>Re: Membela Kesusastraan Indonesia Mutakhir


apa sebenarnya yang mau katakan, hudanOS?

baik aku jawab pernyataan2mu di bawah!
==========


Membela Kesusastraan Indonesia Mutakhir

Inilah antara lain yang saya maksudkan dengan Membela Kesusastraan
Indonesia Mutakhir itu, dengan tak usah berteriak sekencang dan
sesering mungkin. Lihat aja kosa kata yang dipakai: pibu, pukulan dan
tendangan, Katrin lebih unggul dan sebagainya. Memangnya sastra
Indonesia adalah dunia kangow? tapi beginilah: mereka menganggap dunia
pemikiran adalah dunia kangow. jadi harus ada yang terbunuh. atau
dibunuh. dan semua ini karena, sedikit banyaknya, adalah medium dunia
maya: yang tak bisa diuji teks yang akan diloloskan. tapi saat
dikatakan dunia maya itu baru psudo sastra, maka marah pulalah
pemain-pemain milis ini. berkata gagah dan sekencang mungkin tentang
hebatnya dunia maya. padahal banyak respon yang reaktif belaka.


==================
SS: kosa kata yang kau datarkan di atas, ada apa rupanya dengan
mereka? apa tidak boleh memakai kosa kata itu dalam sebuah perdebatan?
peraturan siapa ini?! apa kalau tidak memakai kosa kata seperti itu
maka sebuah perdebatan itu memang akan menjadi sebuah perdebatan yang
jauh lebih bermutu?!

coba liat bahasa posting manneke pukimak itu sejak awal dia merespons
esei Katrin tsb. mulai dari memaki-maki aku, tanpa provokasi kerna aku
dan Katrin belum jadi anggota milis perempuan histeris tapi sok
feminis itu waktu itu, sampai dia menjilati para editor dengan
pura-pura minta maaf kepada mereka! apa dia memang "berdiskusi" dengan
Katrin saja, misalnya? dan mereka-mereka yang konon kena "teror" oleh
aku di Internet, bukankah justru mereka yang anti-diskusi hingga
menganjurkan untuk mencekal aku dari milis pseudo-intelektual itu!
mereka yang konon berbahasa "gak kasar kayak Saut Situmorang" justru
yang menganjurkan pencekalan pendapat salah seorang yang lebih dulu
diejek-ejek oleh dua orang anggota lama milis tsb! mana yang lebih
kasar!!!

dunia pemikiran memang dunia kangouw! lihat bagaimana sebuah pemikiran
ditumbangkan oleh pemikiran berikutnya: Kritik Baru Amerika oleh
Strukturalisme Prancis, Strukturalisme oleh Pascastrukturalisme,
Diskursus Kolonial oleh Teori Pascakolonial. dunia pemikiran
berkembang justru kerna adanya konflik di dalamnya. dunia seni juga
begitu: Klassisisme oleh Romantisme, Modernisme oleh Pascamodernisme.

kalok kau bicara soal "bahasa" diskusi, maka kau juga mesti membedakan
antara bahasa polemik dengan bahasa non-polemik alias
eksposisi-deskripsi biasa. debat di Internet antara dua kelompok yang
tidak sama pendapatnya biasanya bersifat polemik makanya bahasa
memakai bahasa polemik yang antara lain mengandung kosa-kata yang kau
daftarkan itu! tapi itu bukan berarti bahwa debat seperti itu gak ada
artinya, harganya sama sekali. kerna pembaca debat di sebuah milis
bukan satu-tiga orang tapi minimum ratusn orang dan mereka juga
menilai walo mungkin tidak menuliskannya. jadi "etika" berbahasa dalam
sebuah debat Internet yang langsung dan interaktif itu jangan kau
samakan dengan polemik di koran, misalnya. sesuatu yang interaktif dan
langsung/spontan seperti dunia Internet tentu akan menghasilkan bahasa
wacananya sendiri, dan ini gak ada hubungannya dengan soal relasi
mutu diskusi dan bahasa diskusi. spontanitas yang membedakan dunia
Internet dengan dunia kertas koran.
=======================


saya sendiri memang mau membela sastra itu, dengan tulisan yang
serius, tidak asal melontar yang saya lihat, maaf, banyak kebencian di
dalamnya. sesungguhnya apa yang diungkap Katrin, adalah kelanjutan
belaka dari pokok pikiran saut selama ini. Pikiran semacam itu tidak
ada hebatnya dalam pemikiran sastra, kecuali, mungkin, telah berhasil
menyingkap politik sastra yang dilakukan TUK.


===================
SS: tidak ada orisinalitas an sich dalam kehidupan termasuk dalam
pemikiran. jadi kenapa apa yang diungkap Katrin harus merupakan
"lanjutan" dari pokok pikiran Saut! kenapa Katrin tidak boleh untuk
punya pendapat yang kebetulan sama dengan Saut! apakah Katrin itu
tidak bisa kritis untuk melihat kondisi yang sedang terjadi dalam
sastra kontemporer Indonesia yang dia sendiri sudah gelutin selama
bertahun-tahun itu, bahkan sampai mendapat gelar doktor sastra segala!
kau mengatakan di bawah "bacalah bukunya seks dan perempuan dalam
sastra. itu kajian yang serius tanpa kebencian", nah apa maksudanya
itu? bukankah kau di situ juga mengakui kalo Katrin juga bisa kritis.
tapi kenapa dalam isu TUK ini kau justru membaca (esei) Katrin dengan
tidak serius! pendapatmu ini sebenarnya sangat seksis, hudan! tersirat
di situ bahwa perempuan tidak akan bisa memikirkan apalagi menuliskan
tentang isu-isu "maskulin" seperti "politik sastra" terutama yang
sedang dilakukan oleh TUK dan para cecunguknya! kau telah membatasi
isu-isu apa yang "feminin" dan yang sangat pantas untuk dituliskan
oleh "perempuan"! perlu kau tahu, bukan "perempuan" bernama Katrin
saja yang melihat politik sastra TUK itu tapi banyak perempuan lain.
cuma Katrin yang menuliskan dan mempublikasikannya.

soal hebat atau tidak hebat, bukankah ini isu yang sama dengan apa
yang kau namai sebagai "dunia kangouw" di atas! (mestinya kau sebutkan
bahwa istilah "dunia kangouw" itu adalah buatan Saut Situmorang!)
istilah hebat atau tidak hebat jelas menunjukkan peristiwa
kalah-menang dalam sebuah "kompetisi". perbandingan itu terjadi
setelah adanya "pibu" dalam sebuah "kompetisi". jadi, hudan, kau
sadari atau tidak, kau sukai atau tidak, kau pun sangat dalam terlibat
dalam pemikiran "bunuh-membunuh" yang kau maksudkan itu!!!
==================


terhadap politik sastra seperti itu, saya pernah menyanggah saut, itu
bukan politik busuk, tapi semacam permainan dalam dunia kanak-kanak.

saya katakan, untuk sebagian, saya setuju dengan saut. tapi kalau
mengacu wawancaranya di beletin sastra UI, bahwa dia akan menyerang
terus sampai TUK hancur, lha, ini apa? dan niat itu rupanya dibuktikan
dengan tampilnya Katrin di republika "menyerang" saman. tapi, eh,
benar gak sih itu tulisan katrin, bukan tulisan saut yang meminjam
nama katrin? baca deh buku katrin dan 3 esai "katrin" di republika
itu. gaya bahasanya kok mirip tulisan kawanku saut?


=============
SS: gaya bahasa mana yang mirip itu? kenapa gak kau buktikan di sini?

kalok aku katakan bahwa aku akan menyerang TUK sampai hancur, kenapa
rupanya? apa ini salah? apa ini bukan konsistensi dari sebuah aksi,
sebuah tindakan! kalok kau, hudan, gak percaya ama konsistensi dalam
bertindak, itu persoalanmu! jangan kau ukur karakter orang dengan
dirimu! dan betapa sederhananya pemahamanmu tentang fraseku itu!
mungkin kerna aku penyair sedangkan kau cuma seorang prosais biasa
maka sulit bagimu untuk masuk ke dalam nuansa bahasa para penyair! di
dunia puisi, kami para penyair sudah sangat lama biasa bermain
metafora, kerna metaforalah kunci kami berkarya. ini beda dengan
duniamu yang cuma sibuk dengan plot dan karakterisasi itu hingga lupa
pada bahasa! mungkin inilah sebabnya kenapa dari dulu orang bilang
"penyair itu adalah pencipta bahasa"!!!

soal Katrin "menyerang" Saman, bukankah dalam buku Katrin yang kau
sebutkan tadi Katrin juga "menyerang" Saman! jadi kenapa dalam esei di
Republika itu hal ini menjadi sesuatu yang "baru" bagimu, padahal kau
bilang kau udah baca buku Katrin tsb!!! ada-ada aja kau, hudanOS!
jangan-jangan kau ini lagi ngebir di bawah banner depan TIM waktu
mengarang tulisanmu yan aneh ini!
=================


TUK kita sudah tahu melakukan politik sastra. tapi tolong dibertitahu
kepada saya, siapa yang tidak melakukan "politik" dalam profesinya
masing-masing di indonesia ini? bahkan saut pun sebenarnya, dengan
membidik TUK secara sistematis seperti ini, telah pula melakukan
politik sastra.


===========
SS: setuju! tapi ada bedanya!
politik dalam level individu itu keharusan semua makhluk hidup! pernah
dengar kan tentang "survival of the fittest"? seorang individu akan
berpolitik waktu dia bersosialisasi dengan individu lainnya. tapi
sebuah komunitas! apalagi yang kaya raya dan punya media massa
berpengaruh kayak TUK keparat itu! masak kau akan samakan politik
sastra seorang Saut Situmorang dengan politik sastra sebuah komunitas
kayak TUK! ah, ada-ada aja kau, hudan sayang...
============


coba kita tanya, sebelum bergulat dengan TUK ini, apa yang telah
dilakukan oleh saut dalam kesusastraan Indonesia? karya sastrawan
manakah yang telah dibahasnya dengan ilmu sastranya yang konon hebat
itu? tidak ada. jadi membela apa sebenarnya saut ini?


==============
SS: lha pernyataan apa ini! apa seseorang itu musti membahas karya
orang lain dulu baru boleh ribut-ribut soal politik sastra sebuah
komunitas yang parah tingkat ketamakannya! aturan dari mana ini!!!

tapi walo begitupun baiklah, hudan. kalok gak salah, aku pernah
mempublikasikan esei pembelaanku atas Chairil Anwar yang disikat
secara gak "fair" oleh Subagio Sastrowardoyo di eseinya dalam buku
"Sosok Pribadi dalam Sajak" itu. Eseiku itu dimuat di Horison bulan
Juli 1990. namaku waktu itu masih "Saut Mangapul", belom pake marga
"Situmorang". dan beberapa cerpenku pun muncul di Horison di tahun
itu. tanya bang Hansad Rangkuti deh, hehehe...

kemudian aku juga nulis lagi tentang Chairil di Koran Tempo TUK! judul
eseiku itu "Dikutuk-sumpahi Eros". aku lupa tahun terbitnya. tapi
tanyalah ama Nirwan Dewanto! hahaha...

aku juga nulis tentang puisi Agus Sarjono, untuk makalah dalam
pertempuran, hehehe..., "Ketika Jogja Menghakimi Jakarta" yang
diadakan Joni Ariadinata dkk di kampus IAIN Sunan Kalijaga Jogja. aku
juga lupa tanggalnya. tapi eseiku itu kemudian dimuat bang Martin
Aleida di majalah mejabudaya yang dikelolanya dengan beberapa kawan
seniman Jakarta di PDS HB Jassin.

nah cukup gak kredensialku sekarang untuk menghajar TUK? hahaha...
===============


Katrin dibilang parasit saman, inilah omongan yang keliru tentang
makna kritikus. bacalah bukunya seks dan perempuan dalam sastra. itu
kajian yang serius tanpa kebencian. saya ingatkan publik sastra
indonesia, orang seperti katrin jangan diseret ke pusaran konflik yang
makin tidak mutu, dan tak tentu mau apa sebenarnya. dalam artian orang
yang ikut-ikutan ini. gak paham masalah ingin ikut komentar. menambah
ruwet saja. dan itu akan merugikan sastra indonesia secara keseluruhan.

pantaslah manneke budiman bilang preman.

============
SS: oh jadi menurutmu aku memang pantas untuk dikatain "preman" ama
dosen sastra UI itu! ok, hudan, cheers!!! hahaha...
============


sebenarnya sastra indonesia akan makin maju, bila ada orang kayak
katrin yang mau menuliskan tentang sastra indonesia. mengapa? karena
kita mandeg dalam penerjemahan karya dan sosialisasi karya keluar.

mandegnya kita ini, sebenarnya ikut bersalah orang seperti rendra,
taufiq dan goenawan yang mempunyai jaringan keluar, tapi tidak mau
menggunakan jaringannya secara pro aktif kepada sastrawan indonesia
yang sangat banyak itu. mandeg dan mampat, sehingga energi sastrawan
yang setelah selesai menulis, atau pura-pura menulis seperti yang
sangat banyak saya amati, lalu menimbulkan ledakan. dan sedikit ada
masalah, maka meledaklah energi itu mencari jalan pelampiasannya.

=============
SS: salah kau, hudan. TUK melakukan banyak kerja terjemahan karya
sastra Indonesia dengan Lontarnya dulu! judul seri buku terjemahan itu
"Managerie". memang kau gak pernah masuk di situ, sayang sekali ya.
dan akhir-akhir ini mereka kan juga giat melakukan terjemahan! liat
tuh berapa banyak buku Goenawan Mohamad yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris! Sitok Srengenge aja punya buku tebal puisinya yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris! hebat kan. hahaha...
==============


bila manneke bereaksi seperti itu, saya masih bisa menerima. karena
sebuah reaksi harus dilihat latar belakangnya dulu. terutama dalam
hubungan dengan saut. tapi kalau ulil saya tidak paham. kawan kita ini
kelihatannya memang menjadi pembela sejati Goenawan - bukan TUK. maka
lebih baik dia menulis saja artikel di koran, kalau mau bereaksi.
sebab sedikit reaksi akan memancing dari peserta yang reaksinya entah
apa-apa rupanya dan tak bisa difilter karena karakter dunia maya.

================
SS: nah apa hubungan manneke bencong itu dengan Saut, hudan? kok gak
kau jelaskan. dia bilang aku memaki-maki dia ya! hahaha... kacian tuh
"laki-laki kecil". itu arti namanya dalam bahasa Londo, dan. kerna
begitu seriusnya pengen jilatin GM, dia sampai pikun kalok dialah yang
pertama kali ngejek-ngejek kami para pendekar sastra di "boemipoetra"
dengan mengatakan bahwa "bahasa" "boemipoetra" itu "vulgar" dan taik
kucing lainnya yang macam itu. padahal tak pernah kami sebut-sebut
namanya! emangnya dia begitu penting untuk disebut-sebut
"boemipoetra"!!! dia yang memulai, sampai di milis
jurnalperempuanhisteris itu, lha kok Saut Situmorang yang dibilang
memulai!!! gawat, mek. jujur aja doi kagak mampu! dan semua itu dia
lakukan di publik!!! dasar cuman "laki-laki kecil", hahaha...
=================


sejak 2007, kita telah mengalami dua polemik yang serius dan hebat
daya dampaknya. tapi saya bertanya: kemanakah kritikus sastra
indonesia, dalam arus polemik sepanjang tahun itu dan kini masih
berlangsung? mana suara mereka, yang mestinya ikut menjernihkan apa
yang sedang terjadi.

kritikus sastra telah menghilang.

(hudan hidayat)

================
SS; setuju, hudan sayang! soale "kritikus"nya mutunya cuman kayak
manneke itu, lha piye, rek! menang pulak dia di lomba menulis kritik
sastra DKJ, wah makin parah megalomaniaknya!!! padahal para jurinya,
kecuali satu orang, konce e dewe, hahaha... coba kalok Jogja yang
nilai!!! hahaha...
(Saut Situmorang)
================

Kirim email ke