Catatan Bantimurung :
   
   
   
  DI BALIK AIR TERJUN BANTIMURUNG
   
   
   
  Memandang air terjun Bantimurung aku jadi teringat akan Kahar Muzakar. Ia 
adalah sahabat seperjuangan Tjilik Riwut,  pamanku sama-sama di Lasykar Anak 
Seberang waktu perjuangan melawan kolonialisme Belanda, selama di Yogyakarta. 
Sebagai anggota Lasykar Anak Seberang ini jugalah Tjilik Riwut atas perintah 
Presiden Soekarno, Jendral Soedirman dan Suryadarma, memimpin pasukan payung 
pertama AURI untuk didrop di Kalimantan dengan tugas mengibarkan merah putih di 
pulau raya ini. Anggota-anggotanya terdiri dari berbagai etnik [Dituturkan 
ulang oleh puteri Tjilik Riwut, Nila Suseno Riwut,  berdasarkan dokumen-dokumen 
ayahnya yang tersimpan]. 
   
   
  Mengapa kenanganku mencapai Kahar Muzakar ketika melihat air terjun 
Bantimurung? Yang sampai ke telingaku ketika masih kanak di Katingan, dan 
Tjilik Riwut masih menjadi Bupati Kotawaringin Timur berkedudukan di Sampit, 
diceritakan bahwa Kahar membangun tempat persembunyiannya dalam memimpin 
pemberontakan terhadap Jakarta, di balik airterjun begini. Entah benar atau 
tidak, sulit kudapatkan bukti-buktinya. Tapi sebagai seorang militer yang 
menggadaikan nyawa dalam perjuangan memerdekakan Indonesia dan mendirikan 
Republik,  walau pun tidak berpendidikan Akademi Militer seperti Breda atau 
West Point,  pengalaman, kukira, membuat Kahar sangat mengerti bagaimana 
melindungi diri,  dan tidak gampang dideteksi dan disasar lawan. Tahu memilih 
medan membangun bastion dan daerah operasi. Kahar kecewa terhadap kebijakan 
pemerintah Republik Indonesia[RI], terutama kebijakan Hatta yang memasukkan 
orang-orang KNIL ke dalam TNI.KNIL yang justru merupakan alat kolonial menindas 
perjuangan
 memerdekaan Indonesia dan mendirikan RI dengan dalih profesionalisme. Kahar 
hanyalah anggota lasykar tapi dengan mempertaruhkan nyawa menegakkan dan 
membela RI. 
   
   
  Kekewaan besar inilah yang membuatnya masuk hutan melakukan perlawanan 
terhadap RI dan memproklamirkan Negara Islam Indonesia [NII]. Aku masih ragu, 
apakah pencantuman "Islam" pada NII, memang merupakan suatu kesadaran pada 
Kahar ataukah suatu taktik? Yang jelas dengan peneraan kata Indonesia, aku 
melihat kecintaan dan kesadaran Kahar pada dan terhadap Indonesia masih sangat 
kental. Pemberontakan Kahar, hanya memperlihatkan padaku bahwa sumber masalah 
dan konflik di daerah sesungguhnya terdapat di Jakarta, bukan di daerah. Apa 
yang terjadi di daerah hanyalah jawaban daerah terhadap politik dan 
kebijakanJakarta yang menabur ketidakadilan di daerah. Yang "menabur angin akan 
menuai badai", ujar ungkapan Tiongkok Kuno."Menepuk air di dulang, tepercik ke 
muka sendiri", ujar tetua kita.
   
   
  Dari sumber yang dekat, kudengar bahwa Kahar pernah mengirim utusan untuk 
menemui Tjilik Riwut di Kalteng melancarkan pemberontakan juga, sekaligus 
bersolider pada perlawanannya. Tjilik Riwut menolak dan Kahar marah serta 
kecewa, lalu mengirim pasukan menyerang Pagatan, sebuah kota  kecil terletak di 
muara Sungai Katingan. Dalam serangan dari laut ini, dua orang polisi Pagatan 
meninggal.
   
   
  Penolakan Tjilik Riwut, dan juga pemberontakan Kahar, jika kurenungi, 
kedua-duanya bertolak dari kecintaan pada Republik dan Indonesia. Penolakan dan 
pemberontakan adalah cara berbeda mencapai tujuan: terujudnya nilai-nilai 
republiken dan keindonesiaan di wilayah negra RI -- pilihan nama yang bukan 
kebetulan, tanpa arti. 
   
   
  Soekarno yang nampaknya memahami kemarahan Kahar mencoba mencari jalan 
keluar. Untuk itu dikirimkanlah seorang perempuan pejuang yang juga pernah 
aktif dalam perang gerilya menghalau Belanda, asal Sulawesi Selatan, kebetulan 
anggota PKI, untuk menjumpai Kahar di hutan.Keduanya saling kenal baik sejak 
masa perlawanan. Berhasil. 
   
   
  Aku mengetahui cerita ini dari Clara , puteri perempuan ini, waktu kami 
berjumpa di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok. Selanjutnya, aku tidak atau 
belum tahu tenang hasil pertemuan dua sahabat lama ini. Hanya tak lama setelah 
itu, media massa menyiarkan bahwa Kahar tertembak mati dalam suatu operasi 
militer. Hanya saja,  ketika aku bekerja di Palangka Raya, kudengar bahwa 
sebenarnya Kahar tidak meninggal. Ia masih hidup. Kematian adalah cara kompromi 
dan saling menyelamatkan muka untuk menyelesaikan sengketa. Kukira, anak Kahar 
yang masih hidup sampai sekarang, mungkin di Jawa, seperti yang kudengar di 
Jakarta, akan bisa bercerita tentang keadaan sesungguhnya. Hanya aku memahami  
bahwa berita sebenarnya Kahar tidak terbunuh dan bahkan pada waktu itu masih 
hidup, membuat Kahar menjadi legendaris. Kalau benar, Kahar waktu itu tidak 
terbunuh, maka ia menjadi martir imajiner, dan martir menjadi martir karena 
nilai yang dibelanya dan dipegangnya sebagai panji saat melakukan
 pemberontakan. Nilai keadilan inilah yang tidak mati dan martir menjadi suatu 
kekuatan tak terbunuh. Sebagaimana halnya dengan Soekarno setelah jadi martir 
menyusul naik panggungnya Orba. Adanya legenda dan kekuatan ajaib para martir, 
memperlihatkan kekuatan cerita atau narasi. Karena itu martir legendaris yang 
nyata sering berbaur dengan legenda, dan legenda menjadi sesuatu yang 
membayangi kekuasaan. Ketika segalanya terbungkamkan legenda berhembus ke 
segala penjuru bagai angin berbisik ke telinga penduduk yang diam di kesenyapan 
penindasan yang menegangkan penuh ancaman. Pada saat demikian, legenda 
menyerukan kebangkitan sadar, martir legendaris membuntuti kekuasaan bagai 
bayang-bayang.  Lalu untuk sia-sia menghadapi legenda yang bercampur dengan 
kenyataan  dan martir yang seakan masih hidup,  pihak kekuasaan , terutama 
kekuasaan politik menghitamkan sejarah atau memutihkan halaman-halaman sejarah. 
Penghitaman dan pemutihan sejarah Indonesia, kukira tidak luput dari soal
 ketidakadilan dan ketakutan pada keadilan serta kenyataan sesungguhnya. 
Pembakaran buku-buku sejarah yang terjadi di negeri kita pun , kukira tidak 
lepas dari rasa ketakutan pihak-pihak tertentu yang menghantuinya tanpa henti. 
Kesalahan, apalagi kejahatan berdarah akan selalu menghantui nurani para 
pelakunya. Kekerasan dan pelarangan, juga pembakaran buku-buku  sejarah, 
termasuk ujud dari ketakutan yang kurang lebih mendekati ciri Rambo sebagai 
usah masturbasi mental Amerika Serikat untuk  keluar dari Sindrom Vietnam, di 
mana mereka kalah perang secara memalukan. Kekalahan yang menunjukkan bahwa 
kecanggihan senjata dan kekerasan tidak memecahkan masalah.
   
   
  Ketika Rara, anak perempuanku yang masih bocah balita, berbaring di 
sampingku, sebagai pengantar tidurnya, kuceritakan dengan sesederhana mungkin 
kisah air terjun Bantilurung dan apa yang terdapat  di balik air terjun itu. 
Imajinasi dan kenyataan kucampurbaurkan.  Kukisahkan juga tentang  Kahar dan 
nilai yang ia coba bela. Aku juga menautkan ceritaku pada bocahku yang erat 
memelukku  tanda ia akan segera terlelap, kisah Karaeng Galesong, tokoh 
semangat kemerdekaan menolak penjajahan dan perbudakan manusia yang 
melegendaris, tapi dilupakan, apalagi di negeri-negeri paternalistik dan 
nilai-nilai merancu. Adanya legenda yang muncul dari kenyataan, tokoh 
legendaris hanya memperlihatkan keadilan, kebenaran, kemanusiaan tidak pernah 
mati walau pun daripadanya tragedi demi tragedi tak terbilang lahir. Tragedi 
ini pun, kukira petunjuk, bahwa manusia tak henti berusaha menjadi manusia. Di 
legenda dan martir legendaris tersimpan harapan yang tak terujud. 
   
   
  Menjelang akhir narasiku, Rara sudah nampak lelap.  Dengan hati-hati aku 
berdiri dan menyelimutinya. Aku percaya, kisah-kisahku akan ia jinjing 
sepanjang sejauh jalannya kelak menuju esok yang jauh kendati "sayup dan sepi", 
tanpa wajah yang jelas seperti wajah pantai bagi pinisi di tengah laut. Hidup 
dan diriku sendiri,  secara hakiki, apakah jauh berbeda dari pelayaran pinisi?  
Di depan pertanyaan ini, sambil  mendengar  deru air terjun Bantimurung dan 
segala kisah di baliknya,  aku teringat baris-baris Chairil Anwar: 
   
   
  "cintaku jauh di pulau
  di leher kukalungkan oleh-oleh bagi si pacar"  
   
   
  Oleh-oleh ini adalah kasihsayang yang selalu meminta taruhan. 
   
   
  Rara, anakku, aku mencintaimu, apa pun taruhannya betapa pun aku "ternyata 
hanya seorang pengembara" seperti ujar Ramadhan KH almarhum, yang hanya 
mewariskan mimpi berujud kata. Itupun sering tak nampak seperti yang ada di 
balik air terjun Bantimurung. 
   
   
  Di mana pun selalu kudengar begitu terbangun, Rara berseru : "Papah!"  
Apalagi jika ia tahu aku  tak ada di sisinya dan senantiasa kujawab:"Hei, 
Manis, jangan menangis. Gagah dan mandiri, dong!" . Kulihat wajahnya tersenyum 
menjawab harapanku. Mudah-mudahan senyum Rara adalah senyum dari suatu generasi 
yang bersih dari virus Orba.****
   
   
   
  Paris, Akhir Musim Dingin 2008
  ------------------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.

       
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke