بِسْمِ 
اللهِ 
الرَّحْمَنِ 
الرَّحِيْمِ
     Enigma  Cerpen ROHYATI SOFJAN   
   
              /Tanah harapan seusai zuhur menanti asar, Jumat, 11 November 
2005. Seorang perempuan duduk di kebun sendirian dalam naungan pohon-pohon 
pisang dengan  hamparan tikar koran dan makanan sisa lebaran. Ia menganggapnya 
semacam piknik yang unik.
   
            K
        
  amu akan mengatakan aku pecundang? Aku berpikir mestinya sejak Mei lalu 
memutuskan pindah ke sini, sekeluar dari toko listrik dan komponen elektronik 
yang tiga tahun kulakoni sebagai buruh kecil. Namun sesuatu yang bernama 
optimisme yang bodoh menahanku untuk tetap tinggal di kota kita, Bandung; dan 
pada akhirnya aku harus terpuruk di kota ini, Limbangan, Garut, tempat yang 
statis dan tak cocok bagi jiwa dinamis pencinta mobilitas.
  Aku tak punya uang, simpananku di bank sudah terkuras cukup besar dan saldo 
tabunganku cuma menyisakan batas minimum agar rekeningku tetap ada. Uangku 
habis untuk hal-hal dungu. Termasuk beberapa gaji terakhir untuk memperpanjang 
sewa rumah kontrakan. Sempat terselamatkan honor tulisan, namun itu pun habis 
untuk segala aktivitas kelangsungan hidup. Betapa menyebalkan.
  Kini aku terjebak di sini. Kamu tetap di sana dan barangkali bertanya aku 
sedang apa atau malah berdoa agar baik-baik saja. Aku tahu kamu akan 
mendoakanku ketimbang tertawa. Sesuatu di antara kita mencegahmu mengecam 
tindakanku, hal yang paling bodoh sekalipun, seolah kamu yakin aku akan bisa 
belajar dan menjadikannya sebagai pedoman bagi masa depan. Namun kamu juga tak 
tinggal diam untuk mengingatkan.
  Apa karena itu aku tambah mncintaimu dengan kadar rasa hormat yang 
semestinya. Ah, kamu tawadu, menolak pujian terdalam yang tulus kusampaikan 
sebab kamu takut akan jatuh dalam jurang kesombongan. Sesuatu yang sebelumnya 
tak pernah kuperkirakan. Darimu aku bisa belajar akan makna teladan.
  Semakin mengenalmu, selama 5 tahun ini, semakin kerdil rasanya aku bagimu. 
Kematangan yang kamu miliki tak pernah kuperoleh dari lelaki lain, termasuk 
lelaki yang sedang atau pernah dekat denganku. Dan aku memilikimu dengan cara 
tersendiri. Cara ganjil yang kadang tak kupahami.
  Namun apakah kamu mengecapku sebagai pecundang karena aku ceroboh menata 
rencana masa depan?
  Aku selalu terbuka padamu, semacam transparansi pribadi dalam menjalin relasi 
antarinsan berlandaskan persahabatan dan kepercayaan. Jujur bercerita apa saja, 
termasuk masalah pribadi, pekerjaan, finansial; selain diskusi tentang bahasa 
dan sastra. Sebab bagiku kamu sahabat sekaligus guru tempat bertanya dan 
mengadu. Akan tetapi, layakkah aku berbagi kisah ini? Kisah seorang perempuan 
yang selalu gamang pada banyak hal, termasuk menentukan tempat tinggal.
  Kini aku tinggal di sudut kampung suatu punggung gunung, sekira tiga 
kilometer dari jalan raya utama kota kecamatan. Sinyal telefon bisa masuk, 
termasuk telefon selular -- benda yang masih ragu untuk kumiliki demi menjaga 
privasi. Namun di kota kecamatan tak ada warnet atau toko buku. Itu dua hal 
yang menyedihkan bagiku, tak bisa berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk 
denganmu. Aku cukup kesepian, entah apakah kamu kehilangan. Ongkos transportasi 
kian mahal.
  Namun kamu tahu, aku selalu sombong, berusaha keras menjadikan hal negatif 
sebagai energi positif, setidaknya dari segi perspektif. Masih ada hal baik, 
setidaknya kamu akan bilang, jika tahu aku punya tanah untuk rumah masa depan. 
Di lokasi agak terpencil dari rumah tetangga namun memiliki sudut panorama yang 
menakjubkan: arah utara menghadap bentangan pegunungan dan lembah-lembah dan 
hamparan sawah dan langit luas. Bukankah kita mencintai alam? Terutama kamu 
“bukan sekadar Tarzan hutan”, seperti yang pernah kubaca dalam tulisanmu di 
sebuah situs pencinta alam. Dan sempat tersenyum heran kala kamu juga 
“nongkrong” dalam ruang komentar di situs pemerintah tentang kotaku: 
www.garut.go.id.
  Aku memiliki harapan, pijar yang semoga tak padam, setidaknya ada kamu yang 
melihat dari kejauhan dengan tatapan menguatkan. Namun diam-diam aku takut 
gagal dan kamu mengecamku pecundang. Aku mencintai kota ini juga kota kita, 
namun itu tidak cukup membuahkan keyakinan bahwa aku akan bisa membangun rumah 
impian dalam waktu sekejap dengan hasil jerih payahku sendiri. Bisa saja aku 
menyerah, kawin dengan sembarang lelaki yang disodorkan ibuku, lelaki yang tak 
paham duniaku, apalagi dunia menulis yang kita geluti. Lalu belajar melupakan 
segala mimpi, termasuk pernah mengenalmu, kemudian menjalani kehidupan tak 
terencanakan yang jauh tak terpahamkan karena tercerabut dari akar. Semoga 
tidak demikian, sebab perempuan sepertiku termasuk sulit dapat jodoh karena 
invalid dari segi pendengaran dan terbiasa dengan penolakan dari orang-orang 
yang mengaku dirinya “normal”.
  /Perempuan itu diam. Matanya menembus bentangan pegunungan arah utara dengan 
tatapan sendu. Sinar matahari masih garang menyiram siang, namun angin yang 
berembus cukup kencang di sela pepohonan berusaha mengusir gundah dan gerah. 
Beberapa burung sesekali berhamburan. Tak ada elang berputar-putar di angkasa 
seperti yang sering dilihatnya kemarin.
  Tanahku ini, atau tanah ibuku dari hasil warisan, cuma sebelas tombak. Tak 
terlalu luas untuk standar kehidupan pedesaan. Aku tak bisa membangun kolam 
ikan semacam balong atau empang luas, tempat di mana suatu saat mungkin kamu 
bisa mampir beserta keluarga dan kawan-kawan, untuk memancing sambil menafakuri 
alam. Memenuhi rongga paru-parumu yang digeber asap nikotin rokok kesukaanmu, 
plus polusi udara kota kita, dengan udara segar pegunungan.
  Barangkali akan kugunakan separuh dari tanah ini untuk membangun rumah 
panggung tropis sederhana khas bumi Pasundan bertingkat tiga. Tingkat paling 
atas semacam ruang kerja dan perpustakaan pribadi; tingkat dua untuk beberapa 
kamar; tingkat satu untuk ruang tamu, ruang makan, dapur, gudang, sumur, dan 
kamar mandi.
  Sengaja kukugunakan tanah separuh saja agar bisa menyisakan pekarangan cukup 
luas untuk menjemur padi, kayu bakar, sampai makanan macam rangginang. Bahkan 
masih ada kandang untuk bebek dan ayam. Juga kolam teratai kecil dengan sedikit 
ikan mas atau mujair di antara kebun apotek hidup agar aku tak kelimpungan 
mencari bumbu dapur di warung, dan beberapa pohon buah-buahan. Oktober kemarin 
telah kutanam beberapa biji buah mangga dan limus karena tak sanggup beli bibit 
unggulnya. Semoga dalam jangka 6-8 tahun aku bisa jadi “juragan” buah-buahan. 
Sudah ada pohon petai, nangka, pisang, rambutan, dan entah apa lagi. Masih 
ingin kutanam pohon jeruk garut dan buah-buahan lainnya, kelak.
  /Perempuan itu tersenyum. Lalu senyumnya kembali hilang dibilas muram. 
  Itu mimpiku, ironisnya aku tak punya uang. Berbagai upayaku untuk 
memperjuangkan tulisan sebagai sumber penghasilan masih gagal, dan ibuku 
marah-marah hingga kami kerap bertengkar. Kalau sudah demikian, aku menyesal 
mengapa tidak dari dulu berpikir akan kembali ke kota ini, mengumpulkan bekal 
sebanyak-banyaknya demi rumah impian sebelum meninggalkan pekerjaan yang 
menyesakkan dan mempersetankan sekian orang yang berebut peran. Namun kamu 
tahu, kakiku terikat di kota kita dan aku sedang sibuk dengan proyek calon 
qowwam, juga perkawanan. Kupikir aku akan menikah dengan seorang lelaki yang 
pernah mengajakku taaruf pada malam milad ke-29-ku. Lelaki yang tak sekota 
dengan kita namun sama-sama mencintai dunia menulis, juga cukup apik dalam 
berbahasa. Lalu mengepakkan sayap meninggalkan kota kita, kota ini, termasuk 
ibuku. Namun semua berantakan dan menyisakan kepingan luka yang tak semestinya. 
Barangkali ia tak sungguh-sungguh menginginkanku. Barangkali keraguanmu ada 
benarnya
 juga. Ia “pacar” kedua (dan pertama secara maya), sesudah pacar pertamaku 
secara nyata nun 1 SMU dulu yang cuma jalan 4 bulan saja karena kami terlalu 
muda untuk tahu dan paham makna pacaran. Dan aku tak meyakini dunia maya lagi. 
Apalagi pacaran!
  /Perempuan itu mengembuskan napas. Berat.
   Entah kutukan atau apa, aku harus meninggalkan kota kita dan kembali pada 
kota ini setelah tiga tahun tak pulang, termasuk kembali memperuncing 
pertengkaran dengan ibuku soal jodoh dan uang. Barangkali kamu akan 
menasihatiku agar bersabar, mengambil perumpamaan lain untuk menguatkan. Namun 
aku malu karena ternyata pecundang.
  Hidup memang penuh pasang surut, terkadang enigmatik; sebagaimana kerut di 
wajah kita yang melukis jejak usia. Apakah kamu merasa kian menua? Ibuku sudah 
tua, sekira 57 tahun. Abangku cuma satu dan selisih usianya 7 tahun dariku 
sudah berkeluarga. Aku anak perempuan satu-satunya. Usiaku baru kepala tiga dan 
kamu jelang kepala empat. Betapa ironisnya kehidupan. Kulihat anak-anak tumbuh 
besar, dan orang dewasa yang kukenal mulai beruban. Apakah rambutmu pun 
beruban? Sepuluh tahun mendatang aku takut akan tetap melajang dan tak utuh 
sebagai perempuan. Lalu ibuku menghabiskan sisa hidupnya dengan pertengkaran 
dan penyesalan. Lalu kamu menganggapku murid yang gagal, setidaknya dalam 
urusan percintaan. Itu jika aku masih bertahan dalam dunia menulis sebagai mata 
pencaharian. Namun apakah kelak aku akan sebijak dan sematang kamu?
  Aku mencintai kota ini, termasuk kota kita juga. Kalau boleh memilih, aku 
ingin tetap berada di kota yang kamu tapaki. Mengapa aku harus sentimental? 
Kota cuma ruang untuk kita jelajahi. Namun kota lebih dari sekadar tempat 
tinggal. Terus terang aku hanya takut kehilangan peran yang pernah kita lakoni. 
Bagiku kamu guru terbaik yang pernah kukenal, dan aku belum menemu seorang guru 
ke-4 sebagai takdir bagi rahimku sekaligus qowwam.
  /Pendar-pendar cahaya matahari perlahan memudar. Hari telah asar. Perempuan 
itu merasa alur hidupnya masih jauh dari harapan. Namun ia ingin tegar.***
   
 
  Rekaman Proses Kreatif:
   
  Rohyati Sofjan lahir dan besar di Bandung, 3 November 1975. Setamat SD sempat 
vakum sekolah selama 3 tahun dan mengisinya dengan membaca apa saja. Belajar 
mengenal dunia menulis sejak kelas 1 MTs. YPI Ciwangi, Limbangan. Ikut aktif 
mengisi mading sekolah kala kelas 2 SMP Muhammadiyah 8 Antapani, Bandung. Gemar 
berkorespondensi dengan kawan-kawan semasa SMP-nya kala duduk di bangku SMU Al 
Fatah, Limbangan. Mulai terjun dalam kancah kepenulisan yang sesungguhnya sejak 
Mei 1999.
  Beberapa karyanya berupa esai, cerpen, puisi, sampai-surat-surat panjang 
berisikan hal-ihwal kehidupan plus pembahasan karya kawan-kawan; bertebaran di 
Pikiran Rakyat, Galamedia, Bandung Pos, Jendela Newsletter, Radio Cosmo 
Bandung, Annida, Republika, Cybersastra, PETA NEWS, Syir’ah, Jawa Pos, BEN! 
Media Luar Biasa, www.angsoduo.net, dan berbagai milis, sampai sekian alamat 
pos-el orang lain. Juga beberapa antologi puisi bersama yang memang cuma 
diikutinya 3 kali: Bandung dalam Puisi (Jendela Seni, 2001), Dian Sastro for 
President! End of Trilogy (AKY-INSISTPress), dan Roh (bukupop). Dua buku 
antologi puisi dan cerpen bersama terbarunya adalah Loktong dan Herbarium.
  Dalam berbagai lomba yang pernah diikutinya, cuma 3 kali saja ia menjadi 
pemenang, untuk juara III, yang diadakan Yayasan Jendela Seni Bandung. Lomba 
Menulis Puisi Spontan (Agustus 2001), Lomba Menulis Puisi tentang Bandung untuk 
HUT Kota ke-191 (September 2001), dan Lomba Menulis Surat kepada Walikota 
Bandung (Oktober 2002). 
  Pernah diundang sebagai narasumber untuk klub kepenulisan HARDIM pada 4 
September 2004, oleh guru jarak jauhnya, Pak Tendy K. Somantri, pewarta senior 
Pikiran Rakyat. Seorang insan tawadu yang sangat menginspirasi dan memberi 
energi positif bagi hidupnya dengan tanggung jawab dan keteladanan, di mana ia 
bisa menimba ilmu darinya, baik secara langsung maupun tak langsung.
  Bergabung dengan komunitas Mnemonic – Gank Mnuliz – yang suka mengadakan 
acara pertemuan dan diskusi 2 mingguan di Taman-taman Kota Bandung pada hari 
Minggu, untuk memfungsikan ruang publik terbuka sebagai arena seni dan budaya.
  Meminati linguistik bahasa Indonesia dan aktif belajar bersama dalam milis 
guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM).
  Mengagumi gaya kepenulisan A.A. Navis, Agatha Christie, Agus R. Sarjono, 
Albert Camus, Albert Wendt, Amy Tan, Anwar Holid, Cecep Syamsul Hari, D.J. 
Enright, Eiji Yoshikawa, F. Sionil Jose, Fatima Mernissi, Hamsad Rangkuti, 
Jhumpa Lahiri, Limas Sutanto, Linda Christanty, Mochtar Lubis, Nick M. Joaquin, 
Octavio Paz, Pablo Neruda, Paz M. Latorena, Ryana Mustamin, Sakti Wibowo, Seno 
Gumira Ajidarma, Simone de Beauvoir, sampai Slamet Soeseno; sebagai insan-insan 
yang pernah memberi sapuan warna dalam pencarian gaya menulisnya.
  Kini sedang berusaha melakukan riset panjang untuk proyek menulis novelnya 
yang masih dalam konsep kasar. Panggil Aku Gurun (teenlit) dan Seberapa dalam 
Lukamu (sastra pop). Keduanya berlatarkan tahun 1994 sampai seterusnya. Yang 
kedua merupakan percampuran autobiografinya sebagai fiksi campur fakta, 
terinspirasi dari Bilah III cerbung “How Deep is Your Love” Sakti Wibowo 
(Annida, No. 20/XIV/1-5 Agustus 2005). Berisikan soul searching perjalanan 4 
jiwa (Ariana, Renata, Antonio, dan Kevin) dalam meniti kehidupan untuk mengenal 
konsep Tuhan yang seharusnya. Berkesan muram. Masing-masing tokoh merupakan 
protagonis sekaligus antagonis bagi satu sama lain. Mengambil latar beberapa 
tempat di Indonesia, Amerika, Inggris, Prancis, Spanyol, sampai Filipina.
  Mantan karyawati toko listrik dan komponen elektronik di Bandung ini sekarang 
bermukim di sudut kampung suatu punggung gunung, belajar bertani (sebagai 
petani amatiran), beternak bebek dan mengamati alam. 
 
   
   
   
   
  
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke