tentu akan berlipat
> lipat.  Merupakan sebuah fenomena dan merupakan
> kenyataan yang terpapar jelas mendekati kebenaran
> bahwa selain memiliki beban hutang perkapita akibat
> ulah negara¢ maka hampir sulit mencari manusia
> indonesia yang tidak berhutang akibat ¢ulah sendiri¢
> Pemerintah saat ini pun cenderung menutup mata d
> engan kondisi yang ada, dengan mencari
> pembenaran-pembenar an atas kebiijakan yang mencekik
> itu, dengan mengatasnamakan rakyat yang dulu memilih
> pemimpin secara demokratis.  Lalu apa yang dengan
> negeri ini? Kenapa harga beras, terigu, kedelai,
> BBM, elpiji, minyak tanah, minyak kelapa, dll
> meroket tak terkendali? Apa saja kerja pemerintah
> ini? Apakah sebgitu mahalkan harga yang harus
> dibayar rakyat sebagai konsekuensi memilih seorang
> pemimpin seperti saat ini? Jika harga yang naik itu
> hanya terigu, atau jagung, atau kedelai dan
> kebutuhan sekunder lainnya maka hal ini masih bisa
> dimengerti.  Akan tetapi lain halnya namun
> pemerintah menaikkan harga BBM, elpiji dan minyak
> tanah yang memiliki efek multiplier terhadap seluruh
> sendi kehidupan maka mungkin sungguh keterlaluan!
> Kenaikan harga bahan bakar akan memicu kenaikan
> harga-harga diseluruh sektor terutama barang dan
> jasa.  Kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya
> industri dalam negeri yang berakibat pada kenaikan
> harga-harga secara signifikan, yang berakibat pada
> penurunan daya beli masyarakat pada jangka pendek
> dan penurunan kualitas hidup masyarakat (kemiskinan)
> pada jangka panjang.   Jika ditambah dengan
> penghapusan subsidi minyak tanah sebagai strategi
> untuk memaksa masyarakat kelas menengah kebawah
> menggunakan elpiji dan kemudian ternyata elpiji
> tersebut langka dipasaran dan juga harganya
> melambung, lalu apa namanya kalau tidak dinamakan
> sebagai strategi pemiskinan masyarakat.
> Wakil presiden kita cenderung menggunakan data BPS
> peningkatan pertumbuhan masyarakat (dalam persen)
> sebagai indikator dan berkali-kali menyatakan tanpa
> beban bahwa merupakan sebuah kebohongan jika jumlah
> orang miskin semakin meningkat karena diatas kertas
> memang terjadi peningkatan pendapatan masyarakat
> (dalam persen).  Namun jika pemerintah sedikit mau
> berkaca dan sedikit jujur mengakui, maka
> sesungguhnya memang angka kemiskinan di negeri ini
> cenderung meningkat.  Apa buktinya?  Cobalah kita
> telaah bukti-bukti real yang ada di depan mata kita.
>  Kenaikan harga-harga secara parsial secara absolout
> tentunya akan meningkatkan pengeluaran masyarakat
> dan menurunnya daya beli terutama untuk kebutuhan
> primer (sembako), apalagi barang sekunder.  Namun
> sayangnya kegemaran pemerintah kita menaikkan
> harga-harga barang strategis tadi tidak diikuti
> dengan kemampuan meningkatkan indikator-indikator
> kesejahteraan masyarakat.  Jadi apalah artinya jika
> pendapatan
>  masyarakat meningkat secara kuantitatif, namun
> secara kualitatif ternyata menurun karena faktanya
> peningkatan pendapatan itu jauh lebih rendah
> daripada inflasi? 
> Masyarakat sebenarnya menjadi tumbal dari sebuah
> demokrasi dan semua kemunduran ekonomi tersebut
> diberlakukan atas nama rakyat! Cobalah menoleh
> sejenak aktivitas pemerintahan kita yang memang
> melakukan berbagai kebijakan yang sifatnya jangka
> pendek dan kalaupun populis hanyalah terpapar seumur
> pemerintahan.  Kita tidak pernah mau membuka mata
> untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut secara
> komprehensif.  Ibaratnya pemerintah terus-terusan
> mengepel lantai yang basah akibat atap rumah yang
> bocor, dan terus mengepel tanpa mau memperbaiki atap
> yang bocor tersebut menjadi permanen.  
> Negeri ini adalah negeri yang subur dan makmur,
> namun anehnya kita adalah negara pengimpor pangan
> terbesar di dunia.  Beras yang kita makan, kedelai
> yang selama ini diolah menjadi tempe dan tahu bahkan
> susu kedelai, gandum, dan lainnya semuanya adalah
> produk impor.  Dan beras yang kita impor itu berasal
> dari negara yang luasnya hanya seperdelapan dari
> luasnya negeri kita, namun penduduknya sepertiga
> dari penduduk kita, Vie tnam! Hampir tak ada produk
> yang kita hasilkan kecuali puas menjadi negara
> pengimpor terbesar di dunia.  Kalaupun ada yang kita
> ekspor produknya adalah manusia yang kemudian
> menjadi pembantu di negeri orang, diperkosa,
> diperhinakan bahkan terbunuh sia-sia sebagai
> pahlawan devisa. Padahal jika kita mau memaksimalkan
> pemanfaatan lahan-lahan pertanian, memberlakukan
> peraturan pembatasan kepemilikan tanah untuk
> menghindari penguasaan tanah yang membabi buta
> sehingga tidak produktif, membuat peraturan
> penetapan harga pangan produksi dalam
>  negeri yang memihak pada petani, dan lain-lainnya
> maka berjuta-juta lapangan kerja bisa diciptakan,
> dan jika pemerintah bisa melakukan ini dengan
> memberdayakan berbagai lembaga penelitian untuk
> menghasilkan varietas unggul pertanian, yang
> nantinya akan menghasilkan produk berkualitas
> tinggi, kuantitas produksinya berlipat dan masa
> panennya pendek.  
> Demikianpun dengan minyak bumi, kita adalah negara
> penghasil minyak dengan produksi berjuta barel per
> harinya.  Dalam logika berfikir tentunya sebagai
> negara pengeskpor minyak jika terjadi kenaikan harga
> minyak dunia, seharusnya kita bertambah kaya seperti
> Venezuela, namun kenyataannya lebih dari separo
> kekayaan minyak kita dieksplorasi oleh asing seperti
> exxonmobile dan caltex dan sebagian besar bahkan
> seluruhnya diangkut ke negaranya. Dan sebagian kecil
> yang dikelola oleh pertamina menurut pembicaraan
> yang luas diekpor kenegara yang mampu mengolah
> minyak mentah menjadi bahan bakar siap pakai dan
> kemudian kita impor kembali.  Bukankah ini sesuatu
> yang tragis?
> Kita memiliki begitu besar sumber daya alam dan
> sumberdaya manusia.  Idealnya sumberdaya manusia
> sebagai anak bangsa seharusnya dipersiapkan untuk
> menguasai teknologi yang bisa mengolah minyak tadi. 
> Jika pemerintah mau konsisten dengan betul-betul
> mengalokasikan 20% dari APBN untuk pendidikan, maka
> pendidikan kita akan maju, menghasilkan
> tenaga-tenaga terdidik, terampil dan memiliki
> tanggung jawab moral sebagai anak bangsa.  Namun
> sepertinya kita lebih senang negeri yang kaya ini
> dikelola oleh bangsa lain dan kita hanya mendapat
> hasil bagi hasil!
> Jika saja alasan mendapatkan subtitusi dana subsidi
> sebesar 10 Triliun bisa dibenarkan, dan andai saja
> pemerintah bisa lebih concern menerapkan pengelolaan
> pemerintah yang bersih (good governance) maka
> sebenarnya hal ini tidak perlu menjadi alasan buat
> pemerintah untuk dijadikan pembenaran.  Lupakanlah
> kasus-kasus korupsi yang merenggut bangsa ini,
> lupakan yang lain-lainnya, cukup dengan berupaya
> mengembalikan dana BLBI yang ratusan triliun itu
> maka pemerintah btidak perlu lagi menaikkan harga
> minyak selama 10 tahun! Dan selama 10 tahun paling
> kita bisa membuat masyarakat kita lebih tenang dan
> bisa tertidur pulas serta dapat melanjutkan hidup
> tanpa ada kekhawatiran besok harga akan naik dan
> kemudia mereka berspekulasi membeli dalam jumlah
> banyak, atau menimbun barang!
> Tapi apapun kejadiannya, mungkin ini adalah resiko
> yang akan menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini,
> dan sebagai bangsa yang baik, kita harus tetap
> mendukung pemerintah ini dengan terus berpacu
> memberikan kontribusi bagi bangsa yang begitu kita
> cintai ini.  Saya sungguh sangat yakin, generasi
> nanti akan lebih mampu menjawab berbagai tantangan
> dimasa nanti, mengelola sumberdaya alam, sumberdaya
> manusia dan sumberdaya teknologi, menciptakan
> lapangan kerja, menghapus kemiskinan dan memakmurkan
> bangsa ini menjadi bangsa yang gemah ripah lo
> jinawi!
> Amin, Jazakumullah. ..
>  
>  
> 
> 
>      
>
____________________________________________________________________________________
> Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
> http://www.yahoo.com/r/hs


===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke