Surat Andri Galesong Tambun Si Anak Selat:
SASTRA PULAU
Lily Yulianti, anakku,
Seperti kukatakan dalam surat terdahulu, musim semi Paris kali ini,
memperlihatkan kekhususan. Aku tidak menggunakan istilah 'keanehan" tapi
kekhususan. Karena kukira, cuaca jadi begini tidak lepas dari ulah manusia --
terutama pemilik kapital besar dan orang-orang yang menempatkan "uang sebagai
raja" [l'argent roi] yang tak acuh akan lingkungan. Ketidak acuhan, kadang
kulihat ibarat benalu yang menempel di tubuh bangsa kita di zaman yang diduga
modern. Padahal bagiku modern bukanlah Baratisasi dan bukan pula identik dengan
industrialisasi membuta. Modern , bagiku adalah kemampuan manusia menjawab
zaman secara tanggap dan apresiatif dengan tujuan memanusiawikan diri,
kehidupan dan masyarakat. Pandangan begini, erat bertaut dengan pembangunan
yang bertumpu pada pemberdayaan. Pembangunan yang tidak berdasarkan
pemberdayaan akan menjadi tak obah seperti membangun rumah pasir.
Ketidakacuhan begini juga kulihat merambat di tubuh dunia sastra negeri kita
dalam bentuk tidak sedikit orang yang menyebut diri penulis atau sastrawan
lebih asyik dengan diri sendiri atas nama "estetika murni". Sedangkan kita
bisa bertanya dan mempertanyakan apakah yang disebut estetika murni itu,
benar-benar murni bebas dari intevensi kepentingan -- entah sadar atau tidak --
terutama kepentingan politik dana ekonomi pada suatu kurun waktu tertentu.
Keadaan yang terjadi menyusul proses monopolisasi alat-alat produksi vital dan
terbentuknya negara sehingga berlangsung keadaan dehumanisasi. Monopolisasi
alat-alat produksi umum ini berdampak kemudian membentuk hubungan produksi
tertentu. Tubuh sastra pun dirambatinya bagaikan rotan menjalar melilit
pepohonan rimba. Secara samar dengan perbandingan ini, aku mencoba melukiskan
tempat sastra dalam masyarakat dan pengaruh lingkungan serta zaman terhadap
sastra sekaligus memperlihatkan jenis pohon sastra apa yang kena lilit
itu. Apakah ia akan menjadi "sastra sepi" atau "sastra sipongang di gunung"
ataukah masih bertahan sebagai suara anak manusia dengan mimpi-mimpi bagaikan
matahari . "Sastra matahari" yang sinarnya mencoba menabur cahaya ke segala
pojok-pojok penjuru sesuai dengan sejarah kelahirannya sendiri.
Melihat pulau-pulau tanahair saat berada di pelayaran atau penerbangan antar
benua dan pulau , aku sering merenunginya, termasuk membayangkan kehidupan
sastra pulau. Yaitu sastra-seni yang ada di semua pulau dan daerah di negeri
kepulauan kita.
Pada suatu periode, terutama pada tahun 1960an di masa pemerintahan Soekarno
, sastra pulau pernah mendapat perhatian besar dan digalakkan. Penerbitan
berbahasa daerah bermunculan untuk mengembangkan sastra berbahasa daerah.
Kosakata bahasa Indonesia, diperkaya terlebih dahulu dengan menggunakan serta
mencarinya pada kosakata bahasa-bahasa lokal dan bukan pertama-tama mencarinya
pada bahasa-bahasa asing. Bahkan sebuah seminar tentang hubungan bahasa lokal
dan bahasa Indonesia di Yogyakarta pernah berkesimpulan bahwa hubungan antara
bahasa lokal dan bahasa nasional Indonesia bersifat saling mendekati dan saling
mengisi. Bukan nasional tidak dipandang sebagai ancaman dan penghancuran bahasa
lokal dan bahasa lokal tidak dipandang sebagai lambang separatisme. Bahasa
lokal adalah bahasa ibu, alat pengungkap akrab bagi putera-puteri di daerah
bahasa lokal tersebut. Dan melahirkan bahasanya sendiri. Pada aktu itu sempat
terpikir , bagaimana menciptakan aksara bagi etnik-etnik
yang tidak punya aksara sendiri dalam kerangka mengembangkan sastra lokal
sebagai bagian dari sastra nasional serta melanjutkan tradisi sastra lisan
menjadi sastra tulisan.
Ketika Soekarno dijatuhkan dari pangung kekuasaan dengan tuduhan ia
mengkudeta dirinya sendiri, kekuasaan baru dengan politik baru, muncul jadi
penyelenggara negara yang setapak demi setapak merosot dari Republik dan
Indonesia menjadi imperium Jawa tipe Mataram. Sastra lokal ditelan oleh
dominasi dan surut seperti laut sedang surut. Hanya saja sastra tetap seperti
air mencari jalannya mengalir mencari muara dan laut. Menjawab kesurutan ini,
sastra lokal hidup dan dihidupkan oleh komunitas-komunitas sastra-seni yang
bertaburan di berbagai daerah dan pulau. Ini adalah penemuan khas dan
kreativitas angkatan imperium Mataram yang menggunakan label Republik Indonesia.
"Tour de Java Sastra Makassar" yang dipercayakan pada penyair Aan Mansyur
yang sekarang masih berlangsung kulihat sebagai tahap baru bagi perkembangan
bangkitnya sastra pulau menyusul berbagai kegiatan sebelumnya entah di Banten
atau di Kudus dan lain-lain..... Masalah kuncinya sekarang, kukira, terletak
pada jawaban atas pertanyaan orientasi sadar dan bukan instingtif. Sastra pulau
dengan orientasi nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan, bukan tidak
mungkin menjelma jadi dasar lahirnya Gerakan Kebudayaan yang republiken dan
berkeindonesiaan di negeri ini. Kebudayaan yang mengurung diri tidak pernah
akan berkembang menjadi gerakan kebudayaan nasional. Sektarisme, perujudan
dari konsep "manusia supra", hanya akan berujung pada sebuah jalan buntu.
Apabila Gerakan Kebudayaan yang republiken dan berkeindonesiaan ini benar bisa
terujud, maka bukan mustahil RI akan tegak gagah dan membanggakan siapa pun
yang menjadi warganya sebagaimana dahulu songkok menjadi simbol
putera Indonesia di luar negeri.
Soal sastra pulau ini pada 04 April 2008 saat berjumpa dengan Sitor
Situmorang, tamu Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam" di
Koperasi Restoran Indonesia di Paris, sudah kuangkat. Sitor nampak sangat
mendukung ide ini. Sitor bahkan menuturku bagaimana di Sumatera Utara,
anak-anak muda aktif mengembangkan sastra-seni Batak dan selalu berkonsultasi
dengan dirinya. Pematang Siantar, merupakan pusat aktivitas pengembangan
sastra-seni Batak. Medan menjadi pusat organisasinya. Sedangkan Johanna
Lederer, Ketua Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam"
mendengarku dengan tercengang. "Sastra-seni Indonesia bukan hanya di Jawa,
Johanna", ujarku. "Luar Jawa dan daerah sekarang tidak bisa diabaikan". Aku
kemudian menyebut soal "Tour de Java Sastra Makassar" dan adanya Luna Vidya,
penyair kelahiran Sentani, Papua, penyair dari Flores, Timor Barat, Lampung,
Riau, Medan dan daerah-daerah lainnya.... sebagai contoh. Kukatakan kepada
Johanna yang sering
mengundang sastrawan dari Indonesia ke Paris untuk menyelenggarakan
seminar-seminar sastra dalam rangka promosi sastra Indonesia di Paris, bahwa
Indonesia bukan hanya Jawa. Perspektif Indonesia tidak lagi di Jawa, tapi di
daerah. Karena itu selanjutnya kuharapkan "Pasar Malam" menaruh perhatian pada
sastrawan-seniman pulau dan daerah. Berpegang pada Jawa atau Jakarta-sentris
kukira pandangan yang kadaluwarsa. Merupakan pendekatan budaya sempit dalam
menggalang persahabatan Perancis-Indonesia dan mewujudkan nilai-nilai
republiken dan berkindonesiaan.
"Wah, ini hal baru menarik bagiku. Apalagi tentang adanya penyair dari Papua
itu. Apakah kau punya kontak dengan mereka?" tanya Johanna padaku.
"Tentu saja. Jika tidak aku tak berani bicara begini", jawabku pasti. "Jawa
dan terutama Jakarta-sentris kukira adalah pendekatan dan pandangan yang sudah
tak tanggap zaman dan apresiattif. Pandangan orang-orang yang tak mengikuti
perkembangan", tambahku menggunakan kebiasaan Perancis yang bicara langsung.
Dalam menjawabku, Johanna berkata:"Pasti kuperhatikan pandangan ini".
Sementara Sitor yang duduk di sebelahku hanya mesam-mesem. Entah apa yang
membuatnya demikian. Sitor hanya berkata: "Nih, jangan lupa antologi puisiku".
Sitor memberiku antologi puisinya "Biksu Tanpa Jubah". Mesam-mesem pun suatu
bahasa apalagi bagi orang yang sudah lama saling kenal.
Tanggal 10 April 2008 mendatang, Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak akan
datang ke Koperasi Restoran Indonesia kami. Apakah soal sastra pulau ini akan
kuajukan dalam pertemuan dengan mereka nanti? Tak bisa kupastikan sekarang.
Kuajukan atau tidak, tapi bukankah masalah sastra pulau dan lokal tetap ada.
Goenawan dan Laksmi hanyalah dua nama di Indonesia. Perkembangan dan mekar
redupnya sastra pulau dan daerah terletak di tangan sastrawan-seniman pulau dan
daerah. Perkembangan sastra pulau dan daerah sekarang mengingatkan aku pada
baris-baris haiku yang Lily kirimkan:
"kesepianku tak seberapa
pagi ini aku masih ditemani kol segar"
Sepi tidaknya sastra pulau dan daerah, orang pulau dan daerahlah yang
menentukan. Bukan Jakarta dan Paris. Merekalah penanggungjawab
timbultenggelamnya sastra pulau dan daerah sesungguhnya.
Sampai surat mendapat Ly.
Paris, Musim Semi 2008
---------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
Keterangan :
Foto-foto terlampir adalah foto-foto Sitor Situmorang ketika datang ke
Koperasi Restoran Indonesia di Paris, 04 April 2008. Sitor akan datang kembali
November 2008 ke Paris atas undangan "Pasar Malam" guna mengisi acara sastra.
Foto diambil dari Dokumentasi JJK
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
IMG_0553.JPG
IMG_0554.JPG
IMG_0555.JPG
IMG_0556.JPG
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
----------
IMG_0553.JPG
----------
IMG_0554.JPG
----------
IMG_0555.JPG
----------
IMG_0556.JPG
[Non-text portions of this message have been removed]