Ada pepatah mengatakan: Tidak Narsis, ya Tidak Eksis...
Tidak Histeris, ya Bukan Sautis....... ----- Original Message ----- From: Mohamad Guntur Romli To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, April 11, 2008 6:20 PM Subject: Re: [Jurnal Perempuan] Re: Email Saut Situmorang pada Moderator Milis Jurnal Perempu Bung Akmal (1) Anda mungkin beruntung mengenal Saut di dunia nyata, sehingga bisa memperoleh kesan yang lebih utuh. Namun tidak adil apabila meminta orang yang tidak mengenal Saut di dunia nyata, yang hanya mengenal email-emailnya melalui milis untuk memiliki kesan terhadap Saut secara utuh. Aneh juga kalau ada permintaan misalnya, kenalkah Saut di dunia nyata. Kami yang diminta mengenal dia lebih banyak, bukan sebaliknya Saut yang perlu memilih kata, kalimat, dan tulisan di milis ini. Dia menyebut dirinya penyair dan sastrawan tentu saya memiliki banyak kosa-kata, mengapa yang dikeluarkan kosa-kata yang menikam? Orang seperti ini, dalam pandangan saya hanya cari perhatian, dengan memaki, dan bersikap kasar agar perhatian orang tertuju padanya. Secara kasar saya bila analogikan, apabila ada seseorang yang pembacaan puisinya tidak mendapat perhatian di panggung, maka dia akan kencing di atas panggung untuk mendapat perhatian. (2) Bicara tentang adat-istiadat, saya juga memiliki warisan "kekasaran" itu, atau malah menerima stigma: saya orang Madura, tapi saya bukan berpikir bagaimana orang memaklumi saya orang Madura, sehingga saya bisa berkata-kata dan bersikap "kasar". Apalagi kalau sudah dihubungkan dengan harga diri, karena mendapat caci-maki, maka diselesaikan dengan cara adat, "carok". Karena saya orang Madura, maka saya akan memilih "carok" dengan Saut untuk menyelesaikan konflik ini? Sebuah pilihan dan tindakan yang sangat bodoh. (3) Di milis-milis lain, silakan berdiskusi dengan saling menikam, mencaci-maki, tapi hal ini tidak akan terjadi lagi di milis ini. Saya tidak menafikan ada komentar-komentat Saut yang bermutu, namun mengapa dia tidak bisa memilih kalimat-kalimat yang lebih santun? Saya suka ide-ide yang terbuka, ceplas-ceplos, tajam, namun bukan membungkusnya dengan makian dan cacian. (4) Kalau Saut ingin berdiskusi, mengadu argumentasi, kemudian dia memilih kata-kata dengan baik, email-email dia akan kami loloskan. (5) Saya salut pada orang yang bisa berbesar hati, terus berdiskusi meskipun dimaki-maki, tapi saya mungkin tidak termasuk orang seperti ini, karena saya tidak mau memaki, dan tidak mau dimaki. Terima kasih Bung Akmal, atas pendapat anda, karena saya tahu anda bukan pembela Saut.... Guntur On 4/11/08, Akmal N. Basral <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > --- In [EMAIL PROTECTED] <jurnalperempuan%40yahoogroups.com>, > Qaryati Bint Tjik Oni > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Dear para milister semua.. > > new comer ni.. > > ada yang pernah ketemu SS in real life? > > apa dia benar laki-laki, apa dia benar orang yang kasar.. > > sapa tahu dia berkepribadian ganda..hehehex3 > > yang ini, beberapa pertanyaan bisa saya jawab. > > "ada yang pernah ketemu SS in real life?" > saya pernah, beberapa kali malah. di jakarta maupun di yogya. > > "apa dia benar laki-laki.." > tak diragukan lagi. > > "apa dia benar orang yang kasar.." > tergantung cara mendefinisikan "kasar" itu seperti apa. > > pengalaman saya begini. > saya lumayan sering berbeda pendapat, secara drastis, dengan saut. di > milis seringkali, meski pernah juga lewat saling kirim sms panjang > (soal nagabonar. saut pasti ingat tentang ini). > > isi sms kami, menurut takaran bahasa umum, mungkin pedas sekali. waktu > itu karena saya sedang menyetir mobil (sambil terus membalas sms saut) > saya bilang off dulu, takut nanti tabrakan. saut menjawab dengan > kelakarnya yang segar, "ok, watchout that batak bus driver, bro!" > > tak bisa tidak saya tertawa membaca smsnya yang terakhir, meski > sebelumnya kami saling menikam kata. > > ketika tahun lalu saya ke yogya, bertepatan dengan festival kesenian > yogya di vredeburg, ada saut dan kawan-kawan penulis setempat. saut > menyapa saya dengan suaranya yang khas menggelegar itu, "nah, ini dia > musuhku di milis, apa kabar 'mal?" > > kami bersalaman. saut mengenalkan saya pada satu persatu teman penulis > yogya. terutama yang belum saya kenal. waktu itu ada juga penulis dari > buruh migran (hong kong) seperti maria bok nio yang baru meluncurkan > buku, dan shiho sawai, mahasiswi jepang kandidat doktor sastra > indonesia di ugm. > > setelah chit-chat sebentar tentang ini-itu, saut bertanya apakah saya > pernah mendengar rekaman pembacaan puisi oleh umbu landu paranggi? > saya jawab belum. saut langsung meminta salah seorang panitia untuk > memutarkan rekaman umbu itu, dengan volume suara yang mencapai > pojok-pojok vredeburg. asyik sekali. > > jadi, "apakah saut orang yang kasar" seperti pertanyaan mbak qaryati? > pengalaman saya tidak menunjukkan seperti itu. > > saya tidak tahu adakah latar belakang kultural kami memegang peranan > penting dalam hal ini? saut dari sumatera utara, saya dari sumatera > barat, dua wilayah bertetangga yang warganya kerap blak-blakan saat > bicara. datang tampak wajah, pulang tampak punggung. semua tuntas di > tempat. tak perlu pula harus bersetuju. > > "sapa tahu dia berkepribadian ganda.. hehehex3" tanya mbak qaryati. > simpel saja: adakah dari kita yang tak berkepribadian ganda, mbak? :) > > salam, > > ~a~ > > ps: > kalau boleh berkomentar soal pencekalan saut, saya tidak setuju saut > dimoderasi (juga mikael johani yang "misuh-misuh" di milis apsas > karena posting-postingnya belakangan ini tak pernah diapprove > moderator jp). > > konsideran dewi yang menyebutkan ada "tiga anggota milis keluar", yang > ditanggapi katrin dengan "tapi tak dihitung berapa jumlah anggota yang > masuk" menurut saya sangat bias. (maksud saya, dewi yang bias. katrin > mengembalikan pada perhitungan neraca yang adil. ada "cash out" tentu > harus dilihat "cash in" juga bukan?). > > apakah saya pembela saut? > > kawan-kawan milis jp yang juga aktif di apsas (banyak sekali di sini, > termasuk guntur sang moderator jp) tahu bahwa pikiran saya dan saut > hampir selalu berseberangan. tapi sembari (terus) berbeda pendapat > dengan saut, saya akan membela (meski saut tak butuh dibela, tentu > saja!) haknya untuk terus mengeluarkan pendapat. > > jadi mari kita rayakan perbedaan itu, betapa pun selebar bumi dan > langit cara mengartikulasikannya. > > kita butuh saut, seperti halnya kita butuh non-saut. mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

