Re: [*Apresiasi-Sastra*] Fwd: Re: [Jurnal Perempuan] Email Saut 
Situmorang 


Selamat pagi Mbakyu Katrin salam capucino di pagi yang hangat buat 
mbakyu......
 
aku ikut prihatin mbakyu , membaca postingan mbakyu di republika 
dalam 3 terbitan dan mengikuti dengan seksama debatan di millis 
sebelah yang di posting bang Saut, membuat keningku berkerut semakin 
dalam.
 
hanya ada satu keprihatinan yang dalam terhadap debat itu :
 
mbakyu katrin yang seorang "perempuan" menulis esai tentang ayu utami 
yang seorang "perempuan" juga, kemudian menimbulkan gonjang ganjing 
di padang kurusetra di jurnal "perempuan", diundang masuk oleh mereka 
yang juga "perempuan", namun dalam perkembangan debatan itu bukan 
para "perempuan-2" itu berdebat dengan damai dan elegant tetapi ada 
campur tangan yang namanya kaum lelaki, ada beberapa (ini aneh bagi 
ku)
 
ketika abang Saut masuk untuk membela mbakyu Katrin yang sempat 
mengalami hal-hal yang sudah diluar batas, sebagai suami dari mbakyu 
katrin hal itu sah-sah saja....suami siapapun di dunia ini kalau 
memang dia cinta sama istrinya pasti akan bela mati-matian istrinya. 
nah , pada kasus mbakyu katrin ini rupanya para perempuan hebat di 
milis tersebut kok jadi melempem, mau maunya pemikiran mereka 
diperkosa oleh beberapa lelaki yang tetep dibiarkan berdebat 
menentang mbakyu katrin yang jelas-2 disini beliau ini "perempuan".
 
bang Saut katanya dicekal , ini sebenarnya tidak fair, kalau mau 
cekal ya cekal semuanya yang namanya "lelaki" di perdebatan tersebut.
 
aku tadinya pengen sekali melihat mendapatkan pencerahan dari 
pemikiran kaum perempuan yang notabene pendidikannya melip melip itu, 
pasti tulisannya setajam pisau dapur ketika mengiris bawang untuk 
memasak makanan buat anaknya, namun kok yang terjadi malah perdebatan 
mbakyu katrin dilawan oleh lelaki di jurnal perempuan, dan sedihnya 
kok nya lelaki ini dipouja-puja oleh beberapa anggota millis yang 
perempuan itu.
 
jadi kesimpulannya adalah : perempuan mendebat perempuan, di tempat 
kumpulan perempuan tetapi bukan perempuan yang saling membela, namun 
diperkosa dikangkangi oleh "lelaki"
 
lha ini.....apakah ini suatu kemajuan atau kemunduran ???????
 
bener tindakan yang diambil mbakyu Katrin, sebagai sesama perempuan 
aku sendiri gemes tenan...kok ya mau maunya perempuan itu masih 
diperkosa pemikirannya oleh lelaki, kok ya ndak sadar sadar......
 
sama saja mereka (lelaki) mempergunakan pemikirannya untuk menohok 
mbakyu katrin lewat otak-2 brillian perempuan anggota milis itu.
 
mbakyu katrin untung sadar...punya waskito (kata-2 ini mbakyu kalo 
tidak paham tanya sama kang Pinang..heheh)
 
mending mundur dari gelanggang, kalau dirasa kita sebagai perempuan 
masih punya harga diri tidak ditunggangi pemikiran-2 yang pada 
akhirnya nyeleneh menghantam diri sendiri.
 
sejelek apapun perempuan, sehina apapun perempuan, dari mana 
datangnya pun perempuan,.kita sebagai perempuan seharusnya tetep 
bersatu membela kebenaran keperempuanan  diatas segalanya.
 
apa gunanya kita pasang poster besar-2, menunjuk jari berteriak 
dengan lantang....hancurkan hukum berat  pemerkosa, penindas, 
kejahatan KDRT, dll...kalau kita menyuarakan suara itu dengan 
menginjak jasad perempuan dibawah kaki kita dan diatasnya tanpa sadar 
pemikiran kita diperkosa diperalat oleh lelaki.
 
aku masih tetap menunggu tulisan-2 mbakyu yang bisa membuat aku 
sebagai perempuan bangga....
 
aku tidak melihat mbakyu katrin sebagai istri bang Saut, aku tetep 
melihat mbakyu Katrin sebagai "perempuan" seperti juga almarhum 
ibuku, juga ibu Kartini, ibu Rasuna Said, ibu Cut Nyak Dien, ibu Dewi 
Sartika, ibu SK Trimurti, ratu Tribuana Tungga Dewi, Laksamana 
Malahayati dan semua ibu-ibu yang perkasa yang telah memiliki 
pemikiran-pemikiran hebat tapi tidak mengekor pada pemikiran lelaki.
 
salam damai dari Astina - Ilenk  Dursilawati
 
.
 
----- Original Message ----- 
From: Katrin Bandel 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, April 10, 2008 7:57 PM
Subject: [*Apresiasi-Sastra*] Fwd: Re: [Jurnal Perempuan] Email Saut 
Situmorang


Teman-teman lama dan baru di milis apsas ini,

sepertinya debat seputar eseiku tentang politik sastra KUK di Eropa 
di milis jurnalperempuan sudah kalian ikuti di milis ini. Selama ini 
aku menanggapi serangan terhadap eseiku langsung di milis 
jurnalperempuan itu. Tapi setelah moderatornya mencekal Saut 
Situmorang dan Heri Latief dengan alasan yang sama sekali tak masuk 
akal, kemudian bersikap angkuh dan sok menggurui saat aku protes, 
aku memutuskan untuk tidak lagi aktif di milis tersebut. Tak jadi 
persoalan kok - memangnya aku butuh milis sok santun yang tak 
bermutu itu?! Aku bergabung dengan milis itu hanya karena diundung 
menganggapi serangan terhadapku. Kalau ternyata mereka tak punya 
niat untuk serius berdebat dengan menghormati perbedaan pendapat, ya 
sudahlah. Biarlah mereka tetap sibuk ngerumpi dan tukar basa-basi 
dengan selalu "membuka tabir bijaksana" agar milis mereka "hidup 
1000 tahun lagi". Untung Chairil udah mati 1000 tahun lalu, kalau 
nggak dia pasti muntah melihat baris puisinya dikutip dalam konteks 
yang sama sekali berlawanan dengan semangat hidup Chairil dan 
semangat puisi "Aku" itu!

Aku pun mau muntah membaca posting di bawah ini. Edith ini punya 
otak nggak?! Wartawan Deutsche Welle kok seenaknya saja 
mengeksploitasi sejarah Jerman untuk bikin perandaian yang 
menjatuhkan orang lain. Kalau memang moderator pencekal Dewi itu 
serupa dengan anggota Weisse Rose (Mawar Putih), rejim apa yang 
dilawannya, yang serupa dengan rejim Nazi?
Kalau ada neonazi memakai internet di tempat kerjanya untuk 
nyebarkan ideologi rasisnya, apa akan dibelanya pula? 
Makanya, mikir dulu dong sebelum nulis!

Katrin Bandel


--- In [EMAIL PROTECTED], "Edith Koesoemawiria" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Saut, tanya dong?
Kamu berapa kali sih nonton film Sophie Scholl?

---"bukankah elo pakek layanan Internet kampus elo untuk melakukan 
hal-
hal yang gak ada hubungannya dengan urusan kuliah lo! bukankah
layanan Internet itu disediain buat elo oleh kampus CUMA untuk urusan
perkuliahan!

kalok ini benar maka elo adalah seorang koruptor!!! karena telah
sangat merugikan duit para pembayar pajak Indonesia yang bayarin elo
buat sekolah ke Jerman tapi elo cuman jadi moderator fascist sexist
and fucking racist sebuah milis gombal doang!!!"---

Kok makian yang jij lancarkan itu mirip dengan tuduhan Hakim Nazi
di Pengadilan yang ngejatuhin hukuman mati kepada anggota kelompok 
Mawar Putih yang menggunakan a.l. kertas yang didapat dari Uni 
München untuk membuat pamflet2 anti-perang dan anti Nazi?

hehe sorry ya, kalimat tadi hampir empat baris panjangnya. sebagai 
keterangan aja nih, seperti biasa dith agak telat dan baru nonton 
film itu kemarin. jadi agak kaget2 juga melihat kemiripan itu.

eh... jangan2... kamu ngambil dari situ ya... atau film itu yang 
mencontoh kata2mu?

salam, dith

Kirim email ke