----- Original Message ----- 
  From: [EMAIL PROTECTED] 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, March 19, 2008 1:48 PM
  Subject: [wartawanindonesia] 





  19.03.2008
  Perempuan Arab Saudi Perjuangkan Hak Mengemudi
  Kebanyakan perempuan di Arab Saudi tidak miskin, walau begitu seorang aktivis 
perempuan negeri itu menganggap situasi mereka lebih buruk daripada tawanan di 
Guantanamo. 



  Di Arab Saudi, pemisahan jenis kelamin dilakukan secara tegas. Memang 
perempuan boleh belajar dan menjalankan beberapa jenis pekerjaan, namun 
komunikasi antara pria dan wanita di ruang kuliah atau di tempat kerja 
berlangsung hampir seperti lewat telepon atau layar monitor. Perempuan harus 
menutupi diri sepenuhnya di ruang publik dan tempat terbuka. Polisi syariah 
bertugas untuk mengawasi pelaksanaannya. 

  Di Arab Saudi, yang termasuk negara terkaya di dunia, seorang perempuan 
membutuhkan wali lelaki untuk masuk universitas, dalam menandatangani kontrak 
kerja atau untuk sekedar ke dokter. Tanpa persetujuan wali lelakinya, perempuan 
tidak bisa mengambil tindakan yang sah menurut hukum. Dan walau sementara ini 
di Arab Saudi ada perempuan yang memimpin perusahaan, menjadi profesor di 
universitas, bahkan pilot perempuan, kaum perempuan di negeri ini tidak boleh 
mengendarai mobil. 


  Sudah bertahun-tahun para perempuan Arab Saudi berjuang agar larangan 
menyetir itu dicabut. Di negara-negara Islam lain, tidak ada halangan bagi 
perempuan untuk mengemudikan mobil. 


  Di banyak kota-kota besar Eropa tak jarang terlihat perempuan Arab Saudi 
dengan busana hitam dan cadar keluar masuk butik pakaian dan perhiasan desainer 
kenamaan. Mereka kaya raya, mengenakan pakaian bermerek, bertelefon dengan 
handphone paling mutakhir, menenteng laptop, bertabur perhiasan emas, intan 
berlian. Mereka bisa belajar di universitas kenamaan di dalam dan luar negeri. 
Mereka memiliki pembantu rumah tangga dari Asia dan supir pribadi yang 
mengantar mereka ke manapun juga. Tapi Wajeha Al-Huwaider, aktivis perempuan 
Saudi yang paling terkenal, menyebut kaum perempuan di negerinya sebagai budak 
yang terpenjara di istana mewah.  



  "Padahal, hidup yang sejati adalah jika seseorang bebas dan menjadi tuan atas 
keputusannya sendiri, tanpa wali. Hidup dalam kemewahan namun tanpa kebebasan, 
bukanlah hidup yang sesungguhnya. Kemewahan hidup bisa berubah setiap saat, 
jika wali lelaki tidak lagi puas dan menyia-nyiakan si perempuan. Tidak ada 
seorangpun yang melindungi, tidak hukum tidak juga negara. Tidak ada satupun 
insititusi yang memperjuangkan hak-hak perempuan di negeri ini. Apa keadaan 
seperti ini bisa disebut kehidupan?" 


  Tegas, pertanyaan pengarang dan jurnalis perempuan Saudi Wajeha Al-Huwaider. 
Sejak bertahun-tahun ia berjuang agar kaum perempuan di wilayah kerajaan Wahabi 
itu boleh menyetir mobil. Wanita 47 tahun itu mengumpulkan tanda tangan bagi 
petisi kepada Raja Abdallah. Bulan September 2007 petisi itu sampai ke tangan 
raja. 

  Sebelumnya, pejuang hak perempuan itu atas resiko sendiri memulai aksi 
protes. Ia berdemonstrasi di atas jembatan yang menghubungan kota minyak 
Bahrain dengan Arab Saudi. Aksi protes ia lakukan dengan mengangkat 
tinggi-tinggi poster bertuliskan: beri perempuan hak-haknya. Sebuah tuntutan 
kepada raja dan penguasa relijius konservatif negeri itu, yang menyangkal 
hak-hak perempuan Saudi, demikian terang Wajeha Al-Huwaider.




  Di tanah airnya, Wajeha al-Huwaider senantiasa menarik perhatian dan 
kemarahan. Belum lama ini ia melontarkan pernyataan bahwa kondisi perempuan 
Saudi lebih buruk daripada tawanan di Guantanamo. Bahwa pernyataan semacam itu 
dan berbagai aksi protes yang ia lakukan menyebabkan ia ditahan dan tidak boleh 
lagi bekerja sebagai jurnalis di negerinya, tidak membuat Wajeha mundur. Ia 
tetap memperjuangkan pencabutan larangan menyetir bagi perempuan dan berlawanan 
dengan pihak berwenang. 


  Mengabaikan larangan menyetir sudah dilakukan sejumlah perempuan Saudi awal 
tahun 90-an. Sebanyak 50 perempuan berkonvoi dengan mobil melewati jalan-jalan 
di ibukota Riyadh. Mereka semua ditangkap dan mobil-mobil mereka di sita. 
Konsekuensi yang harus mereka tanggung tidak berhenti sampai di situ. Beberapa 
dari mereka sampai kehilangan pekerjaan. 

  Setahun kemudian keluarlah fatwa dari Mufti agung Arab Saudi, saat itu Sheikh 
Abdul Aziz bin Baz, yang secara tegas melarang perempuan untuk mengendarai 
mobil. Fatwa tersebut seolah menumpas keinginan para perempuan Arab Saudi untuk 
menyetir. Wajeha al-Huwaedar menerangkan:


  "Perempuan Saudi menderita di bawah kekangan 5 institusi. Yaitu keluarga, 
suku, masyarakat, lembaga agama dan politik. Tapi yang paling keras adalah 
institusi agama." 

  Elham Manea berasal dari Yaman dan pakar ilmu politik di Universitas Zürich, 
Swiss. Sejak bertahun-tahun ia meneliti tentang hak perempuan di Semenanjung 
Arab. Baginya, larangan mengemudi bagi kaum perempuan Saudi dihasilkan atas 
dasar alasan-alasan tertentu. 



  "Ini semacam tafsir relijius, yang berdasarkan pada interpretasi Wahabi 
Islam. Dan ini menyangkut konstelasi politik relijius di dalam Arab Saudi. Juga 
berkaitan dengan tradisi yang sampai hari ini memainkan peranan besar.“ 


  Menyetir sendiri juga merupakan semacam kebebasan. Banyak penguasa relijius 
konservatif yang tidak memperbolehkannya. Mereka kuatir, bahwa dengan ijin 
mengemudi, perempuan mungkin sekali   meninggalkan rumah lebih sering dari yang 
dibutuhkan. Mereka bisa saja bertemu diam-diam dengan pria lalu berbuat yang 
tidak senonoh, terang Elham Manea, ahli politik asal Yaman yang bermukim di 
Swiss. 


  Seorang cendekiawan terkemuka Arab Saudi Sheikh Ayed Al-Qarni mengatakan, 
jika perempuan boleh mengendarai mobil, maka hal ini akan menuntun pada 
kehancuran keluarga. 

  Suara moderat bukannya sama sekali tak ada. Salah satunya Mohammed Al Zalfa, 
anggota "Shura" dewan penasehat Islam di Arab Saudi. Ia mendukung ijin 
mengemudi terbatas bagi perempuan. Salah satu argumennya, mempekerjakan tenaga 
kerja luar negeri sebagai supir di Arab Saudi menghabiskan biaya jutaan setiap 
tahunnya.  


  Elham Manea mengikuti aksi protes sejumlah perempuan di Arab Saudi terhadap 
larangan mengemudi dan paham bahwa itu adalah perjuangan yang panjang. 



  "Jika orang berjuang untuk hak-haknya, maka akan selalu ada harapan. 
Masalahnya, sejauh mana mereka bisa melakukannya, karena di Arab Saudi, 
pemerintah kadang-kadang siap untuk menjalankan langkah progresif. Tapi masalah 
yang sesungguhnya terletak pada hambatan dari kekuasaan lembaga relijius.“ 


  Ini juga dipahami pejuang hak perempuan Wajeha Al-Huwaider. Dan ia menuntut 
kekuatan konservatif relijius di negaranya untuk menghapuskan keharusan wali 
lelaki bagi perempuan. Ini merupakan langkah pertama untuk mencabut larangan 
menyetir. Sekalipun aksi protes dan permohonan terhadap anggota keluarga 
kerajaan selama ini tak membawa hasil, Wajeha tak berpikir untuk menyerah. 



  "Walau menghadapi kesewenangan, ketidakadilan, dan semua tekanan, saya sangat 
optimis. Alasannya dua. Di satu pihak globalisasi akan membuka semuanya. Dewasa 
ini, rejim yang represif tidak bisa menyembunyikan diri lagi. Di pihak lain, 
dan ini yang paling penting, Raja Abdallah sudah menunjukkan bahwa ia memiliki 
sisi manusiawi yang baik dan ia berupaya membawa perubahan. Namun ia seorang 
diri melawan insitusi besar yang korup." (rp)

  © Deutsche Welle


   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke