>
>ISLAM AGAMA RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA[1]
>
>Siti Musdah Mulia
>
>
>Saya meyakini bahwa tauhid adalah inti ajaran Islam yang
>mengajarkan bagaimana berketuhanan, dan juga menuntun manusia
>bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Dalam kehidupan sehari-hari,
>tauhid menjadi pegangan pokok yang membimbing dan mengarahkan
>manusia untuk bertindak benar, baik dalam hubungannya dengan Allah,
>sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Bertauhid yang benar
>akan mengantarkan manusia kepada keselamatan di dunia dan
>kebahagiaan hakiki di akhirat.
>
>Ajaran tauhid membawa kepada keharusan menghormati sesama manusia
>tanpa melihat jenis kelamin, orientasi seksual, ras, suku bangsa,
>dan bahkan agamanya. Islam mempunyai dua aspek ajaran: aspek
>vertikal dan horisontal. Ajaran tentang ketuhanan dan kemanusiaan.
>Yang pertama berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan,
>sementara yang terakhir berisi seperangkat tuntunan yang mengatur
>hubungan antar sesama manusia dan juga hubungan manusia dengan alam
>sekitarnya. Sayangnya, dalam realitas sosiologis, umat Islam lebih
>mengedepankan aspek vertikal dan mengabaikan aspek horisontal. Lebih
>mengutamakan kesalehan individu dan mengenyampingkan kesalehan
>
>sosial. Akibatnya, ditemukan orang-orang yang taat beragama, rajin
>shalat, puasa dan sebagainya tetapi abai terhadap penderitaan
>manusia, tidak peduli terhadap kasus korupsi yang menyengsarakan
>orang banyak, tidak hirau terhadap kerusakan lingkungan yang
>membahayakan nyawa orang banyak.
>
>Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya penghormatan
>kepada manusia dan itu terlihat dari ajarannya yang sangat
>akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu bentuk
>elaborasi dari nilai-nilai kemanusiaan itu adalah pengakuan yang
>tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia. Semua manusia adalah
>sama dan berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan. Yang membedakan
>hanyalah prestasi dan kualitas takwanya. Dan bicara soal takwa,
>hanya Tuhan semata yang berhak melakukan penilaian. Manusia tidak
>bisa mengklaim apapun berkaitan dengan ketakwaan ini.
>
>Islam diyakini oleh para pemeluknya sebagai rahmatan lil `alamin
>(agama yang menebarkan rahmat bagi alam semesta). Salah satu bentuk
>dari rahmat itu adalah pengakuan Islam terhadap keutuhan kemanusiaan
>perempuan setara dengan laki-laki. Ukuran kemuliaan seorang manusia
>di hadapan Allah swt. adalah prestasi dan kualitas takwanya, tanpa
>membedakan jenis kelaminnya, bahkan tanpa menghiraukan orientasi
>seksualnya (QS. al-Hujurat, 49:13). Perempuan atau laki-laki sama-
>sama berpotensi untuk menjadi manusia yang paling bertakwa. Al-
>Qur'an tidak memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu.
>Semua manusia tanpa dibedakan jenis kelaminnya mempunyai potensi
>yang sama untuk menjadi 'abid (hamba yang saleh) dan khalifah
>(pemimpin)(QS. al-Nisa', 4:124 dan S. al-Nahl, 16:97).
>
>Menarik dicatat bahwa Al-Qur`an membahas soal perkawinan secara
>rinci dalam banyak ayat. Tidak kurang dari 104 ayat, baik dengan
>menggunakan kosa kata nikah (berhimpun) yang terulang sebanyak 23
>kali, maupun kata zauwj (pasangan) yang dijumpai berulang 80 kali.
>Memahami hakikat perkawinan dalam Islam tidak bisa tidak, kecuali
>mengurai seluruh ayat yang berbicara tentang perkawinan dengan
>menggunakan metode tematik dan holistik sekaligus, lalu mencari
>benang merah yang menjadi intisari dari seluruh penjelasan ayat-ayat
>tersebut. Dari keseluruhan ayat perkawinan tersebut disimpulkan
>lima prinsip dasar perkawinan. Pertama, prinsip monogami.[2] Kedua,
>prinsip mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang)[3]; ketiga,
>prinsip saling melengkapi dan melindungi[4] ; keempat, prinsip
>mu`asyarah bil ma`ruf (pergaulan yang sopan dan santun), baik dalam
>relasi seksual maupun dalam relasi kemanusiaan[ 5]; dan kelima,
>prinsip kebebasan memilih jodoh bagi laki-laki dan perempuan
>
>sepanjang tidak memiliki ikatan kekerabatan yang dilarang.
>
>Lalu, bagaimana dengan kelompok yang memiliki orientasi seksual
>berbeda? Atau yang sekarang dikenal dengan kelompok homo, baik gay
>maupun lesbian? Memang betul ada teks hadis Nabi yang mengharamkan
>perempuan "mendatangi" perempuan atau sebaliknya laki-
>laki "mendatangi" laki-laki dan memandang perilaku tersebut sebagai
>perbuatan zina dan hukumnya boleh dibunuh. Pengharaman ini juga
>disandarkan pada ayat-ayat yang bercerita tentang Nabi Luth dan
>umatnya yang dikenal memperaktekkan sodomi (liwath). Menurut hemat
>saya yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju
>kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya.
>
>Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan
>lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang sifatnya "given"
>atau dalam bahasa fikih disebut sunatullah. Sementara, perilaku
>seksual bersifat konstruksi manusia. Sesuatu yang bisa diubah dan
>berubah. Persoalan berikutnya adalah apa konsep kita mengenai laki-
>laki dan perempuan? Selama ini konsep keduanya lebih bertumpu pada
>pemaknaan jenis kelamin biologis, bukan pemaknaan berdasarkan jenis
>kelamin sosial (gender).
>
>Menarik bahwa dalam QS. Al-Ruum ayat 21 dinyatakan: Dan di antara
>tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Dia menciptakan pasangan kamu
>dari jenismu sendiri agar supaya kamu merasa bergairah dan tenteram
>bersamanya. Dan dijadikannya di antara kamu rasa kasih sayang.
>Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
>kaum yang mau berpikir". Ayat di atas secara tegas menggarisbawahi
>bahwa tujuan perkawinan bukan hanya semata soal kebutuhan biologis,
>melainkan ada tujuan lain yang lebih hakiki, yakni kasih-sayang dan
>ketenteraman batin. Dan kedua hal tersebut lebih menjamin
>terciptanya kemaslahatan manusia yang menjadi tujuan dasar agama
>Islam atau maqashid al-syari'ah. Jika hubungan sejenis atau homo,
>baik gay maupun lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian
>tujuan dasar tadi maka hubungan demikian dapat diterima. Wa Allah
>a'lam bi al-shawab.
>
>------------ --------- --------- ---
>
>[1] Disampaikan pada diskusi yg diadakan oleh organisasi Arus
>Pelangi, tgl 27 Maret 2008 di Jakarta.
>
>[2] Al-Nisa`, 4:3 dan 129.
>
>[3] Al-Ru­m, 30:21
>
>[4] Al-Baqarah, 2:187
>
>[5] Al-Nisa`, 4: 19; al-Taubah, 9:24 ; al-Haj, 22:13
>

Kirim email ke