Penerbitan Surat Kabar Terancam 
Setelah Harga Kertas Koran Naik

LONJAKAN harga kertas dunia yang terus terjadi sejak akhir 2007 lalu 
diperkirakan akan mengguncang industri media cetak di Indonesia. Serikat 
Penerbit Suratkabar (SPS) memperkirakan, ratusan penerbit surat kabar bakal 
gulung tikar akibat harga kertas yang terus meroket dalam dua bulan terakhir.

"Saya yakin akan banyak media massa cetak hilang dari peredaran. Seperti 
terjadi tahun 2000-2002 lalu, 1.300 penerbitan gulung tikar. Tahun ini mungkin 
ratusan yang akan hilang. Termasuk juga koran-koran daerah seperti di Makassar 
ini," Ketua Harian SPS Pusat, M Ridlo 'Eisy, di Makassar, Senin (7/4). Ridlo 
Eisy berbicara pada Focus Discussion Group (FGD) Menggagas Grand Desaign Masa 
Depan Pers Indonesia bersama sejumlah pemimpin media massa terbitan Makassar di 
Hotel Clarion. 

Dalam acara yang digelar bekerja sama dengan Departeme Komunikasi dan Informasi 
(Depkominfo) RI ini hadir sebagai pembicara, di antaranya, Pemimpin Redaksi 
Tribun Timur Dahlan, Manajer Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Kompas 
Agnes Aristiani, Wakil Direktur Fajar Group Syamsu Nur, dan Direktur Institut 
Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta, Yoseph Stanley Adi Prasetya. Sejumlah 
pimpinan koran yang hadir dalam diskusi tersebut mengaku, kenaikan harga koran 
sudah sangat berpengaruh. Dalam waktu dekat, koran-koran di Makassar akan 
mengambil tindakan efisiensi biaya produksi, termasuk mengevaluasi harga 
berlangganan dan harga pemasangan iklan. 

Data SPS menunjukkan, harga kertas koran mulai meroket sejak lima tahun lalu. 
Dari 560 dolar AS per ton atau sekitar Rp 5.040.000 (kurs Rp 9.000 per dolar) 
pada tahun 2003 menjadi 600 dolar (Rp 5,4 juta) pada 2004. Tahun berikutnya 
harga kertas naik lagi 620 dolar (Rp 5,58 juta) per ton. Harga 2006-2007 
bertahan di kisaran 675 dolar (6,075 juta) per ton. 

Pada awal 2008, harga kertas koran kembali bergejolak. Akibat kenaikan harga 
minyak dunia, produsen kertas sudah dua kali menaikkan harga kertas koran, 
yaitu menjadi 705 dolar (Rp 6,34 juta) per ton pada kuartal I dan 800 dolar AS 
(Rp 7,2 juta) per ton pada kuartal II. Kenaikan kedua terjadi 1 April lalu. 

Satu Pabrik 

Selama ini, produk kertas koran di Indonesia kualitas satu hanya disuplai dari 
satu pabrik, perusahaan modal asing asal Korea, PT Aspex Kumbong. Perusahaan 
ini memiliki kapasitas 
produksi 400 ribu ton per tahun atau 52 persen dari kapasitas produksi nasional 
yang sebesar 770 ribu ton per tahun. 

"Tahun lalu produsen tidak menaikkan harga kertas koran karena stok bahan baku 
masih cukup. Tetapi begitu masuk tahun 2008 dan stok berkurang, mereka akhirnya 
juga menaikkan harga. Pada 4 April lalu kami sudah melakukan rapat untuk 
membahas soal kenaikan ini," katannya. 

SPS, kata Ridlo, akan meneliti apakah ada tendensi monopoli oleh PT Aspex 
Kumbong di balik kenaikan harga kertas koran ini. Selain itu, pihaknya juga 
akan meminta beberapa pabrik kertas di Indonesia untuk memproduksi kertas 
koran. 

Konvergensi Media 

Diskusi SPS juga membicarakan format media massa cetak ke depan untuk dapat 
terus hidup di tengah-tengah tantangan, termasuk tantangan lonjakan kenaikan 
harga bahan produksi koran. Selain juga membicarakan hal-hal teknis menyangkut 
profesionalisme media massa. 

Bagian PSDM Kompas, Agnes Aristiani, mengatakan, ada dua hal yang bisa 
dilakukakan oleh perusahaan koran untuk terus bertahan hidup, yaitu mengubah 
paradigma menjadi informing media. Koran harus menjadi guide book yang penuh 
informasi, ringan, padat dan bermutu. 

Yang kedua, ke depan media massa cetak juga harus didukung dengan edisi online, 
termasuk elektronik. Karena itu, media pun harus menjadi multimedia. "Dalam 
waktu yang tidak terlalu lama lagi Kompas akan mengoperasikan TV Kompas setelah 
lebih dulu memiliki portal online," kata Agnes. 

Ridlo mengatakan, media massa cetak harus menuju pada konvergensi media. Ia 
mengistilahkan, koran harus memiliki perahu-perahu lain seperti portal dan 
mobile news. "Kompas dan koran daerahnya seperti Tribun Timur sudah melakukan 
itu. Itulah grand design media massa ke 
depan," katanya.

Tribun Timur Makassar.- Selasa, 08-04-2008 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke