betul sekali:

"Ya, walaupun presiden yang menonton, walaupun sepuluh atau dua puluh 
juta orang sudah menonton, atau bahkan lebih. Atau yang paling 
ekstrim misalkan saya ditangkap dan dipenjara gara-gara mengrkiritik 
film AAT, saya tetap akan mengatakan film AAAT tidak layak dijadikan 
tontonan. 

Tidak bermutu, tidak mendidik dan tidak islami. (tapi di penjara saya 
tak akan merengek-rengek seperti si Fahri, menendang – nendang 
tembok. Menghujat Tuhan dan merintih seperti anak kecil kehilangan 
toet-toet.)..."

*** Jumlah penonton memang bukan tolok ukur kualitas sebuah barang 
tontonan. Film ini juga tak memiliki effek mendidik. Mengkritisi 
produk nasional bukan berarti tak cinta bangsa, justru prihatin akan 
kekonyolan produk perfilman bangsa ini. Menangis, ber-teriak teriak, 
me-nari nari, kisah mengenai hantu...

Maju terus bung

Salam

Danardono







--- In [email protected], emabdulah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ayat – ayat Cinta – Babak Kedua
>    
>   Sehubungan dengan membludaknya komentar atas kritikan saya 
tentang film AAC, bukan AAT. (entah kenapa saya kok selalu keliru 
menulis AAT, bukan AAC) saya mengucapkan banyak terimakasih atas 
semua komentar yang membuat saya ....... tambah menguap (entah kenapa 
kalau menulis atau membaca kata "menguap" mulut saya terus menguap. 
Apalagi melihat orang menguap. Makin lebar saya menguap. heran).
>    
>   Membaca puluhan (sebetulnya lebih. Tapi kalau saya sebutkan, 
takut dikira sombong) komentar-komentar yang bernada menghujat, 
membuat benak saya terheran-heran. Ternyata bangsa ini masih belum 
siap menerima kritikan.  Mustinya mereka bersyukur bahwa masih ada 
anak manusia yang, selain mengkritik juga memberi solusi. Coba baca 
resensi-resensi film di harian atau majalah. Mana ada yang memberi 
solusi? Semua hanya memberi pujian, kritikan. Tapi tak memberikan 
pilihan. Di tulisan saya itu, saya bukan Cuma mengkritik, tapi juga 
memberi pilihan. Sebab  moto saya adalah "Bukan Cuma mengkritik, tapi 
juga memberi solusi". Mirip iklan asuransi. (kalau nulis "Cuma" kok 
huruf "C" nya jadi besar sendiri ya).
>    
>   Sifat tidak mau dikritik adalah sifat manusia otoriter, egois, 
mementingkan diri sendiri dan kurang memiliki jiwa sosial. Orangtua 
otoriter dijamin akan mengalami syndroma pemberontakan dari anak-
anaknya. Lelaki atau wanita yang egois, selfish, ananiyah, tidak akan 
dihargai lingkungannya. Orang yang berhati lapang menerima kritikan, 
biasanya punya jiwa sosial yang tinggi. Kombinasi dari otoriter, 
egois dan anti sosial, bisa menuju pada stadium yang lebih tinggi, 
yaitu diktatorship. Kalau sifat diktator dilekatkan pada seorang 
presiden, bisa dibilang lumrah. Tapi kalau seseorang menjadi diktator 
gara-gara sinetron, ya, na'udzubillah.
>    
>   Komentator lain, menilai saya sebagai manusia yang tidak punya 
rasa seni. Seni itu bukan hanya sinetron yang menampilkan wajah-wajah 
cantik dan seksi yang mengundang mudlarat. Ghodhul bashor 
(menundukkan pandangan) saya kira juga berlaku ketika kita memelototi 
layar kaca. Nenek-nenek renta dengan wajah dihiasi senyum ketika 
mengangkat kayu bakar dari hutan, bagi saya adalah suatu pemandangan 
yang patut diabadikan dengan kamera, daripada mahasiswi-mahasiswi 
yang berpakaian ketat, mengundang syahwat lelaki.   
>    
>   Lagi pula sinetron-sinetron kita, tidak mengandung satu pun unsur 
seni dramaturgi. Hanya, sekali lagi, modal wajah mulus. Minus seni 
akting. Berteriak-teriak, melotot, tak tentu sebabnya. Yang, dus, 
menjadi dasar pembuatan film AAC.
>    
>   "Makanya, Boss, baca buku aslinya, biar tahu kejadian yang 
sebenarnya!" ada yang berteriak begitu. Heran. Kan di tulisan saya, 
saya tidak satu pun menyinggung buku aslinya, Ayat-ayat Cinta karya 
Habiburrahman El Shirazy. Yang saya kritik itu filmnya, karya Hanung 
Bramantyo dkk. Sekali lagi filmnya, bukan bukunya. Piye toh. Yang 
proporsional dong kalau marah. Baca lagi tulisan saya, setelah itu 
datang lagi, bawa …….. makanan. Yang banyak.  
>    
>   Yang terparah, gara-gara kritikan saya terhadap film AAT, saya 
dituduh tidak memiliki jiwa nasionalisme. Tidak mencintai produk 
dalam negri. Kalau kwalitas produk dalam negri tidak bagus, untuk apa 
dipakai? Mirip ketika saya menulis tentang "Perang" ketika sedang 
ribut-ributnya rasa nasionalisme bangsa Indonesia diusik karena 
sengketa perairan Ambalat. Saya dituduh pembelot dan tidak nasionalis-
patirotis. Lha wong ngurus satu bidang pulau saja tidak becus, kok 
mau ngurus pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi. Serahkan saja pada 
Malaysia atau Singapura. Kita kan belum bisa memasang kancing celana 
kita sendiri, kok mau ngurus sebuah pulau. (sabar…. Sabar…. Minum 
dulu biar dingin).
>    
>   Nasionalisme tidak bisa diukur dengan kecintaan kita pada suatu 
produk. Sebab banyak sekali produk yang kita pakai dan kita makan, 
ternyata bukan made in domestic. Bahkan tahu dan tempe pun, rantai 
makanan yang teredah di meja makan, ternyata bahan bakunya bukan dari 
kebun kita sendiri, tapi diimpor dari amrik. Tugas: Tuliskan nama-
nama produk makanan dan bukan makanan, yang berasal dari luar negri 
dan dari dalam negri. Bikin tabel! Beri keterangan bahan baku dan 
asalnya untuk setiap produk. Lalu ukur kadar nasionalisme kalian 
berdasarkan tabel tsb. Paling lambat besor sore harus sudah 
dikumpulkan. He he he.
>    
>   Lagi pula kalau mau main nasionalis-nasionalisan berdasarkan 
produk yang kita gunakan, saya bisa dibilang lebih nasionalis 
daripada si Fahri di film AAC atau Guruh Sukarno Putro yang anak 
proklamator, loh. Sebab saya berani menikahi seorang janda tua 
beranak dua dan miskin, tapi bikinan  asli orang Indonesia, 
dibandingkan menikah dengan wanita Perancis anak seorang tuan tanah 
yang rindu berat pada saya. Atau gadis Malaysia yang manis dengan 
suaranya yang merdu dan selalu menggodaku. (Dan ada beberapa lagi 
cewek luar negri yang sebetulnya bisa masuk nominasi jadi istri. Tapi 
tak perlu saya sebutkan satu persatu, takut dikira sombong).
>    
>   Kembali ke film AAC. Para komentator atas kritikan saya atas film 
tsb, menilai bahwa film itu sangat bagus, karena ketua MPR pun 
memujinya. Dan kabar terakhir presiden pun sudah menontonnya dan 
menyunahkan rakyatnya untuk menonton film tsb. Saya bukannya tambah 
respect kok. Tapi malah jadi prihatin. Di tengah-tengah kekalutan 
ekonomi masyarakat, kok sempat-sempatnya seorang presiden menonton 
sinetron.  Bagaimana mau mengatur harga tahu-tempe, kalau tingkat 
intelegensinya tak beda dengan ABG-ABG yang gila sinetron? Bagaimana 
mau mengatur harga minyak tanah, gas, BBM, kalau seorang presidennya 
memproklamirkan diri suka menonton sebuah film yang tidak mendidik, 
tidak bermutu dan tidak ada unsur dakwahnya sama sekali?
>    
>   Ya, walaupun presiden yang menonton, walaupun sepuluh atau dua 
puluh juta orang sudah menonton, atau bahkan lebih. Atau yang paling 
ekstrim misalkan saya ditangkap dan dipenjara gara-gara mengrkiritik 
film AAT, saya tetap akan mengatakan film AAAT tidak layak dijadikan 
tontonan. Tidak bermutu, tidak mendidik dan tidak islami. (tapi di 
penjara saya tak akan merengek-rengek seperti si Fahri, menendang – 
nendang tembok. Menghujat Tuhan dan merintih seperti anak kecil 
kehilangan toet-toet.)
>    
>   Sekian dulu tanggapan saya atas tanggapan pembaca atas tanggapan 
saya atas film AAT. Buat yang sudah bersusah payah membuka mailboxnya 
dan tak menemukan email balasan saya, saya mohon maaf . Sebab, gara-
gara tulisan-tulisan saya yang mirip tulisan anak SD, saya harus 
berdebat di  forum-forum liberal di situs-situs luar negri (tidak 
perlu saya sebutkan nama situsnya satu per satu, nanti dikira 
sombong).
>    
>   Semoga bermanfaat.
>    
>   Wassalam
> 
>        
> ---------------------------------
> You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of 
Blockbuster Total Access, No Cost.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke