kebat sabet angkat swara gaungkan di sekujur ruang rontokkan nyawa yang tak klihatan dengan mulut menganga suara menari-nari di antara kau dan aku di ruang yang sama sampai tumbuh pohon raksasa yang telah kita kerdil kan dengan kata-kata yang tidak punya kuasa. meski tiap hari kita ucap meski tiap detik kita gelegakkan pada telinga penduduk yang tak punya telinga hati. hanya karna, swara-swara kita tak membuahkan sebuah periuk yang senantiasa menyumber nasi hangat.
Yonathan Rahardjo/ Bumi, 7 tahun kemudian (2006) Buletin Kabar untuk Sahabat (KauS) No. 08/I/2006 <http://jawabankekacauan.blogspot.com/2007/06/jawaban-kekacauan_584.html> [Non-text portions of this message have been removed]

