Tadinya saya pikir ada tanggapan atas tanggapan yang seru.... Ternyata tidak ada yang baru..... Oooaaahhheemmmm...!!!! Satrio Arismunandar Producer "SISI LAIN" (tayang Senin-Jumat, pukul 13.30-14.00 WIB) - News Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com "Ungkapkanlah kebenaran itu, meskipun pahit" (Hadist Nabi)
----- Original Message ---- From: emabdulah <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, April 7, 2008 10:16:07 PM Subject: [ppiindia] Ayat – ayat Cinta – Babak Kedua Ayat – ayat Cinta – Babak Kedua Sehubungan dengan membludaknya komentar atas kritikan saya tentang film AAC, bukan AAT. (entah kenapa saya kok selalu keliru menulis AAT, bukan AAC) saya mengucapkan banyak terimakasih atas semua komentar yang membuat saya ....... tambah menguap (entah kenapa kalau menulis atau membaca kata “menguap” mulut saya terus menguap. Apalagi melihat orang menguap. Makin lebar saya menguap. heran). Membaca puluhan (sebetulnya lebih. Tapi kalau saya sebutkan, takut dikira sombong) komentar-komentar yang bernada menghujat, membuat benak saya terheran-heran. Ternyata bangsa ini masih belum siap menerima kritikan. Mustinya mereka bersyukur bahwa masih ada anak manusia yang, selain mengkritik juga memberi solusi. Coba baca resensi-resensi film di harian atau majalah. Mana ada yang memberi solusi? Semua hanya memberi pujian, kritikan. Tapi tak memberikan pilihan. Di tulisan saya itu, saya bukan Cuma mengkritik, tapi juga memberi pilihan. Sebab moto saya adalah “Bukan Cuma mengkritik, tapi juga memberi solusi”. Mirip iklan asuransi. (kalau nulis “Cuma” kok huruf “C” nya jadi besar sendiri ya). Sifat tidak mau dikritik adalah sifat manusia otoriter, egois, mementingkan diri sendiri dan kurang memiliki jiwa sosial. Orangtua otoriter dijamin akan mengalami syndroma pemberontakan dari anak-anaknya. Lelaki atau wanita yang egois, selfish, ananiyah, tidak akan dihargai lingkungannya. Orang yang berhati lapang menerima kritikan, biasanya punya jiwa sosial yang tinggi. Kombinasi dari otoriter, egois dan anti sosial, bisa menuju pada stadium yang lebih tinggi, yaitu diktatorship. Kalau sifat diktator dilekatkan pada seorang presiden, bisa dibilang lumrah. Tapi kalau seseorang menjadi diktator gara-gara sinetron, ya, na’udzubillah. Komentator lain, menilai saya sebagai manusia yang tidak punya rasa seni. Seni itu bukan hanya sinetron yang menampilkan wajah-wajah cantik dan seksi yang mengundang mudlarat. Ghodhul bashor (menundukkan pandangan) saya kira juga berlaku ketika kita memelototi layar kaca. Nenek-nenek renta dengan wajah dihiasi senyum ketika mengangkat kayu bakar dari hutan, bagi saya adalah suatu pemandangan yang patut diabadikan dengan kamera, daripada mahasiswi-mahasiswi yang berpakaian ketat, mengundang syahwat lelaki. Lagi pula sinetron-sinetron kita, tidak mengandung satu pun unsur seni dramaturgi. Hanya, sekali lagi, modal wajah mulus. Minus seni akting. Berteriak-teriak, melotot, tak tentu sebabnya. Yang, dus, menjadi dasar pembuatan film AAC. “Makanya, Boss, baca buku aslinya, biar tahu kejadian yang sebenarnya!” ada yang berteriak begitu. Heran. Kan di tulisan saya, saya tidak satu pun menyinggung buku aslinya, Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Yang saya kritik itu filmnya, karya Hanung Bramantyo dkk. Sekali lagi filmnya, bukan bukunya. Piye toh. Yang proporsional dong kalau marah. Baca lagi tulisan saya, setelah itu datang lagi, bawa …….. makanan. Yang banyak. Yang terparah, gara-gara kritikan saya terhadap film AAT, saya dituduh tidak memiliki jiwa nasionalisme. Tidak mencintai produk dalam negri. Kalau kwalitas produk dalam negri tidak bagus, untuk apa dipakai? Mirip ketika saya menulis tentang “Perang” ketika sedang ribut-ributnya rasa nasionalisme bangsa Indonesia diusik karena sengketa perairan Ambalat. Saya dituduh pembelot dan tidak nasionalis-patiroti s. Lha wong ngurus satu bidang pulau saja tidak becus, kok mau ngurus pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi. Serahkan saja pada Malaysia atau Singapura. Kita kan belum bisa memasang kancing celana kita sendiri, kok mau ngurus sebuah pulau. (sabar…. Sabar…. Minum dulu biar dingin). Nasionalisme tidak bisa diukur dengan kecintaan kita pada suatu produk. Sebab banyak sekali produk yang kita pakai dan kita makan, ternyata bukan made in domestic. Bahkan tahu dan tempe pun, rantai makanan yang teredah di meja makan, ternyata bahan bakunya bukan dari kebun kita sendiri, tapi diimpor dari amrik. Tugas: Tuliskan nama-nama produk makanan dan bukan makanan, yang berasal dari luar negri dan dari dalam negri. Bikin tabel! Beri keterangan bahan baku dan asalnya untuk setiap produk. Lalu ukur kadar nasionalisme kalian berdasarkan tabel tsb. Paling lambat besor sore harus sudah dikumpulkan. He he he. Lagi pula kalau mau main nasionalis-nasional isan berdasarkan produk yang kita gunakan, saya bisa dibilang lebih nasionalis daripada si Fahri di film AAC atau Guruh Sukarno Putro yang anak proklamator, loh. Sebab saya berani menikahi seorang janda tua beranak dua dan miskin, tapi bikinan asli orang Indonesia, dibandingkan menikah dengan wanita Perancis anak seorang tuan tanah yang rindu berat pada saya. Atau gadis Malaysia yang manis dengan suaranya yang merdu dan selalu menggodaku. (Dan ada beberapa lagi cewek luar negri yang sebetulnya bisa masuk nominasi jadi istri. Tapi tak perlu saya sebutkan satu persatu, takut dikira sombong). Kembali ke film AAC. Para komentator atas kritikan saya atas film tsb, menilai bahwa film itu sangat bagus, karena ketua MPR pun memujinya. Dan kabar terakhir presiden pun sudah menontonnya dan menyunahkan rakyatnya untuk menonton film tsb. Saya bukannya tambah respect kok. Tapi malah jadi prihatin. Di tengah-tengah kekalutan ekonomi masyarakat, kok sempat-sempatnya seorang presiden menonton sinetron. Bagaimana mau mengatur harga tahu-tempe, kalau tingkat intelegensinya tak beda dengan ABG-ABG yang gila sinetron? Bagaimana mau mengatur harga minyak tanah, gas, BBM, kalau seorang presidennya memproklamirkan diri suka menonton sebuah film yang tidak mendidik, tidak bermutu dan tidak ada unsur dakwahnya sama sekali? Ya, walaupun presiden yang menonton, walaupun sepuluh atau dua puluh juta orang sudah menonton, atau bahkan lebih. Atau yang paling ekstrim misalkan saya ditangkap dan dipenjara gara-gara mengrkiritik film AAT, saya tetap akan mengatakan film AAAT tidak layak dijadikan tontonan. Tidak bermutu, tidak mendidik dan tidak islami. (tapi di penjara saya tak akan merengek-rengek seperti si Fahri, menendang – nendang tembok. Menghujat Tuhan dan merintih seperti anak kecil kehilangan toet-toet.) Sekian dulu tanggapan saya atas tanggapan pembaca atas tanggapan saya atas film AAT. Buat yang sudah bersusah payah membuka mailboxnya dan tak menemukan email balasan saya, saya mohon maaf . Sebab, gara-gara tulisan-tulisan saya yang mirip tulisan anak SD, saya harus berdebat di forum-forum liberal di situs-situs luar negri (tidak perlu saya sebutkan nama situsnya satu per satu, nanti dikira sombong). Semoga bermanfaat. Wassalam ------------ --------- --------- --- You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost. [Non-text portions of this message have been removed] ____________________________________________________________________________________ You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost. http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com [Non-text portions of this message have been removed]

