Catatan Bantimurung:   
  PUISI-PUISI ANAK SENTANI
   
   
  3.
   
   
  Dari puisi-puisi Luna Vidya yang berhasil kukumpulkan, nampak padaku Luna  
hadir dengan memperlihatkan metafora-metafora khas dari seorang penyair yang 
lahir dan besar di tengah alam atau  dalam masyarakat pedesaan yang belum 
tersentuh industiralisasi dan masih hidup dengan alat-alat produksi sederhana.  
 Laut , sungai, gunung, hutan- belantara, sawah dan ladang menjadi teman 
bermain serta menjadi bagian dari kehidupan penyair yang suka menyelam [diving] 
ini.

   
   
  Misalnya pada dua sanjak di bawah ini:
   
        Bulir Padi, Bumi Sepi   
      Seperti orang menimba bulir padi ke dalam wadah
Demikian tangan waktu menimbaku

  Seperti orang menimba bulir padi ke dalam wadah hingga menyesak ke sudut
Demikian waktu menyesakkan hadirmu
ke sepi paling murni jiwaku

  Seperti orang menimba padi ke dalam wadah hingga menyesak ke sudut pada waktu 
petang
Demikian bayangmu datang padaku di rembang petang
silau langit tertoreh lalu jatuh hujan ke ladangku
hujan akhir musim , di sepetak ragu berbatas langit
yang terus kutanami meski berbuah pahit

  seperti bulir padi dijauhkan orang dari waktu yang kelam
demikian kuikat mulut malam
tempat kita kusimpan
lalu menunggu
diriku ditanak waktu
musim demi musim
bersendiri
seperti bulir padi
pecah jadi nasi.

   
  2008

  
  
  lunes 17 de marzo de 2008




    jala koyak   pada jala yang koyak
mataku
berurai benang waktu
menjahit masa depan jadi kenangan

March 2008
   
   
  Atau puisi-puisi berikut:
   
   
    Dua Sajak untuk Dua Kawan   
      : ami
  
di pematang, di antara batang kelapa dan pinang burung terbang ,

  kepiting bermain dengan bayang-bayang,

  biren dan remis yang di gali untuk kesenangan akhir pekan

  dalam kanal-kanal surut di sepanjang purnama terbentang
Di antara kepak sayap, anyir tambak
kubuka telapak tangan diam-diam

  di bawah terik matahari, lalu menutup cengkram kuat sekali di setiap magrib,

  berharap tanganmu ada di sana, menikmati segala ngilu dari kisah tentang masa 
lalu
kisah pinang patah yang perih

  kisah inong aceh.

  bersama. Ah!

  

   
  :matsui-san
  
 
  kukirim puisi ke negeri musim dingin,
angin hembus, di atas hijau sawah, di antara batang kelapa dan pinang
Begini:
aku menitip matahari aceh,

  yang mengeringkan punggung perempuan di sawah,

  punggung yang tak patah oleh rasa takut

  pada bayang hitam yang menyelinap di antara pepohonan kelapa dan pinang.

  
 
  apa kabar yang di bawa musim dingin?

  mungkin seperti kerja keras telah mendidihkan periuk,

  puisi ini cukup untuk mendidihkan sup

  sebelum terhidang di meja makan.
kupikir, di musim seperti ini

  di luar salju terus jatuh,
seperti buah pinang dan kelapa jatuh
di pangkuan perempuan aceh

  yang menimangnya jadi hidup

  sehari, sudah cukup. 


  miƩrcoles 12 de marzo de 2008    !penjelasan panjang untuk "hi" yang pendek   
     
  meski tak pernah saling mengucapkan selamat jalan
seperti laut dan pantai,
kita akan selalu berdampingan
kita akan saling melupakan
  

     
   
   3/12/2008  
  


  martes 11 de marzo de 2008    
    Kapan telah memanggil belalang pelahap
ke dalam kebun harap
Kenapa mengundang angin panas dari tenggara
Mengobarkan sengsara
di antara tunas dan kelopak. Juga buah muda.

Mereka pasti tak bisa membaca tanda penawaran
yang kuletakkan di jalan depan:

saya mencintaimu. hanya itu.

March 2008
  

     


    Mencapai Bulan   
  
    Seperti melihat musim tumbuh di ujung pohonan
Putih, hijau terang, merah, di wajah hutan
Kulihat cinta tumbuh di bawah langit telanjang
sulur tanpa penopang
telah mencapai bulan
tanpa warna. Atau hitam?

March 2008 


  viernes 7 de marzo de 2008   
  Manggigil*) 
   
   
    
    Batu di ombak itu,
berdiri di pantai tanpa angin,
memaku mata pada laut yang tak mengalun
sambil mengunyah waktu
dan pada lembah-lembah hari
Duka memanggilnya dari pucuk kering pohonan
jadi helai angin


  Batu ombak itu,
mata bermuara tanya,
Kenapa pilu riang bermain gelombang
Kenapa cinta tak hendak pulang
Ketika laut tak mengantar apa-apa,
Juga angin tak memuat berita?

Batu di ombak itu
adalah bongkah duka
lupa pada namanya,
yang tanya di mata : " Kenapa kelu?"
Lalu terbahak-bahak tertawa melihat kepiting bunting
Berendam tenang di sekujur lukanya

pantai berangin, laut mengalun
batu ombak itu
telah menjelma aku
Cadas. Diam. Penuh binatang karang.
Di kedalaman,
adalah ketenangan yang ganjil.
Sedih yang menggigil

*Manggigil = menggigil (Maluku)

March, 2008
  

     


  miƩrcoles 5 de marzo de 2008    Yang Tumbuh, Aneh Sungguh   
      Seperti pada hari hujan di musim-musim lalu
Di bawah palem baru melepas pelepahnya
Semak berdaun semanggi menyisir embun di gerimis pagi.
Selalu menyapa hari seperti ini,
gerimis yang menusukan sepi

Asa lepas seperti hangat tubuh pergi
dalam dingin. Lalu bersendiri
seperti pelepah
kusambut dengan kepala tengadah, ampas perih
Membuka mulut lebar-lebar menelan kecewa yang di tikamkan musim.
Seperti sarapan pagi, kupenuhi hasrat dengan dengki.
Berharap ia jadi serbuk hitam pemati rasa untuk menghalau raung dan aum
Rindu yang menggigil dengan mata berdarah
Di dalam hujan,
Kuyup tanah hati , olehnya. Merah.

Seperti pada hari hujan di musim-musim lalu,
Selalu menyapa sepi seperti ini,
Gerimis mencengkram hati kusut
menyisirnya dengan kuku sepi
Dan Rindu adalah pelepah tua tengadah
Terkuak pasrah
pada sayat sepi dalam genggam gerimis
menatap tak lepas
Datangnya ayun tangan yang membuat mata berdarah.

  Lama setelah itu, orang lalu
melihat tunas berdaun semanggi menyemak di mataku,
Kata mereka: "kau ditumbuhi cinta"
   
   
  Atau pada puisi berikut:
   
   
    Ichthus
     
  berenang di laut luka
matahari
ombak 
karang 
sengat segala laut
mengupasku 
hingga tulang

aku menjelma ikan

2007
   
   
  Ikan, batu, cadas, kepiting, daun, jala, karang, hutan, semak-semak, dan 
lain-lain yang didapatkan oleh penyair anak Sentani dipungutnya secara spontan 
untuk melukiskan suasana perasaan dan alur pikirnya, sehingga Luna Vidya yang 
mempunyai hoby menyelam ini bisa dikatakan sebagai penyair alam.  Ciri begini 
pun juga kudapatkan pada puisi-puisi lisan seperti sansana kayau, karungut, 
deder, di Tanah Dayak, misalnya di DAS Katingan, Kalimantan Tengah . Juga 
kudapatkan  di kalangan petani-petani di pedesaan kabupaten Klaten, Jawa 
Tengah. Untuk melukiskan keadaan rumit dan penuh liku, para petani Klaten 
melukiskannya ibarat "kacang panjang melilit tiang panjatannya" dan ketulusan 
menyambut seseorang dituturkan sebagai penerimaan dengan berhidangkan hati 
[ulam manah]. Puisi dengan perbandingan-perbandingan alam begini agaknya umum 
dilakukan oleh penyair-penyair yang hidup di tengah-tengah  masyarakat agraris. 
Di Klaten sekarang terjadi perobahan besar di bidang ekonomi. Sawah,
 kebun tembakau dan tebu menyusut didesak oleh bangunan-bangunan besar seperti 
mall. Penduduk menggunakan tanah sawah untuk membuat batu bata dan genteng 
sebagai sumber penghasilan baru. Klaten agaknya sudah tidak lagi menjadi 
lumbung padi dan gula serta tembakau Jawa Tengah. Desa-desa mulai berobah 
menjadi desa-kota dengan kelengkapan seperti yang terdapat di kota. Internet, 
telepon genggam, tivi, warnet, wartel terdapat di mana-mana. Andong digantikan 
oleh ojeg, sepeda motor dan mobil.
   
   
  Apakah perobahan ini akan mempunyai dampak pada bahasa dan metafora puisi 
serta pengungkapan diri? Pertanyaan begini muncul di benakku karena melihat 
bahwa sejalan dengan perkembangan masyarakat  nampak terjadi juga pergeseran 
makna kosakata. Misalnya "genduk" yang tadinya di Jawa Tengah, merupakan 
panggilan kesayangan pada anak perempuan, sekarang bergeser artinya menjadi  
pembantu rumah tangga. Pergeseran makna kosa kata ini pun kukira bisa diusut 
lebih jauh. Dari pergeseran makna ini kita  sekaligus bisa melihat  adanya 
perobahan psikhologis dan pola mental masyarakat yang rasuk dengan perobahan 
tatanan ekonomi masyarakatnya . 
   
   
  Waktu bekerja di kalangan kaum buruh, dalam perbandingan, saya dapatkan bahwa 
metafora yang mereka gunakan berbeda dengan yang saya dapatkan di kalangan kaum 
tani. Kaum buruh nampaknya menggunakan cara-cara pengungkapan diri yang lebih 
langsung. Kekuatan cara ungkap begini, barangkali terletak pada dayanya dalam  
menangkap hakekat soal. 
   
   
  Apa lalu yang kusimpulkan, mungkin lebih kena, hipotesa, dari keadaan di atas?
   
  Nampak padaku bahwa lingkungan, termasuk lingkungan sosial, mempunyai peranan 
menentukan pada pola pikir, mentalitas, imajinasi dan metafora. Dan tentu saja 
pikir dan mentalitas ini berdampak balik pada lingkungan. Artinya antara 
keduanya, terdapat hubungan dialektis, walau pun tidak mekanis.  Dari keadaan 
di atas, aku juga melihat adanya hubungan antara "bangunan dasar" [base 
structure ] dengan "bangunan  atas" [super  structure].  Melalui metafora 
agaknya kita bisa menelusuri saling  hubungan ini.
   
   
  Paris, April 2008.
  -----------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
   
  [Bersambung.......]










       
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke