Rumpun berbicara kita tlah menjadi semacam upacara mendarah dan menduri dalam kepungan asap saudara-saudara di rerimbun perhelatan yang tak juga merindu bunga kita mengharum bagi hidung-hidung bersumberkan tetes air sejuk itu masih saja bunga kita adalah teka-teki yang menjamur tak lagi enak untuk dikonsumsi karna kita pun tak lagi menjadi tenaga yang membantu mereka kala dirobohkan tegak kakinya kalau hujan petir mengabukan tubuh sengsara
kita masih saja berkata-kata tanpa pasti menurunkan tangan yang masih berpelukan di ranjang per-empu-an seolah kitalah empu, boleh berkata tanpa cinta boleh bercinta tanpa tindakan. sudah tumbang pohon itu sudah banjir tanah ini. sudah meledak tabung raksasa itu. sudah menjadi birokrat, anak kampung kita. kakinya enggan menjejak sawah bapaknya, yang disekelilingnya, kita bakar kemenyan, mur, dan bertabur emas palsu. Yonathan Rahardjo/ Planet Bumi, 2006 Buletin Kabar untuk Sahabat (KauS) 08/I/2006 <http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=4649771565663030749&postID=5198671666334377986> <http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=4649771565663030749&postID=5198671666334377986> [Non-text portions of this message have been removed]

