Catatan Bantimurung:
   
   
  SENTRA KEGIATAN DAN "PUSAT-PUSAT LEGITIMASI"
   
   
   
  Lily Yulianti Farid, penulis kucerpen "Makkunrai" , dalam milis "panyingkul", 
dalam bahasa Makassar, yang berarti "perempatan",  ketika mengomentari tulisan 
Luna Vidya, penyair asal Sentani, Papua, antara lain menulis: 
   
  
"Untuk semua pokok-pokok pikiran Pace JJ Kusni dan penegasan Kak Luna, saya 
mengamini, khususnya soal strategi membuka dialog dan memperkenalkan karya pada 
"sentra-sentra" dan "pusat-pusat legitimasi", karena mereka memang ada." 
[panyingkul, 15 April 2008].
   
   
  Yang menarik perhatianku dari alinea di atas adalah masalah "sentra-sentra" 
kegiatan dan "pusat-pusat legitimasi".
   
   
  Seperti diketahui oleh umum, di banyak daerah dan berbagai pulau di tanahair, 
 telah bermunculan komunitas-komunitas sastra-seni yang oleh Lily disebut 
sebagai "sentra-sentra" kegiatan berkesenian dan bersastra. Dalam berbagai 
tingkat skala, sentra-sentra ini telah berkali mengadakan pertemuan tukar 
pengalaman untuk melangkah lebih jauh bersama-sama, seperti  yang berlangsung 
di Kudus atau Banten. Terkadang dalam satu kota saja terdapat beberapa sentra 
seperti misalnya di Makassar, selain panyingkul,  terdapat  komunitas  Forum 
Tenda Kata" dan paling tidak  delapan komunitas yang bergerak di bidang teater, 
seperti Tambora, Mera Putih, misalnya.
   
   
  Sentra-sentra kegiatan sastra-seni ini merupakan penemuan kretif dan unik 
dari angkatan sekarang. Melalui sentra-sentra inilah kegiatan-kegiatan 
sastra-seni dilakukan, didorong dan dikembangkan. Sentra-sentra sastra-sastra 
ini tidak mempunyai sentra pusat, berbeda dengan lembaga-lembaga kebudayaan 
pada era pemerintahan Soekarno. Mereka bergerak secara independen. Dan dalam 
perkembangan terakhir melakukan kerjasama erat di kalangan mereka. Melalui 
kerjasama tanpa suatu ikatan organisasi antar sentra, mereka meningkatkan  
lingkup jangkauan geografis  kegiatan mereka. Sebagai contoh paling akhir 
adalah "Tour de Java Sastra Makassar" yang berlangsung dari bulan Maret hingga 
April tahun ini menyusul "Tour de Java Baca Puisi" oleh "penyair maudit" Saut 
Situmorang. Dalam menggalang kerjasama antar sentra di daerah dan pulau, Halim 
HD , budayawan Solo asal Banten, merupakan nama yang kiranya layak dicatat. 
Untuk keperluan ini, dengan segala keterbatasan syarat material, Halim HD
 bepergian dari satu daerah ke daerah lain, menyeberangi laut dan selat untuk 
mendatangi pulau satu dan pulain lain. Dahoeloe, peran yang dilakukan oleh 
Halim HD ini disebut sebagai organisator. Sulit dibayangkan sastra-seni 
berkembang tanpa organisasi dan organisator. Di Lembaga Kebudayaan Rakyat 
[Lekra], peran organisator ini dimainkan oleh alm.Joebaar Ajoeb, sedangkan di 
Komunitas Utan Kayu [KUK], ia diperan oleh Goenawan Mohamad -- walaupun sejauh 
ini jangkauan geografis KUK tidak sejauh dan seluas yang dicapai oleh Lekra. 
Disukai atau tidak, dalam kenyataan  KUK, cq. Goenawan Mohamad,  bergerak di 
berbagai bidang dengan perhitungan strategis yang sadar sambil menatap esok 
bangsa dan negeri. 
   
   
  Dalam hal ini, saya melihat, apa yang dilakukan oleh Halim HD dan KUK, atau 
Jaringan Kerja Budaya Jakarta, dan sentra-sentra lainnya tidak saling 
bertentangan tapi malah saling mengisi. Dengan syarat seperti sekarang, tidak 
akan satu sentra mana pun yang mampu menangani serta mengembangkan saastra-seni 
Indonesia seorang diri. Jika ada yang merasa dan mengaku demikian, maka 
perasaan dan pengakuan demikian , kuranglebih dekat pada kepongahan burjuis 
kecil belaka. Titik penting dari usaha Halim HD adalah kerjasama dan kerjasama. 
 Bukan saling "hakayau kulae" [saling memotong kepala orang sesaudara], jika 
menggunakan istilah orang Dayak. Mencari lawan, lebih gampang daripada mencari 
kawan, ujar Mao Zedong, pemimpin rakyat Tiongkok. "Bendera kecil dan besar 
punya tempat masing", ujar penyair Viêt Nam, Ho Chi Minh. "Semuanya harus 
dicatat, semuanya dapat tempat", ujar Chairil Anwar yang meninggal dalam usia 
27 tahun, tapi dengan pikiran dan sikap yang jauh lebih dewasa usianya
 . Usia bukan penakar dan petunjuk kematangan pikir dan sikap seseorang. "Tidak 
gampang menjadi dewasa", ujar ayahku almarhum ketika dengan halus memarahi 
anak-anaknya.
   
   
  Usaha menggalang kerjasama antara sentra dan kelompok yang berbeda pandang, 
ini juga dengan tekun dan diam-diam dilakukan oleh budayawan Andi Makmur Makka 
dari The  Habibie Center, Jakarta. Andi, demikian saya biasa memanggil syohibku 
ini,  bekerja dengan konsep strategis yang jelas. Diam-diam tapi pasti. Sayang 
saja, Andi, sobat Bugisku ini,  tidak mempublikasi luas apa yang sudah 
dilakukannya dan dicapainya sehingga kurang jadi pengetahuan umum yang luas .
  Dari apa yang Andi lakukan selama ini sampai hari ini, saya jelas melihatnya 
bekerja untuk mewujudkan rangkaian nilai republiken dan berkeindonesiaan, 
sebagai perekat dan kenyataan sekaligus bangsa dan negeri kita. 
   
   
  Dari tuturan di atas, barangkali bisa jelas nampak bahwa di negeri ini 
terdapat banyak sentra-sentra dan masing-masing mereka bergerak secara 
independen untuk mengejawantahkan nilau-nilai republiken dan berkeindonesiaan 
dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Jika penglihatanku benar, lalu 
apabila kembali ke persoalan yang diajukan oleh Lily Yulianti Farid di atas 
tentang "pusat-pusat legitimasi" maka pertanyaannya "siapa yang berhak 
melegitimasi kegiatan dan karya dari sentra-sentra yang ada sekarang?" Apa dan 
siapa yang  memberikan mereka, jika ada, untuk membuat karya dan komunitas itu 
legitim atau tidak? Tidakkah pandangan begini, berbau bahwa yang dari daerah 
dan pulau-pulau berada dalam posisi tidak legitim dan rendah? Apa nama 
pandangan begini jika bukan kompleks rendah diri? Sastra-seni daerah dan 
pulau-pulau jauh sudah lama berkembang tanpa minta legitimitas dari siapa pun, 
kecuali dari kehidupan dan lingkungannya. Jakarta dan Jawa tidak punya hak
 memberikan legitimaasi kegiatan dan karya-karya orang di daerah dan 
pulau-pulau. Karena itu saya sering berkata di mana pun: kerja dan 
berkreativitas terus tanpa usah indahkah Jakarta dan Jaa. Jakarta dan 
Jawa,seperti halnya Barat,  bukanlah segalanya. Saya tidak merasa ada alasan 
pun bagi orang daerah dan pulau untuk merasa rendah diri sehingga mencari-cari 
legitimasi mereka. Tidak ada itu, pusat-pusat legitimasi! I Galigo [mungkin 
keliru judulnya?] karya  yang hebat itu apakah tidak legitim sebagai karya 
sastra? Apakah Sansana Bandar, Sansana Kayau Pulang dari Tanah Dayak tidak 
legitim karena lain dari Jakarta dan Jawa? "Jangan tunduk" , ujar Chairil 
Anar", "tatap aku".  Jika kata-kata ini diterapkan pada keadaan sekarang maka 
bisa dikatakan: Angkat kepala, jangan tunduk, tatap lurus mata kehidupan dengan 
kerja dan kreativitas.
   
  Dalam pertemuanku dengan Goenawan Mohamad di Paris beberapa hari lalu, ketika 
secara tak langsung menyingung soal ini, Goenawan kurang lebih mengatakan "KUK 
bukan standar nilai. Jika ada yang mengatakan demikian tentu itu bukan pendapat 
KUK". Goenawan sangat tertarik pada perkembangan sastra-seni di daerah dan 
pulau-pulau. Bahkan ketika saya menyebut nama Luna Vidya, sebagai penyair 
kelahiran Sentani, Papua, Goenawan Mohamad langsung berkata tegas, sangat 
tegas: "Kau kirimi aku karya-karyanya", tanda ia sangat tertarik dan melihat 
daerah dan pulau-pulau sebagai perspektif bangsa dan negeri kita.
   
   
  Pikiran yang memandang adanya "pusat-pusat legitimasi" , kukira sangat 
menyembah dan penuh kompleks. Tidak membantu pengembangan berkarya dan 
berkreasi. Kita adalah tuan dari diri kita dalam berkreasi. Kita setara dan 
setara dari segi prinsip. Bahwa kita yang di daerah dan pulau-pulau perlu 
saling belajar dan bertanya, ini adalah soal lain. Menyatakan adanya 
"pusat-pusat legitimasi" dalam bidang sasatra-seni di negeri ini, kukira sama 
dengan yang dikatakan oleh Franz Fanon: "berkulit hitam berhati putih". Yang 
terjadi sekarang, kita sering asing dengan diri kita, kurang acuan sehingga 
mengidap rasa kompleks demikian. Stop rasa kompleks rendah diri. Stop juga 
kepongahan. Jawa dan Jakarta bukan segalanya. Barat dan Amerika bukan 
segalanya. Seorang penulis Amerika pernah menulis: "Go to east young men!" , 
Lenin pernah berkata:"Eropa terbelakang , Asia yang maju". Memberi varian pada 
kata-kata ini saya ingin berkata bersama Sun Tzu: "Kenali diri sendiri", kenali 
negeri dan
 budaya sendiri. Go to your own country, young men. Be yourself proudly. 
Nonsense with anykind and such kinds of nonsense of  the "legitimization 
centers".
   
   
  Maaf, saya merasa dilukai oleh ide tentang "pusat-pusat legitimasi" ini yang 
sama sekali jauh dari pandanganku tentang rangkaian nilai republiken dan 
berkeindonesiaan. Saya memberontaki nilai-nilai  Orde Baru dengan segala 
resikonya tanpa minta legitimasi siapa pun kecuali rangkaian nilai republiken 
dan berkeindonesiaan. Dalam bersastra dan berkesenian, saya pun tidak memandang 
adanya "pusat-pusat legitimasi". Tapi bisa terjadi saya keliru memahami apa 
yang disebut dengan "pusat-pusat legitimasi" ini. ***
   
   
  Paris, April 2008.
  ----------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris. 
   
   
  LAMPIRAN:
   
   
  Lily Yulianti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
  To: [EMAIL PROTECTED]
From: Lily Yulianti <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 15 Apr 2008 20:03:22 -0700 (PDT)
Subject: Re: [panyingkul] Re: Puisi puisi Anak Sentani

        Di bawah beringin? deklarasi bersejarah itu, kak luna?
Tak mungkin kulupa...
mana fotonya?

Untuk semua pokok-pokok pikiran Pace JJ Kusni dan penegasan Kak Luna, saya 
mengamini, khususnya soal strategi membuka dialog dan memperkenalkan karya pada 
"sentra-sentra" dan "pusat-pusat legitimasi", karena mereka memang ada.

Yang juga perlu ditanyakan pada diri kita masing-masing dalam konteks yang 
lebih luas: berada secara fisik di suatu tempat bukan jaminan kita telah 
mengenal dan bisa menceritakan tempat itu. dibutuhkan keingintahuan, dibutuhkan 
kerendahatian untuk bertanya, mendengar, mencatat dan  mencari jawab dan tentu 
setelahnya, dibutuhkan kerja yang tidak mudah merintis jalan-jalan kecil itu....

ly


Luna Vidia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:       
    Teman-teman, terlepas dari rangkaian bahasan ini menjadikan puisi-puisi 
dalam “My Page” ,- weblog yang saya kelola sebagai materi pembahasan- tulisan 
pace (sebutan umum untuk bapak , dialek  papua) JJ Kusni, sedang menyerukan 
sesuatu yang jauh lebih penting dari diri saya sendiri. Karena materi bahasan 
ini, saya sadar dapat digantikan dengan blog atau buku orang lain. 
Sederhananya, bahasan ini bisa bukan tentang saya, tapi dengan pesan yang sama. 
 Gugatan yang sama. Indonesia, bukan Jakarta.  Indonesia bukan pulau Jawa.  
  Konsep desentralisasi, kebhinekaan yang disokong pace Kusni dalam bahasan 
tentang puisi-puisi Luna Vidia, saya pribadi menganggap merupakan hal paling 
mendasar kenapa lima seri tulisan ini dibuat. Itu sebabnya, di sana sini, 
bermunculan nama-nama lain. Dari Ly, Aan dan mas Halim HD yang saya kenal 
secara pribadi.  Tidak semata LV. Atau karyanya.
  
  Membaca Puisi-puisi Anak Sentani, saya makin menyadari bahwa sadar atau 
tidak, saya telah menafikan eksistensi Indonesia yang kepulauan, Indonesia yang 
bhineka. Eksistensi yang baru saya sadari ketika pekerjaan saya membawa saya ke 
banyak tempat. Artinya, kesadaran itu belum hadir terlalu lama, terus terang. 
Dan unutk beberapa waktu hanya merupakan penggalan-penggalan pemikiran. Bukan 
sebuah konsep yang tegas dan tajam. Tapi lebih baik terlambat , dari pada tidak 
sama sekali, kan?  Lebih baik terlambat dari pada tidak pernah sampai pada 
kesadaran untuk setuju pada pernyataan Mas Halim kepada pace Kusni: 
"Sesungguhnya Bung, etnik dan daerah merupakan sumber budaya dan kreativitas 
luar biasa".  
  
  Pada wacana kebhinekaan yang republiken , mengutip pace Kusni, inilah kita 
seharusnya berdialog dengan “intimidasi” sentralisme, yang sebenarnya bisa 
berwujud apa saja. Tapi dalam kaitan dengan tulisan beliau kita korbankan saja 
Jakarta. 
  Wacana mengenai kekuatan lokal bukan hal asing, di milis p! tentu saja. 
Wacana ini telah mencuat dalam diskusi-diskusi internal kita, dalam 
diskusi-diskusi road show peluncuran dua buku pertama sastra dari Makassar, Aku 
Mau Pindah  Rumah, dan Makkunrai.  Saya pikir inilah “pancasila”-nya gerakan 
sastra dari Makassar.  Artinya, kita tidak sendirian dan perlu terus 
mengupayakan atmosfir dialog, berbasis karya, dengan sentra-sentra legitimasi. 
Sebab bagaimanapun , sentralisme itu ada. 
  
  Hanya saja, ketika melakukannya, teman-teman, menurut saya kita perlu berakar 
pada pemahaman yang menyeluruh dan lengkap mengenai lokalitas kita. Seperti 
yang juga dinasehatkan oleh pace JJ Kusni: “ Kerberadaan di kampung halaman 
bukan jaminan kita kenal kampung halaman. Inti keadaan begini, barangkali 
terletak pada pertanyaan: kita berada di mana, apa masalah nyata kita..”  
Pekerjaan rumah  ini harus selesai lebih dulu, baru setelah itu kita bisa 
melakukan bagian: “kemudian bagaimana lalu mau ke mana serta jalan apa yang 
ditempuh untuk sampai ke tempat mau ke mana.” Sehingga identifikasi kelokalan, 
adalah unsur yang memperkaya karya seseorang, memberi karakter pembeda dalam 
dialog itu. Kita semua punya kesempatan dan selayaknya selalu mencari 
jalan-jalan kecil ke rumah kita masing-masing. Tidak terjebak dalam lokalisasi. 
Pede. Punya harga diri. Jelas orientasinya. Saya pikir ke arah itu, kita bisa 
mempertajam alasan kehadiran kita dalam komunitas ini. 
  
  Terimakasih pace JJ Kusni. Untuk menghadirkan pemikiran yang membingkai 
obrolan “di bawah beringin” kami (masih ingat ki Ly, An?), yang sekaligus bagi 
saya, dan tentu saja teman-teman lain –saya pikir-, adalah dukungan untuk upaya 
bersama kami, yang senada dengan yang pace Kusni pikirkan. Indonesia bukan 
Jakarta, Indonesia bukan pulau Jawa. 
  Pula tentu saja, terimakasih untuk memakai “My Page” sebagai materi bahasan. 
( tidak tong na kasi lolos dirinya he he)
  
  Itu mi dulu. (niru gaya Ly)
  
  luv




  .

 
                           

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke