Oleh Andika Hadinata 

Jawa Pos edisi cetak dan online 12 Maret 2008 menampilkan foto Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Iran Ahmadinejad yang hendak bersalaman 
dengan raut wajah penuh kegembiraan. Ahmadinejad tampak sangat antusias. 

Mengapa? Sebab, kunjungan SBY kali ini tentu saja punya makna sangat mendalam, 
khususnya bagi Iran. Kedatangan SBY menunjukkan pepatah bahasa Inggris "That¢s 
what friends are for".

Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang sahabat. Terlebih Iran , sahabat 
bangsa Indonesia yang tengah prihatin, mengingat martabatnya di dunia 
internasional dicitrakan begitu buruk secara sepihak menyusul Resolusi Dewan 
Keamanan PBB yang menjatuhkan sanksi baru kepada Iran (3/3).

Resolusi 1803 kali ini merupakan resolusi ketiga DK PBB. Dua sebelumnya adalah 
Resolusi DK PBB 1747 (2007) dan Resolusi DK PBB 1737 (2006), yang telah meminta 
Iran pada awalnya untuk memverifikasi program nuklirnya dan kemudian berkembang 
menjadi menghentikan aktivitas pengayaan uranium. Kedua resolusi itu bertujuan 
menumbuhkan kepercayaan masyarakat dunia atas tujuan damai program nuklir Iran 
. 

Mengingat kedua resolusi tersebut dinilai DK PBB tidak dipatuhi, maka lahirlah 
Resolusi DK PBB 1803 (2008). Indonesia juga menyetujui sanksi tersebut sehingga 
pemerintah SBY dikecam banyak kalangan di tanah air. Bahkan untuk itu, DPR 
mengajukan interpelasi.

Resolusi DK PBB 1803 menetapkan tambahan sanksi berupa larangan perjalanan 
terhadap lima pejabat Iran, membekukan aset 13 perusahaan Iran dan 13 pejabat 
Iran di luar negeri, pelarangan penjualan barang-barang yang bisa berfungsi 
ganda (untuk tujuan damai dan tujuan militer) ke Iran, pemeriksaan kapal-kapal 
barang dari dan menuju Iran, memonitor aktivitas dua bank Iran, mendorong para 
pemerintah untuk menarik dukungan pendanaan terhadap perusahaan-perusaha an 
yang melakukan perdagangan dengan Iran (BBC 3/3).

Atas Resolusi DK PBB 1803, Indonesia sebagai salah satu anggota dari 15 anggota 
DK PBB memilih bersikap abstain. Indonesia menganggap Dewan Keamanan (DK) PBB 
belum mencatat dengan baik laporan yang disusun Badan Tenaga Atom Internasional 
(IAEA) yang mengakui adanya kemajuan penting kerja sama Iran dengan IAEA. 

Indonesia juga menyatakan masih belum yakin bahwa penerapan sanksi tambahan 
bagi Iran akan memberikan manfaat. Ini diungkapkan Wakil Tetap RI untuk PBB 
Marty Natalegawa (Antara 4/3).

Sikap abstain Indonesia banyak dipuji berbagai kalangan, khususnya di tanah 
air. Sikap abstain tersebut juga direspons hangat di Iran. Kali ini Indonesia 
sungguh telah menunjukkan apa makna sahabat sejati bagi Iran. Makna itu makin 
kuat dengan kunjungan Presiden SBY kali ini. 

***

Memang soal program nuklir Iran, jika dilihat dari tata dunia atau hubungan 
antarbangsa, menunjukkan betapa tidak adil atau timpang. Negara-negara maju 
seperti AS, Prancis, Italia, bahkan Israel boleh membuat program nuklir, tetapi 
mengapa negara yang dinilai sebagai negara berkembang seperti Iran tidak boleh? 
Ketidakadilan atau ketimpangan itulah yang justru mendorong Iran untuk 
meneruskan program nuklirnya demi tujuan damai. 

Sikap Iran, yang ditunjukkan Presiden Ahmadinejad, dinilai negara-negara maju 
sebagai sikap arogan atau melawan masyarakat dunia. Tetapi, penilaian itu tidak 
tepat karena dalam mengembangkan program nuklirnya, Iran masih rela atau 
mengizinkan untuk dipantau IAEA, badan yang memang punya kompetensi dalam 
mengurusi masalah nuklir di dunia.

Sejak lahirnya Resolusi DK PBB 1747 (2007), Iran selalu mencoba mematuhi 
ketentuan IAEA. Resolusi 1747 meminta Iran transparan dan bekerja sama dengan 
IAEA, menghentikan proses pengayaan uraniumnya dan menjadi pihak "Additional 
Protocol IAEAs" (ketentuan safeguard system Protokol Tambahan 1997). 

Laporan Direktur Jenderal IAEA 22 November 2007 menyatakan, Iran telah 
mengambil langkah-langkah sesuai dengan Resolusi DK PBB 1737 (2006) dan 1747 
(2007). Laporan Dirjen IAEA tanggal 22 Februari 2008 juga menyebutkan adanya 
transparansi dan kerja sama antara IAEA dan Iran.

***

Tapi, mengapa malah lahir resolusi baru DK PBB 1803 kalau Iran memang bisa 
bekerja sama dengan IAEA? Jelas ada ketidakpercayaan negara-negara maju yang 
mendominasi DK PBB. Jadi, inti persoalan nuklir Iran adalah tidak adanya trust 
negara-negara maju pada program nuklir Iran sehingga yang ada justru prasangka. 

Tidak heran, ketika merespons resolusi baru itu, Utusan Iran untuk PBB Ali 
Asghar Soltanieh menyebut resolusi tersebut "memiliki motivasi politik". 
Resolusi baru itu memang secara resmi diajukan oleh Prancis dan Inggris yang 
selama ini merasa sering "disakiti" oleh Ahmadinejad.

Apalagi, saking bernafsunya negara-negara maju dalam mengajukan resolusi, 
prosedur pengajuan resolusi pun dilanggar. Lazimnya, pembahasan isu nuklir Iran 
di DK PBB 2006 dan 2007 selalu didahului dan merujuk laporan Dirjen IAEA. Tapi, 
resolusi baru yang sudah dibahas sejak Februari itu tidak didahului laporan 
Dirjen IAEA. Jadi, seperti diungkapkan Menlu Hasan Wirajuda, resolusi baru 
tersebut terkesan amat politis sehingga Indonesia memilih abstain. 

Kita berharap sikap abstain pemerintah SBY yang memang rasional bukan hanya 
untuk menolak cara-cara tidak prosedural dalam penetapan sebuah resolusi DK 
PBB. Namun, lebih dari itu, RI harus lebih berpihak pada upaya atau langkah 
untuk membuat sebuah keseimbangan dalam tata baru yang lebih adil dan tidak 
berat sebelah. Kunjungan SBY ke Iran juga harus dimaknai dalam konteks ini. 


Andika Hadinata, rohaniwan dan analis politik internasional, tinggal di Roma, 
Italia
http://www.jawapos. com/index. php?act=detail_ c&id=330536
Jumat, 14 Mar 2008,

 
 
Satrio Arismunandar 
Producer "SISI LAIN" (tayang Senin-Jumat, pukul 13.30-14.00 WIB) - 
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
"Ungkapkanlah kebenaran itu, meskipun pahit" (Hadist Nabi)
 
 


      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke