http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/gerakan_ala_abas080321
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/gerakan_ala_abas080321>
Soal Pemekaran Aceh - Ada Apa di Balik Gerakan ALA-ABAS?
Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta, 21-03-2008
  Laporan Aboeprijadi Santoso tentang ALA-ABAS 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/ala_abas_pemekaran_aceh_20080321\
_44_1kHz.mp3>


Perdamaian Aceh memasuki tahap ketegangan baru. Sekitar 40an kepala desa
dari kawasan Aceh Tengah, Barat dan Selatan awal pekan ini menggelar
demo dan menemui DPR-RI di Senayan, Jakarta, untuk menuntut pembentukan
propinsi ALA-ABAS alias Aceh Leuser Antara, Aceh Barat dan Selatan.
Alasannya, tertinggal pembangunan, kesenjangan, dan arogansi kuasa dari
kalangan KPA, yaitu Komisi Peralihan Aceh yang menampung mantan
gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka GAM.

Di muka Komisi II DPR, 40an kepala desa pendukung ALA-ABAS itu mengancam
akan meletakkan jabatan dan melumpuhkan pemerintahan lokal, jika
tuntutan mereka tidak dipenuhi:

"Apabila tuntutan pemekaran ALA dan ABAS ini tidak direspons oleh
pemerintah maka kami selaku wakil kepala desa, wakil-wakil rakyat dari
Aceh pedalaman siap membuka atribut kepala desa, menyerahkan setempel
dan membekukan pemerintahan desa sampai tuntutan kita ini dipenuhi oleh
pemerintah. Apabila tuntutan pemekaran Provinsi ALA dan ABAS ini
ditolak, maka pemekaran cara Republik Indonesia ini akan terjadi seperti
apa yang telah terjadi di Timor Timur".


  [Aceh-ALA-ABAS-400.jpg]
Paranoia separatisme
Banyak di antara ke-47 kepala desa dan tokoh dari enam kabupaten itu
adalah pengusaha tani kopi keturunan Gayo dan transmigran Jawa, tapi
banyak juga yang mantan militer dan berdomisili di luar Aceh. Mereka
mengeluh ketertinggalan daerah mereka dalam pembangunan. 62 tahun
merdeka, aspal belum sampai ke desa desa desa, kata mereka. Mereka juga
menuduh mantan gerilyawan GAM dalam Komisi Peralihan Aceh KPA menjadi
"pemerintah bayangan". Ada pula kecemburuan karena banyak mantan GAM
menguasai bisnis yang diperoleh tanpa melalui tender terbuka. Secara
samar, mereka bahkan menuduh kriminalitas meningkat karena senjata GAM
beredar secara ilegal.

Demi semua itu, mereka memainkan sentimen-sentimen NKRI dan paranoia
separatisme. Gubernur NAD Irwandi Yusuf dituduh bermaksud memerdekakan
Aceh melalui pemilu 2009.

Tukiran: "Karena apa? Ini di piling (perasaan) kami yang sudah sampai di
kepala-kepala desa ini bahwa 2009 ini, beliau sudah punya rencana
tersendiri. Yaitu bisa memenangkan kursi parlemen nanti pada 2009. Maka
akan cepat sekali laju pimpinan Irwandi Yusuf ini yaitu untuk memisahkan
dari NKRI ini. Sedangkan kami ini adalah satu sisi untuk kepentingan
rakyat, satu sisi lagi adalah untuk kepentingan keutuhan NKRI. Karena
perdamaian itu sendiri, apa yang diungkapkan oleh saudara-saudara kita
kepala kampung yang lain, bahwa masih semu. Nampaknya saja seperti buah
kedondong yang luarnya mulus tapi ternyata di dalamnya penuh serabut".

Pimpinan Komisi II DPR, E.E. Mangindaan, mengisyaratkan dukungannya pada
aspirasi ALA ABAS. Bahkan wakilnya, Fakhrudin, dari fraksi PDI-P
mendukungnya dengan semangat ultra-nasionalis. Persyaratan bahwa
pemekaran harus direkomendasi Gubernur dan DPR Aceh agaknya hendak
diabaikan dengan dalih bahwa Kepulauan Riau dan Banten menjadi propinsi
tanpa dukungan propinsi Riau dan Jawa Barat.

Fakhrudin: "Kenapa kita harus selalu terpukau dengan persyaratan
administrasi yang memang sampai kiamat dunia ini tidak akan dapat?
Tuntutan ini tidak akan seperti buah kedondong. Tapi akan kita jadikan
tidak seperti buah pinang yang pahit di luar, pahit di dalam walaupun
bulat. Tetapi akan kita jadikan seperti buah manggis: pahit di luar,
manis di dalam, kalau lihat persyaratan administrasi itu. Tetapi secara
fisik dan ekonomi politik, ALA-ABAS harus menjadi provinsi segera. Saya
kira itu".

Menjaga perdamaian
Aguswandi, aktivis gerakan sipil Aceh, mengakui adanya kesenjangan
sosial di kawasan ALA-ABAS dan privilese-privilese yang menguntungkan
kalangan GAM. Namun prioritas utama bagi Aceh tetap menjaga perdamaian.

Aguswandi: "Yang paling penting bagi saya, proses damai Aceh ini baru
berlangsung. Baru saja. Pemerintah baru Aceh, yang lahir karena Pilkada
kemarin itu baru setahun. Kemudian juga Helsinki itu baru dilaksanakan.
Banyak hal yang belum dilaksanakan. Jadi kita harus memberi kesempatan
terhadap proses perdamaian di Aceh itu, untuk diimplementasikan secara
baik dulu".

Sementara itu, tak jelas, seberapa kuat sebenarnya dukungan rakyat
setempat bagi gagasan ALA-ABAS. Wacana ALA, Aceh Leuser Antara, memang
sudah lama terdengar, namun anehnya, ide itu tiba-tiba mencuat kembali
sejak perdamaian Helsinki tahun 2005. Bahkan, ALA itu belakangan
ditambah dengan Aceh Barat dan Selatan. Padahal, otonomi daerah
dilimpahkan kepada kabupaten, bukan propinsi. Jadi, untuk memacu
pembangunan sebenarnya lebih penting menguasai kabupaten, ketimbang
membentuk propinsi sendiri.

Siapa di baliknya?
Yang menarik, dalam Pilkada 2006 yang secara internasional diakui jujur
dan adil, wacana ALA-ABAS itu sama sekali tidak berpengaruh. Jadi, siapa
sebenarnya di balik gerakan ALA-ABAS itu?

Aguswandi: "Saya menduga memang banyak elite-elite setempat yang
memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka. Tapi satu hal yang
menarik untuk melihat ALA-ABAS, adalah kebanyakan dari penduduk di
wilayah ALA-ABAS ini, ketika Pilkada tahun lalu itu ketika pemilihan
gubernur, mereka memilih Irwandi Yusuf, dibanding memilih kandidat lain.
Jadi saya kira ini juga menunjukkan satu hal yang unik. Di mana
sebenarnya masyarakat setempat, itu nggak begitu banyak masalah dengan
kepemimpinan Aceh saat ini, yang kebetulan mantan Gerakan Aceh Merdeka".



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke