1)Secara materialistik, apa dong yang menjadi ukuran sebuah barang 
tontonan berkwalitas?

2) Kalau film tidak ada tangisan, teriakan, menari, hantu..ya film 
gagu dong?...:-)

Mbah udah nonton film AAC ya?

Baru hari Minggu kemaren, kebetulan saya ngobrol sama seorang pere 
soal film AAC di salon. He..he..masing2 kita lagi krimbat. Pere itu 
bilang, gara2 nonton film AAC, saudarinya jadi pake jilbab.

Saya pribadi sih belum bisa menangkap apa hubungannya film AAC 
dengan keinginan seorng trus memakai jilab. Saya cuma bersyukur saja 
kalau film itu membawa kebaikan. Efek mendidik kah ini?

Betulkah tidak ada efek mendidik film AAC ini? Untuk saya sih banyak 
unsur mendidiknya: Bagaimana seharusnya seorang mengenali calon 
istri/suaminya (istilah modern: pacaran, istilah islam: ta'aruf). 
Bagaimana poligami itu seharusnya (dimana restu dari istri pertama 
itu diperlukan). Bagaimana kaum perempuan boleh "menembak" calonnya 
lebih dulu...:-). Bagaimana seorang AIsyah harus memilih antara 
menyogok hakim ato mengikhlaskan poligami, dalam membantu suaminya. 
Bagaimana sulitnya hidup berpoligami.

Coba bandingkan dengan film "Buruan Cium Gue" ato "40 Hari 
Bangkitnya Pocong" ato..ato..bahkan film kartun yang jagoan itu yang 
mengakibatkan seorang anak ikut2an jadi jagoan dan akhirnya tewas!

Yah. Cuma perlu berfikir positif sajalah.

wassalam,


--- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> betul sekali:
>> *** Jumlah penonton memang bukan tolok ukur kualitas sebuah 
barang 
> tontonan. Film ini juga tak memiliki effek mendidik. Mengkritisi 
> produk nasional bukan berarti tak cinta bangsa, justru prihatin 
akan 
> kekonyolan produk perfilman bangsa ini. Menangis, ber-teriak 
teriak, 
> me-nari nari, kisah mengenai hantu...
> 
> Maju terus bung
> 
> Salam
> 
> Danardono
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], emabdulah <emabdulah@> wrote:
> >
> > Ayat – ayat Cinta – Babak Kedua
> >    
> >   Sehubungan dengan membludaknya komentar atas kritikan saya 
> tentang film AAC, bukan AAT. (entah kenapa saya kok selalu keliru 
> menulis AAT, bukan AAC) saya mengucapkan banyak terimakasih atas 
> semua komentar yang membuat saya ....... tambah menguap (entah 
kenapa 
> kalau menulis atau membaca kata "menguap" mulut saya terus 
menguap. 
> Apalagi melihat orang menguap. Makin lebar saya menguap. heran).
> >    
> >   Membaca puluhan (sebetulnya lebih. Tapi kalau saya sebutkan, 
> takut dikira sombong) komentar-komentar yang bernada menghujat, 
> membuat benak saya terheran-heran. Ternyata bangsa ini masih belum 
> siap menerima kritikan.  Mustinya mereka bersyukur bahwa masih ada 
> anak manusia yang, selain mengkritik juga memberi solusi. Coba 
baca 
> resensi-resensi film di harian atau majalah. Mana ada yang memberi 
> solusi? Semua hanya memberi pujian, kritikan. Tapi tak memberikan 
> pilihan. Di tulisan saya itu, saya bukan Cuma mengkritik, tapi 
juga 
> memberi pilihan. Sebab  moto saya adalah "Bukan Cuma mengkritik, 
tapi 
> juga memberi solusi". Mirip iklan asuransi. (kalau nulis "Cuma" 
kok 
> huruf "C" nya jadi besar sendiri ya).
> >    
> >   Sifat tidak mau dikritik adalah sifat manusia otoriter, egois, 
> mementingkan diri sendiri dan kurang memiliki jiwa sosial. 
Orangtua 
> otoriter dijamin akan mengalami syndroma pemberontakan dari anak-
> anaknya. Lelaki atau wanita yang egois, selfish, ananiyah, tidak 
akan 
> dihargai lingkungannya. Orang yang berhati lapang menerima 
kritikan, 
> biasanya punya jiwa sosial yang tinggi. Kombinasi dari otoriter, 
> egois dan anti sosial, bisa menuju pada stadium yang lebih tinggi, 
> yaitu diktatorship. Kalau sifat diktator dilekatkan pada seorang 
> presiden, bisa dibilang lumrah. Tapi kalau seseorang menjadi 
diktator 
> gara-gara sinetron, ya, na'udzubillah.
> >    
> >   Komentator lain, menilai saya sebagai manusia yang tidak punya 
> rasa seni. Seni itu bukan hanya sinetron yang menampilkan wajah-
wajah 
> cantik dan seksi yang mengundang mudlarat. Ghodhul bashor 
> (menundukkan pandangan) saya kira juga berlaku ketika kita 
memelototi 
> layar kaca. Nenek-nenek renta dengan wajah dihiasi senyum ketika 
> mengangkat kayu bakar dari hutan, bagi saya adalah suatu 
pemandangan 
> yang patut diabadikan dengan kamera, daripada mahasiswi-mahasiswi 
> yang berpakaian ketat, mengundang syahwat lelaki.   
> >    
> >   Lagi pula sinetron-sinetron kita, tidak mengandung satu pun 
unsur 
> seni dramaturgi. Hanya, sekali lagi, modal wajah mulus. Minus seni 
> akting. Berteriak-teriak, melotot, tak tentu sebabnya. Yang, dus, 
> menjadi dasar pembuatan film AAC.
> >    
> >   "Makanya, Boss, baca buku aslinya, biar tahu kejadian yang 
> sebenarnya!" ada yang berteriak begitu. Heran. Kan di tulisan 
saya, 
> saya tidak satu pun menyinggung buku aslinya, Ayat-ayat Cinta 
karya 
> Habiburrahman El Shirazy. Yang saya kritik itu filmnya, karya 
Hanung 
> Bramantyo dkk. Sekali lagi filmnya, bukan bukunya. Piye toh. Yang 
> proporsional dong kalau marah. Baca lagi tulisan saya, setelah itu 
> datang lagi, bawa …….. makanan. Yang banyak.  
> >    
> >   Yang terparah, gara-gara kritikan saya terhadap film AAT, saya 
> dituduh tidak memiliki jiwa nasionalisme. Tidak mencintai produk 
> dalam negri. Kalau kwalitas produk dalam negri tidak bagus, untuk 
apa 
> dipakai? Mirip ketika saya menulis tentang "Perang" ketika sedang 
> ribut-ributnya rasa nasionalisme bangsa Indonesia diusik karena 
> sengketa perairan Ambalat. Saya dituduh pembelot dan tidak 
nasionalis-
> patirotis. Lha wong ngurus satu bidang pulau saja tidak becus, kok 
> mau ngurus pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi. Serahkan saja pada 
> Malaysia atau Singapura. Kita kan belum bisa memasang kancing 
celana 
> kita sendiri, kok mau ngurus sebuah pulau. (sabar…. Sabar…. Minum 
> dulu biar dingin).
> >    
> >   Nasionalisme tidak bisa diukur dengan kecintaan kita pada 
suatu 
> produk. Sebab banyak sekali produk yang kita pakai dan kita makan, 
> ternyata bukan made in domestic. Bahkan tahu dan tempe pun, rantai 
> makanan yang teredah di meja makan, ternyata bahan bakunya bukan 
dari 
> kebun kita sendiri, tapi diimpor dari amrik. Tugas: Tuliskan nama-
> nama produk makanan dan bukan makanan, yang berasal dari luar 
negri 
> dan dari dalam negri. Bikin tabel! Beri keterangan bahan baku dan 
> asalnya untuk setiap produk. Lalu ukur kadar nasionalisme kalian 
> berdasarkan tabel tsb. Paling lambat besor sore harus sudah 
> dikumpulkan. He he he.
> >    
> >   Lagi pula kalau mau main nasionalis-nasionalisan berdasarkan 
> produk yang kita gunakan, saya bisa dibilang lebih nasionalis 
> daripada si Fahri di film AAC atau Guruh Sukarno Putro yang anak 
> proklamator, loh. Sebab saya berani menikahi seorang janda tua 
> beranak dua dan miskin, tapi bikinan  asli orang Indonesia, 
> dibandingkan menikah dengan wanita Perancis anak seorang tuan 
tanah 
> yang rindu berat pada saya. Atau gadis Malaysia yang manis dengan 
> suaranya yang merdu dan selalu menggodaku. (Dan ada beberapa lagi 
> cewek luar negri yang sebetulnya bisa masuk nominasi jadi istri. 
Tapi 
> tak perlu saya sebutkan satu persatu, takut dikira sombong).
> >    
> >   Kembali ke film AAC. Para komentator atas kritikan saya atas 
film 
> tsb, menilai bahwa film itu sangat bagus, karena ketua MPR pun 
> memujinya. Dan kabar terakhir presiden pun sudah menontonnya dan 
> menyunahkan rakyatnya untuk menonton film tsb. Saya bukannya 
tambah 
> respect kok. Tapi malah jadi prihatin. Di tengah-tengah kekalutan 
> ekonomi masyarakat, kok sempat-sempatnya seorang presiden menonton 
> sinetron.  Bagaimana mau mengatur harga tahu-tempe, kalau tingkat 
> intelegensinya tak beda dengan ABG-ABG yang gila sinetron? 
Bagaimana 
> mau mengatur harga minyak tanah, gas, BBM, kalau seorang 
presidennya 
> memproklamirkan diri suka menonton sebuah film yang tidak 
mendidik, 
> tidak bermutu dan tidak ada unsur dakwahnya sama sekali?
> >    
> >   Ya, walaupun presiden yang menonton, walaupun sepuluh atau dua 
> puluh juta orang sudah menonton, atau bahkan lebih. Atau yang 
paling 
> ekstrim misalkan saya ditangkap dan dipenjara gara-gara 
mengrkiritik 
> film AAT, saya tetap akan mengatakan film AAAT tidak layak 
dijadikan 
> tontonan. Tidak bermutu, tidak mendidik dan tidak islami. (tapi di 
> penjara saya tak akan merengek-rengek seperti si Fahri, menendang –
 
> nendang tembok. Menghujat Tuhan dan merintih seperti anak kecil 
> kehilangan toet-toet.)
> >    
> >   Sekian dulu tanggapan saya atas tanggapan pembaca atas 
tanggapan 
> saya atas film AAT. Buat yang sudah bersusah payah membuka 
mailboxnya 
> dan tak menemukan email balasan saya, saya mohon maaf . Sebab, 
gara-
> gara tulisan-tulisan saya yang mirip tulisan anak SD, saya harus 
> berdebat di  forum-forum liberal di situs-situs luar negri (tidak 
> perlu saya sebutkan nama situsnya satu per satu, nanti dikira 
> sombong).
> >    
> >   Semoga bermanfaat.
> >    
> >   Wassalam
> > 
> >        
> > ---------------------------------
> > You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of 
> Blockbuster Total Access, No Cost.
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>


Kirim email ke