Catatan Bantimurung:   
  PUISI-PUISI ANAK SENTANI
   
   
  1.
   
   
   
  Sungguh menggembirakan bahwa suatu kebetulan membuatku bertemu dengan 
puisi-puisi di bawah ini. Kegembiraanku pertama-tama bukan hanya puitisitas 
puisi-puisi yang di sini hanya sebagian kuangkat, tapi lebih-lebih lagi karena 
ia ditulis oleh Luna Vidia, seorang puteri Sentani, Tanah Papua. Luna bukan 
hanya menulis puisi tapi aktif berteater di Kota Makassar di mana ia bermukim 
sampai sekarang. Kecuali itu, ia apun menulis cerpen, esai dengan tema-tema 
yang luas, mulai dari sastra-budaya hingga ke soal-soal politik.  Hanya saja, 
puteri Sentani yang dilahirkan pada 27 Februari 1966 dan fasih berbahasa 
Inggris serta bahasa Spanyol ini, masih malu-malu mempublikakasikan 
karya-karya. Oleh rasa malu dan merasa karya-karyanya belum mencapai taraf yang 
ia inginkan maka ia lebih membatasi karya-karyanya ke lingkup tertentu saja dan 
hanya mengirimkannya ke www. panyingkul.com,  website  sastrawan-sastrawan 
Makassar, asuhan Lily Yulianti dan Aan Mansyur.  Aan Mansyur sekarang sedang
 berkeliling Jawa untuk memperkenalkan "Sastra Dari Makassar".
   
   
  Adanya puisi-puisi Luna Vidia ini pun,  kukira juga menunjukkan dan 
membuktikan bahwa sastra berbahasa Indonesia itu bukan hanya terdapat di Jawa. 
Sehingga menjadi sangat tidak adil jika eksistensi yang memang eksis ini tidak 
dilihat dengan sebelah mata pun entah sadar atau tidak atau oleh kepongahan 
standarisasi dan monopoli nilai yang sentralistis. 
   
   
  Penemuan puisi-puisi dan karya-karya tulis Luna Vidia, yang berdarah Ambon, 
lahir di Papua dari keluarga seorang guru pada masa Soekarno ini dan sekarang 
tinggal di Makassar, bagiku menjadi kian menarik,  kalau dilihat dari segi 
konseptual tentang "sastra-seni kepulauan" sebagai pengejawantahan rangkaian 
nilai republiken dan berkeindonesiaan. Jika dirunungi, sebenarnya perjalanan 
dan kisah Luna Vidia sendiri bisa dikatakan  melambangkan nilai-nilai ini 
sendiri. Berdarah Ambon, lahir di Sentani dan kemudian tinggal di Tanah Bugis. 
Dan dengan bahasa-bahasa asing yang ia kuasai,  lingkup cakrawala Luna makin 
menjadi luas. Makin merelatifkan arti etnik dan bangsa dalam pandangan yang 
hakiki dan perspektif manusiawi serta kemanusiaan sebagaimana pandangan manusia 
Dayak tentang hidup-mati  yang dijabarkan dalam ungkapan "rengan tingang nyanak 
jata" [anak enggang, putera-puteri naga]. Pandangan yang kemudian dirumuskan 
oleh Paul Ricoeur, filosof terkemuka Perancis dalam
 kata-kata: "kebudayaan itu majemuk tapi kemanusiaan itu tunggal", dan "budaya 
lokal merupakan bahasa berdialog dengan budaya dunia". Dalam artian inilah, 
kukira, budaya lokal berarti berdiri di atas akar masing-masing. Sehingga jika 
kita kehilangan akar, maka ibarat pohon maka tumbuhnya tidak akan kekar. Mudah 
tumbang diterpa angin apalagi jika badai berhembus. Konsep sastra-seni 
kepulauan jadinya bukanlah konsep mengurung diri, tapi mengembangkan diri 
secara berakar. Tanpa akar , bukan hanya kita akan goyah, tapi salah-salah bisa 
berkembang jadi pak turut , epigon.  Epigon tetap epigon. Berdiri di atas akar 
sendiri, kukira, sangat jauh bedanya dari tutup pintuisme dan buan pula 
universalisme tanpa warna. Bahkan aku melihatnya bahwa pada budaya lokal itu 
terdapat nilai universal manusiawi. Terdapat sifat materialis [dalam artian 
filsfat]  dan dialektis. Ia merupakan kesimpulan dari pengalaman sebagaimana 
yang kita dapatkan pada pantun gurindam, seloka, sansana dan
 lain-lain bentuk sastra lokal. Barangkali kita saja sekarang yang tidak 
mengindahkannya karena terkelabui oleh yang disebut modern.
   
   
  Luna Vidia, entah ia sadari atau tidak, tapi menghadapi dunia dengan berdiri 
di atas akar budaya lokal ini. Keadaan yang pernah kurumuskan waktu bekerja di  
 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dalam kata-kata "Berdiri di kampung halaman 
memandang tanahair, merangkul bumi".
   
   
  Dari sudut pandang inilah aku merasa sangat  gembira mendapatkan kumpulan 
tulisan Luna Vidia, yang di sini kusiarkan. 
   
   
  Terlampir bisa didapat  beberapa puisi Luna Vidia yang kuangkat  kali ini dan 
beberapa judul artikelnya. 
   
   
  Paris, Musim Bunga 2008.
  ----------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
  LAMPIRAN:   
  PUISI-PUISI LUNA VIDIA:
   
  lunes 17 de marzo de 2008    jala koyak   
    pada jala yang koyak
mataku
berurai benang waktu
menjahit masa depan jadi kenangan

March 2008
   
   
  

  viernes 14 de marzo de 2008

    Dua Sajak untuk Dua Kawan   
      : ami
di pematang, di antara batang kelapa dan pinang burung terbang ,

  kepiting bermain dengan bayang-bayang,

  biren dan remis yang di gali untuk kesenangan akhir pekan

  dalam kanal-kanal surut di sepanjang purnama terbentang
Di antara kepak sayap, anyir tambak
kubuka telapak tangan diam-diam

  di bawah terik matahari, lalu menutup cengkram kuat sekali di setiap magrib,

  berharap tanganmu ada di sana, menikmati segala ngilu dari kisah tentang masa 
lalu
kisah pinang patah yang perih

  kisah inong aceh.

  bersama. Ah!

  

   
  :matsui-san

  kukirim puisi ke negeri musim dingin,
angin hembus, di atas hijau sawah, di antara batang kelapa dan pinang
Begini:
aku menitip matahari aceh,

  yang mengeringkan punggung perempuan di sawah,

  punggung yang tak patah oleh rasa takut

  pada bayang hitam yang menyelinap di antara pepohonan kelapa dan pinang.

  
 
  apa kabar yang di bawa musim dingin?

  mungkin seperti kerja keras telah mendidihkan periuk,

  puisi ini cukup untuk mendidihkan sup

  sebelum terhidang di meja makan.
kupikir, di musim seperti ini

  di luar salju terus jatuh,
seperti buah pinang dan kelapa jatuh
di pangkuan perempuan aceh

  yang menimangnya jadi hidup

  sehari, sudah cukup. 


  miércoles 12 de marzo de 2008       penjelasan panjang untuk "hi" yang pendek 
  
     
  meski tak pernah saling mengucapkan selamat jalan
seperti laut dan pantai,
kita akan selalu berdampingan
kita akan saling melupakan
  

     
   
   3/12/2008  
  


  martes 11 de marzo de 2008    
    Kapan telah memanggil belalang pelahap
ke dalam kebun harap
Kenapa mengundang angin panas dari tenggara
Mengobarkan sengsara
di antara tunas dan kelopak. Juga buah muda.

Mereka pasti tak bisa membaca tanda penawaran
yang kuletakkan di jalan depan:

saya mencintaimu. hanya itu.

March 2008
  

     


    Mencapai Bulan   
    Seperti melihat musim tumbuh di ujung pohonan
Putih, hijau terang, merah, di wajah hutan
Kulihat cinta tumbuh di bawah langit telanjang
sulur tanpa penopang
telah mencapai bulan
tanpa warna. Atau hitam?

March 2008 


  viernes 7 de marzo de 2008   
  Manggigil*) 
   
   
    
    Batu di ombak itu,
berdiri di pantai tanpa angin,
memaku mata pada laut yang tak mengalun
sambil mengunyah waktu
dan pada lembah-lembah hari
Duka memanggilnya dari pucuk kering pohonan
jadi helai angin


  Batu ombak itu,
mata bermuara tanya,
Kenapa pilu riang bermain gelombang
Kenapa cinta tak hendak pulang
Ketika laut tak mengantar apa-apa,
Juga angin tak memuat berita?

Batu di ombak itu
adalah bongkah duka
lupa pada namanya,
yang tanya di mata : " Kenapa kelu?"
Lalu terbahak-bahak tertawa melihat kepiting bunting
Berendam tenang di sekujur lukanya

pantai berangin, laut mengalun
batu ombak itu
telah menjelma aku
Cadas. Diam. Penuh binatang karang.
Di kedalaman,
adalah ketenangan yang ganjil.
Sedih yang menggigil

*Manggigil = menggigil (Maluku)

March, 2008
  

     


  miércoles 5 de marzo de 2008    Yang Tumbuh, Aneh Sungguh   
      Seperti pada hari hujan di musim-musim lalu
Di bawah palem baru melepas pelepahnya
Semak berdaun semanggi menyisir embun di gerimis pagi.
Selalu menyapa hari seperti ini,
gerimis yang menusukan sepi

Asa lepas seperti hangat tubuh pergi
dalam dingin. Lalu bersendiri
seperti pelepah
kusambut dengan kepala tengadah, ampas perih
Membuka mulut lebar-lebar menelan kecewa yang di tikamkan musim.
Seperti sarapan pagi, kupenuhi hasrat dengan dengki.
Berharap ia jadi serbuk hitam pemati rasa untuk menghalau raung dan aum
Rindu yang menggigil dengan mata berdarah
Di dalam hujan,
Kuyup tanah hati , olehnya. Merah.

Seperti pada hari hujan di musim-musim lalu,
Selalu menyapa sepi seperti ini,
Gerimis mencengkram hati kusut
menyisirnya dengan kuku sepi
Dan Rindu adalah pelepah tua tengadah
Terkuak pasrah
pada sayat sepi dalam genggam gerimis
menatap tak lepas
Datangnya ayun tangan yang membuat mata berdarah.

  Lama setelah itu, orang lalu
melihat tunas berdaun semanggi menyemak di mataku,
Kata mereka: "kau ditumbuhi cinta"

  
  

     


  lunes 3 de marzo de 2008    Embun Bunting Tadi Pagi   
      : rusle

   
  seperti mimpi, semua terjadi, pada hari ketika terbangun

  dan di pucuk daun dengan embun bunting yang menggantung,

  tertulis pesan dari Sang Kehidupan - pada peluh dan risau seorang lelaki, 
telah ditimbang kebahagiaan, jauh-jauh hari.

  Jadi selesaikan sekarang, hari ini. Hanya hari ini, esok memiliki 
kesusahannya sendiri.
   
   
  Ichthus




     
  berenang di laut luka
matahari
ombak 
karang 
sengat segala laut
mengupasku 
hingga tulang

aku menjelma ikan

2007


        


              lunes 17 de marzo de 2008    jala koyak   
    pada jala yang koyak
mataku
berurai benang waktu
menjahit masa depan jadi kenangan

March 2008
  

    Labels: A Poem, My Galery 
   
  
  


  14 de marzo de 2008    Dua Sajak untuk Dua Kawan   
      : ami
di pematang, di antara batang kelapa dan pinang burung terbang ,

  kepiting bermain dengan bayang-bayang,

  biren dan remis yang di gali untuk kesenangan akhir pekan

  dalam kanal-kanal surut di sepanjang purnama terbentang
Di antara kepak sayap, anyir tambak
kubuka telapak tangan diam-diam

  di bawah terik matahari, lalu menutup cengkram kuat sekali di setiap magrib,

  berharap tanganmu ada di sana, menikmati segala ngilu dari kisah tentang masa 
lalu
kisah pinang patah yang perih

  kisah inong aceh.

  bersama. Ah!

  

  :matsui-san

  kukirim puisi ke negeri musim dingin,
angin hembus, di atas hijau sawah, di antara batang kelapa dan pinang
Begini:
aku menitip matahari aceh,

  yang mengeringkan punggung perempuan di sawah,

  punggung yang tak patah oleh rasa takut

  pada bayang hitam yang menyelinap di antara pepohonan kelapa dan pinang.


  apa kabar yang di bawa musim dingin?

  mungkin seperti kerja keras telah mendidihkan periuk,

  puisi ini cukup untuk mendidihkan sup

  sebelum terhidang di meja makan.
kupikir, di musim seperti ini

  di luar salju terus jatuh,
seperti buah pinang dan kelapa jatuh
di pangkuan perempuan aceh

  yang menimangnya jadi hidup

  sehari, sudah cukup.

  
  

     
   
  3/14/2008  
  


  Martes 15 de enero de 2008    Asoka Di Tokyo   
    di meja (ta) Ly , 
ada rangkaian asoka. tiap batang untuk tiap kata: merah tua, kuning, dan merah 
muda. Kuambil ketika mereka terangguk angguk dalam hujan.. hanya itu yang 
sedang ada di halamanku
Seratus duabelas bunga untuk menemanimu.
titik air yang menggantung di ujung daunnya, akankah beku di dingin tokyomu?

january 08
  

    
  
  


    Nyanyian Rindu   
    dinyanyikan ketika sedang berkemas:

sebentar lagi, akan kita telusuri 
riuh rex atau pasar aceh 
sambil menyuapkan mie kepiting ke dalam diam, 
lalu esoknya 
potongan kebaikan akan kita jatuhkan 
sambil tertawa ke dalam kopi jasa ayah, 
dan sambil menghirup sepi, 
kita lihat pintu-pintu menutup menjelang magrib. 
Di baliknya, 
di sudut
di antara riuh adzan, sambil bertahan pada tawa, 
mata kita sengaja tergenang kenangan 
sebentar lagi, 
kita mungkin akan melarung rindu 
dalam perahu-perahu daun 
ke cinta yang jauh 
dari gapang atau ibo pada akhir minggu.

january 2008
  

    
  
  



   

    Ichthus  berenang di laut luka
matahari
ombak 
karang 
sengat segala laut
mengupasku 
hingga tulang

aku menjelma ikan

2007

  








   
    


              My Page 
    I'm on a journey. A journey of being me. Some paths would remain unseen, as 
there is the unseen life of me.The unseen pages. The pages of secret landscapes 
of imagination and spirit within me, where I addressed my grief, my questions 
of life. And hope somehow from its richness I will cultivate wonder: a wealth 
of experience.





    

              Mostrando entradas con la etiqueta A Poem. Mostrar todas las 
entradas 
       



  
    
              Minggu, 27-01-2008
      Kaluma
(Obituari untuk Soeharto dari Seorang Rakyat)
:: Luna Vidya :: (13 Komentar) 
      Jumat, 16-11-2007
      Menumpang “Mobil Dinas” ke Raja Ampat
:: Luna Vidya :: (4 Komentar) 
      Selasa, 23-10-2007
      Menyaksikan Kampanye Pilkada Sulsel: 
Dari yang Menunggu "Janji Suci" Hingga Kaos Gratis
:: Luna Vidya :: (6 Komentar) 
      Sabtu, 15-09-2007
      Ada yang Berpuasa di Rumah Kami…
:: Luna Vidya :: (17 Komentar) 
      Jumat, 17-08-2007
      Merenungkan Kemerdekaan di Lapangan Merdeka Ambon
:: Luna Vidya :: (9 Komentar) 
      Senin, 06-08-2007
      Teater
Mengembalikan Tubuh pada Kata-katanya Sendiri
:: Luna Vidya :: (3 Komentar) 
      Sabtu, 28-04-2007
      Dari "Ambon Kart" Hingga "Balanda Itang"
:: Luna Vidya :: (12 Komentar) 
      Selasa, 10-04-2007
      Sepotong Ambon di Tanah Muna
:: Luna Vidya :: (11 Komentar) 
      Minggu, 25-02-2007
      Gerabah, dari Takalar Turun ke Kota
:: Luna Vidya :: (7 Komentar) 
      Rabu, 31-01-2007
      Panyiko’ Bibi’, Para Perempuan Pengikat Rumput Laut
:: Luna Vidya :: (6 Komentar) 
  






    
---------------------------------
  Tired of visiting multiple sites for showtimes? 
Yahoo! Movies is all you need  
  

                           

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke