JURNAL SAIRARA:
HARI ITU KAMI BERJUMPA KEMBALI
-Kisah-kisah kecil berjumpa dengan Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak di
Koperasi Restoran Indonesia Paris, 10 April 2008.
2.
Secara tidak langsung pada pertemuan malam musim bunga di Koperasi Restoran
Indonesia Paris, Mas Goen dan Laksmi sesungguhnya juga berbicara tentang
sejarah bangsa dan negeri, nasib bangsa dan negeri bersama ini. Membaca ulang
beberapa halaman masa silamnya.
Pada kesempatan ini, GM mengutarakan penghargaannya kepada gerakan mahasiswa
yang murni, tanpa pengruh partai politik dan kalangan militer dalam menurunkan
Soeharto. Gerakan ini berbeda dengan Peristiwa Malari 1974 di mana terdapat
tangan tentara, ujarnya. Gerakan mahasiswa menurunkan Soeharto dinilai sangat
penting oleh Mas Goen dari segi mentalitas. Gerakan ini sangat penting dalam
melawan ketakutan yang membelenggu jiwa anak bangsa dan negeri ini selama
beberapa dasawarsa.
Barangkali dari segi ini pulalah terdapat inti seruan Pramoedya A. Toer
dalam pembicaraannya dengan orang-orang dari PRD [Partai Rakyat Demokratik]
agar para pemuda/i berani melawan yang kemudian diucapkan oleh penyair Wiji
Thukul dalam larik terkenalnya :"Hanya ada satu kata: lawan!". Wiji Thukul
telah membayar keberanian ini dengan nyawanya. Thukul tidak hanya berhenti di
kata dan larik puisi tapi mengejawantahkanya dalam tindakan. Puisi adalah
terjemahan tindakan. Puisi adalah tindakan berbentuk kata.
Ketika mendengar pendapat Mas Goen di atas, aku jadi teringat pertanyaannya
padaku saat kami berjumpa di Koperasi Restoran ini juga beberapa tahun silam:
"Mil, Wiji Thukul sebenarnya di mana?"
"Mestinya Bung yang lebih bisa menjawab pertanyaan ini", jawabku karena waktu
itu aku masih enggan menjawab yang sebenarnya karena jawabannya akan meyangkut
banyak hal. Dengan alasan ini pula maka aku menolak diwawancara oleh salah satu
terusan tivi Indonesia.
Tak berapa lama setelah pulang ke tanahair, kudapatkan di Majalah Tempo,
Jakarta, Catatan Pinggir Mas Goen yang secara khusus mempertanyakan: Wiji
Thukul berada di mana? Sejak itu pertanyaan mengenai Wiji Thukul menjadi
pertanyaan publik.
Merenungkan kembali pertanyaan Mas Goen padaku di atas, Capingnya serta
menghubungkan semua ini dengan apa yang ia ucapkan malam ini, aku melihat
adanya satu alur jelas pada pikiran pada penyair-eseis Indonesia ini bahwa ia
menolak militerisme dan otoritarianisme. Ia menggaris bawahi agar jangan sampai
militerisme kembali dan mendominasi menguasai negeri dan bangsa. Apa pun dan
bagaimana pun keadaan partai-partai politik di negeri kita sekarang, adanya
partai-partai politik ini menjadi penting dalam mencegah penguasaan negeri oleh
militerisme.
Dituturkan juga oleh Mas Goen, bahwa pada suatu ketika, ia dan teman-teman di
pers, sastra-seni dan di gerakan, secara gencar dan terus-menerus melancarkan
semacam kampanye bahwa pokoknya militer dan militerisme itu jelek. Saat
mengucapkan hal ini, kulihat ia tertawa, seakan menyadari bahwa pada kata
"pokoknya" itu, terkandung apriorisme dan menyimpan subyektivisme. Hanya saja
dalam keadaan dan situasi tertentu sikap"pokoknya" itu memang diperlukan oleh
perlawanan, tak obah dengan Ofensif Musim Semi [Tet] 1968 yang dilancarkan oleh
Front Pembebasan Viêt Nam Selatan [FPVS] pada masa aperang melawan agresi
Amerika Serikat, untuk membantu mensukseskan perjuangan diplomasi di
Perundingan Paris antara Henry Kissinger dan Le Duc Tho , walau pun di medan
perang yang nyata FPVS mengalami korban yang tidak kecil. Agaknya Ofensif Tet
1968 FPVS juga menggunakan sikap "pokoknya" ini sebagai taktik mencapai tujuan
strategis. Jadi "pokoknya" dan "pokoknya" ada macam-macam. Ada
"pokoknya" yang terhitung, ada pula "pokoknya" sebagai ujud ketidakberdayaan
baik kekuatan fisik riil mau pun argumen nalar.
Mungkin setelah membaca baris-barisku ini, ada yang bertanya: "Mosok sih GM
begitu? Kan ia Manikebuis?"
Jika benar ada yang bertanya demikian maka pertama-tama aku akan mengatakan
bahwa orang Manifestan itu bermacam-macam seperti halnya dengan orang-orang.
Lekra. Kedua, aku akan katakan juga bahwa gerak, perobahan, merupakan hukum
tak terbantahkan oleh siapa pun. Lahir, hidup dan mati pun adalah suatu gerak.
Menolak hukum gerak atau perobahan ini akan menempatkana diri diri di hadapan
putaran roda sejarah. Mundur dan mandeg pun adalah suatu perkembangan.
Dilihat dari segi hukum perkembangan ini, kukira perkembangan pencarian dan
capaian GM serta siapa pun akan berguna dicermati tanpa emosional sebagaimana
halnya Han Su Yin mengikuti perkembangan Chou Enlai, PM Republik Rakyat
Tiongkok yang dikagumi lawan dan kawan, sebagai intelektual.
Dalam perkembangannya, aku sedikit pun tidak ragu bahwa GM sebagai
sastrawan, bukanlah orang yang mandeg tapi selalu mencari serta jujur pada
dirinya sebagai sastrawan dan intelektual. GM sekarang adalah hasil pencarian
dalam pengembaraan tanyanya. Dalam pencarian nilai dan pengembaraan jiwa serta
pikir, adalah wajar orang bisa tersandung, jatuh dan luka-luka tapi yang
mencari akan bangun kembali dari kejatuhan. Pencari nilai dan pengembara yang
memburu makna tak akrab dengan putus asa. Tak tunduk di hadapan cobaan sekali
pun berdarah-darah. Pencarian dan pengembaraan ini adalah suatu perjalanan tak
pernah punya sampai , ujar pelukis Salim yang sekarang berusia 102 tahun dan
hidup di Paris sejak usia 17 tahun. Sadar akan keadaan begini, aku sangat
menghargai pencarian siapa pun, termasuk dan apalagi anak-anak muda betapa pun
berangasnya secara penampilan. Keberangasan adalah suatu tingkat dan dari segi
pendidikan, ia merupakan guru yang arif. Tak ada yang gawat bagi
yang mencari karena "yang mencari akan mendapat, yang mengetok akan dibuka".
Yang mencari dan mengetok umumnya jujur pada diri sendiri. Sensi pada
lingkungan. Cinta kebenaran dan keadilan. Mereka tidak akan berteriak "eli, eli
lama sabachtani", karena pencari dan anak pinisi siap berkubur di laut tanpa
mendapatkan pantai dan dermaga.
Ketika berbicara tentang sejarah dan Tragedi September '65, peristiwa yang
berdampak besar sampai sekarang pada kehidupan berbangsa dan bernegeri , Mas
Goen menyinggung tentang kunjungannya kembali ke Pulau Buru. Hal yang juga
diketengahkannya di depan publik pada acara Lembaga Persahabatan
Perancis-Indonesia "Pasar Malam". ****
Paris, April 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
Keterangan foto:
Tulisan tangan Goenawan Mohamad di Buku Tamu [Livre d'Or] Koperasi Restoran
Indonesia di Paris di mana sang penyair-eseis menerakan kesannya tentang
Koperasi ini.
[Bersambung....]
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]