Quote:
"..
Saya ingin mengajari bangsa ini. Yang terjadi sekarang, orang yang berbohong

malah yang bisa diterima. Banyak orang terpaksa berbohong hanya karena ingin

disukai. Ketika omong apa adanya, justru dibenci.
.."

Mudah"an di negara kita makin banyak orang yang mau berkata jujur dan tidak
berbohong.. Semoga..

Amien...

Wassalam,

Irwan.K
**
http://www.gatra.com/artikel.php?id=113011
Siti Fadilah Supari:
*Kita Dijajah Karena Suka Menghalus-haluskan*

[image: Siti Fadillah Supari (GATRA/Edward Luhukay)]Ucapannya selalu
blak-blakan. Soal flu burung, misalnya, tanpa sungkan-sungkan ia menuding,
sejumlah negara telah memanfaatkan virus yang disimpan di Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) untuk dijadikan vaksin. Bahkan tak tertutup
kemungkinan dikembangkan menjadi senjata biologis.

Dia yang biasa bicara terus terang itu adalah Siti Fadilah Supari, Menteri
Kesehatan (Menkes) RI. Wanita kelahiran Solo, Jawa Tengah, 59 tahun lalu,
ini merasa yakin dengan apa yang dia sampaikan, meski hal itu mengundang
kontroversi. Entah itu soal Askeskin, flu burung, maupun susu formula.

"Saya hanya ingin bersikap jujur, tidak bohong," katanya kepada wartawan *
Gatra* Syamsul Hidayat dan Aries Kelana, serta pewarta foto Tresna Nurani S.
Widada dan Yongki Handianto, ketika dua kali bertandang ke rumah dinas Siti
Fadilah di Kuningan, Jakarta Selatan. Petikannya:

*Susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii menjadi
ramai dibicarakan setelah ada pernyataan Anda.*
Isu itu pertama ada pada Badan POM. Saya mendapat laporan, ada penelitian
bahwa ada bakteri di dalam susu. Itu membuat keresahan. Memang sengaja
dibuat resah oleh seseorang. Saya tahu persis siapa orangnya, karena
sebelumnya dia mengancam lewat SMS: "Saya akan mem-*blow up *soal ini." Saya
tahu isu itu sengaja dibuat karena menggunakan data penelitian tahun 2006.

*Siapa orang itu? *
Tidak mungkin saya sebutkan. Yang jelas dari dalam negeri, tapi yang tidak
suka pada pemerintah.

*Apa alasan Anda sampai berkesimpulan bahwa itu rekayasa?*
Saya ini kan peneliti. Dokter jantung yang peneliti. Jadi, kalau mencermati
penelitian, itu bisa sangat cepat. Dari kesan saja, menurut saya sebagai
peneliti --bukan sebagai Menkes-- itu tidak pas. Sebab 22 sampel itu tidak
cukup representatif untuk menggambarkan persentase tercemarnya susu di
masyarakat.

Kata Badan POM, penelitian itu sebenarnya untuk membuat suatu *kit* yang
dapat mendeteksi bakteri tersebut. Namun pihak yang mem-*blow up* sengaja
membuat kesan bahwa itu untuk menunjukkan persentase pencemaran susu yang
beredar. Masyarakat jadi panik. Mereka mengira, 20% susu yang beredar
mengandung bakteri tidak menguntungkan.

*Dari kasus itu, kelihatan Anda sering mengeluarkan pernyataan yang
terlampau berani.*
Semua orang bilang, saya terlalu berani.

*Ada** yang menuding Anda sok pahlawan?*
Kalau nasionalis, iya. Saya adalah musuh di mata orang kapitalis. Saya
adalah *coro** *(kecoak) di mata kolonialis. Tapi mungkin di mata
nasionalis, saya adalah teman, bukan pahlawan.

*Jarang ada menteri seberani Anda. Adakah yang membekingi Anda?*
*Nggak, *tuh. Aku cuma takut sama Allah. Aku anaknya kiai. Sedari kecil,
kalau aku ketahuan bohong, dihukum. Kalau aku bohong, suatu saat pasti orang
akan tahu. Aku tidak mau seperti itu.

*Keberanian Anda berkomentar menimbulkan kesan, seperti yang disebut-sebut
media asing, bahwa Anda seperti preman.*
Saya ingin mengajari bangsa ini. Yang terjadi sekarang, orang yang berbohong
malah yang bisa diterima. Banyak orang terpaksa berbohong hanya karena ingin
disukai. Ketika omong apa adanya, justru dibenci. Tapi saya tidak begitu.
Biarlah mereka tidak senang terhadap saya, yang penting saya jujur
*ngomong*apa adanya.

*Tapi, dalam soal kehati-hatian?*
Perkara itu dianggap tidak hati-hati atau tidak, tergantung hati saya. Tapi
saya sudah hati-hati. Saya bilang bahwa penelitian itu memang tidak untuk
itu.

*Dalam buku Anda, Amerika Serikat dan Australia disebut-sebut sebagai negara
yang mencuri virus flu burung asal Indonesia. Apakah ini bukan cermin
ketidakhati-hatian?*
*Nggak*. Itu memang yang terjadi. Pada waktu saya di-*blow up* Australia,
(ditanya) apakah Anda mengatakan bahwa Australia mencuri virus Anda. Itu
pada awal tahun 2007. Saya jawab, "*Something like that*." CSL, perusahaan
swasta Australia yang membuat virus *strain* Indonesia, pasti mencuri dari
saya. Tapi saya tidak tahu dia mencuri dari mana. Paling itu dari WHO,
sehingga saya mengatakan *something like that*. Kalau saya dikatakan
menuduh, ya!

*Sebagai menteri, Anda perlu menjaga kebijakan hubungan luar negeri dengan
negara lain.*
*Nggak* apa-apa *to*. Nyatanya menang. Sebenarnya posisi saya di situ bukan
cuma sebagai Menkes, tapi sebagai *leader* dari negara berkembang yang
selama ini dijajah terus. Kita sebenarnya dijajah karena suka
menghalus-haluskan. Misalnya, utang dibilang bantuan. Orang miskin dibilang
prasejahtera. Defisit anggaran dibilang anggaran berimbang.

*Dalam buku itu, Anda menuduh Amerika. Apakah ada bukti bahwa Amerika
membuat vaksin dan virusnya akan dipakai untuk senjata biologis?*
Bukti langsung sih tidak. Secara eksplisit, itu tidak ada. Sebenarnya sudah
menjadi rahasia umum. Ada bukti secara tidak langsung menuju ke arah sana.
Kita punya pengalaman soal cacar.

*Bagaimana latar belakang WHO meminta Indonesia mengirimkan virus? *
Virus itu diminta untuk diagnosis, untuk mengetahui, misalnya, bahwa
ternyata virus itu masih bersifat hewan ke manusia, bukan manusia ke
manusia. Itu buat diriset dan dipublikasikan barangkali. Tapi bukan untuk
dibuat jadi vaksin. Dia (WHO) tidak pernah *ngomong* selama 60 tahun ini
bahwa itu dipakai untuk membuat vaksin dari virus orang-orang dari negara
berkembang.

*Apa kekhawatiran Anda?*
Yang membuat vaksin itu adalah pabrik-pabrik di negara kaya. Kalau di negara
miskin ada yang sakit, negara kaya malah panen virus dan membuat vaksin. Ya,
lama-lama ingin memanen terus. Perdagangan vaksin itu mencapai ratusan
milyar dolar. Yang miskin sakit terus, yang kaya makin kaya. Pada 26
Desember 2006, saya menyetop pengiriman virus flu burung karena mereka tidak
*fair*.

*Lantas, bagaimana mekanisme seharusnya?*
Adil. Artinya, yang mengirim virus punya hak atas virus, kendati virus itu
sudah direkayasa menjadi *seed virus*. *Seed virus* adalah virus yang telah
dipisahkan atau dimurnikan. Juga virus yang bisa diubah-ubah, apakah mau
dilemahkan, diganaskan, atau diubah sifatnya.

*Maksud Anda, yang adil bagaimana?*
Kalau mengirim virus, saya punya hak berapa atas *seed virus*. Saya punya
hak berapa kalau dibuat vaksin. Lalu transparan, *seed virus* itu akan
dikemakan.

*Manfaatnya apa?*
Kalau terjadi pandemi atau kejadian luar biasa di negara miskin, negara
miskin tidak makin miskin karena membeli vaksin. Negara itu akan mendapat
bagian keuntungan dari vaksin.

*Upaya apa yang Anda lakukan untuk itu?*
WHO mengakui bahwa mekanisme selama ini tidak adil dan tidak transparan.
Mereka harus membuat sistem yang adil dan transparan. WHO juga harus membuat
tim kerja kecil yang melibatkan Indonesia untuk membuat mekanisme itu.
Sekarang dalam proses. Satu lagi dengan *material transfer agreement* (MTA).
Menurut MTA, kalau virus itu keluar dari negara ini dan dipakai, yang
memakai harus mengajukan izin kepada negara yang mengirimkan.

*Mengapa setelah setahun, Indonesia mengirimkan lagi virusnya?*
Karena sudah ada *deal* dengan WHO dan Amerika Serikat. Saya menunggu
kejujuran mereka. Kalau ternyata mereka melanggar, kami tidak akan
mengirimkan lagi virusnya.

*Langkah lain Anda?*
Laboratorium yang ada di sini akan dibesarkan. Kami berani begitu karena
menang. Kami akan membuat laboratorium flu burung. Ada dua laboratorium,
salah satunya di Lembaga Eijkman.

*Bagaimana soal Askeskin?*
Saya buat mekanisme baru. Kalau itu saya buat, dan saya kemudian untung,
orang boleh curiga. Tapi mekanisme itu tak menguntungkan saya. Saya cuma
ingin menyelamatkan program Askes yang saya galakkan pada saat saya jadi
menteri baru tiga hari. Juga menyelamatkan uang negara agar betul-betul
untuk si miskin.

*Ada** apa dengan PT Askes?*
Selama ini, uang negara dititipkan ke Askes. Tapi terjadi mismanajemen yang
kebangetan dari Askes, sehingga terjadi penggelembungan Rp 1,17 trilyun.
Mulai kepesertaan hingga klaim tagihan rumah sakit. Saya sudah mengirim
laporan ke BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) sebelum
berkomentar. Jadi, saya tidak *ngawur*.

*Banyak persoalan yang Anda hadapi di masa mendatang. Salah satunya, pasar
bebas AFTA.*
Pemerintah memang membuka rumah sakit asing. Tadinya boleh 100% dimiliki
asing. Namun, setelah saya berdiskusi dengan Menteri Perdagangan Mari E.
Pangestu, akhirnya 65%: 35%. Demikian juga untuk perusahaan-perusahaan obat.
Kalau kita tidak bisa mengendalikan, itu berbahaya.

*Kenapa tidak melonggarkan aturan promosi untuk rumah sakit lokal?*
Rumah sakit asing pun tidak boleh berpromosi. Hanya saja, orang kita gampang
terpengaruh. Menganggap yang dari asing itu yang terbaik. Padahal, di
situlah kita akan kehilangan jati diri.

*Bagaimana pula dengan obat rakyat?*
Banyak yang salah tangkap. Dikiranya obat yang harus melalui resep dokter,
padahal itu obat OTC (obat bebas). Obat itu masih jalan. Obat itu bertujuan
agar obat-obatan generik dan generik bermerek turun harganya. Ternyata
benar. Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, baru bisa sekali ini
diturunkan. Selama ini, harga obat terus naik.

*Tapi, mengapa banyak obat yang hilang dari pasaran?*
Saya sekarang punya pegangan dua peraturan presiden (perpres). Yaitu Perpres
Nomor 94 dan 95 Tahun 2007. Di situ, orang di daerah bisa membeli langsung
ke pabrik. *Nggak* usah melalui distributor pun boleh. Dihalalkan. Tapi
dengan izin, dan yang menentukan itu Menkes. Menkes punya hak sesuatu bila
obat hilang di pasaran.

[*Laporan Khusus I*, *Gatra* Nomor 17 Beredar Kamis, 6 Maret 2008]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke