Alexander Bogdanov; Bolshevik yang Bukan Leninis

Oleh: Rudi Hartono

Baca selengkapnya di "POWER TO THE PEOPLE"
http://www.arahkiri2009.blogspot.com/2008/03/alexander-bogdanov-bolshevik-yang-tidak.html/

Selama ini, Bolshevik dan Leninisme di perlakukan untuk persoalan yang
sama, padahal tidak semua anggota Bolshevik adalah leninis. Penggunaan
istilah leninis sendiri, sangat terkait dengan kelebihan dan
menonjolnya sosok lenin dalam memimpin dan mengarahkan perjuangan
partai hingga kemenangan revolusi Oktober 1917. Alexander bogdanov
adalah seorang anggota tua bolshevik, namun bukanlah seorang leninis.
Ia dilahirkan tanggal 22 Agustus 1873 di Belarusia, dari keluarga guru
miskin di desa Grodno. Ketika ia mengejar gelar medisnya di
Universitas Moskow, ia dikeluarkan dan ditangkap karena
keterlibatannya dalam gerakan advonturir "Narodnaya Volya",
selanjutnya ia diasingkan ke sebuah daerah bernama Tula. Di sana ia
melanjutkan studinya dan berhasil menyelesaikan gelarnya sebagai
tenaga medis di Universitas Kharkiv. Di sana ia melanjutkan aktivitas
revolusionernya, dan menerbitkan sebuah artikel berjudul "A brief
Course Of Economic Science" tahun 1897. dua tahun setelahnya, ia
berhasil memperoleh gelar doktor medis dan mempublikasikan artikelnya
yang kedua berjudul "Basic elements of historic prospective on
nature". Tahun itu juga, ia ditangkap oleh polisi Tzar dan dikirim ke
penjara selama 9 bulan, setelah itu ia diasingkan ke daerah Vologda. 

Ia bergabung dengan Bolshevik partai buruh Sosial-demokratik Rusia
(RSDLP) tahun 1903, dan menjadi salah satu figur utama dalam kesatuan
bolshevik. Namun, sejak awal ia dikenal sebagai figur yang tertarik
dalam hal filsafat, ekonomi, ilmu sains, dan penulis fiksi. Sempat
menerbitkan tiga volume makalah tentang Empiriomonism, yang mencoba
menggabungkan antara marxisme dan philosofi Ernst Mach, Wilhelm
Ostwald, dan Richard Avenarius. Lenin kemudian menulis Materialism and
Empirio-Criticism untuk melawan pengaruh positivisme dalam tubuh
Bolshevik dengan melakukan polemik dengan Alexander bogdanov, dan
kawan-kawannya. Pada saat itu, Plekhanov sangat kuat menyerang
pemikiran –pemikiran positifis dari alexander bogdanov.

Tahun 1905, adalah fase bagi kebangkitan dan perlawanan klas pekerja
melawan kekuasaan Tsar dan sekaligus gladi resik bagi partai
revolusioner menyongsong revolusi Rusia tahun 1917. Dan revolusi tahun
1905 itu sering disebut The Great Dress Rehearsal (latihan penutup)
untuk perisitiwa tahun 1917. Pada bulan Desember 1904 terjadi beberapa
aksi mogok, empat buruh dipecat. Gerakan perlawanan pekerja yang
awalnya di pimpim oleh seorang pendeta, yakni pendeta Gapon (yang
sebenarnya anggota intel), meluas menjadi perlawanan terhadap rezim
Tzar. pemogokan ekonomi berubah menjadi pemogokan politik, dan
pemogokan politik menjelma menjadi pemberontakan klas pekerja. Disisi
lain, pemberontakan ini juga melahirkan sebuah badan/organ politik
klas pekerja yang bernama "soviet", yang awalnya merupakan gabungan
komite-komite aksi pemogokan klas pekerja di tempat kerja. Tanggal 9
November menjadi awal dari kebangkitan klas pekerja seluruh Rusia,
aksi damai pekerja di istana Tsar ditindas dengan kejam. Ribuan orang
kehilangan nyawa dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Tragedi ini
kemudian diberi nama "Tragedi Minggu Berdarah". Bulan Agustus, rejim
tsar mencoba memberikan sogokan politik dengan membentuk Duma(semacam
parlemen). Namun, Duma itu hanya dimaksudkan sebagai badan
konsultatif, dan di situ kaum buruh tidak terwakili sama sekali. Di
Petersburg dengan jumlah penduduk sebesar 1.4 juta, hanya 13.000 warga
berhak mencoblos. "Konsesi" ini hanya membuat rakyat semakin marah,
dan pada bulan Oktober terjadi gelombang aksi mogok lagi. Pemogokan
tersebut melumpuhkan perusahaan kereta api dan kantor-kantor pos,
sekolah-sekolah terpaksa ditutup, penyediaan gas dan air berhenti dan
sistem komunikasi rusak.

Hampir semua partai-partai kiri muncul dalam situasi tersebut, semua
pandangan tentang program dan taktik diuji dalam lapangan praktek.
Bolshevik yang pada saat itu masih bergabung dengan Menshevik dalam
RSLDP sangat aktif dalam memimpin pemogokan-pemogokan klas pekerja.
Namun, kendati demikian revolusi 1905 yang di tutup dengan
pemberontakan Moskow mengalami kegagalan. Tahun-tahun  (1907-1910)
ditandai sebagai masa gelombang reaksi, rejim tsar sangat agressif
dalam menyerang balik posisi klas pekerja dan partai revolusioner.
Depresi, demoralisasi, perpecahan-perpecahan, pertikaian, kerenegatan,
percabulan menggantikan politik. Kecenderungan ke arah idealisme
filsafat semakin besar; mistik menjadi tempat  persembunyian
sentimen-sentimen yang kontra-revolusoner.

Pada saat itu, terjadi kemunduran situasi revolusioner. Dalam internal
bolshevik sendiri muncul perdebatan soal strategi dan taktik untuk
menghadapi situasi yang berubah. Pada saat itu rejim Tsar membentuk
parlemen (DUMA), dan diproyeksikan sebagai alat untuk meredam
revolusi. Bolshevik memutuskan untuk mengintervensi pemilihan Duma,
Bogdanov menentang keputusan partai dan menyerukan untuk memboikot
pemilihan. Bogdanov memimpin sebuah faksi dalam tubuh partai yakni
"otzovists/ (recallism)" atau kaum "boikotis" yang merupakan minoritas
kaum Bolshevik tua. Lenin terlibat dalam polemik panjang dengan kaum
"boikotis" yang dipimpin Bogdanov, dengan mengeluarkan sebuah artikel
berjudul "Materialism and Empiriocriticism" untuk menyerang posisi
teoritik Bogdanov yang mistis, idealis, dan mengabaikan realitas dari
perkembangan revolusi Rusia. Perseteruan antara faksi Lenin yang
didukung oleh Grigory Zinoviev dan Lev Kamenev berhadapan dengan faksi
Bogdanov yang didukung banyak filsuf, akhirnya tidak dapat didamaikan. 

Pandangan Lenin diakui oleh mayoriyas sosial demokrasi Rusia dalam
konferensi ke-tiga PBSDR ("Second All-Russian" Conference), yang
berlansung 21-23 Juli 1907, di kota Kotka, Finlandia. Conference di
ikuti oleh 26 delegasi, terdiri dari: 9 bolshevik, 5 Menshevik, 5
Polish, 2 Letts, dan 5 kaum bundis. Dalam konferensi ini, mayoritas
delegasi Bolshevik justru mengambil posisi "boikot" terhadap parlemen
DUMA. Bolshevik berpartisipasi dalam pemilihan duma, dan ada empat
orang Bolshevik yang terpilih dalam pemilihan, dari total 19 anggota
fraksi sosial-demokrasi di DUMA. Namun, keputusan ini tidaklah menjadi
sebuah posisi yang jelas (kabur) dan memberikan ruang lahirnya faksi
dalam tubuh partai. Dalam konferensi partai yang ke-tiga, 5-12
November 1907, yang berlansung di Helsingfors, kembali diperdebatkan
soal taktik partai untuk terlibat dalam duma. Lenin menyatakan;
"mendukung pemilihan Duma bukan berarti menjadikan duma sebagai
kendaraan untuk mendapatkan politik reformis--seperti yang dituduhkan
 kaum likwidator, tetapi berdasarkan sebuah platform: kebebasan
agitasi revolusioner, selalu berbasiskan kepada politik independen
klas pekerja, bukan membangun blok dengan kaum liberal kadet---
seperti yang dianjurkan oleh kaum Bundis dan Menshevik."

Musim semi tahun 1908, tiba-tiba anggota Bolshevik biro Rusia
ditangkap. Hal ini, menambah ketidakharmonisan didalam tubuh partai
yang sudah terbelah dalam beberapa faksi. Menshevik mencoba
memanfaatkan situasi ini untuk mencoba mengambil alih kepemimpinan
komite sentral partai, dan menjadikannya "pusat informasi belaka.".
namun, proposal ini dikalahkan oleh sebuah pleno partai, bulan
agustus, di Jenewa. Kaum otzovists menyerukan untuk "kongres Bolshevik
murni" (non Menshevik dan lain-lain), dan menyerukan untuk menarik
keterlibatan Bolshevik di DUMA. Dalam lapangan organisasi, kaum
otzovists menentang bentuk-bentuk pekerjaan politik legal (terbuka)
partai. Tindakan ini, bukan sekadar upaya untuk menunda segala upaya
partai untuk mengjangkau massa pekerja luas, tetapi juga, mereduksi
partai hanya sebatas sekte semata (seperti yang banyak dilakukan
partai yang mengaku Leninis sekarang). Lenin dengan tegas menyerang
pandangan ultra-kiri ini dengan mengkarakterisasi mereka sebagai "kaum
likwidator dari sisi kiri".

Alexander Bogdanov menjadi tokoh kunci dalam faksi "ultra-kiri"
bersama yang lain, antara lain: Grigory Alexinsky, A. Sokolov
(Volsky), dan Martin Lyadov (Mandelshtamm). Alexander bogdanov
merevisi basis teoritik marxisme dan dilekatkan pada pandangan
filsafat semi-mistik yang dikenal dengan sebutan"bangunan tuhan".
Bogdanov mendukung "posisi" politik ultra-kiri, didasarkan pada
penemuan filsafat revisionisnya, dan menolak dialektika materialis
yang mendahului revolusi Rusia 1905. 

Kepemimpinan Bolshevik akhirnya benar-benar berada diambang
split/perpecahan. Susunan kepempinan Bolshevik pada saat itu, terdiri
dari: Lenin, Zinoviev, Kamenev, Bogdanov, Goldenberg, Dubrovinsky,
Rykov and Tomsky (dua yang terakhir, merupakan pemimpin terkemuka
serikat pekerja di St.Petersburg). Pada 21-30 Juni 1909, sebuah
conference yang diorganisir oleh dewan editorial Koran "proletary"
diselenggarakan di kota paris, Perancis. Tujuan dari conference ini
adalah memperdebatkan dua posisi yakni: ""otzovism" dan "ultimatism".
Bogdanov berdiri membelah posisinya habis-habisan, tetapi secara
politik, posisinya sudah terisolasi. Dengan pengecualian Shantser yang
berposisi "rekonsiliasi" dan dua orang abstain yakni: Tomsky dan
Goldenberg, hampir seluruh peserta conference mengambil posisi di
garis Lenin. Konferensi ini juga mencatat pertarungan filosofis antara
posisi teoritik Lenin yang membelah Marx dan Engels berhadapan dengan
Bogdanov yang beralih pada filsafat semi-mistik. Berdasarkan
penulisan-penulisan sejarah tentang Bolshevik akhir-akhir ini, menurut
mereka Setelah mini-conference di paris, Bogdanov dan pendukungnya
dikeluarkan dari Bolshevik. Namun, menurut kumpulan sejarah Soviet,
Bogdanov tidak dikeluarkan paska konferensi itu, meskipun provokasi
Bogdanov dan pendukungnya sangat kuat. Yang diputuskan adalah bahwa
faksi Bolshevik tidak lagi bertanggung jawab atas tindakan-tindakan
politik ataupun deklarasi—deklarasi dari kelompok Bogdanov dan
pendukungnya. 

Setelah kalah dari koneference di Paris, Bogdanov dan pendukungnya
sama sekali tidak menghormati pilihan politik partai (mayoritas).
Malahan, Bogdanov dan pendukungnya makin ofensif dan terbuka menyerang
kelompok mayoritas lewat terbitan-terbitan dan publikasi-publikasi
yang diedarkan secara massal dan terbuka. Mereka membelah posisi
minoritas dan secara subjektif menghakimi taktik mayoritas –yang
notabene adalah pilihan politik partai secara keseluruhan, lewat
terbitan/publikasi dan pertemuan-pertemuan terbuka. Bogdanov dan
pendukungnya berusaha menarik konflik internal faksi Bolshevik kedalam
bentuk konflik terbuka didepan publik. Bogdanov percaya bahwa kalau
perdebatan bisa diluarkan, akan mendatangkan simpati dan dukungan dari
maoritas sosial demokrasi dan klas pekerja yang kebingungan. Faksi
mayoritas akhirnya merespon tindakan ini dengan mengeluarkan Bogdanov
dari faksi Bolshevik. 

Tersingkir dari Bolshevik, Bogdanov bersama kawan-kawannya:Anatoly
Lunacharsky, Maxim Gorky dan "otzovists" yang lain, kemudian
mendirikan sekolah bagi pekerja di Pulau Capri. Sekolah ini merupakan
alat untuk mengorganisir kaum revolusioner yang bersimpati dengan
gagasan filsafat mereka. Bogdanov dan Lunacharsky meluncurkan Koran
organ faksi mereka yang bernama Vperyod(forward). Bogdanov dan
kawan-kawannya mulai mendekati Maxim Gorkhi, orang yang memiliki
kedekatan pandangan dengan bogdanov. Menyadari bahwa posisinya tidak
mendapatkan tempat dikalangan kaum buruh dan kaum sosial demokrat,
akhirnya banyak diantara mereka yang meminta kembali ke pihak
Bolshevik. Bogdanov sendiri bersama kawan-kawannya berpindah ke sebuah
sekolah di Bologna. Disana ia memulai aktivitas politiknya di luar
negeri dan terus melakukan aktivitas mengajar hingga tahun 1911. pada
saat perang dunia berkecamuk, ia dikirim dalam medan perang sebagai
psikiater di sebuah rumah sakit. ketika Revolusi Rusia bergolak tahun
1917, Bogdanov tidak mengambil peranan sama sekali. Setelah partai
Bolshevik dan kaum pekerja memenangkan revolusi dan membentuk
kekuasaan "soviet", banyak kaum Vperyodists yang kembali bergabung
dalam partai, seperti Lunacharsky dan Lyadov. Alexander Bogdanov
membenamkan diri dalam aktivitas filsafat tectology, dan menjadi
professor filsafat di Universitas Moscow. Tahun 1923, Bogdanov
ditangkap oleh pasukan Soviet karena tuduhan menjadi inspirator sebuah
grup oposisi-reaksioner "Workers truth", namun, kemudian dibebaskan. 

Bagaimanapun, dalam Kehidupan Alexander bogdanov telah melekat stempel
"ultra-kiri", sebuah konsekuensi dari sebuah tindakan politik yang
secara sadar diatraksikan melawan kecenderungan dialektis-materialis
revolusi Rusia. Kendati, pada saat itu, Bogdanov memegang teguh
keyakinannya sebagai pandangan paling benar, paling teguh, paling
konsisten, dan paling revolusioner, namun, akhirnya sejarah telah
membuktikan didepan mata kita, bahwa "Bogdanov dan kawan-kawannya
sudah melakukan kesalahan besar".

*****

Penulis adalah Anggota Pengurus Eksekutif Nasional- Liga Mahasiswa
Nasional untuk Demokrasi (LMND)



Silahkan buka web "POWER TO THE PEOPLE" di
http://www.arahkiri2009.blogspot.com/2008/03/alexander-bogdanov-bolshevik-yang-tidak.html/


Kirim email ke